Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Budi Pekerti dan Pengembangannya
Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Budi Pekerti dan Pengembangannya
Oleh: Maryam Rahim
Tahun 1992 Ki Hajar Dewantara mulai mewujudkan berbagai pemikirannya tentang pendidikan sebagai upaya untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat pribumi Indonesia yang tidak mendapatkan kesempatan bersekolah pada masa penjajahan Belanda. Tahun 1992 Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa sebagi tempat belajar bagi para pribumi saat itu.
Pemikiran penting lainnya dari Ki Hajar Dewantara adalah tentang Budi Pekerti. Menurut Ki Hajar Dewantara, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara cipta (kognitif), karsa (afektif) sehingga menciptakan karya (psikomotor). Budi Pekerti merupakan keselarasan (keseimbangan) hidup antara cipta, rasa, karsa dan karya. Keselarasan hidup anak dilatih melalui pemahaman kesadaran diri yang baik tentang kekuatan dirinya, kemudian dilatih mengelola diri agar mampu memiliki kesadaran sosial bahwa ia tidak hidup sendiri dalam relasi sosialnya, sehingga ketika membuat sebuah keputusan yang bertanggungjawab dalam kemerdekaan dirinya dan kemerdekaan orang lain. Budi Pekerti melatih anak untuk memiliki kesadaran diri yang utuh untuk menjadi dirinya (kemerdekaan diri) dan kemerdekaan orang lain.
Menurut Ki Hajar Dewantara, keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih keterampilan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. Keluarga merupakan tempat bersemainya pendidikan yang sempurna bagi anak untuk melatih kecerdasan budi-pekerti (pembentukan watak individual). Keluarga juga merupakan sebuah ekosistem kecil untuk mempersiapkan hidup anak dalam bermasyarakat dibanding dengan institusi pendidikan lainnya.
Alam keluarga menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan teladan, tuntunan, pengajaran dari orang tua. Keluarga menjadi tempat untuk berinteraksi sosial antara kakak dan adik dan sesama anggota keluarga, sehingga kemandirian dapat tercipta karena anak-anak dan anggota keluarga saling belajar antara satu dengan yang lain dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, peran orang tua sebagai guru, penuntun, dan teladan menjadi sangat penting dalam pertumbuhan budi pekerti yang baik bagi anak.
Referensi:
Rafael, Simon Petrus. 2022. Filosofi Pendidikan Nasional. Direktorat Pendidikan Profesi Guru Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Kategori
- Masih Kosong
Arsip
- February 2026 (1)
- January 2026 (4)
- December 2025 (4)
- September 2025 (1)
- August 2025 (1)
- July 2025 (4)
- June 2025 (2)
- May 2025 (5)
- April 2025 (10)
- March 2025 (4)
- January 2025 (8)
- December 2024 (5)
- November 2024 (4)
- October 2024 (5)
- August 2024 (3)
- July 2024 (16)
- June 2024 (3)
- May 2024 (7)
- April 2024 (2)
- March 2024 (9)
Blogroll
- Masih Kosong