Teknik Self-Talk Positif untuk Melatih Perilaku Sabar Peserta Didik

05 April 2026 05:54:02 Dibaca : 3

Teknik Self-Talk Positif untuk Melatih Perilaku Sabar Peserta Didik

Oleh: Maryam Rahim

            Perilaku sabar merupakan salah satu dimensi penting dalam perkembangan karakter dan kehidupan peserta didik, terutama dalam menghadapi tekanan akademik, sosial, dan emosional. Dalam konteks pendidikan, perilaku sabar berkaitan erat dengan kemampuan regulasi diri (self-regulation) yang memungkinkan individu mengendalikan impuls dan menunda kepuasan. Kata “sabar” berasal dari bahasa Arab “Shabara” yang berarti menahan, mencegah, atau mengikat. Secara istilah (Islam) sabar berarti menahan diri dari hawa nafsu, menjaga lisan dari keluh kesah, dan tetap istiqamah dalam ketaatan meskipun dalam situasi sulit. (https://www.google.com/search). Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa banyak peserta didik cenderung kurang sabar, mudah frustrasi, dan menunjukkan perilaku impulsif. Contohnya: tidak sabar dalam antrian, tidak sabar menghadapi perilaku teman yang kurang baik, tidak sabar menghadapi tugas-tugas sekolah dan tugas rumah, dan lainnya. Hal ini menuntut intervensi yang tepat dalam layanan bimbingan dan konseling. Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah self-talk positif, yaitu strategi kognitif untuk mengelola dialog internal agar lebih adaptif.

            Self-talk merupakan proses komunikasi internal individu yang memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertindak. Self talk merupakan istilah yang berarti berdialog dengan diri sendiri menggunakan suara secara keras (orasi) atau tidak menggunakan suara sama sekali (membatin) (Birra, 2024). Brinthaupt,  (2019) mengatakan bahwa self talk merupakan pernyataan yang ditujukan untuk diri sendiri dengan keras atau dalam diam. Dilihat dari fungsi kognitif, self talk membawa banyak fungsi, (Morin, 2018) seperti refleksi diri, (Alderson-Day & Fernyhough, 2015) pengelolaan diri, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Dalam perspektif terapi kognitif, Ellis (1962) menjelaskan bahwa emosi negatif bukan disebabkan langsung oleh peristiwa, melainkan oleh interpretasi individu terhadap peristiwa tersebut. Oleh karena itu, pikiran irasional seperti “Saya tidak bisa menunggu” dapat memicu emosi negatif dan perilaku tidak sabar.

            Sejalan dengan itu, Beck (1976) menyatakan bahwa restrukturisasi kognitif dapat dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengganti pikiran negatif dengan pikiran yang lebih rasional. Dalam konteks ini, self-talk positif berfungsi sebagai alat untuk membentuk pola pikir yang lebih konstruktif, seperti:

-  “Saya mampu mengendalikan diri”

-   “Saya bisa menunggu dengan tenang”

-   “Saya mampu menunggu dalam antrian”

-   “Saya mampu menyelesaikan tugas meskipun tugas tersebut sulit”

-   “Saya mampu menahan emosi jika diganggu teman”

-   “Kesabaran akan membawa hasil yang baik”

            Pernyataan-pernyatan positif seperti itu tentu akan berpengaruh pada perilaku individu. Oleh sebab itu dapat dikatakan self-talk positif menjadi strategi penting dalam meningkatkan regulasi emosi dan perilaku positif, termasuk perilaku sabar.

            Perilaku sabar dalam psikologi berkaitan dengan kemampuan menunda kepuasan (delay of gratification). Penelitian klasik oleh Mischel (2014) menunjukkan bahwa anak-anak yang mampu menunda kepuasan cenderung memiliki keberhasilan akademik dan sosial yang lebih baik di masa depan.

            Penerapan teknik self-talk positif dalam layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan melalui beberapa tahapan berikut:

1. Identifikasi pikiran negatif

            Peserta didik diajak untuk mengenali pikiran negatif yang muncul dalam situasi tertentu. Misalnya:

-  “Saya tidak tahan menunggu”

-   “Saya segera memukul teman yang mengganggu saya”

-   “Tugas yang diberikan guru terlalu sulit untuk saya selesaikan”

-  “ Saya tidak sabar berdiri dalam antrian”

- “Saya selalu mengumpat jika listrik mati”

- “Saya akan membunyikan klakson motor keras-keras jika jalanan macet”

2. Menantang pikiran irasional

            Peserta didik dibimbing untuk mengevaluasi pikiran tersebut dengan pendekatan rasional. Menurut Ellis (1962), pikiran irasional harus dipertanyakan agar dapat digantikan dengan pikiran yang lebih logis.

Contoh pertanyaan:

-  Apakah pikiran ini benar?

-   Apa dampaknya jika saya terus berpikir seperti ini?

3. Mengganti dengan self-talk positif

            Setelah pikiran negatif diidentifikasi, peserta didik dilatih untuk menggantinya dengan afirmasi positif, seperti:

-  “Saya mampu menunggu”

-  “Saya tidak segera memukul teman yang mengganggu saya”

-   “Meskipun tugas yang diberikan guru terasa sulit, saya berusaha menyelesaikannya dengan baik”

- “ Saya selalu sabar berdiri dalam antrian”

- “Saya tidak akan mengumpat jika listrik mati”

- “Saya tetap tenang dan tidak akan membunyikan klakson motor keras-keras jika jalanan macet”

4. Latihan berulang (rehearsal)

            Self-talk positif perlu dilatih secara konsisten agar menjadi kebiasaan. Latihan dapat dilakukan melalui teknik role play, penugasan harian, menulis (written), permainan (game).

5. Penguatan (reinforcement)

            Penguatan diberikan ketika peserta didik berhasil menunjukkan perilaku sabar. Penguatan dapat berupa: pujian verbal, refleksi diri, penghargaan sederhana. Penguatan ini penting untuk memperkuat perilaku positif (Skinner, 1930).

            Teknik self-talk positif dapat digunakan sebagai teknik dalam konseling individu , bimbingan kelompok, dan bimbingan klasikal. Dalam implementasinya, konselor dapat mengembangkan pendekatan kreatif seperti permainan edukatif untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik. Hal ini sejalan dengan pendekatan konstruktivistik yang menekankan pengalaman belajar aktif.

            Teknik self-talk positif merupakan strategi efektif dalam melatih perilaku sabar peserta didik melalui pengelolaan dialog internal. Dengan penerapan yang sistematis dan berkelanjutan dalam layanan bimbingan dan konseling, teknik ini dapat membantu peserta didik meningkatkan regulasi diri, dan kecerdasan emosional. Oleh karena itu guru bimbingan dan konseling/ konselor sekolah penting menggunakan teknik ini dalam layanan bimbingan dan konseling yang inovatif dan kontekstual agar sesuai dengan kebutuhan perkembangan peserta didik di era modern.

Daftar Pustaka

Alderson-Day, B., & Fernyhough, C. 2015. Inner speech: Development, Cognitive Functions,  Phenomenoogy, and Neurobiology. Psychological Bulletin,141(5), 931.

Beck, A. T. 1976. Cognitive Therapy and the Emotional Disorders. New York: International  Universities Press.

Birra, Niswatul. 2024. Self Talk Positif dan Self Talk Negatif:Kajian Literatur. PROSIDING |SEMBIONA III -2024. Seminar Nasional Bimbingan Konseling Undana. Edisi: Volume  2 Nomor 1.

Brinthaupt, T. M. 2019. Individual Differences in Self-Talk Frequency: Social Isolation and Cognitive Disruption. Frontiers in Psychology,10, 1088. Bottom of FormEllis, A. (1962). Reason and Emotion in Psychotherapy. New York: Lyle Stuart.

Mischel, W. 2014. The Marshmallow Test: Mastering Self-Control. New York: Little, Brown  and Company.