1. Periksa napasnya dengan memiringkan kepalanya ke belakang dan melihat atau merasakan napasnya
  2. Mintalah orang lain untuk menghubungi dan atau bawa penderita ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan lanjutan. Jika anda merasakan nafasnya dan ditemukan tidak bernafas, mulailah menekan dadanya. Letakkan satu telapak tangan anda pada bagian tengah dada dan tumpuk dengan tangan lainnya di bagian atasnya, jajarkan jari-jari anda bersamaan
  3. Tekan dengan kuat ke bawah pada tenah dada kemudian lepaskan
  4. Tekanan dengan kedalaman orang dewasa 4-5 cm dan kecepatan 100-120 kali permenit. Teknik dan caranya dapat disimak pada video Bantuan Hidup Dasar

Apakah saya melakukan kompresi dada dengan cara yang berbeda kepada anak atau bayi?

Pendekatannya sama, tetapi kompresi dada harus sedikit dimodifikasi bila dilakukan pada anak atau bayi. Untuk anak berusia antara satu sampai 12 tahun, gunakan kedua tangan untuk menekan dada sedalam 2 inci. Untuk bayi (kurang dari satu tahun), gunakan permukaan 2 jari-jari anda dan tekan dadanya sedalam 1 1/2 inci.

Apa yang dimaksud dengan kompresi dada?

Kompresi dada adalah ketika anda meletakkan tangan anda di tengah dada seseorang kemudian menekan dan melepasnya berulang-ulang dengan cepat dan membantu memompa darah ke seluruh tubuhnya.

Bagaimana jika saya sedang sendirian ketika menemukan seseorang yang tidak sadarkan diri ketika menemukan seseorang yang tidak sadarkan diri atau tidak bernafas?

Jika anda sendirian, hubungi fasilitas kesehatan terdekat, sebelum anda mulai melakukan kompresi dada.

Apakah saya harus memberikan nafas dari mulut ke mulut juga?

Hal ini tidak dianjurkan untuk dilakukan jika yang diberi bantuan bukan keluarga inti/ yang dikenal, karena tidak diketahui korban yang diberi pertolongan mengidap penyakit infeksius. Anda cukup memberikan kompresi dada. Jika keluarga sendiri, anda dapat melakukannya dengan cara tekanan kompresi dada sebanyak 30 kali lalu diikuti dengan 2 kali bantuan nafas.

Jurusan Keperawatan Universitas Negeri Gorontalo akan menyelenggarakan event ilmiah internasional bertajuk “The second virtual gorontalo international nursing conference tahun 2021: Disaster Management and Emergency Preparedness.

Kegiatan ini merupakan event ilmiah bertaraf internasional yang kedua kali diselenggarakan oleh Jurusan Keperawatan Universitas Negeri Gorontalo.

Kegiatan  tersebut akan dihadiri oleh enam orang pembicara dari beberapa negara seperti Indonesia, Mesir, Jepang, dan Filipina. Keenam pembicara tersebut akan membagi ilmunya tentang kesiapsiagaan dan manajemen bencana.

Event yang akan di gelar membahas kajian dalam beberapa bidang, yakni manajemen keperawatan, manajemen disaster, keperawatan gawat darurat, keperawatan medikal bedah, keperawatan jiwa, komunitas, kesehatan perempuan, pendidikan interprofesional, medis, penyakit menular, kesehatan masyarakat, kebidanan dan farmasi.

Tidak hanya menyajikan materi dari para pakar bertaraf internasional, konferensi ilmiah juga akan menyajikan presentasi ilmiah serta memamerkan poster-poster ilmiah dari para akademisi maupun klinisi keperawatan dan tenaga kesehatan lainnya dari berbagai negara.

Bagi para praktisi keperawatan di Indonesia, event ini akan menjadi kesempatan emas untuk menimba ilmu serta mengupdate keilmuan keperawatan.

Konferensi ini juga menjadi kesempatan baik untuk berbagi hasil penelitian maupun karya ilmiah sekaligus memperoleh pengakuan nasional maupun internasional.

Sebagai bentuk apresiasi penyelenggara terhadap karya karya ilmiah peserta, event ini akan menerbitkn proceeding dengan nomor ISBN nasional, publikasi jurnal yang terindeks sinta, garuda dan google scholar. Lebih jauh lagi, jika peserta berminat, jurnal akan dipublikasikan pada jurnal yang terindeks scopus sesuai dengan aturan yang telah ditentukan.

Informasi lengkap mengenai konferensi ini dapat dilihat di  website https://ginconference.org/.

 

  1. Periksa nafasnya dengan memiringkan kepalanya ke belakang dan amati atau rasakan apakah mereka bernafas. Ketika seseorang tidak sadarkan diri, otot-ototnya lentur dan lidahnya bisa menutupi saluran nafas sehingga dia menjadi sulit bernafas. Memiringkan kepalanya ke belakang dapat membuka saluran udara dan menarik lidah keluar. Mengamati dadanya, dapat melihat apakah bergerak atau tidak, dan merasakan nafasnya di pipi anda, hal ini untuk mengidentifikasi apakah korban masih bernafas atau tidak
  2. Miringkan tubuhnya ke satu sisi dan miringkan kepalanya ke belakang. Posisi dengan kepala miring ke belakang akan membantu aliran udara dan pastikan bahwa lidahnya ke depan dan darah atau muntahan keluar
  3. Hubungi dan atau bawa penderita ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan lanjutan.

 

Mengapa saya harus memiringkan kepalanya ke belakang untuk memeriksa nafasnya?

Ketika seseorang tidak sadarkan diri, lidahnya dapat menutupi saluran nafas. Memiringkan kepalanya kebelakang akan membuka saluran pernafasan, sehingga korban lebih mudah untuk bernafas. Jika seseorang mengalami cedera punggung atau leher, upayakan leher korban tetap dalam posisi lurus tidak bergerak

Apakah saya harus mencoba berbicara dengan penderita?

Ya, bicaralah dengannya dan tenangkan dia. Walaupun mungkin dia tidak menjawab anda, penderita mungkin saja masih bisa mendengar apa yang sedang terjadi.

 

PERTOLONGAN PERTAMA PADA SERANGAN JANTUNG

14 February 2021 22:21:42 Dibaca : 17
  1. Orang yang mengalami serangan jantung pada umumnya mengalami rasa sakit di dada sebelah kiri, atau tidak rasa tidak nyaman di lengan, leher, rahang, punggung dan ulu hati. Rasa sakit tersebut disebabkan oleh tersumbatnya aliran darah ke otot jantung, dan rasa sakit tersebut berkurang dengan istirahat. Bila anda sering mengalami gejala seperti diatas, segeralah untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
  2. Hubungi dan atau bawa penderita ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan lanjutan. Penderita tersebut harus mendapatkan pertolongan medis secepatnya, karena serangan jantung bisa berbahaya dan perlu pertolongan segera.
  3. Pastikan bahwa penderita pada posisi yang nyaman (Posisi duduk di lantai, bersandar membelakangi dinding atau kursi). Tindakan ini akan meringankan tekanan pada jantung. Memposisikan penderita duduk dilantai juga akan mencegah cedera jika penderita pingsan.
  4. Terus tenangkan penderita selama menunggu pertolongan datang.

Apa itu serangan jantung?

Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke otot jantung tiba-tiba terhambat. Hambatan ini mengakibatkan jantung tidak dapat bekerja secara efektif, sehingga serangan jantung bisa berakibat fatal. Beratnya serangan jantung tergantung pada luas otot jantung yang terdampak.

Bagaimana bisa saya mengetahui bahwa seseorang mengalami serangan jantung?

Gejala-gejala serangan jantung dapat beragam, termasuk :

  • Rasa sakit sebelah dada kiri terus menerus, yang menyebar ke bagian lengan, leher, rahang, punggung atau perut. Dalam beberapa kasus, rasa sakit itu bisa saja di salah satu lokasi yang disebutkan tadi
  • Tidak bernafas
  • Berkeringat dingin

Apa yang harus saya lakukan jika penderita tidak sadarkan diri atau berhenti bernafas?

Cari tahu bagaimana menolong orang yang tidak sadarkan diri dan tidak bernafas dengan membuka tautan di bawah ini :

PERTOLONGAN PERTAMA PADA SESEORANG YANG TIDAK SADARKAN DIRI DAN BERNAFAS

ROADMAP PENELITIAN BIDANG KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

13 February 2021 19:16:34 Dibaca : 220

Penelitian bidang keilmuan keperawatan gawat darurat, terbagi dalam tiga bidang garap, yaitu keperawatan gawat darurat, keperawatan kritis, dan keperawatan bencana. Berikut adalah penjelasan dalam bentuk roadmap untuk masing-masing bidang garap :

1. Keperawatan Gawat Darurat

Bidang garap penelitian pada keperawatan gawat darurat dapat diarahkan kepada kondisi kegawatan pre hospital dan intra hospital. Area pre hospital, penelitian dapat diarahkan kepada proses triage saat terjadi kondisi gawat darurat, respon time perawat pada saat melakukan tindakan pasien dengan kondisi gawat darurat, dan juga pelayanan ambulan (ambulance service) termasuk di dalamnya adalah stabilisasi dan transportasi pada pasien gawat darurat yang disebabkan karena trauma maupun non trauma. Bidang garap juga dapat diarahkan pada kondisi intra hospital yang meliputi beberapa aspek diantaranya aspek fisik, psikososial, codeblue, dan juga ethical consideration pada kondisi kegawatdaruratan. Berbagai topik penelitian pada aspek fisik dapat diarahkan pada kondisi kegawatan jalan nafas (airway), misalnya pada pasien dengan sumbatan jalan nafas dan juga tindakan yang berkaitan dengan pembebasan jalan nafas, pada kondisi kegawatan pernapasan (breathing), arah penelitian dapat difokuskan pada pengkajian dan intervensi pada pasien dengan tension pneumothorax atau pada pasien dengan gangguan oksigenasi. Aspek fisik juga dapat meliputi kondisi kegawatan pada sirkulasi (circulation) dimana penelitian dapat diarahkan pada pasien dengan syok hipovolemik, juga dapat diarahkan pada disabilitas pasien (disability) yang terkait dengan pasien yang mengalami penurunan kesadaran dan PTIK serta kondisi pasien terkait lingkungan (environment) yang dapat menyebabkan kondisi gawat darurat seperti hipotermia

2. Keperawatan Kritis

Keperawatan kritis lebih berkaitan pada perawatan pasien dalam fase intensif. Penelitan pada area ini dapat difokuskan pada aspek fisik, psikososiospiritual, dan juga ethical consideration dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan kondisi kritis. Pada aspek fisik, topik penelitian dapat diarahkan pada masalah dan intervensi yang dapat dilakukan terkait kondisi fisiologis pasien, seperti masalah pada sistem pernafasan: Fisioterapi nafas & suction, VAP, dan setting ventilator, pada sistem kardiovaskuler : masalah hemodinamik, perubahan vaskular, DVT, pada sistem persarafan: tingkat kesadaran, agitasi, disorientasi, sistem perkemihan: CAUTI (catheter assosiated urinary tract infection) , incontinensia, pada sistem pencernaan: masalah nutrisi, pola BAB, pada sistem muskuloskeletal: dekubitus, disuse sindrom (kontraktur, atropi). Pada aspek psikososiospiritual, topik penelitian dapat diarahkan pada kondisi yang biasa terjadi pada pasien dan keluarga seperti distress, lonelyness, resiliensi keluarga, kebutuhan informasi, dan keputusasaan serta intervensi yang dapat dilakukan perawat untuk mengatasi masalah tersebut.

3. Keperawatan Bencana

Fokus penelitian pada keperawatan bencana dibagi menjadi tiga area, yaitu pada fase pra bencana, fase terjadi bencana (impact), dan pasca bencana. Pada fase pra bencana, topik penelitian lebih dikaitkan dengan upaya pencegahan dan persiapan jika terjadi bencana dalam upaya mitigasi dan preparedness. Penelitian pada area ini dapat dilakukan pada petugas kesehatan, dan juga masyarakat (awam terlatih maupun tidak terlatih). Topik-topik penelitian yang dapa dieksplorasi adalah terkait edukasi, sistem peringatan dini bencana, drilling, dan berbagai hal terkait infrastruktur untuk mencegah terjadinya bencana. Pada fase akut atau impact, topik penelitian dapat dikaitkan dengan kondisi saat terjadi bencana, seperti bagaimana melakukan triage saat terjadi bencana, bagaimana melakukan upaya penyelamatan pada saat terjadi bencana, serta penanganan korban saat terjadi bencana yang dapat meliputi evakuasi dan transportasi. Pada fase pasca bencana, penelitian dapat difokuskan pada rekonstruksi dan rehabilitasi. Topik penelitian dapat dikaitkan dengan kondisi psikologis pasca terjadinya bencana seperti trauma, depresi, dan bagaimana perawat mengatasi masalah tersebut. Selain itu, topik penelitian juga dapat dikaitkan dengan upaya pencegahan terjadinya bencana lanjutan (second disaster).