Early Warning Score System (EWSS)

05 March 2021 06:17:06 Dibaca : 245

Sistem peringatan dini di rumah sakit berupa rangkaian sistem komunikasi informasi, dimulai dari deteksi awal, dilanjutkan dengan pengambilan keputusan untuk penanganan berikutnya. Penilaian pada sistem peringatan dini ini menggunakan skor yang disebut Early Warning Score. EWS yang umumnya digunakan adalah National Early Warning System (NEWS).

NEWS adalah sistem penilaian kumulatif yang menstandarkan penilaian tingkat keparahan penyakit akut yang dikembangkan pertama kali pada tahun 2012. Alat sederhana yang saat ini sudah digunakan hampir di seluruh rumah sakit, yang penilaian skoringnya dihitung dari tanda-tanda vital pasien.

Manfaat EWS, yakni :

  • Sistem EWS untuk deteksi dini penyakit akut dengan mengukur parameter fisiologis spesifik dengan format standar
  • Sistem penilaian standar untuk menentukan tingkat keparahan penyakit untuk mendukung pengambilan keputusan klinis yang konsisten dan respons klinis yang tepat
  • Standardisasi pelatihan dalam pendeteksian penyakit akut dan manajemen pasien yang mengalami penurunan secara klinis
  • Adopsi sistem penilaian standar di seluruh rumah sakit, tidak hanya dalam konteks perburukan klinis akut tetapi juga untuk pemantauan terus-menerus dari semua pasien

Mengingat pentingnya mengenali kegawatan secara dini telah dikembangkan sistem deteksi dini (Early Warning System) dan resusitasi yang optimal (aktivasi code blue) yang terintegrasi dalam rantai keselamatan pasien “Chain of survival”

Standar prosedur operasional untuk pelaksanaan EWS dapat diunduh pada link berikut, Standar Prosedur Operasional pelaksanaan EWS

Pengembangan EWS yang saat ini digunakan adalah National Early Warning System (NEWS) 2, dengan pengukuran parameter dibawah ini :

Penambahan pada NEWS 2, yakni penambahan level penanganan, parameter lebih rinci dengan rentang yang jelas, adanya saturasi oksigen skala 2 untuk pasien dengan kondisi khusus, misalnya dengan target saturasi oksigennya 88-92%, contohnya pada gagal nafas hiperkapnia (Sesuai dengan hasil kolaborasi tim medis). Berikutnya, penambahan keadaan gelisah pada level kesadaran.

EWS untuk Pasien Covid-19

Modifikasi EWS dewasa pada masa pandemi Covid-19, yakni pada penambahan usia dan pengkategorian pasien.

 

Respon terhadap hasil pengkajian Early Warning System Score pada pasien dewasa Covid-19

Sumber :

  • DPP HIPGABI
  • Liao, X., Wang, B., & Kang, Y. (2020). Novel coronavirus infection during the 2019–2020 epidemic: preparing intensive care units—the experience in Sichuan Province, China. Intensive care medicine, 46(2), 357-360.

PPNI AKAN GELAR UJIAN KOMPETENSI KHUSUS RETAKER ONLINE

04 March 2021 07:42:57 Dibaca : 7270

Ukom khusus rekater akan dilakukan secara online melalui aplikasi computer based testing (CBT), dimana setiap peserta akan mengevaluasi kemampuannya dengan menjawab pertanyaan bersama yang ditulis oleh OP, AIP dan HPTKes. Soal UKOM Online dilakukan secara serentak dan simultan di lokasi masing-masing peserta sesuai jadwal. Sebelum menghadapi Ukom, peserta akan melakukan persiapan melalui modul pembelajaran dan soal latihan.

Menindaklanjuti surat Pemberitahuan dan Sosialisasi Nomor. 0151/DPP.PPNI/SE/K.S/II/2021 dalam rangka penyelenggaraan Uji Kompetensi Nasional (Ukomnas) Khusus Retaker Perawat yang akan dilaksanakan secara online, telah dilaksanakan sosialisasi secara virtual via aplikasi Zoom yang telah dilaksanakan selama tiga hari terhitung dari tanggal 1-3 Maret 2021 dihadiri oleh seluruh Dewan Pengurus Wilayah dan Dewan Pengurus Kota se Indonesia. Pemateri berasal dari DPP PPNI Pusat dan materi kegiatan terlampir dibawah ini.

Materi Sosialisasi UKOMNAS Khusus Retaker

Pendaftaran dapat dilakukan melalui alamat URL website http://elearning.ppni-inna.org

Timeline Pelaksanaan Ukomnas Khusus Retaker, yakni :

MENGANGKAT DAN MEMINDAHKAN PASIEN

03 March 2021 19:06:16 Dibaca : 1268

Mengangkat dan memindahkan pasien merupakan hal yang terpenting dalam evakuasi pasien baik di rumah sakit maupun di pra rumah sakit. Hal ini membutuhkan kekuatan fisik yang maksimal dan tenaga yang terlatih. Ada beberapa teknik dan hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan evakuasi pasien, yaitu :

Mekanika Tubuh

Mekanika tubuh merupakan suatu cara untuk mempertahankan keseimbangan tubuh dalam mengangkat, bergerak dan melakukan aktivitas. Pengangkatan dan pemindahan pasien dibutuhkan mekanika tubuh yang baik, dengan mempertahankan posisi tubuh tegak lurus, jarak kaki selebar bahu, kaki menjadi tumpuan utama, tidak menggunakan otot punggung untuk mengangkat, melainkan menggunakan  otot tungkai, otot panggul & otot perut (Anna, 2008).

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam mengangkat dan memindahkan pasien, yakni:

  1. Kenali kemampuan diri dan kemampuan tim penolong, pastikan jumlah penolong yang cukup
  2. Saling berkomunikasi antar tim penolong
  3. Saat mengangkat mempertahankan posisi punggung tetap lurus
  4. Menyediakan peralatan yang tepat
  5. Memperhatikan kondisi tempat atau pijakan saat mengangkat pasien

Memindahkan Pasien pada Kondisi  Emergensi

Kondisi emergensi adalah keadaan pasien dalam bahaya, yang harus dipindahkan segera sebelum dinilai kondisinya. Adapun contoh kondisi emergensi yakni :

  1. Adanya kebakaran atau ledakan
  2. Ketidakmampuan penolong menjaga pasien terhadap bahaya lingkungan sekitarnya
  3. Usaha mencapai pasien darurat lain, yang lebih urgen.

Apapun cara pemindahan pasien non emergensi, selalu memperhatikan dan menjaga adanya patah tulang leher (fraktur servikal), terutama pada pasien dengan trauma.

Memindahkan Pasien pada Kondisi Darurat Dan Tidak Darurat

Kondisi darurat adalah pergerakan yang mendesak diperlukan saat pasien harus segera dipindahkan untuk pengobatan ancaman kehidupan segera. Pergerakan yang mendesak dilakukan dengan mencegah terjadinya cedera tulang belakang. Adapun teknik memindahkan pasien pada kondisi darurat dan tidak darurat, yakni:

Pemindahan Darurat

a. Tarikan Selimut

Pemindahan pasien dillakukan dengan teknik log roll, memposisikan pasien ke arah penolong, menarik selimut diletakkan dibawah pasien, mengembalikan posisi pasien, menyelimuti pasien, memindahkan pasien dengan cara ditarik.

b. Tarikan Lengan

Pemindahan pasien dengan cara penolong berada dibelakang pasien, kedua lengan penolong dimasukkan dibawah ketiak pasien, memegang kedua lengan bawah pasien, kemudian pasien ditarik.

c. Tarikan Baju

Dalam keadaan darurat posisi pasien susah diangkat atau susah untuk menggapainya. Maka teknik terakhir adalah mengangkat pasien dengan menarik pakaian dikeraknya

Pemindahan Tidak Darurat

Kondisi tidak darurat adalah pergerakan yang tidak mendesak, kondisi pasien stabil dan tidak ada ancaman kehidupan

a. Mengangkat dan memindahkan secara langsung

Dilakukan oleh 2 atau 3 penolong. Penolong pertama memposisikan lengannya dibawah kepala pasien, penolong kedua memposisikan lengannya dibawah pinggang pasien, penolong ketiga memposisikan  lengannya dibawah kaki pasien. Saling berkomunikasi antar satu dengan yang lainnya, mengangkat pasien ke lutut dan memiringkan pasien ke arah dada penolong, pindahkan pasien dengan satu gerakan. Tindakan ini tidak bisa dilakukan pada pasien yang dicurigai adanya trauma servikal.

b.  Mengangkat dan memindahkan memakai sprei

Pasien diangkat dan dipindahkan menggunakan sprei. Tindakan ini tidak dapat dilakukan pada pasien yang dicurigai adanya trauma servikal.

Perlengkapan untuk Memindahkan Pasien

Beberapa perlengkapan yang digunakan untuk memindahkan pasien, yakni Tandu Ambulans (Wheeled stretcher), Tandu Sekop (Scoop stretcher), Long Spine Board, Tandu Basket (Stokes Basket), Flexible Strecher, Kursi Tangga (Stair chair) dan Portable Strecher. Berikut ini penjelasan perlengkapan tersebut.

1. Tandu Ambulans (Wheeled stretcher)

Alat yang terpasang dikendaraan Ambulans digunakan untuk mengangkat dan memindahkan pasien dari TKP ke ambulans yang kemudian dibawah ke rumah sakit. Bisa diturunkan dan dinaikkan, dilengkapi strap menjaga keamanan pasien saat proses pemindahan.

Cara penggunaan: Salah satu penolong berada dibelakang pasien memasukkan lengan ke bawah ketiak pasien dan satu penolongnya mengangkat dari kaki, saling berkomunikasi antar satu dengan yang lainnya, pasien dipindahkan ke tandu ambulans. Setelah itu dipasangkan strap menjaga keamanan pasien dan ketika memindahkan pasien tetap berada ditandu tersebut tanpa harus menurunkannya

2. Tandu Sekop (Scoop stretcher)

Tandu sekop biasa digunakan untuk memindahkan pasien yang lokasinya memiliki akses yang terbatas dan bermanfaat untuk memindahkan pasien darurat, alat ini bisa dipisahkan perangkatnya dan dilengkapi strap untuk menahan posisi pasien saat proses pemindahan

Cara penggunaan: Tandu sekop dipisahkan kemudian ditempatkan dikedua sisi pasien dan menguncinya bersama-sama, dipasangkan strap kemudian pasien dipindahkan. Hal yang perlu diperhatikan alat ini tidak dapat digunakan pada pasien yang memiliki cedera servikal

3. Long Spine Board

Tandu yang digunakan selain untuk memindahkan pasien berfungsi sebagai alat fiksasi. Alat ini sangat baik digunakan pada pasien yang dicurigai adanya fraktur servikal.

Cara penggunaan: Pemindahan pasien ke atas long Spine Board dillakukan dengan teknik log roll, memposisikan pasien ke arah penolong. Satu penolong menyokong area kepala punggung pasien dan yang lainnya memeriksa bagian belakang pasien, long Spine Board didekatkan kearah pasien. Kemudian pasien diletakkan bersamaan dengan tandu tersebut secara perlahan-lahan. Dipasangkan pengaman yang diistilahkan tali laba-laba, melakukan fiksasi kepala dan kemudian pasien dipindahkan di tandu ambulans.

4. Tandu Basket (Stokes Basket)

Tandu basket berbentuk keranjang digunakan untuk memindahkan pasien dengan atau tanpa long spine board. Terdapat juga strap untuk mengamankan pasien ketika proses pemindahan. Alat ini sering kali digunakan dalam pencarian korban yang sulit dijangkau, misalnya pada daerah dengan dataran tinggi, terdapat tali pengangkut yang akan dikaitkan pada celah lubang yang ada pada sekeliling tandu basket

Cara penggunaan: Menempatkan pasien keatas permukaan tandu, lalu dipasangkan strapnya, kemudian pasien dipindahkan di tandu ambulans

5. Flexible Strecher

Tandu yang dapat digunakan untuk memindahkan pasien ditempat terbatas dan sempit. Dipakai pada pasien tanpa cedera servikal.

Cara penggunaan: Pemindahan pasien menggunakan flexible strecher dillakukan dengan teknik log roll, memposisikan pasien ke arah penolong, flexible strecher didekatkan kearah pasien, mengembalikan posisi pasien, kemudian mengangkat pasien dengan 4 orang penolong yang kemudian dipindahkan ke tandu ambulans

6. Kursi Tangga (Stair chair)

Alat yang dapat digunakan untuk memindahkan pasien yang bisa duduk atau berdiri namun sulit untuk bergerak. Biasanya digunakan untuk memindahkan pasien melalui tangga.

Cara penggunaan: Penolong pertama berada dibelakang pasien dan penolong lainnya berada didepan pasien yang akan memandu untuk menuruni tangga, dengan memperhatikan posisi tubuh dalam mengangkat dan berkomunikasi satu sama lain. Setelah itu membantu pasien untuk pindah ke tandu ambulans

7. Portable Strecher

Alat yang digunakan untuk memindahkan pasien dari satu tempat ke tampat yang lain. Terdapat juga strap untuk mengamankan pasien ketika proses pemindahan.

Cara penggunaan: Setelah pasien berada ditandu portable, menggunakan teknik yang benar saat mengangkat, memperhatikan keseimbangan tubuh tetap tegak lurus dan saling berkomunikasi antar satu dengan yang lainnya

Berdasarkan uraian tersebut transportasi pasien merupakan komponen penting dalam penyediaan layanan kesehatan. Komunikasi, kesesuaian personil, keamanan dan efisiensi dalam mengangkat dan memindahkan pasien merupakan kunci utama untuk kualitas dan keamanan transportasi pasien (Hains, Marks, Georgiou, & Westbrook, 2011). Selain itu memperhatikan keselamatan penyedia EMS, berdasarkan penelitian oleh (Maguire & Smith, 2013), didapatkan paramedis memiliki tingkat cedera sekitar tiga kali untuk semua pekerjaan, sebagian korban jiwa merupakan akibat dari insiden terkait transportasi. Sehingga perlu adanya pengembangan teknologi peralatan dan penelitian terkait teknik maupun metode pemindahan dan pengangkatan pasien yang tepat dan aman mengingat pentingnya keselamatan penolong dan pasien pra rumah sakit (Eglitis, Corrigan, Sweeney, Pierce, & Stoy, 2017).

 Daftar Pustaka

Anna. (2008). Lifting and Moving Patients. from http://emt-training.org/lifting-moving.php

Eglitis, N, Corrigan, E, Sweeney, M, Pierce, J, & Stoy, W.A. (2017). Fresh Perspectives on Safer Patient Lifting and Moving. Journal of Emergency Medical Service.

Hains, I.M, Marks, A, Georgiou, A, & Westbrook, J.I. (2011). Non emergency patient transport: what are the quality and safety issues? A systematic review. International Journal for Quality in Health Care, 23(1), 68-75. doi: 10.1093/intqhc/mzq076

Maguire, B.J, & Smith, S. (2013). Injuries and fatalities among emergency medical technicians and paramedics in the United States. Prehosp Disaster Med, 28(4), 376-382. doi: 10.1017/S1049023X13003555

 

 

PEMBELAJARAN CASE METHOD PASIEN COPD

03 March 2021 18:57:26 Dibaca : 32

Kasus COPD

The emergency department contacts you to say that a 60 year-old woman has brought in by ambulance from home. Mrs Sinha is a lifelong smoker and has a long history of chronic obstructive pulmonary disease (COPD), with many previous admission to hospital. Mrs Sinha had been more breathless than normal over the past few days with a cough, producing green sputum. In the early hours of the morning, Mrs Sinha became acutely short of breath. She tried using her nebuliser at home, but did not improve and dialled 999. The paramedic crew gave Mrs Sinha a further salbutamol and ipratropium bromide nebuliser, and 15 L of oxygen via a non-rebreath mask. The referring doctor believes that this illness represents an exacerbation of COPD. On your arrival Mrs Sinha is drowsy and disoriented but responding to voice and obeying commands. Mrs Sinha’s respiratory rate 8 breath/min, with a prolonged expiratoryphase and ‘purs lip’ breathing. Saturation read 97% on 15 L of oxygen via non-rebreathing mask. Mrs Sinha’s heart rate is 130 beat/min, with a blood pressure of 130/70 mmHg and she is aprexial. Auscultation of the lung fields reveals generally poor air entry throught with a few scattered wheezes but no other added sounds.

Buatlah analisis kasus diatas menggunakan dasar literatur baik buku maupun jurnal penelitian

 

Analisis Kasus COPD oleh Zulkifli B.Pomalango

1.    What is exacerbation of chronic obstructive pulmonary disease (COPD)?

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit yang umum, dapat dicegah dan dapat diobati yang ditandai dengan gejala pernapasan yang persisten dan pembatasan aliran udara yang disebabkan oleh kelainan jalan napas yang biasanya disebabkan oleh paparan partikel atau gas berbahaya. Gejala pernafasan yang paling umum adalah dyspnea, batuk dan atau tanpa produksi sputum. Faktor risiko utama COPD adalah kebiasan merokok, paparan bahan bakar biomassa dan polusi udara.

Eksaserbasi PPOK merupakan periode gejala perburukan PPOK akut, kondisi klinis pasien dengan keluhan batuk meningkat, produksi sputum bertambah dan terjadi sesak. Eksaserbasi PPOK memberikan dampak perburukan terhadap kondisi pasien, mempercepat tingkat penurunan fungsi paru, meningkatkan morbiditas dan mortalitas secara signifikan (Agusti, Decramer, Celli, 2017)

 2.    What immediate management is required?

Berdasarkan kasus diatas, pasien sudah mengalami eksaserbasi dan indikasi terjadi penurunan kesadaran karena pasien mengalami disorientasi. Sehingga pasien dilakukan mobilisasi ke ruang Intensive Care unit (Agusti, Decramer, Celli, 2017). Selain itu terapi yang segera diberikan kepada pasien mengalami eksaserbasi berupa pemberian broncodilator yaitu salbutamol, sebagai antiinflamasi diberikan ipratropium bromide nebuliser (MacIntyre, 2008)

 3.    Why is patient drowsy/ confused?

Pasien mengalami ngantuk dan bingung dikarenakan kurangnya suplai oksigen ke otak. Hal ini disebabkan pada kasus PPOK terjadi inflamasi kronik, yang menyebabkan gangguan pertukaran oksigen pada paru, sehingga paru tidak mampu menyuplai oksigen yang cukup ke seluruh sel terutama ke otak. Ketidakadekuatan oksigen ke otak yang menyebabkan pasien ngantuk dan bisa sampai terjadi penurunan kesadaran (Brill, Wedzicha, & Jadwiga, 2014).

4.    How can narcosis be corrected?

Karbondioksida narcosis dapat dikoreksi dengan pemeriksaan analisis gas darah. Analisis gas darah merupakan pemeriksaan yang mengukur derajat keasaman (pH) dan jumlah oksigen (O2) serta karbondioksida (CO2) dalam darah. Pada pemeriksaan ini akan didapatkan nilai tekanan karbondioksida di dalam pembuluh darah arteri tinggi (PaCO2).

 5.    What further information is required?

Informasi yang perlu dikaji lebih lanjut yakni faktor pencetus dari masalah yang dialami oleh pasien dan faktor yang dapat memperparah keadaan pasien. Mengkaji riwayat sebelumnya, terutama riwayat gangguan pernafasan, riwayat keluarga yang mengidap penyakit yang sama, riwayat penyakit yang mendasari. Hal ini dapat berhubungan dengan intervensi apa yang dapat diberikan.

 6.    What further investigation is required?

Penatalaksanaan yang perlu dilakukan :

a)    Pemeriksaan analisis gas darah

b)    Pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui adanya infeksi.

c)    Pemeriksaan sputum purulen sebagai indikasi perlu pemberian terapi antibiotik

d)    EKG untuk pemeriksaan kelainan pada jantung, membantu dalam mengkaji riwayat penyakit yang mendasari

e)    Foto Thorax untuk membedakan diagnose PPOK dengan penyakit paru yang lainnya.

 7.    What is the causes of this exacerbation?

Exacerbasi PPOK dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Penyebab yang paling sering adalah infeksi saluran pernafasan baik yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Selain itu memiliki kebiasaan merokok dan kondisi terdapat penyakit yang mendasari diantaranya pneumonia, emboli paru, efusi pleura dan penyakit jantung kongestif.

 8.    Why Mrs Sinha deteriorated and what action should be taken?

Keadaan pasien semakin memburuk dikarenakan adanya faktor yang memperburuk atau yang dapat menyebabkan eksaserbasi PPOK, yakni pasien sudah lanjut usia, memiliki riwayat merokok, memiliki masalah jantung dan eksaserbasi yang berulang.

Tindakan yang perlu dilakukan, yakni :

a.    Kolaborasi pemberian terapi pengobatan, pemberian alat bantu pernafasan jika kondisi pasien tidak membaik, pemberian terapi oksigen dengan memperhatikan hasil analisa gas darah untuk mencegah terjadinya retensi karbondioksida

b.    Jika kondisi pasien tidak membaik, terjadi sesak yang semakin berat, terjadi penurunan kesadaran, perubahan status hemodinamik yang tidak stabil, maka pasien perlu mendapat pengobatan dan perawatan lebih intensive di ruang Instalasi Care Unit (ICU)

9.    What assessment should be taken at prehospital? (describe your assessment: scene size-up, primary, history taking, secondary, reassessment, and mergency medical care)

a)  Scene size-up

  • ­Pemasangan Alat Proteksi Diri (APD) berupa sarung tangan dan masker
  • Memastikan keamaan lingkungan bagi pasien dan petugas.
  • Triase awal yaitu jumlah pasien satu orang dengan keluhan sulit bernafas dan dikategorikan label merah.
  • Peralatan yang dibutuhkan yaitu : Alat pemeriksaan TTV, IV Line set, Oksigen, Nebulizer, Nasal Kanul, NRBM,  Obat-obatan berupa Bronkodilator atau Ekspektoran

b)  Primary

  • Airway : Klien tampak sesak, adanya sumbatan jalan nafas akibat penumpukan sputum. Suara nafas terdengar wheezing

Tindakan yang diberikan : Berikan posisi semifowler dan kolaborasi pemberian Salbutamol dan ipratropium bromide nebulizer

  • ­Breathing : RR 8x/min dengan fase ekspirasi memanjang, tampak bernafas menggunakan pernafasan mulut.      

Tindakan yang diberikan : Pemberiaan oksigen dengan NRBM 15 l/m

  • ­Circulation : Tekanan Darah 130/70 mmhg, Nadi 130x/min, BP 130/70 mmhg, tampak sedikit sianosis.
  • ­Disability: Pasien  disorientasi, namun pasien dapat memberikan respon terhadap suara yang diberikan dan mengikuti perintah.
  • Exposure & environment

c)  History taking

Alergi          : Tidak didapatkan riwayat alergi

Medicine     : Obat untuk Nebulizer

Past Illnes : PPOK berulang

Last meal   : Tidak terkaji

Event         : Keluhan batuk dan sesak nafas sebelum masuk rumah sakit dan memiliki riwayat kebiasaan meroko yang cukup lama

d)  Secondary Assessment

Pemeriksaan Fisik : Head to toe

Spesifik pemeriksaan pada bagian thorax

e)  Reassessment

Reassessment dilakukan untuk mengevaluasi kembali pengkajian primer dari kondisi pasien, didapatkan :      Jalan napas pasien belum paten. TTV: TD : 130/70 mmhg, Nadi 130x/menit, Sp02 97%. Kesadaran tampak bingung dan mengantuk.

f)    Emergency medical care

  • Pemberian posisi yang nyaman : Semifowler atau Fowler
  • ­Pemberian Oksigen yang adekuat : NRBM 15 l/m
  • ­Pemberian obat Salbutamol dan Nebulizeripratropium bromide
  • ­Pemasangan IV line sekaligus pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan penunjang
  • ­Melakukan observasi kondisi pasien selama perjalanan ke RS

Daftar Pustaka

Agusti, A, Decramer, B, Celli, M. 2017. Pocket guide to COPD diagnosis, management, and prevention. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease

Brill, S.E, Wedzicha, Jadwiga, A. 2014. Oxygen therapy in acute exacerbations of chronic obstructive pulmonary disease. international Journal of COPD

MacIntyre, N.H, Yuh, C. 2008. Acute Exacerbations and Respiratory Failure in Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Atsjournal. 5.530-535

 

TRIAGE DI UNIT GAWAT DARURAT

03 March 2021 18:05:59 Dibaca : 454

Triage merupakan proses pemilahan dan klasifikasi pasien untuk menentukan prioritas kebutuhan dan penentuan tempat perawatan yang sesuai. Adapun triage yang saat ini dilakukan di rumah sakit, yakni :

1. Triage sehari-hari

Pada triage yang sehari-hari dilakukan, tingkat kegawatdaruratan pasien, senantiasa dinilai berdasarkan penilaian primary survey yang terdiri atas airway, breathing, circulation, disability dan eksposure. Adapun triase 5 level yang sering digunakan, yakni Australian Triage Scale (ATS), Canadian Emergency Department Triage and Acuity Scale (CTAS), Manchester Triage Scale (MTS), dan Emergency Severity Index (ESI).

  • Prioritas 1 (Resuscitation) : Kondisi pasien yang mengancam nyawa dan memerlukan penanganan yang agresif/segera
  • Prioritas 2 (Emergent) : Kondisi pasien yang berpotensi mengancam nyawa, dan / atau anggota tubuh beserta fungsinya, dan membutuhkan intervensi medis segera (waktu tunggu pasien – 15 menit)
  • Prioritas 3 (Urgent) : Kondisi pasien yang dapat berpotensi menyebabkan kegawatan dan membutuhkan penanganan yang cepat (waktu tunggu < 30 menit)
  • Prioritas 4 (Less Urgent) : Kategori pasien dengan resiko rendah untuk terjadinya perburukan kondisi saat pasien menunggu Treatment (waktu tunggu < 60 menit)
  • Prioritas 5 (Non Urgent) : Kondisi pasien yang stabil dan cukup aman untuk menunggu tindakan selanjutnya (waktu tunggu < 120 menit)

2. Triage  pada masa pandemi covid-19

Triage pada masa pandemi covid-19, pemilahan dan klasifikasi pasien untuk menentukan prioritas kebutuhan dan penentuan tempat perawatan yang sesuai menggunakan indikator tingkat kegawatdaruratan berdasarkan penilaian primary survey yang terdiri atas airway, breathing, circulation, disability eksposure dan penilaian tingkat virulensi pasien berdasarkan indikator EWS Screening Covid-19. Hal yang perlu diketahui dalam EWS Screening Covid 19, yakni :

  • EWS screening COVID-19 memungkinkan tenaga kesehatan untuk mendeteksi lebih cepat dan relatif lebih akurat pada pasien yang dicurigai COVID-19
  • EWS sreening covid-19 berbeda dengan EWS monitoring Covid-19
  • Parameter yang digunakan pada EWS Screening Covid-19, yakni :

          

 3. Algoritma Triage pada masa pandemi

Tim ilmiah Gugus Tugas Covid-19 DPP HIPGABI sangat merekomendasikan pemisahan alur pelayanan dan ruangan antara pasien dengan keluhan ISPA dan non ISPA.

a. Pengkajian di Triase Primer : Tujuannya untuk emilahan pasien berdasarkan riwayat dan keluhan terkait ISPA

    

b. Pengkajian di Triase Sekunder : Tujuannya untuk pemilahan pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan dan tingkat virulensi pasien

    

Algoritme Triase pada masa covid-19 dapat di download pada link berikut : Algoritme Triase pada Masa Covid-19 di Instalasi Gawat Darurat

Dapat disimpulkan bahwa :

Triage pada masa pandemi COVID-19 harus memasukan penilaian awal terkait tingkat virulensi pasien menggunakan EWS screening COVID-19

EWS screening COVID-19 tidak menggantikan triage sehari-hari yang telah dilakukan di IGD hanya menambah elemen kewaspadaan pada proses triage

Proses triage pandemi yang efektif dapat mencegah transmisi virus penyebab COVID-19 ke pasien dan tenaga kesehatan

Sumber : DPP Hipgabi