Kajian Model-Model Bimbingan dan Konseling Karir Menurut Zunker (2006)

22 March 2024 12:07:08 Dibaca : 41

Kajian Model-Model Bimbingan dan Konseling Karir Menurut Zunker (2006)

          Zunker (2006, 85-131) menjelaskan 5 (lima) model konseling karir, yakni: (1) Trait and Factor and Person Environment Fit Model, (2) Developmental Model, (3) A Learning Theory of Career Counseling (LTCC) Model, (4) Cognitive Information Processing (CIP) Model, dan (5) Multicultural Career Counseling Model for Ethnic Women. Di samping itu Zunker (2006,443-453) menjelaskan pula 3 (tiga) model konseling dan layanan karir di perguruan tinggi, yang terdiri dari: (1) Module Model of Curricular Career Information Service, (2) Metroplex Model for Career Counseling, dan (3) Work and Experience-Based Programs for College and University Students. Model-model tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1.   Trait and Factor and Person Environment Fit (PEF) Model;

          Model ini terdiri dari 7 (tujuh) tahap, yang digambarkan secara ringkas sebagai berikut:

 Tahap 1, meliputi kegiatan: memulai wawancara antara konselor dan klien dalam rangka membangun relasi kerja yang harmonis, mempelajari informasi tentang latar belakang klien, yang meliputi riwayat hidup yang diperoleh melalui angket atau diskusi. Selama wawancara, konselor menilai status emosi klien dan memperjelas kognisi klien. Tipe kepribadian dan karakteristik kepribadian juga diobservasi;

Tahap 2, mengidentifikasi aspek-aspek perkembangan, merupakan elemen penting dalam konseling PEF, seperti persepsi klien tentang identitas diri, konsep diri, atau gambaran diri, persepsi tentang lingkungan, dalam hal ini rekrutmen, penguatan/penghasilan, dan permintaan.

 Tahap 3, asesmen, termasuk penilaian yang komprehensif tentang kemampuan kognitif klien, nilai-nilai, dan minat, di samping informasi tentang lingkungan pekerjaan atau kelompok pekerjaan. Tujuan informasi ini adalah agar klien dapat memprediksi kepuasan yang diperoleh dalam pekerjaan itu. Keterampilan memproses informasi sangat penting dalam model PEF ini. Di sini klien membutuhkan bantuan dalam mengembangkan keterampilan memproses informasi melalui konseling yang dilakukan secara berkesinambungan.

Tahap 4, identifikasi dan pemecahan masalah, melalui informasi yang diperoleh pada tahap tiga. Klien mengidentifikasi masalah emosional yang serius, atau tidak berfungsinya pikiran berdasarkan penilaian psikologis yang lengkap.

Tahap 5, analisis PEF secara umum, konselor dan klien mengembangkan skema kogtinif atau bentuk konseptual, kriteria sebagai dasar membuat pilihan dan prediksi yang optimal.

Tahap 6, melakukan konfirmasi, eksplorasi dan keputusan. Konselor dan klien melakukan konfirmasi tentang analisis PEF, klien melakukan eksplorasi tentang lingkungan kerja yang potensial, dan klien membuat sebuah keputusan.

Tahap 7, tindak lanjut, melakukan evaluasi kemajuan dan kembali ke tahap sebelumnya jika dibutuhkan.

2.   Developmental Model

 The developmental model has been built from the premise that career development is a lifelong process and the career counseling needs of individuals must be met all stage life (Healy,1982); Gelso and Fretz, 2001; Sharf, 2002). Model ini terdiri dari 4 (empat) tahap berikut:

Tahap 1, menetapkan tujuan, kendala yang dihadapi, asesmen untuk menemukan tujuan yang jelas, keyakinan tentang pemecahan masalah, kesiapan melakukan kegiatan, perasaan, gaya belajar, dan kendala dalam mencapai tujuan.

 Tahap 2, mengidentifikasi dan memilih strategi.

 Tahap 3, mengajar dan membantu implementasi. Tugas utama konselor di tahap ini adalah memberikan dorongan kepada klien dalam mengimplementasikan strategi yang telah dikembangkan, seperti strategi belajar melalui latihan asertif, diskusi dengan pakar pekerjaan, latihan mememukan pekerjaan dan jaringan pasar kerja.

Tahap 4, verifikasi hasil yang dicapai. Tahap ini tertuju pada review terhadap efektivitas strategi belajar, revisi strategi selama tahap ini. Konselor memberikan dorongan kepada klien dalam usahanya mencapai hasil yang dituju. Salah satu tujuan penting adalah meningkatkan kepercayaan klien untuk mengembangkan strategi belajar yang dapat membantunya di masa depan.

3.   Learning Theory of Career Counseling (LTCC) Model

          Model ini terdiri dari 7 (tujuh) tahap berikut:

Tahap 1, wawancara untuk membangun relasi antara konselor dengan klien. Klien diupayakan merasa membutuhkan waktu untuk konseling, memberikan penguatan penuh dan respon klien yang positif, fokus pada semua masalah karir, kehdupan keluarga, pengaruh lingkungan, ketidak seimbangan emosi, hambatan dan kepercayaan karir, minat, nilai dan kepribadian. Pada tahap ini juga konselor membantu klien merumuskan tujuan sementara.

Tahap 2, melaksanakan asesmen: tujuan asesmen adalah menyediakan jaringan untuk intervensi belajar, asesmen diusahakan menemukan sistem informasi yang akurat dan koheren dengan sistem informasi klien, identifikasi tujuan klien, tidak realistiknya strategi untuk mencapai tujuan.

Tahap 3, membangkitkan aktivitas: klien diarahkan pada kegiatan individual seperti melakukan asesmen lain, mereview materi audio visual, program komputer, atau studi literatur tentang pekerjaan, beberapa klien diarahkan ke program konseling individual untuk menemukan masalah personal.

Tahap 4, mengumpulkan informasi, pada tahap ini dilakukan review terhadap stategi intervensi, tujuan individual, termasuk perkembangan terbaru, yang dilakukan melalui diskusi, klien memiliki komitmen terhadap informasi yang dikumpulkan melalui kunjungan kerja atau penggunaan pengalaman kerja.

 Tahap 5, berbagi informasi dan memperkirakan konsekuensi, di sini klien dan konselor mendiskusikan informasi yang terkumpul tentang pekerjaan dan perkiraan bersama tentang konsekuensi dalam setiap pilihan pekerjaan. Konselor mengevaluasi kesulitan klien dalam memproses informasi dan kesalahan strategi dalam proses pengambilan keputusan, konselor mengembangkan intervesi remedial, klien diarahkan untuk mengumpulkan banyak informasi atau kembali ke konseling sebelumnya, sebelum lanjut ke tahap berikut.

Tahap 6, melakukan re-evaluasi, membuat keputusan tentatif atau kembali ke tahap berikut: Klien dan konselor mendiskusikan kemungkinan sukses dalam pilihan pekerjaan yang spesifik, konselor menyediakan rangsangan untuk pengambilan keputusan yang sesungguhnya untuk eksplorasi karir, atau merobah arah dan kembali ke tahap sebelumnya dalam membuat keputusan.

Tahap 7, strategi mencari pekerjaan: Strategi intervensi klien dapat meliputi penggunaan materi pelajaran, belajar menulis resume, menjadi anggota sebuah club pekerjaan, bermain peran, atau latihan membuat keputusan hidup, klien dan konselor mengenal kembali konsep perencanaan karir, terutama bagaimana prosedur belajar untuk membuat sebuah keputusan karir.

4.   Cognitive Information Processing (CIP) Model;

Model CIP terdiri dari 7 (tujuh) tahap berikut:

Tahap 1, wawancara awal, tujuan utama tahap ini adalah konselor memperoleh informasi tentang masalah karir yang dihadapi klien serta membangun relasi yang benar. Lebih khusus lagi konselor menemukan faktor emosi dan kognisi dari masalah klien.

Tahap 2, asesmen kesiapan, menetapkan kesiapan klien dalam menyelesaikan dan membuat keputusan tentang masalahnya, antara lain dapat dilakukan dengan menggunakan the Career Thoughts Inventory (Sampson et al, 1996a).

Tahap 3, mendefenisikan masalah dan membuat analisis kasus. Di tahap ini, konselor dan klien menyepakati pemahaman tentang masalah klien.

Tahap 4, merumuskan tujuan, yang dilakukan sebagai usaha kerjasama antara konselor dan klien. Tujuan tersebut dimasukkan secara tertulis dalam ILP.

Tahap 5, mengembangkan Individual Learning Plan (ILP) atau rencana belajar individual, atas kerjasama antara konselor dan klien, dengan menggunakan berbagai sumber dan aktivitas sehingga klien menemukan rumusan tujuan yang jelas. Individual Learning Plan juga dalam bentuk kontrak antara konselor dan klien.

Tahap 6, mewujudkan Individual Learning Plan. Pada tahap ini klien melakukan inisiatif dalam mewujudkan rancana yang telah disepakati. Konselor dalam posisi mengarahkan lebih lanjut dan memberikan informasi, klarifikasi atau penguatan atas kemajuan klien.

Tahap 7, review akhir dan perumusan kesimpulan. Apakah kemajuan dalam menyelesaikan masalah dapat menimbulkan motivasi pada klien untuk melihat hasil dari pelaksanaan konseling, juga menilai efektivitas kemajuan dalam Individual Learning Plan, lebih khusus lagi menilai status keputusan karir yang dilakukan oleh klien. Terakhir melihat apakah keenam tahap yang dilakukan dapat memberikan keterampilan kepada siswa untuk memecahkan masalah pribadi dan karir di masa yang akan datang.

5.   Multicultural Career Counseling Model for Ethnic Women

Model ini terdiri dari 6 (enam) tahap berikut:

Tahap 1, membangun rapport dan relasi budaya yang tepat. Relasi antara klien dan konselor sangat penting dalam semua konseling karir, terutama pada model ini. Ketika klien merasa bebas dalam mengekspresikan dirinya dalam relasi konseling, dia akan menjadi guru yang baik sebagai informan budaya, dan sangat membantu konselor dalam menciptakan diskusi yang lancar tentang informasi etnis/ras. Kepercayaan dan kerjasama menjadi faktor kunci dalam relasi konseling, khususnya ketika klien dan konselor berasal dari latar belakang kelompok etnis yang berbeda.

Tahap 2, mengidentifikasi isu karir, pada tahap ini, konselor harus memiliki pemahaman tentang isu-isu pandangan hidup klien, dalam rangka memfasilitasi klien membuat keputusan karir. Tujuan utama tahap ini adalah membantu klien mengidentifikasi pengalamannya tentang keterbatasan dalam memilih karir, seperti pemilihan karir dipengaruhi oleh gender.

Tahap 3, asesmen tentang akibat faktor budaya. Pada tahap ini konselor mengidentifikasi aspek-aspek budaya yang sangat mempengaruhi keterbatasan dalam memilih karir. Proses ini membutuhkan waktu yang panjang ketika klien mengingat kembali tentang pemahaman penting bagaimana lingkungan keluarganya, agama, dan asal-usul budaya.

Tahap 4, menetapkan tujuan konseling. Penetapan tujuan dilakukan atas kerjasama antara klien dan konselor. Kerjasama dan relasi konseling sangat penting untuk konseli minoritas etnis.

Tahap 5, membuat intervensi budaya yang tepat. Dibutuhkan intervensi yang tepat untuk kelompok dengan anggota yang berasal dari budaya yang bervariasi. Intervensi kelompok juga sangat produktif untuk kelompok dengan beberapa budaya.

Tahap 6, membuat keputusan. Membuat keputusan sangat disarankan pada tahap ini termasuk monitoring yang kontinu terhadap proses pengambilan keputusan, terutama klien bebas dari segala gangguan dalam mencapai tujuan.

Tahap 7, implementasi dan tindak lanjut. Dalam hal ini, klien dapat mengambil referensi dari sumber-sumber informasi, kontak dengan individu lain atau pihak lain untuk membantunya.

 6.   Module Model of Curricular Career Information Service

Merupakan model konseling karir yang menggunakan pendekatan pembelajaran dan berbasis multimedia serta beorientasi self-help. Model ini dikembangkan oleh Curricular Career Information Service (CCIS), Florida State University. Modul berisi rumusan tujuan behavioral tertentu yang dicapai melalui kegiatan-kegiatan terstruktur. Model ini terdiri dari 12 modul, dengan isi sebagai berikut:

(1) modul 1, berisi penjelasan tentang tujuan CCIS, yang diawali dengan presentasi slide selama 10 menit tentang garis-garis besar tujuan CCIS;

(2) modul 2, dilengkapi dengan slide dan materi pilihan, berisi tinjauan umum tentang variabel-variabel yang dipandang penting dalam perencanaan karir;

(3) modul 3, berisi self-assessment, yang dilakukan sendiri dan hasilnya juga ditafsirkan sendiri, tentang inventarisasi minat dengan menggunakan instrument Self-Directed Search dari Holland;

(4) modul 4, terdiri dari presetasi slide tentang sumber-sumber informasi karir;

(5) modul 5, dimaksudkan untuk membantu mahasiswa mengenal karir-karir yang terkait dengan kajian akademik utama yang ditempuhnya;

(6) modul 6 sampai modul 12, mencakup harapan kerja, perencanaan waktu senggang, pernecanaan karir untuk orang kulit hitam, pembuatan keputusan karir untuk perempuan dewasa dan penyandang cacat, dan eksplorasi minat karir melalui keterampilan kerja dan okupasional.

7. Metroplex Model for Career Counseling

           Model metroplex diterapkan di universitas yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan alumni dalam jumlah yang besar, di samping harus melayani sejumlah besar mahasiswanya yang berasal dari berbagai macam program studi. Kegiatan difokuskan pada unit yang biasa disebut pusat konseling karir. Program-program yang dikembangkan di pusat konseling karir seperti ini diperuntukkan untuk membantu berbagai kalangan seperti: (1) orang dewasa muda dan separuh baya yang mengantisipasi perubahan arah karir, (2) individu yang menghendaki relokasi dalam bidang karirnya, (3) individu yang menginginkan mobilitas dalam bidang karirnya melalui pendidikan lanjut, (4) individu yang mencari informasi mengenai tren pasar kerja dalam bidang tertentu, (5) individu yang ingin membuat perencanaan untuk melanjutkan kembali studinya, dan (6) individu yang mencari karir kedua setelah pensiun dini dari karir pertama.

Secara operasional, pusat ini terbagi ke dalam beberapa unit yaitu: (1) unit pengembangan karir, (2) unit informasi kerja bagi mahasiswa, (3) program wawancara kampus, dan (4) tiga unit khusus yang mengurus kebutuhan mahasiswa dalam bidang pendidikan, manajemen, dan teknik. Ketiga unit khusus ini menawarkan program tambahan untuk mengakomodasi prosedur penempatan dalam masing-masing bidang tersebut.

8. Work and Experience-Based Programs for College and University Students

          Model ini dirancang untuk memberikan pengalaman kerja nyata kepada para mahasiswa. Dalam program ini, mahasiswa ditempatkan di perusahaan atau lembaga selama waktu tertentu, misalnya selama satu minggu. Tujuan program ini adalah memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk mengamati kegiatan di tempat kerja yang terkait dengan bidang keilmuannya dan berinteraksi dengan para pegawai di tempat kerja tersebut. Penyelengaraan program ini disponsori bersama oleh ikatan alumni universitas, pusat kegiatan mahasiswa, kantor penempatan, dan pusat layanan konseling mahasiswa.

          Setiap model yang telah diuraikan sebelumnya memiliki karakteristik masing-masing. Berikut karakteristik 5 (lima) model, yakni: (1) Trait and Factor and Person Environment Fit Model, (2) Developmental Model, (3) A Learning Theory of Career Counseling (LTCC) Model, (4) Cognitive Information Processing (CIP) Model, dan (5) Multicultural carerr counseling model for ethnic women.

Trait and factor and Person Environment Fit (PEF) memiliki karakteristik berikut: (a) langkah-langkah konseling ini relevan dengan konsep bimbingan dan konseling karir, (b) sasaran konseling adalah klien yang bermasalah, dalam arti konseli yang dilayani adalah individu yang sedang mengalami masalah atau kesulitan dalam merencanakan karir, kesulitan dalam membuat keputusan karir, atau kesulitan dalam menjalani karir/pekerjaan, dalam arti terbatas pada fungsi pengentasan, sehingga fungsi bimbingan dan konseling lainnya yakni fungsi pemahaman, fungsi pencegahan, fungsi pengembangan tidak terwujud dalam model ini, (c) terdapat usaha memahami karakteristik klien dan dunia kerja, namun pemahaman terhadap dunia kerja terfokus pada persepsi siswa/klien terhadap rekrutmen dan penghasilan yang diperoleh dalam pekerjaan-pekerjaan itu, (d) konseling dilaksanakan untuk membantu klien membuat keputusan karir.

Developmental Model memiliki karakteristik berikut: (a) tidak tergambar sebagai model konseling, sebab tidak mengikuti tahap-tahap konseling, yakni tahap awal, tahap kegiatan, dan tahap akhir, (b) fokus pada membantu klien memiliki kemampuan memilih karir, (c) proses bantuan dilakukan melalui strategi belajar, seperti latihan asertif, diskusi dengan pakar pekerjaan atau seseorang yang telah berhasil dalam pekerjaan, mengikuti jaringan pasar kerja, (d) tahapan konseling ini tidak relevan dengan konsep bimbingan dan konseling karir.

Learning Theory of Career Counseling (LTCC) Model memiliki karakteristik berikut: (a) tahapan konseling ini relevan dengan konsep bimbingan dan konseling karir, (b) proses konseling ditujukan untuk membantu klien membuat keputusan karir, (c) konseling dilakukan tidak sebatas mengambil keputusan karir, namun sampai pada tahap mencari pekerjaan.

Cognitive Information Processing (CIP) Model memiliki karakteristik berikuT (a) tahapan konseling ini relevan dengan konsep bimbingan dan konseling karir, (b) proses konseling berbasis belajar, (c) konseling ditujukan untuk membantu klien membuat keputusan karir dan keterampilan klien dalam memecahkab masalah pribadi dan karir di masa yang akan datang.

Multicultural career counseling, memiliki karaktersitik berikut: (a) model ini merupakan konseling berbasis multicultural dan dikhususkan pada etnis perempuan, (b) tahapan konseling ini relevan dengan konsep bimbingan dan konseling karir.

Khusus untuk 3 (tiga) model lainnya, yakni: (1) Module Model of Curricular Career Information Service, (2) Metroplex Model for Career Counseling, dan (3) Work and Experience-Based Programs for College and University Students, jika dicermati ketiga model tersebut memiliki karakteristik berikut: (1) dirancang untuk diterapkan di perguruan tinggi, (2) dirancang untuk mahasiswa yang telah memiliki kemandirian dalam membuat perencanaan karir, sehingga tampaknya peranan konselor sangat terbatas, (3) berorientasi pada perencanaan dan pemilihan lapangan kerja mengingat mahasiswa telah berada pada fase memilih lapangan kerja, (4) tidak menggunakan tahapan konseling, namun lebih berbentuk program kegiatan. Memperhatikan karakteristik tersebut maka dapat disimpulkan model-model ini kurang tepat digunakan untuk siswa pendidikan menengah atas.

Mencermati karakteristik dari setiap model, maka dapat ditemukan keunggulan dan juga kritikan terhadap model-model tersebut, sebagai berikut:      

Trait and factor and Person Environment Fit (PEF): model ini memiliki keunggulan berikut: (a) tahapan konseling ini relevan dengan konsep bimbingan dan konseling karir, (b) memenuhi tahapan konseling, yakni: tahap awal, tahap kegiatan, dan tahap akhir. Di samping keunggulan, kritikan terhadap model ini adalah: (a) sasaran konseling adalah klien yang bermasalah, (b) terdapat tahap pemahaman karakteristik siswa dan dunia kerja, namun pemahaman terhadap dunia kerja terfokus pada persepsi klien terhadap rekrutmen dan penghasilan yang diperoleh dalam pekerjaan-pekerjaan itu. Dalam bimbingan dan konseling karir, pemahaman dunia kerja yang dimaksud meliputi pemahaman terhadap berbagai jenis pekerjaan dengan berbagai karakteristiknya, (c) konseling dilaksanakan untuk membantu klien sampai pada membuat keputusan karir.

Developmental Model, model ini memiliki keunggulan yakni proses bantuan dilakukan melalui strategi belajar, seperti latihan asertif, diskusi dengan pakar pekerjaan atau seseorang yang telah berhasil dalam pekerjaan, mengikuti jaringan pasar kerja. Namun demikian terdapat kritikan terhadap model ini, yakni: (a) tahapan konseling ini relevan dengan konsep bimbingan dan konseling karir, (b) tidak tergambar sebagai model konseling, sebab tidak mengikuti tahap-tahap konseling, yakni tahap awal, tahap kegiatan, dan tahap akhir, (c) fokus pada membantu klien memiliki kemampuan memilih karir, dan (d) tahapan konseling ini tidak relevan dengan konsep bimbingan dan konseling karir.

Learning Theory of Career Counseling (LTCC) Model, model ini memiliki keunggulan berikut: (a) tahapan konseling ini relevan dengan konsep bimbingan dan konseling karir, (b) proses konseling ditujukan untuk membantu klien membuat keputusan karir, (c) konseling dilakukan tidak sebatas membantu klien mengambil keputusan karir, namun sampai pada tahap mencari pekerjaan. Di samping keunggulannya, sasaran model konseling ini adalah klien yang mengalami masalah karir, hal ini tidak sejalan dengan prinsip bimbingan dan konseling yakni layanan bimbingan dan konseling diberikan kepada semua siswa, baik yang mengalami masalah maupun yang tidak mengalami masalah.

Cognitive Information Processing (CIP) Model, model ini memiliki keunggulan berikut: (a) tahapan konseling ini relevan dengan konsep bimbingan dan konseling karir, (b) proses konseling berbasis belajar. Di samping keunggulan tersebut, satu hal yang dipandang menjadi kritikan terhadap model ini adalah konseling lebih ditujukan untuk membantu klien membuat keputusan karir.

Multicultural Career Counseling Model for Ethnic Women, memiliki keunggulan berikut: (a) model ini merupakan konseling berbasis multicultural dan dikhususkan pada kaum wanita, (b) tahapan konseling ini relevan dengan konsep bimbingan dan konseling karir. Kritikan terhadap model ini adalah tidak tepat digunakan untuk klien berjenis kelamin laki-laki, mengingat karir laki-laki memiliki ciri khas yang berbeda dengan karir wanita.

          Untuk 3 (tiga) model lainnya, yakni: (1) Module Model of Curricular Career Information Service, (2) Metroplex Model for Career Counseling, dan (3) Work and Experience-Based Programs for College and University Students, khusus dirancang digunakan bagi mahasiswa di perguruan tinggi, yang memiliki perbedaan karakteristik perkembangan dengan siswa pendidikan menengah atas. Di samping itu, model ini tidak menggunakan tahapan konseling, namun lebih berbentuk program kegiatan.

Sumber Rujukan: Zunker, Vernon G. 2006. Career Counseling. A Holistic Approach. Thomson Brooks/Cole.

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong