MEMAHAMI SEKILAS TENTANG EMPATI

30 August 2022 19:13:48 Dibaca : 76 Kategori : PENGEMBANGAN DIRI

Pengertian Empati

Empati berperan meningkatkan sifat kemanusiaan, keadaban dan moralitas untuk menimbulkan rasa simpati dan perhatian terhadap orang lain, khususnya untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain. “Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, menerima sudut pandang mereka, menghargai perbedaan perasaan orang terhahadap berbagai macam hal, menjadi pendengar dan penanya yang baik” (Budiningsih, 2008:48). Betapa seringnya sekarang menemukan anak yang bertutur kata kurang sopan, kurang memperdulikan dan memahami kesulitan teman. Menurut May (2010:75), bahwa: “Empati merupakan suatu dasar di dalam pengalaman artistik jika ingin merasakan suatu objek secara estetis, dengan cara tertentu orang harus mengidentifikasi diri dengan objek tersebut”. Orang-orang bicara bahwa musik mengangkatnya keawang-awang, biola mendetingkan dawai-dawai emosi, atau perubahan warna saat matahari tenggelam menciptakan perubahan senada di dalam rasa. Carl Gustav Jung (dalam May, 2010:75), bahwa: “Empati sebagai pusat teorinya tentang estetika, bila orang memandangi suatu objek artistik maka ia menjadi objek tersebut, ia mengidentifikasikan diri dengannya, dan dengan cara itu ia menyingkirkan dirinya sendiri”. Tatanan masyarakat semakin acuh tak acuh hingga nilai-nilai kegotong royongan pada masyarakat semakin luntur. Lingkungan masyarakat yang demikian dapat menjadi pemicu tumbuh kembang anak menjadi orang yang individualis dan kurang memiliki rasa empati terhadap sesama. Kohut (dalam Taufik, 2012:40) bahwa: “Melihat empati sebagai suatu proses dimana seseorang berpikir mengenai kondisi orang lain yang seakan-akan dia berada pada posisi orang lain itu”. Selanjutnya, dengan melakukan penguatan atas definisinya itu dengan mengatakan bahwa empati adalah kemampuan berpikir objektif tentang kehidupan terdalam orang lain. Rogers (dalam Sutanti, 2015:191) bahwa: “ empathy as the ability to perceive the internal frame of reference of another with accuracy and with the emotional component and meaning with pertain thereto as if one were the person without ever losing the as if condition. Empati adalah kemampuan untuk memahami kondisi atau keadaan pikiran orang lain dengan tepat, dan tanpa kehilangan kondisi nyata”.

Memahami orang lain menjadikan individu tersebut seolah-olah masuk dalam diri oran lain sehingga bisa merasakan dan mengalami sebagaimana yang dirasakan dan dialami oleh orang lain itu. Hurlock (1980:118) mengemukakan bahwa: “Empati membutuhkan pengertian tentang perasaan-perasaan dan emosi orang lain tetapi di samping itu juga membutuhkaen kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain”. Relatif hanya sedikit anak yang dapat melakukan hal ini sampai awal masa kanak-kanak berakhir. Dari beberapa definisi yang telah dijelaskan para ahli, dapat disimpulkan bahwa empati sebagai suatu proses dimana seseorang berpikir mengenai kondisi orang lain yang seakan-akan dia berada pada posisi orang lain itu, disinilah kemampuan seseorang untuk mengerti tentang perasaan dan emosi orang lain serta kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain.

 Aspek-Aspek Empati

Empati sebagai sesuatu yang jujur, sensitife dan tidak dibuat-buat didasarkan atas apa yang dialami orang lain. Menurut Saam (2014:46), bahwa: Ada lima aspek empati, yakni:

  1. Kemampuan menyesuaikan/menempatkan diri. Memiliki kemampuan menyesuaikan/menempatkan diri dengan keadaan diri dan orang lain. Hal tersebut mencerminkan kepribadian yang pandai berempati.
  2. Kemampuan menerima keadaan, posisi atau keputusan orang lain. Hasil dan apa yang dilihat, diperhatikan, dirasakan, memengaruhi keputusan diri untuk bisa menerima atau menolak.
  3. Komunikasi. Komunikasi tercermin dan bagaimana seseorang menyampaikan informasi, kejelasan informasi dan ketepatan cara berkomunikasi memengaruhi diri untuk berempati.
  4. Perhatian. Orang-orang yang berempati biasanya adalah orang-orang yang memiliki kepedulian dan perhatian terhadap banyak hal yang terjadi disekitarnya, kemudian ia merasakan dan berempati.
  5. Kemampuan memahami posisi dan keadaan orang lain. Setelah, melihat mendengar, memerhatikan orang akan mendapatkan pemahaman sehingga orang tersebut bersikap sebagaimana orang lain menginginkannya bersikap.

Berdasarkan uraian aspek-aspek empati, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam penelitian ini aspek-aspek yang dipakai sebagai acuan untuk melaksanakan penelitian yakni aspek-aspek empati yang meliputi 5 (lima) aspek, yaitu: (a) kemampuan menyesuaikan/menempatkan diri, (b) kemampuan menerima keadaan, (c) komunikasi, (d) perhatian, (e) kemampuan memahami posisi dan keadaan orang lain.

Manfaat Empati

Empati menjadi salah satu sikap yang harus dipelihara setiap orang, karena dengan berempati seseorang dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, lebih membuka diri dengan orang lain dan tentunya akan menjadikan hidup seseorang lebih bermakna bagi diri seseorang. Anonim (dalam Heryanto, 2016:48) bahwa: “Manfaat empati antara lain: (a) empati memudahkan Anda untuk berhubungan baik dengan orang lain; (b) empati membuat Anda memiliki kepercayaan dari orang lain; (c) empati membuat Anda menjadi pribadi dengan memiliki pemikiran yang lebih matang; (d) empati membuat Anda  menjadi  pribadi  yang  bijaksana dalam  menghadapi  berbagai  situasi dalam  kehidupan  Anda;  (e)  empati  memudahkan  Anda  mengelola  emosi Anda yang tentunya sangat berpengaruh terhadap apa yang Anda kerjakan dan;  (f)  empati  membuat  Anda  mampu  keluar  dari  berbagai  situasi  sulit dalam   hidup   Anda,   seperti   kegagalan”. Kepedulian   terhadap   empati sebenarnya akan memberikan perubahan perilaku empathizer menjadi pribadi yang lebih baik untuk meraih sukses. Empati perlu dipelihara setiap orang, karena dengan berempati kita dapat merasakan apa yang dirasakan setiap orang lain, lebih membuka diri dengan orang lain dan tentunya akan menjadikan hidup kita lebih bermakna bagi diri kita dan orang lain.

Ada beberapa manfaat empati Menurut Goleman (2007:115), bahwa: Yang dapat ditemukan dalam kehidupan pribadi dan sosial manakala seseorang mempunyai kemampuan berempati di antaranya:

  1. Menghilangkan sikap egois: Orang yang telah mampu mengembangkan kemampuan empati dapat menghilangkan sikap egois (mementingkan diri sendiri). Ketika seseorang dapat merasakan apa yang sedang dialami orang lain, memasuki pola pikir orang lain dan memahami perilaku orang tersebut, maka seseorang tidak akan berbicara dan berperilaku hanya untuk kepentingan diri orang lain tetapi orang itu akan berusaha berbicara, berpikir dan berperilaku yang dapat diterima juga oleh orang lain serta akan mudah memberikan pertolongan kepada orang lain.
  2. Menghilangkan kesombongan: Salah satu cara mengembangkan empati adalah membayangkan apa yang telah terjadi pada diri orang lain akan terjadi pula pada diri orang tersebut. Manakala kita membayangkan kondisi ini maka kita akan terhindar dari kesombongan atau tinggi hati karena apapun akan bisa terjadi pada diri seseorang jika Tuhan berkehendak.
  3. Mengembangkan kemampuan evaluasi dan kontrol diri: Pada dasarnya empati adalah salah satu usaha seseorang untuk melakukan evaluasi diri sekaliguas mengembangkan kontrol diri yang positif. Kemampuan melihat diri orang lain baik perasaan, pikiran maupun perilakunya merupakan bagian dari bagaimana orang tersebut akan merefleksikan keadaan tersebut dalam diri seseorang. Jika seseorang telah mempunyai kemampuan ini maka orang itu telah dapat mengembangkan kemampuan evaluasi diri yang baik dan akhirnya dapat melakukan kontrol diri yang baik.

 Berdasarkan manfaat empati yang telah diuraikan, dapat disimpulkan manfaat dari empati yakni, memberikan kemudahan untuk berhubungan baik dengan orang lain, menimbuhkan rasa percaya diri, memiliki pribadi yang lebih matang, menjadikan pribadi yang bijaksana dalam mengahadapi situasi kehidupan, melatih pribadi yang dapat mengolah emosi dan mampu keluar dari kesulitan hidup yang dialami individu tersebut. Dengan manfaat dari empati ini akan memberikan pengaruh yang positif berupa menghilangkan sikap egois, menghilangkan kesombongan serta mengembangkan kemampuan evaluasi dan kontrol diri

Komponen-Komponen Empati

Empati terdiri atas dua komponen, yakni kognitif dan afektif, ada perbedaan  pendapat sehubungan dengan komponen mana yang lebih menonjol, apakah komponen kognitif lebih menonjol dibandingkan komponen afektif, ataukah sebaliknya komponen afektif lebih menonjol dibandingkan komponen kognitif, atau bahkan keduanya dalam level yang sama. “Para teoritikus kontemporer menyatakan bahwa empati terdiri atas dua komponen, kognitif dan afektif” (Taufik, 2012:43). Selain dua komponen tersebut beberapa teoritikus lainya menambahkan aspek komunikatif seebagai faktor ketiga. Komponen komunikatif sebagai jembatan yang menghubungkan keduanya, atau sebagai media ekspresi atau relalisasi dari komponen kognitif dan afektif.

 Menurut taufik (2012:44), bahwa: Komponen-komponen empati yakni:

  1. Komponen Kognitif: Komponen kognitif merupakan komponen yang menimbulkan pemahaman terhadap persaan orang lain. Hal ini diperkuat oleh pernyataan beberapa ilmuwan bahwa proses kognitif sangat berperan penting dalam proses kognitif sangat berperan penting dalam proses empati. Komponen kognitif juga sebagai kemampun untuk memperoleh kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dari memori dan kemampuan untuk memproses informasi semantik melalui pengalaman-pengalaman.
  2. Komponen Afektif: Empati sebagai aspek afektif merujuk pada kemampuan menselaraskan pengalaman emosional pada orang lain. Aspek empati ini terdiri atas simpati, sensitivitas, dan sharing penderitaan yang dialami orang lain seperti perasaan dekat terhadap kesulitan-kesulitan orang lain yang diimajinasikan seakan-akan dialami oleh diri sendiri. Empati afektif dapat dikatakan suatu kondisi dimana pengalaman emosi yang sedang dirasakan oleh orang lain, atau perasaan mengalami bersama dengan orang lain.
  3. Komponen Komunikatif: Komponen ketiga dari empati yaitu komunikatif. Munculnya komponen komunikatif didasarkan pada asumsi awal bahwa komponen afektif dan kognitif akan tetap terpisah bila keduanya tidak terjalin komunikasi. Komunikatif yaitu perilaku yang mengeksprsikan perasaan-perasaan empatik. Komponen empati komunikatif adalah ekspresi dari pikiran-pikiran empatik dan perasaan-perasaan terhadap orang lain yang dapat diekspresikan melalui kata-kata dan perbuatan-perbuatan.

Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa empati terdiri dari tiga komponen, yaitu komponen kognitif beruepa pemahaman atas kondisi orang lain, komponen afektif yang berarti kemampuan menyelaraskan pengalaman emosional pada orang lain dan komponen komunikatif yang menjembatani antara komponen kognitif dan afektif.

 

REFERENCE

Budiningsih, Asri. 2008. Pembelajaran Moral Berpijak Pada Karakteristik Siswa Dan Budayanya. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Goleman, D. 2007. social intelligence: Ilmu baru tentang Hubungan antar Manusia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Heryanto. 2016. Pembinaan Keluarga Broken Home. Jurnal Edueksos Volume V No 1, Juni 2016, hlm 48.

Hurlock, B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

May, Rollo. 2010. Seni konseling. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Saam, Zulfan. 2014. Psikologi Konseling. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sutanti. 2015. Efektivitas Teknik Modeling Untuk Meningkatkan Empati Mahasiswa Prodi Bk Universitas Ahmad Dahlan. Jurnal Psikologi Pendidikan & Konseling Vol. 1 No. 2, hlm 191-193.

Taufik. 2012. Empati Pendekatan Psikologi Sosial. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.