Perkembangan Manusia menurut Perspektif Al Qur'an
Perkembangan Manusia menurut Perspektif Al-Qur’an
Oleh: Maryam Rahim
Perkembangan manusia dari sejak lahir menurut perspektif Al-Qur'an dapat dipahami melalui beberapa tahap yang dijelaskan dalam ayat-ayat tertentu. Al-Qur'an memberikan gambaran yang cukup rinci tentang proses penciptaan dan perkembangan manusia, yang meliputi tahap fisik dan spiritual. Berikut beberapa tahapan utama perkembangan manusia dari perspektif Al-Qur'an:
1. Penciptaan dari tanah
a. Al-Qur'an menyatakan bahwa asal mula penciptaan manusia adalah dari tanah. Dalam surah Al-Mu’minun (23:12), Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”
b. Tahap ini menggambarkan penciptaan asal manusia pertama, yaitu Nabi Adam, yang merupakan awal dari garis keturunan umat manusia.
2. Nutfah (setetes air mani)
a. Setelah penciptaan asal dari tanah, Al-Qur'an menjelaskan bahwa setiap individu manusia berasal dari nutfah (setetes air mani). Dalam surah Al-Insan (76:2), Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya; karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”
b. Tahap ini adalah awal dari proses biologis kehidupan manusia yang dimulai dari pembuahan.
3. Alaqah (segumpal darah)
a. Setelah tahap nutfah, Al-Qur'an menyebutkan perkembangan janin menjadi alaqah, yaitu segumpal darah yang menempel di dinding rahim. Dalam surah Al-Alaq (96:2), Allah menyebutkan: "Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (alaq)."
b. Tahap ini menandakan perkembangan awal embrio.
4. Mudghah (segumpal daging)
a. Dari alaqah, perkembangan manusia berlanjut menjadi mudghah, yaitu segumpal daging yang mulai memiliki bentuk dasar. Ini disebutkan dalam surah Al-Mu’minun (23:14): "Kemudian Kami menjadikannya segumpal daging (mudghah)..."
b. Ini adalah tahap di mana organ tubuh mulai terbentuk.
5. Pembentukan tulang dan pembungkusan daging
a. Setelah menjadi mudghah, tahap berikutnya adalah pembentukan tulang yang kemudian dilapisi dengan daging. Lanjutan ayat di surah Al-Mu’minun (23:14) berbunyi: "...lalu dari segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging."
b. Tahap ini menandakan pembentukan tubuh manusia yang lebih jelas.
6. Peniupan ruh
a. Setelah penciptaan fisik, tahap penting dalam perkembangan manusia adalah peniupan ruh oleh Allah. Dalam surah As-Sajdah (32:9), Allah berfirman: “Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya.”
b. Peniupan ruh ini memberikan aspek spiritual dan kesadaran pada manusia, menjadikannya makhluk yang unik dengan potensi intelektual dan moral.
7. Perkembangan pasca kelahiran
Setelah lahir, manusia melalui fase-fase perkembangan yang disebutkan secara umum dalam Al-Qur'an:
a. Masa bayi dan kanak-kanak: Dalam surah Al-Ahqaf (46:15), Allah menyebutkan fase dari kehamilan hingga masa penyapihan selama dua tahun.
b. Masa kematangan fisik dan intelektual: Dalam surah Al-Kahfi (18:46) disebutkan tentang "perhiasan kehidupan dunia", yang mengacu pada perkembangan kekuatan fisik, pemikiran, dan pengetahuan.
c. Masa dewasa dan tanggung jawab: Pada usia tertentu, manusia mencapai kematangan yang disebutkan dalam surah Yusuf (12:22), ketika Yusuf mencapai kedewasaan.
d. Masa tua: Dalam beberapa ayat, Al-Qur'an menggambarkan masa tua sebagai fase di mana kekuatan manusia mulai berkurang (Surah Yasin 36:68).
8. Kematian dan kehidupan setelah mati
Akhir dari perkembangan manusia dalam perspektif Al-Qur'an adalah kematian, yang merupakan transisi ke kehidupan akhirat. Ini disebutkan dalam banyak ayat, termasuk Al-Baqarah (2:28): “Bagaimana kamu bisa ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali; kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
Secara keseluruhan, Al-Qur'an tidak hanya membahas perkembangan fisik manusia sejak dalam kandungan hingga masa tua, tetapi juga menekankan pentingnya aspek spiritual dan moral dalam kehidupan manusia. Penciptaan manusia dianggap sebagai tanda kebesaran Allah, serta tugas manusia untuk mengenal Tuhan dan menjalankan misi sebagai khalifah di muka bumi.
Disadur dari ChatGPT
Strategi Belajar dan Strategi Pembelajaran
Strategi Belajar dan Strategi Pembelajaran
Oleh: Maryam Rahim
A. Strategi Belajar
Strategi belajar adalah metode, atau teknik yang dirancang dan digunakan oleh seorang pebelajar agar aktivitas belajarnya lebih efektif dan efisien. Strategi belajar melibatkan berbagai cara atau langkah yang digunakan untuk memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan atau keterampilan baru. Tujuan utama dari strategi belajar adalah untuk memaksimalkan potensi individu dalam memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap materi yang dipelajari.
Beberapa strategi belajar yang dapat digunakan oleh pebelajar dalam membantu meningkatkan keefektifan proses belajarnya:
1. Strategi belajar aktif (active learning) oleh Dr. Alison KingDr.
Alison King menekankan pentingnya "active learning," yaitu proses belajar di mana pebelajar/siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, seperti aktif dalam diskusi, menjawab pertanyaan, atau simulasi. Menurut King pembelajaran aktif membantu siswa memahami materi dengan lebih mendalam dibandingkan hanya mendengarkan ceramah atau membaca.
2. Strategi metakognisi oleh John Flavell
Menurut John Flavell, strategi metakognisi mencakup kemampuan untuk mengenali dan mengontrol proses berpikir sendiri. Ini termasuk merencanakan strategi sebelum belajar, memonitor pemahaman selama belajar, dan mengevaluasi hasil setelah belajar. Dengan strategi ini, pebelajar/siswa lebih mampu mengenali kesulitan dan mencari cara mengatasinya.
3. Teknik pengulangan berjarak oleh Hermann Ebbinghaus
Hermann Ebbinghaus menemukan bahwa pengulangan materi dengan jarak waktu yang teratur (spaced repetition) dapat membantu menguatkan daya ingat. Metode ini memungkinkan informasi dipelajari dan diingat dalam jangka waktu yang lebih panjang, berbeda dengan belajar dalam satu waktu yang cenderung mudah dilupakan.
4. Strategi belajar visual dan verbal oleh Richard Mayer
Menurut Richard Mayer, memadukan elemen visual (gambar, grafik) dengan elemen verbal (teks atau suara) bisa membantu pemahaman pebelajar/siswa. Mayer menekankan pada “multimedia learning,” di mana pembelajaran menjadi lebih efektif ketika informasi disajikan melalui berbagai saluran, seperti visual dan verbal, karena membantu otak memproses informasi dengan lebih baik.
5. Self-regulated learning (pembelajaran yang diatur sendiri) oleh Zimmerman & Schunk
Menurut Barry Zimmerman dan Dale Schunk, self-regulated learning adalah strategi belajar di mana pebelajar/siswa menetapkan tujuan mereka sendiri, memilih strategi yang cocok, dan mengevaluasi progres mereka. Kondisi ini memberikan kendali ada pebelajar/siswa kendali atas pembelajaran mereka dan meningkatkan motivasi serta disiplin diri.
6. Pembelajaran kontekstual oleh Jean Lave dan Etienne Wenger
Jean Lave dan Etienne Wenger memperkenalkan konsep pembelajaran kontekstual (situated learning), yang menyatakan bahwa belajar akan lebih efektif jika dikaitkan dengan situasi nyata atau kontekstual. Pembelajaran semacam ini lebih mudah diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
7. Strategi belajar dengan mind mapping oleh Tony Buzan
Tony Buzan mengembangkan konsep mind mapping untuk membantu belajar dan memori. Mind mapping adalah teknik yang melibatkan pembuatan diagram visual dengan ide-ide utama di tengah dan ide-ide turunan yang bercabang dari sana. Teknik ini mempermudah pemahaman dan pengorganisasian informasi kompleks.
Penggunaan beberapa strategi ini, dapat membantu pebelajar/siswa mengoptimalkan aktivitas belajarnya, sehingga membuat aktivitas belajar lebih efisien dan bermakna serta memberikan hasil yang optimal pula.
B. Strategi pembelajaran
Strategi pembelajaran merujuk pada pendekatan dan metode yang digunakan guru untuk menyampaikan materi pelajaran kepada pebelajar/siswa dengan cara yang efektif sehingga dapat mengstimulasi aktivitas belajar pebelajar/siswa. Jenis-jenis strategi pembelajaran yang umum digunakan:
1. Strategi pembelajaran langsung (direct instruction)
a. Fokus pada penyampaian informasi secara langsung dari guru ke pebelajar/siswa.
b. Cocok untuk pelajaran yang membutuhkan penguasaan fakta atau prosedur, seperti matematika atau ilmu pengetahuan.
c. Contoh: Ceramah, demonstrasi, latihan dan praktek.
2. Strategi pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning)
a. Pebelajar/siswa dihadapkan pada masalah nyata yang harus dipecahkan.
b. Mendorong keterampilan berpikir kritis dan analitis.
c. Contoh: Studi kasus, proyek penyelesaian masalah.
3. Strategi pembelajaran kolaboratif (collaborative learning)
a. Pebelajar/siswa bekerja dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama.
b. Meningkatkan keterampilan komunikasi, kerja tim, dan empati.
c. Contoh: Diskusi kelompok, tugas kelompok, permainan peran.
4. Strategi pembelajaran inkuiri (inquiry-based learning)
a. Mengajarkan pebelajar/siswa untuk mengajukan pertanyaan, melakukan penyelidikan, dan menemukan jawaban sendiri.
b. Mendorong rasa ingin tahu dan keterampilan penelitian.
c. Contoh: Eksperimen, observasi, wawancara, penyelidikan proyek.
5. Strategi pembelajaran berbasis proyek (project-based learning)
a. Berfokus pada penyelesaian proyek yang kompleks dalam jangka waktu tertentu.
b.Meningkatkan keterampilan manajemen proyek, kreatifitas, dan kemampuan memecahkan masalah.
c. Contoh: Proyek desain, laporan penelitian, penciptaan produk.
6. Strategi pembelajaran kooperatif (cooperative learning)
a. Mirip dengan pembelajaran kolaboratif, tetapi lebih terstruktur dengan peran yang jelas dalam kelompok.
b. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mengajar bagian tertentu kepada anggota lainnya.
c. Contoh: Jigsaw, STAD (Student Teams Achievement Divisions), Think-Pair-Share.
7. Strategi pembelajaran berbasis kompetensi (competency-based learning)
a. Fokus pada pengembangan keterampilan spesifik dan kompetensi yang terukur.
b. Peserta didik bergerak maju berdasarkan penguasaan kompetensi tertentu, bukan waktu
c. Contoh: Modul pelatihan, tugas keterampilan, ujian kompetensi.
8. Strategi pembelajaran berbasis teknologi (technology-based learning)
a. Menggunakan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran.
b. Memungkinkan penggunaan multimedia, simulasi, dan pembelajaran jarak jauh.
c. Contoh: Pembelajaran online, e-learning, penggunaan aplikasi pembelajaran interaktif.
9. Strategi pembelajaran diferensiasi (differentiated instruction)
a. Menyesuaikan metode pembelajaran berdasarkan kebutuhan, minat, dan gaya belajar pebelajar/siswa.
b. Mencakup variasi dalam konten, proses, produk, dan lingkungan belajar.
c. Contoh: Materi tambahan untuk pebelajar/siswa yang cepat memahami, dukungan ekstra bagi yang membutuhkan, tugas dengan tingkat kesulitan yang bervariasi.
10. Strategi pembelajaran berbasis game (game-based learning)
a. Menggunakan permainan sebagai media untuk memfasilitasi pembelajaran.
b. Meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan pengalaman belajar yang menyenangkan
c. Contoh: Permainan edukatif, simulasi, kuis berbasis game.
11. Strategi pembelajaran metakognitif
a. Mengajarkan peserta didik untuk menyadari proses berpikir mereka sendiri.
b. Membantu dalam mengembangkan strategi belajar yang efektif dan refleksi diri.
c. Contoh: Penggunaan jurnal refleksi, strategi berpikir kritis, teknik pemetaan pikiran (mind mapping).
12. Strategi pembelajaran flipped classroom
a. Pembelajaran berlangsung di luar kelas melalui materi yang diberikan sebelumnya, dan waktu di kelas digunakan untuk aktivitas yang lebih interaktif.
b. Mendorong partisipasi aktif dan belajar mandiri.
c. Contoh: Menonton video instruksional di rumah, diskusi atau pemecahan masalah di kelas.
Pemilihan strategi pembelajaran oleh guru disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik pebelajar/siswa, dan konteks/karakteristik materi yang diajarkan. Kombinasi dari beberapa strategi sering kali digunakan untuk mencapai hasil yang lebih optimal.
Sumber: disadur dari ChatGPT
Karyawisata sebagai Metode Layanan Bimbingan dan Konseling
Karyawisata sebagai Metode Layanan Bimbingan dan Konseling
Oleh: Maryam Rahim
Karyawisata dapat digunakan sebagai salah satu metode layanan bimbingan dan konseling. Metode ini dilakukan dengan cara membawa siswa/ konseli ke tempat-tempat atau objek yang memiliki suasana dan kondisi yang sesuai dengan topik layanan. Tempat atau objek dimaksud seperti: pabrik yang memproduksi barang tertentu, pantai, museum, sanggar seni, dan lainnya.
Melalui metode karyawisata ini siswa/konseli akan melakukan sesuatu (berkarya) sambil berwisata. Misalnya: ketika berkaryawisata ke pabrik, maka siswa/konseli dapat mengamati langsung situasi kerja di pabrik tersebut, dapat melakukan wawancara dengan para pekerja tentang perasaan, kepuasaan kerja, maupun berbagai hambatan yang mereka temui pada saat bekerja bekerja di tempat tersebut; dapat melakukan wawancara dengan pengelola pabrik, bertanya tentang gaji pekerja, fasilitas lain yang diperoleh oleh pekerja, dan lainnya. Demikian halnya ketika berkaryawisata ke sanggar seni, siswa/konseli dapat mengamati kegiatan yang terjadi di tempat tersebut, wawancara dengan para seniman, belajar melukis, menari, menggunakan alat musik, dan lainnya. Kegiatan-kegiatan seperti ini tentu saja akan meberikan pengalaman yang aktual dan berharga bagi pengembangan diri siswa/konseli, baik di bidang pribadi, sosial, belajar, dan karir.
Agar kegiatan karyawisata benar-benar membantu siswa memperoleh atau mengembangkan perilaku sebagaimana yang telah dirumuskan dalam tujuan layanan, maka sebelum pelaksanaan karyawisata perlu dipersiapkan instrumen-instrumen yang akan digunakan siswa/konseli pada saat kunjungan, misalnya: pedoman observasi, pedoman wawancara. Kegiatan karyawisata ini akan lebih bermakna jika siswa/konseli diminta untuk membuat laporan pelaksanaan karyawisata. Laporan tersebut dapat dilaksanakan secara individual ataupun kelompok. Metode ini dapat digunakan pada bimbingan klasikal dan bimbingan kelas besar/lintas kelas.
Metode karyawisata dapat digunakan untuk mengembangkan berbagai perilaku, baik perilaku sebagai individu/pribadi (seperti pengembangan bakat/minat, kemampuan berpikir kritis), perilaku sosial (seperti kerjasama, tanggung jawab bersama), perilaku belajar (seperti belajar mengorganisasi kegiatan), dan pengembangan karir (pengembangan bakat/minat, pemahaman dunia kerja).
Langkah-langkah penggunaan metode karyawisata sebagai metode layanan bimbingan dan konseling:
1) Tahap awal (dilaksanakan beberapa hari sebelum pelaksanaan karyawisata)
a) Merumuskan tujuan layanan
b) Menetapkan tempat/objek karyawisata
c) Menetapkan kegiatan, misalnya wawancara dan topik wawancara, observasi dan aspek-aspek yang diobservasi, serta menetapkan sumber data (pihak yang diwawancarai atau objek yang diobservasi)
d) Mengirim surat pemberitahuan ke pihak yang dikunjungi tersebut (misalnya manajer pabrik, pengelola museum)
e) Menetapkan pihak-pihak yang terlibat dan ikut serta pada saat kegiatan, seperti: kepala sekolah, guru-guru bidang studi/wali kelas
f) Mempersiapkan peralatan dan instrumen-instrumen yang akan digunakan
2) Tahap kegiatan
Pelaksanaan berbagai kegiatan yang telah dirancang pada tahap awal, seperti: wawancara, observasi, dan lainnya
3) Tahap akhir (dilaksanakan sehari atau beberapa hari setelah pelaksanaan karyawisata)
a) Meminta siswa/konseli memasukkan laporan pelaksanaan karyawisata
b) Mengajak siswa/konseli bersama-sama membuat kesimpulan layanan/kegiatan
c) Mengevaluasi ketercapaian tujuan layanan
d) Meminta siswa/konseli membuat komitmen untuk merubah perilaku atau meningkatkan perilaku yang sudah baik sesuai dengan tujuan layanan.
e) Menutup kegiatan layanan/kegiatan.
Kegiatan karyawisata sebagai metode layanan bimbingan dan konseling ini dapat dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan karyawisata yang dilaksanakan oleh sekolah, atau dirancang khusus sebagai layanan bimbingan dan konseling.
Fantasi sebagai Metode Layanan Bimbingan dan Konseling
Fantasi sebagai Metode Layanan Bimbingan dan Konseling
Oleh: Maryam Rahim
Fantasi dapat digunakan sebagai salah satu metode layanan bimbingan dan konseling. Metode ini dilaksanakan dengan meminta siswa/konseli membayangkan dirinya sebagai seseorang (misalnya: ilmuwan, tokoh agama, tokoh nasional, pahlawan bangsa, pengusaha sukses), atau pohon (misalnya: pohon beringin, pohon kelapa, dan lainnya), atau tanaman (misalnya padi, jagung, dan lainnya), atau benda-benda lainnya (misalnya meja, kursi, dan lainnya), dan meminta siswa/konseli menjelaskan alasan mengapa ia ingin seperti sesuatu yang dibayangkannya itu. Melalui kegiatan tersebut diharapkan siswa/konseli memiliki perilaku sebagaimana yang menjadi tujuan layanan yang telah dirumuskan sebelumnya.
Contoh pertanyaan yang diajukan:
- Seandainya Anda jadi pohon, maka Anda ingin seperti pohon apa?
- Jelaskan alasan Anda mengapa memilih menjadi pohon tersebut!
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka siswa akan membayangkan dan memikirkan pohon apa yang ingin dipilihnya, serta memikirkan alasan dirinya memilih menjadi pohon tersebut, misalnya dari segi manfaatnya, kondisi pohonnya, dan karakteristik lain dari pohon tersebut.
Fantasi dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan mengemukakan pendapat, kemampuan menganalisis, kemampuan menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan berfantasi/ berimajinasi.
Penggunaan metode fantasi dalam layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
a. Tahapan Pelaksanaan
1) Tahap pembentukan:
a) Mempersiapkan siswa/konseli untuk mengikuti layanan
b) Memulai kegiatan layanan dengan berdoa
c) Menyampaikan tujuan layanan
d) Menyampaikan topik layanan
2) Tahap peralihan
a) Memastikan kesiapan siswa/konseli untuk menggikuti layanan
b) Mengenali suasana hati siswa/konseli
c) Menekankan asas-asas bimbingan dan konseling
3) Tahap inti
a) Meminta siswa/konseli untuk membayangkan dirinya sebagai suatu obyek, misalnya orang, pohon, atau benda lainnya, disertai alasan mengapa dirinya ingin seperti obyekyang dibayangkannya itu.
b) Meminta siswa/konseli lain untuk memberikan pendapat tentang penyampaian temannya.
c) Memberikan kesempatan kepada siswa/konseli untuk bertanya hal-hal yang belum jelas
d) Memberikan kesempatan kepada siswa/konseli lain untuk merespon pertanyaan temannya
e) Memberikan penguatan kepada siswa/konseli
f) Memastikan semua siswa/konseli telah memahami materi layanan
4) Tahap akhir
a) Mengajak siswa/konseli bersama-sama membuat kesimpulan layanan
b) Mengevaluasi ketercapaian tujuan layanan
c) Meminta siswa/konseli membuat komitmen untuk merubah perilaku atau meningkatkan perilaku yang sudah baik sesuai dengan tujuan layanan.
d) Menutup kegiatan layanan.
Metode fantasi dapat digunakan di tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Penggunaan metode ini dapat mengembangkan kemampuan mengemukakan pendapat, kemampuan menganalisis, kemampuan menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan berfantasi/ berimajinasi pada diri siswa/konseli.
Dilema Moral sebagai Metode Layanan Bimbingan dan Konseling
Dilema Moral sebagai Metode Layanan Bimbingan dan Konseling
Oleh: Maryam Rahim
Dilema moral dapat menjadi salah satu metode layanan bimbingan dan konseling. Metode ini dilaksanakan dengan cara memberikan/menyajikan peristiwa/masalah yang mengandung dilema moral untuk dibahas bersama dalam proses layanan bimbingan dan konseling. Melalui pembahasan tentang peristiwa atau kondisi yang mengandung dilema moral tersebut, diharapkan siswa/konseli memiliki kemampuan/perilaku seperti berikut: kemampuan berikir kritis, kemampuan menganalisis, kemampuan mengsintesis, kemampuan menemukan solusi terhadap situasi dilematis, kemampuan mengemukakan pendapat/solusi baik secara lisan maupun tertulis.
Dilema moral terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua atau lebih tindakan yang semuanya memiliki konsekuensi etis atau moral yang bertentangan. Berikut beberapa contoh kondisi yang mengandung dilema moral:
1) Kebohongan demi kebaikan Seorang dokter mengetahui bahwa pasiennya mengidap penyakit yang sulit disembuhkan, tetapi keluarganya meminta dokter untuk tidak memberi tahu pasien karena takut ia akan kehilangan harapan.
- Dilema: Apakah dokter harus memberi tahu pasien sesuai kode etik kedokteran atau mengikuti permintaan keluarga demi menjaga semangat pasien?
2) Pencurian untuk bertahan hidup Seorang ibu miskin mencuri makanan dari supermarket untuk memberi makan anak-anaknya yang kelaparan.
- Dilema: Apakah mencuri dapat dibenarkan demi menyelamatkan nyawa, atau tetap salah secara hukum dan moral?
3) Pengorbanan satu untuk menyelamatkan banyak Dalam situasi darurat di sebuah kapal yang hampir tenggelam, hanya ada satu sekoci kecil yang mampu menyelamatkan lima orang, tetapi ada enam orang di kapal. Seseorang harus mengorbankan diri agar sekoci tidak tenggelam.
- Dilema: Apakah etis memilih siapa yang harus dikorbankan, atau lebih baik membiarkan semuanya mengambil risiko bersama?
4) Rahasia teman yang membahayakan Anda mengetahui bahwa seorang teman dekat melakukan tindakan ilegal yang berbahaya, misalnya mengemudi dalam keadaan mabuk. Jika Anda melaporkannya, dia bisa dihukum berat, tetapi jika Anda tidak melaporkannya, dia mungkin membahayakan orang lain.
- Dilema: Apakah lebih penting menjaga rahasia teman atau melindungi masyarakat?
5) Keputusan medis untuk menyelamatkan satu orang Dalam keadaan darurat di rumah sakit, seorang dokter hanya memiliki satu alat bantu pernapasan, tetapi ada dua pasien kritis. Salah satunya adalah seorang anak muda dengan masa depan cerah, sedangkan yang lainnya adalah orang tua yang telah berkontribusi banyak bagi masyarakat.
- Dilema: Siapa yang harus diberi alat bantu, dan apa dasar pengambilan keputusan itu?
Setiap dilema ini memunculkan pertanyaan etis yang sulit dijawab karena melibatkan nilai-nilai yang saling bertentangan. Untuk menemukan solusi yang tepat, dibutuhkan pemikiran dari berbagai sudut pandang.
Metode dilema moral dapat digunakan pada bimbingan klasikal dan bimbingan kelompok, dengan tahapan pelaksanaan berikut:
1) Tahap pembentukan:
a) Mempersiapkan siswa/konseli untuk mengikuti layanan
b) Memulai kegiatan layanan dengan berdoa
c) Menyampaikan tujuan layanan
d) Menyampaikan topik layanan
2) Tahap peralihan
a) Memastikan kesiapan siswa/konseli untuk menggikuti layanan
b) Mengenali suasana hati siswa/konseli
c) Menekankan asas-asas bimbingan dan konseling
3) Tahap inti
a) Menyampaikan secara lisan atau tertulis tentang sebuah situasi/kondisi yang mengandung dilemma moral.
b) Meminta siswa/konseli (secara individual atau kelompok) memikirkan solusi dari situasi yang dilematis itu.
c) Membahas hasil-hasil pemikiran siswa/konseli tentang solusi yang ditemukan.
d) Memberikan penguatan-penguatan kepada siswa/konseli
e) Memastikan semua siswa/konseli telah memahami materi layanan
4) Tahap akhir
a) Mengajak siswa/konseli bersama-sama membuat kesimpulan layanan
b) Mengevaluasi ketercapaian tujuan layanan
c) Meminta siswa/konseli membuat komitmen untuk merubah perilaku atau meningkatkan perilaku yang sudah baik sesuai dengan tujuan layanan.
d) Menutup kegiatan layanan.
Penggunaan metode dilema moral sebagai metode layanan bimbingan dan konseling, akan melatih siswa/konseli memiliki keterampilan menemukan solusi pada saat mengalami masalah dilematis.
Kategori
- Masih Kosong
Arsip
Blogroll
- Masih Kosong