KATEGORI : KAMPUS

TIM PPKS: TANTANGAN YANG MUNGKIN DIHADAPI?

14 June 2024 05:49:14 Dibaca : 10

(Dok. Pribadi: Pansel Pembentukan Satgas PPKS UNG)

By. Jumadi Mori Salam Tuasikal

Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di perguruan tinggi mungkin saja dapat menghadapi berbagai tantangan yang dapat mempengaruhi jalannya tugas, diantaranya:

Kurangnya Kesadaran dan Pendidikan

Banyaknya anggota komunitas perguruan tinggi yang belum sepenuhnya menyadari pentingnya PPKS dapat menghambat upaya pencegahan. Kurangnya pendidikan tentang apa yang merupakan kekerasan seksual, bagaimana melaporkannya, dan pentingnya mendukung korban juga dapat menjadi hambatan.

Resistensi atau Ketidakpercayaan

Ada kemungkinan adanya resistensi atau ketidakpercayaan terhadap tim PPKS dari berbagai pihak di perguruan tinggi, termasuk mahasiswa, staf, atau dosen. Hal ini bisa terjadi jika tidak ada kesadaran yang cukup tentang pentingnya PPKS atau mungkin adanya stigma terhadap korban.

Keterbatasan Sumber Daya

Sumber daya terbatas seperti anggaran, personel, dan waktu dapat menjadi kendala serius dalam operasional tim PPKS. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk menyediakan layanan yang memadai, seperti pelatihan, layanan konseling, atau dukungan hukum bagi korban.

Kepentingan Institusional

Institusi perguruan tinggi dapat dihadapkan pada konflik kepentingan antara melindungi reputasi institusi dan menangani kasus kekerasan seksual secara transparan dan adil. Hal ini dapat menyulitkan proses penanganan kasus kekerasan seksual dengan baik.

Ketidakpastian Hukum

Tantangan hukum seperti ketidakjelasan regulasi atau kebijakan, interpretasi hukum yang berbeda, atau risiko tuntutan hukum dari korban atau pelaku dapat menghambat keefektifan tim PPKS dalam menjalankan tugasnya dengan baik.

Perbedaan Budaya dan Nilai

Perguruan tinggi sering kali memiliki populasi yang beragam budaya dan nilai, yang dapat menciptakan tantangan dalam merumuskan kebijakan yang berlaku untuk semua orang tanpa diskriminasi dan untuk memahami bagaimana kekerasan seksual dipahami di berbagai konteks budaya.

Kurangnya Data dan Pelaporan

Kurangnya data yang akurat tentang insiden kekerasan seksual di perguruan tinggi dapat menyulitkan upaya evaluasi dan perbaikan kebijakan dan praktik pencegahan. Selain itu, rendahnya tingkat pelaporan juga bisa menjadi masalah serius karena bisa menyebabkan kasus kekerasan seksual tidak terdeteksi atau tidak ditangani dengan serius.

Keterlibatan Media dan Opini Publik

Kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi sering kali menarik perhatian media dan opini publik yang dapat mempengaruhi cara institusi menanggapi kasus tersebut. Hal ini bisa menimbulkan tekanan tambahan terhadap tim PPKS dalam menangani kasus secara adil dan transparan.

Pergeseran Kebijakan Nasional atau Kebijakan Institusional

Perubahan dalam kebijakan nasional atau kebijakan institusional terkait dengan PPKS dapat mempengaruhi cara perguruan tinggi menangani dan melaporkan kasus kekerasan seksual. Hal ini bisa memerlukan penyesuaian dan pelatihan tambahan bagi tim PPKS.

Tekanan Internal dan Eksternal

Tekanan dari berbagai pihak, baik internal (seperti pimpinan universitas, dewan akademik) maupun eksternal (seperti organisasi mahasiswa, LSM, atau masyarakat umum), dapat mempengaruhi keputusan dan respons tim PPKS terhadap kasus-kasus kekerasan seksual.

Dengan mengenali berbagai tantangan ini, tim PPKS di perguruan tinggi dapat lebih siap untuk menghadapinya dan memperbaiki efektivitas mereka dalam melindungi anggota komunitas dari kekerasan seksual serta memberikan dukungan yang dibutuhkan kepada korban.

TETAP SEMANGAT TIM PPKS

SURVEY: FENOMENA PELECEHAN SEKSUAL

03 June 2024 05:22:50 Dibaca : 94

Kepada Yth.

Saudara/Saudari Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo

Salam Hormat,

Kita semua menginginkan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk pelecehan seksual. Dalam upaya berkontribusi untuk mewujudkan hal tersebut, kami dari Laboratorium Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Gorontalo sedang mengadakan survei penting untuk mengidentifikasi dan memahami tingkat serta bentuk-bentuk pelecehan seksual yang mungkin terjadi di kampus kita. Kami mengajak Saudara/Saudari Mahasiswa untuk berpartisipasi dalam survey ini dengan mengisi angket yang telah kami sediakan. Partisipasi Saudara/Saudari Mahasiswa sangat berarti dan dapat memberikan dampak besar dalam menciptakan lingkungan kampus yang lebih aman dan lebih baik. Berikut alasan mengapa partisipasi Saudara/Saudari Mahasiswa  sangat penting:

  • Mewakili Suara Anda: Dengan mengisi angket ini, Anda memberikan suara untuk memperjuangkan hak-hak Anda dan teman-teman Anda di kampus. Setiap jawaban membantu kami memahami pengalaman dan kebutuhan Anda.
  • Menciptakan Perubahan Positif: Data yang Anda berikan akan digunakan untuk merancang kebijakan dan layanan bimbingan serta konseling yang lebih efektif dalam menangani pelecehan seksual. Ini adalah langkah nyata untuk menciptakan perubahan positif di kampus kita.
  • Menjaga Anonimitas dan Keamanan: Kami memastikan bahwa semua jawaban bersifat anonim dan rahasia. Identitas Anda tidak akan diungkapkan, sehingga Anda dapat mengisi angket ini dengan jujur dan terbuka tanpa khawatir.
  • Mendukung Teman Sejawat: Dengan berpartisipasi, Anda juga membantu teman-teman sejawat yang mungkin mengalami pelecehan seksual namun merasa kesulitan untuk berbicara. Anda menjadi bagian dari solusi dan mendukung mereka yang membutuhkan.
  • Membangun Kesadaran: Partisipasi Anda membantu meningkatkan kesadaran akan masalah pelecehan seksual di kampus. Semakin banyak yang berpartisipasi, semakin kuat pesan kita untuk melawan pelecehan seksual.

Kami ingin menegaskan bahwa semua data yang kami peroleh akan ditindaklanjuti secara profesional. Informasi yang Saudara/Saudari Mahasiswa berikan akan digunakan untuk merancang dan menyediakan layanan bimbingan dan konseling yang lebih efektif dan tepat sasaran. Jika Saudara/Saudari Mahasiswa merasa tidak nyaman atau membutuhkan dukungan lebih lanjut, jangan ragu untuk menghubungi tim kami di Laboratorium Bimbingan dan Konseling.

Terima kasih atas partisipasi dan kontribusi Saudara/Saudari Mahasiswa dalam survey ini. Dengan kerjasama dan dukungannya kami berharap dapat menciptakan lingkungan kampus yang lebih baik dan lebih aman untuk kita semua.

Hormat kami,

Tim Laboratorium Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Gorontalo

Kontak email: lab_bk@ung.ac.id

DOSEN, MAHASISWA, DAN PELECEHAN SEKSUAL

24 May 2024 21:57:02 Dibaca : 137

by: Jumadi Mori Salam Tuasikal

Dosen, mahasiswa, dan pelecehan seksual adalah topik penting yang perlu dibahas dalam dunia pendidikan. Kejadian pelecehan seksual sering terjadi di lingkungan kampus yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan mendukung bagi para mahasiswa. Namun, pada kenyataannya, pelecehan seksual masih menjadi masalah serius yang perlu mendapat perhatian. Setiap orang memiliki hak untuk belajar dan berkembang tanpa terganggu oleh pelecehan seksual. Mari kita bersatu untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi semua.

Apa itu pelecehan seksual dalam pendidikan tinggi?

Pelecehan seksual dalam pendidikan tinggi dapat didefinisikan sebagai perilaku yang tidak diinginkan dan tidak pantas yang terjadi antara dosen dan mahasiswa. Bentuk pelecehan seksual ini bisa beragam, mulai dari ucapan atau lelucon yang tidak pantas, komentar seksual yang tidak senonoh, hingga tindakan fisik yang tidak diinginkan. Pelecehan seksual sering kali terjadi dalam hubungan yang tidak seimbang antara dosen dan mahasiswa, di mana dosen memiliki posisi yang lebih berkuasa. Hal ini membuat mahasiswa seringkali merasa terjebak dan sulit untuk melaporkan atau menghindari pelecehan seksual yang mereka alami. Pelecehan seksual dalam pendidikan tinggi bukanlah masalah baru. Namun, dengan semakin banyaknya laporan dan penelitian yang mengungkapkan masalah ini, penting bagi kita untuk menggali lebih dalam mengenai dampaknya dan bagaimana kita dapat mencegahnya.

Dampak pelecehan seksual terhadap dosen dan mahasiswa

Pelecehan seksual dalam pendidikan tinggi memiliki dampak yang serius baik bagi dosen maupun mahasiswa yang menjadi korban. Bagi dosen, terlibat dalam perilaku pelecehan seksual dapat merusak reputasi profesional mereka dan berdampak pada karir akademik mereka. Selain itu, mereka juga dapat terkena tuntutan hukum dan sanksi administratif. Sementara itu, bagi mahasiswa yang menjadi korban, dampaknya bisa jauh lebih besar. Mereka mungkin mengalami gangguan emosional, tekanan psikologis, dan penurunan kualitas pendidikan mereka. Pelecehan seksual dapat mengganggu kepercayaan diri dan motivasi belajar mereka, yang pada akhirnya dapat menghambat perkembangan akademik dan profesional mereka.

Statistik pelecehan seksual di perguruan tinggi

Pelecehan seksual di perguruan tinggi adalah masalah yang lebih umum daripada yang mungkin kita pikirkan. Menurut survei terbaru, sekitar 30% hingga 50% mahasiswa di Indonesia pernah mengalami pelecehan seksual selama masa kuliah mereka. Angka ini menunjukkan bahwa pelecehan seksual adalah masalah yang mendesak yang harus segera ditangani. Statistik ini juga menunjukkan bahwa pelecehan seksual tidak membedakan gender, baik mahasiswa perempuan maupun laki-laki dapat menjadi korban. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengambil tindakan preventif dan mendukung korban pelecehan seksual tanpa memandang jenis kelamin mereka.

Langkah-langkah pencegahan pelecehan seksual

Untuk mencegah pelecehan seksual di perguruan tinggi, langkah-langkah pencegahan yang efektif perlu diimplementasikan. Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:

    • Meningkatkan kesadaran tentang pelecehan seksual melalui kampanye dan seminar yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan staf universitas.
    • Mengembangkan kebijakan dan prosedur yang jelas untuk melindungi mahasiswa dari pelecehan seksual.
    • Menyediakan pelatihan dan pendidikan kepada dosen dan staf mengenai pelecehan seksual, termasuk bagaimana mengenali tanda-tanda pelecehan dan cara melapor.
    • Membuat saluran pengaduan yang aman dan rahasia bagi mahasiswa yang ingin melaporkan pelecehan seksual.Mendorong partisipasi aktif dari seluruh komunitas kampus dalam mencegah dan mengatasi pelecehan seksual.

Dengan mengimplementasikan langkah-langkah ini, diharapkan perguruan tinggi dapat menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari pelecehan seksual.

 Peran universitas dalam memberantas pelecehan seksual

Universitas memiliki tanggung jawab yang besar dalam memberantas pelecehan seksual di lingkungan kampus. Mereka harus berperan aktif dalam melindungi mahasiswa dan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

    • Salah satu tindakan yang dapat dilakukan oleh universitas adalah mengadopsi kebijakan dan tindakan yang tegas terhadap dosen yang terlibat dalam pelecehan seksual.
    • Universitas juga harus memastikan bahwa mahasiswa yang melaporkan pelecehan seksual mendapatkan perlindungan dan dukungan yang memadai.
    • Penting bagi universitas untuk memastikan bahwa semua staf dan dosen mendapatkan pelatihan dan pendidikan tentang pelecehan seksual. Hal ini akan membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman mereka tentang masalah ini, serta mempersiapkan mereka untuk menghadapinya dengan tepat.

Meningkatkan kesadaran tentang pelecehan seksual di kalangan dosen dan mahasiswa

Pelecehan seksual di perguruan tinggi tidak akan bisa diatasi tanpa adanya peningkatan kesadaran di kalangan dosen dan mahasiswa. Semua pihak harus turut bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan yang bebas dari pelecehan seksual. Kampanye kesadaran, seminar, dan diskusi terbuka tentang pelecehan seksual perlu diadakan secara rutin di kampus. Dosen dan mahasiswa harus diajak untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan ini untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang pentingnya mencegah dan melawan pelecehan seksual.

Pelatihan dan pendidikan tentang pelecehan seksual

Pelatihan dan pendidikan tentang pelecehan seksual adalah langkah yang penting dalam memberantas pelecehan seksual di perguruan tinggi. Dosen dan staf harus dilengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengenali tanda-tanda pelecehan seksual, serta tahu cara merespon dan melaporinya. Selain itu, mahasiswa juga perlu mendapatkan pendidikan tentang pelecehan seksual, termasuk bagaimana melindungi diri dan mengenali perilaku yang tidak pantas. Mereka harus diberikan informasi tentang saluran pengaduan yang ada dan diberdayakan untuk melaporkan insiden pelecehan seksual dengan aman.

Pentingnya dukungan dan bantuan bagi korban pelecehan seksual

Korban pelecehan seksual perlu mendapatkan dukungan dan bantuan yang memadai untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan. Universitas harus menyediakan sumber daya dan layanan konseling yang dapat membantu korban dalam proses penyembuhan dan pemulihan. Selain itu, penting bagi korban pelecehan seksual untuk mengetahui hak-hak mereka dan bagaimana mendapatkan bantuan hukum jika diperlukan. Mereka harus merasa didengar dan diyakinkan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini.

 Jadi;

Pelecehan seksual antara dosen dan mahasiswa adalah permasalahan yang serius yang perlu ditangani dengan serius oleh semua pihak. Universitas harus berperan aktif dalam melindungi mahasiswa dan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari pelecehan seksual. Pencegahan pelecehan seksual melibatkan upaya bersama dari seluruh komunitas kampus, termasuk dosen, mahasiswa, dan staf. Dengan meningkatkan kesadaran, memberikan pelatihan, dan memberikan dukungan yang memadai bagi korban, kita dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi semua. Mari bersatu untuk mengatasi masalah pelecehan seksual dan memberikan pendidikan yang berkualitas bagi generasi muda Indonesia. 

EKSTORSI: DOSEN DAN PUSARAN PUNGLI

24 May 2024 21:10:44 Dibaca : 310

By: Jumadi Mori Salam Tuasikal

Pungutan Illegal (Ekstorsi) di Kampus

Pungutan illegal atau ekstorsi di kampus merujuk pada praktik tidak etis di mana sejumlah oknum dosen atau pihak kampus meminta uang atau jasa tertentu dari mahasiswa sebagai imbalan dari pelayanan yang seharusnya mereka berikan tanpa meminta imbalan. Praktik ini melanggar prinsip integritas pendidikan tinggi dan melecehkan kepercayaan yang seharusnya mahasiswa berikan kepada dosen sebagai pembimbing dan panutan mereka. Praktik pungutan illegal ini dapat bervariasi, mulai dari meminta uang pembayaran tambahan di luar biaya kuliah yang telah ditetapkan, meminta uang dalam bentuk suap agar mendapatkan nilai yang lebih baik, hingga meminta jasa pribadi dari mahasiswa sebagai bentuk imbalan. Semua bentuk pungutan illegal ini melanggar kode etik dan menciptakan lingkungan yang tidak sehat di kampus. Penting untuk memahami bahwa pendidikan seharusnya merupakan hak bagi setiap individu, tanpa terkecuali. Praktik pungutan illegal ini merampas hak-hak mahasiswa dan menciptakan kesenjangan dalam aksesibilitas pendidikan. Kita harus bersama-sama melawan praktik ini agar pendidikan tinggi di Indonesia menjadi lebih adil dan berkualitas.

Dampak Negatif Ekstorsi pada Pendidikan

Praktik ekstorsi yang dilakukan oleh sejumlah oknum dosen memiliki dampak negatif yang signifikan pada pendidikan. Mahasiswa yang menjadi korban praktik ini umumnya mengalami stres dan tekanan psikologis yang berdampak pada performa akademik mereka. Mereka merasa terjebak dalam situasi yang tidak adil dan merasa tidak berdaya untuk melawan praktik ekstorsi ini. Selain itu, ekstorsi juga menciptakan ketidakadilan dalam lingkungan akademik. Mahasiswa yang mampu membayar pungutan illegal dapat memperoleh perlakuan khusus dan nilai yang lebih baik, sementara mahasiswa yang tidak mampu terjerat dalam kesulitan finansial dan tidak mendapatkan perlakuan yang sama. Hal ini menciptakan kesenjangan dan menghancurkan prinsip kesetaraan dalam pendidikan. Dampak negatif lainnya adalah hilangnya kepercayaan mahasiswa terhadap dosen dan sistem pendidikan. Mahasiswa yang mengalami ekstorsi mungkin akan merasa skeptis terhadap keadilan dan integritas sistem pendidikan, yang pada gilirannya dapat menghasilkan ketidakpuasan dan kualitas pendidikan yang menurun.

 Peran Dosen dalam Ekstorsi di Kampus

Dosen memiliki peran kunci dalam praktik ekstorsi di kampus. Sebagai pemberi pengetahuan dan pembimbing bagi mahasiswa, dosen seharusnya menjunjung tinggi integritas dan memberikan pelayanan yang adil untuk semua mahasiswa tanpa membedakan status sosial atau finansial mereka. Namun, beberapa dosen menggunakan posisi dan wewenang mereka untuk meminta imbalan dari mahasiswa. Praktik ini menciptakan lingkungan yang tidak sehat dan merusak hubungan antara dosen dan mahasiswa. Dosen yang terlibat dalam praktik ekstorsi ini secara tidak langsung merusak citra perguruan tinggi dan menghancurkan kepercayaan mahasiswa terhadap sistem pendidikan. Peran dosen dalam ekstorsi di kampus harus ditekan dan diubah menjadi peran yang membangun dan memfasilitasi pembelajaran yang bermutu. Dosen harus memahami pentingnya integritas dan keadilan dalam pendidikan tinggi, serta tanggung jawab mereka untuk memberikan bimbingan yang adil dan obyektif kepada mahasiswa.

Upaya Mencegah Ekstorsi di Kampus

Untuk mencegah praktik ekstorsi di kampus, langkah-langkah perlu diambil oleh pihak terkait.

  • Pertama, penting untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah ini di kalangan mahasiswa. Mahasiswa harus diberitahu tentang hak-hak mereka dan diberikan informasi yang memadai mengenai tindakan yang dapat mereka ambil jika menjadi korban ekstorsi.
  • Perguruan tinggi harus memiliki kebijakan yang jelas dan tegas terkait praktik ekstorsi. Kebijakan ini harus mengatur sanksi yang diberikan kepada dosen yang terbukti terlibat dalam praktik ekstorsi, serta menyediakan saluran pengaduan yang aman dan terpercaya bagi mahasiswa yang ingin melaporkan kasus ekstorsi.
  • Perlu juga dilakukan pengawasan yang ketat terhadap dosen dan penegakan hukum yang adil terhadap mereka yang terlibat dalam praktik ekstorsi. Dosen yang terbukti bersalah harus dijatuhi sanksi tegas.
  • Upaya mencegah ekstorsi di kampus harus melibatkan semua pihak, termasuk mahasiswa, dosen, dan pihak administrasi perguruan tinggi. Kolaborasi dan komunikasi yang baik antara semua pihak akan membantu menciptakan lingkungan pendidikan yang adil dan bebas dari korupsi.

Melaporkan Ekstorsi di Kampus

Penting bagi mahasiswa yang menjadi korban praktik ekstorsi untuk melaporkan kasus tersebut. Melaporkan ekstorsi bukan hanya untuk kepentingan individu, tetapi juga untuk kepentingan bersama dalam memberantas praktik yang merusak ini. Mahasiswa dapat melaporkan kasus ekstorsi ke pihak administrasi perguruan tinggi, seperti bagian Pengembangan Kemahasiswaan atau Biro Kemahasiswaan atau secara etis dan prosedural dimulai dari pimpinan pada tingkat terbawah sampai pada komponen teratas (Kaprodi/Kajur - Dekan/wakil Dekan - Rektor). Perguruan tinggi harus memberikan saluran pengaduan yang aman dan terpercaya bagi mahasiswa, serta menjamin bahwa identitas mahasiswa yang melaporkan akan dirahasiakan. Selain melaporkan ke pihak administrasi perguruan tinggi, mahasiswa juga dapat melaporkan kasus ekstorsi ke pihak yang berwenang, seperti polisi atau lembaga anti korupsi, ada juga melaporkan ke ombudsman atau lembaga pengawas eksternal yang berwenang. Melalui pelaporan yang tepat, praktik ekstorsi dapat terungkap dan pelaku dapat ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku.

Sanksi Hukum terhadap Ekstorsi di Kampus

Praktik ekstorsi di kampus adalah tindakan ilegal yang melanggar hukum. Dosen yang terbukti terlibat dalam praktik ekstorsi dapat dijerat dengan berbagai sanksi hukum, termasuk pidana dan etika. Bagi dosen yang terlibat dalam praktik ekstorsi, mereka dapat dikenai sanksi pidana berdasarkan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang. Sanksi ini dapat berupa pidana penjara dan denda yang sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan. Selain sanksi pidana, dosen yang terlibat dalam praktik ekstorsi juga dapat dikenai sanksi etika oleh institusi pendidikan tempat mereka bekerja. Sanksi etika ini dapat berupa teguran, penurunan pangkat, atau bahkan pemecatan. Pemberlakuan sanksi hukum yang tegas terhadap praktik ekstorsi di kampus penting untuk memberikan efek jera dan mencegah dosen lainnya untuk terlibat dalam praktik yang sama. Selain itu, sanksi hukum juga memberikan keadilan kepada mahasiswa yang menjadi korban ekstorsi.

Perubahan yang Diharapkan dalam Penanggulangan Ekstorsi di Kampus

Untuk menciptakan perubahan yang nyata dalam penanggulangan ekstorsi di kampus, langkah-langkah konkret harus diambil. Pertama, perguruan tinggi harus mengadopsi kebijakan yang jelas dan tegas terhadap praktik ekstorsi. Kebijakan ini harus mencakup sanksi yang tegas bagi dosen yang terlibat, serta mekanisme pengaduan yang efektif. Selain itu, pihak berwenang, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, harus melakukan pengawasan yang ketat terhadap praktik ekstorsi di kampus. Pengawasan yang efektif akan membantu mencegah terjadinya praktik ekstorsi dan memberikan jaminan kepada mahasiswa bahwa pendidikan tinggi di Indonesia adalah lingkungan yang aman dan adil. Penting juga untuk melibatkan mahasiswa dalam penanggulangan ekstorsi di kampus. Mahasiswa harus diberdayakan untuk melaporkan kasus ekstorsi dan berperan aktif dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan pihak administrasi, perubahan yang positif dapat terjadi.

Kontribusi Mahasiswa dalam Memberantas Ekstorsi di Kampus

Mahasiswa memiliki peran penting dalam memberantas praktik ekstorsi di kampus. Mereka harus menyadari hak-hak mereka dan tidak takut untuk melaporkan kasus ekstorsi yang mereka alami atau saksikan. Melalui keberanian mereka untuk melaporkan, praktik ekstorsi dapat terungkap dan pelaku dapat diadili. Selain itu, mahasiswa juga dapat berperan sebagai agen perubahan di lingkungan kampus. Mereka dapat membentuk komunitas atau organisasi yang fokus pada pemberantasan ekstorsi di kampus. Melalui pendidikan dan advokasi, mahasiswa dapat meningkatkan kesadaran tentang masalah ini dan memobilisasi masyarakat untuk berperan aktif dalam memberantas praktik ekstorsi. Kontribusi mahasiswa dalam memberantas ekstorsi di kampus penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang adil dan berkualitas. Mahasiswa adalah pihak yang paling terdampak oleh praktik ini, dan oleh karena itu, suara mereka harus didengar dan perjuangan mereka harus didukung.

 Jadi;

Praktik ekstorsi yang dilakukan oleh sejumlah oknum dosen di kampus adalah tindakan tidak etis yang merugikan mahasiswa dan merusak integritas pendidikan tinggi. Keberadaan Dosen seharusnya menjadi pembimbing dan panutan bagi mahasiswa, bukan memanfaatkan posisi mereka untuk keuntungan pribadi. Dampak negatif dari praktik ekstorsi meliputi stres dan tekanan psikologis pada mahasiswa, ketidakadilan dalam lingkungan akademik, dan hilangnya kepercayaan terhadap sistem pendidikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pencegahan dan penindakan terhadap praktik ekstorsi di kampus. Mahasiswa memiliki peran penting dalam memberantas praktik ekstorsi ini. Melalui kesadaran, pelaporan, dan perjuangan mereka, perubahan positif dapat terjadi. Seluruh pihak, termasuk mahasiswa, dosen, dan pihak administrasi, harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang adil, berkualitas, dan bebas dari praktik ekstorsi. Mari bersama-sama menciptakan perubahan positif dalam pendidikan tinggi Indonesia.

By. Jumadi Mori Salam Tuasikal

Karier Day adalah sebuah kegiatan yang bertujuan untuk membantu mahasiswa dalam mempersiapkan dan mengembangkan karier mereka di masa depan. Kegiatan ini biasanya diadakan oleh institusi pendidikan, seperti universitas atau sekolah, dengan melibatkan berbagai pihak, seperti perusahaan, profesional, dan alumni. Karier Day memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan informasi, wawasan, dan pengalaman yang relevan dengan dunia kerja. Karier Day merupakan acara yang diadakan oleh universitas atau sekolah dengan mengundang pembicara dari berbagai profesi untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka tentang dunia kerja. Tujuan dari Karier Day adalah membantu mahasiswa atau siswa dalam menemukan minat dan bakat mereka serta mempersiapkan karier mereka sejak dini. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa atau siswa dapat membuat keputusan yang lebih baik dalam memilih karier di masa depan.

Kegiatan dalam Karier Day

Kegiatan yang dilakukan dalam Karier Day dapat bervariasi tergantung pada institusi pendidikan yang mengadakannya. Beberapa kegiatan umum yang sering dilakukan dalam Karier Day antara lain:

    1. Pembicaraan dan Presentasi: Para pembicara dari berbagai profesi memberikan presentasi dan berbagi pengalaman mereka tentang dunia kerja. Mereka dapat membahas topik seperti persiapan karier, tren industri, keterampilan yang dibutuhkan, dan tantangan yang dihadapi di lapangan.
    2. Diskusi Panel: Panel diskusi melibatkan beberapa pembicara yang mewakili berbagai bidang karier. Peserta dapat mengajukan pertanyaan dan mendapatkan wawasan langsung dari para ahli.
    3. Pameran Karier: Pameran karier memungkinkan mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan perusahaan dan organisasi yang mencari calon karyawan. Mereka dapat mempelajari lebih lanjut tentang industri tertentu, peluang kerja, dan persyaratan yang dibutuhkan.
    4. Workshop dan Pelatihan: Workshop dan pelatihan dapat memberikan keterampilan praktis kepada mahasiswa, seperti menulis resume yang efektif, menghadapi wawancara kerja, atau mengembangkan keterampilan kepemimpinan.

Langkah-langkah dalam Karier Day

Terdapat beberapa langkah yang biasanya dilakukan dalam Karier Day, antara lain:

    1. Perencanaan: Institusi pendidikan merencanakan dan mengatur kegiatan Karier Day, termasuk menentukan tema, mengundang pembicara, dan menyiapkan materi presentasi.
    2. Promosi: Informasi tentang Karier Day disebarkan kepada mahasiswa dan masyarakat luas melalui berbagai saluran, seperti pengumuman di kampus, media sosial, dan surat kabar.
    3. Pelaksanaan: Acara Karier Day diadakan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Para pembicara memberikan presentasi, panel diskusi dilakukan, dan pameran karier dibuka untuk mahasiswa.
    4. Evaluasi: Setelah acara selesai, evaluasi dilakukan untuk mengevaluasi keberhasilan Karier Day dan mendapatkan umpan balik dari peserta. Hal ini dapat membantu dalam perencanaan kegiatan serupa di masa depan.

Manfaat dan Tujuan Karier Day

Karier Day memiliki beberapa manfaat dan tujuan yang penting, antara lain:

    1. Pemahaman Karier: Karier Day membantu mahasiswa untuk memahami berbagai pilihan karier yang tersedia, tren industri, dan persyaratan yang dibutuhkan. Hal ini membantu mereka dalam membuat keputusan yang lebih baik tentang jalur karier yang ingin mereka pilih.
    2. Networking: Melalui Karier Day, mahasiswa dapat membangun jaringan dengan para profesional dan perusahaan. Ini dapat membuka peluang kerja di masa depan dan memberikan akses ke sumber daya yang berharga.
    3. Pengembangan Keterampilan: Workshop dan pelatihan dalam Karier Day membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja, seperti keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan manajemen waktu.
    4. Motivasi dan Inspirasi: Mendengarkan pengalaman sukses dari para pembicara dapat memberikan motivasi dan inspirasi kepada mahasiswa untuk meraih kesuksesan dalam karier mereka.

Kelemahan dan Kelebihan Karier Day

Seperti halnya kegiatan lainnya, Karier Day juga memiliki kelemahan dan kelebihan. Beberapa kelemahan yang mungkin terjadi adalah:

    1. Keterbatasan Waktu: Karier Day biasanya berlangsung dalam satu hari atau beberapa jam. Hal ini dapat membatasi waktu yang tersedia untuk peserta untuk mendapatkan informasi secara mendalam tentang berbagai karier.
    2. Keterbatasan Peserta: Tidak semua mahasiswa dapat menghadiri Karier Day karena keterbatasan waktu, jarak, atau keterbatasan lainnya. Hal ini dapat mengurangi manfaat yang diperoleh oleh sebagian mahasiswa.

Namun, terdapat juga beberapa kelebihan dari Karier Day, seperti:

    1. Akses ke Informasi: Karier Day memberikan akses langsung ke informasi tentang dunia kerja yang mungkin sulit ditemukan secara mandiri. Peserta dapat mendapatkan wawasan yang berharga tentang berbagai karier dan industri.
    2. Interaksi Langsung: Melalui Karier Day, peserta dapat berinteraksi langsung dengan para pembicara dan perwakilan perusahaan. Ini memberikan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan membangun hubungan yang bermanfaat.

Kolaborasi dan Program Karier Day

Karier Day sering melibatkan kolaborasi antara institusi pendidikan, perusahaan, dan profesional. Institusi pendidikan menyelenggarakan acara ini dengan mengundang pembicara dari berbagai bidang karier. Perusahaan dapat berpartisipasi dalam pameran karier untuk memperkenalkan diri kepada mahasiswa dan mencari calon karyawan potensial. Para profesional dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka dengan mahasiswa melalui presentasi dan diskusi panel. Selain itu, Karier Day juga dapat melibatkan program pendampingan karir khusus yang ditangani oleh konselor dan psikolog berpengalaman. Program ini membantu mahasiswa dalam menemukan kekuatan dan kelemahan mereka serta memberikan saran dan bimbingan dalam mempersiapkan karier mereka.

Jadi;

Karier Day adalah sebuah kegiatan yang bertujuan untuk membantu mahasiswa dalam mempersiapkan dan mengembangkan karier mereka di masa depan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memperoleh informasi, wawasan, dan pengalaman yang relevan dengan dunia kerja. Karir Day memiliki manfaat dalam pemahaman karier, networking, pengembangan keterampilan, motivasi, dan inspirasi. Meskipun memiliki kelemahan, Karier Day dapat menjadi platform yang berharga bagi mahasiswa untuk menjelajahi pilihan karier mereka dan membangun hubungan dengan para profesional dan perusahaan.