Materi Layanan Bimbingan Karir

20 April 2025 16:38:00 Dibaca : 1273

Materi Layanan Bimbingan Karir

Oleh: Maryam Rahim

            Materi layanan bimbingan karir tidak lepas dari kegiatan dalam layanan bimbingan karir itu sendiri. Materi tersebut meliputi: pemahaman diri, pemahaman dunia kerja, membuat perencanaan karir, memilih karir dan membuat keputusan karir.

1. Pemahaman diri, terdiri dari: pemahaman tentang: baka dan minat, kemampuan intelektual, emosi, sikap, sifat, konsep diri, cita-cita, gaya hidup yang diinginkan, harapan-harapan orang tua, kondisi ekonomi orang tua/keluarga.

2.Pemahaman tentang sekolah dan pendidikan tinggi lanjutan, meliputi:

a.Pemahaman tentang: jenis-jenis sekolah lanjutan setelah lulus SMP/MTs (SMA/SMK/MA, program pilihan di SMA/SMK/MA, pemahaman tentang jenis-jenis perguruan tinggi lanjutan beserta program studi dan jurusan yang tersedia.

b.Untuk sekolah lanjutan dari SMP/MTs, pemahaman yang diberikan meliputi: visi-misi sekolah, program pilihan yang tersedia di setiap jenis sekolah (SMA, SMK, dan MA), kompetensi yang diperoleh setelah lulus dari sekolah, program studi atau jurusan di perguruan tinggi yang sesuai dengan jenis sekolah lanjutan, program pilihan di SMA/SMK/MA, prospek pekerjaan yang dapat dimasuki.

c.Untuk perguruan tinggi lanjutan, pemahaman yang diberikan meliputi: jenis-jenis perguruan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Vokasi), program studi atau jurusan yang tersedia, biaya yang dibutuhkan (biaya pendaftaran dan biaya persemeter, serta biaya lainnya), prospek pekerjaan, fasilitas beasiswa yang diperoleh, lama studi, fasilitas belajar yang tersedia.

3.Pemahaman tentang dunia kerja, meliputi: jenis-jenis pekerjaan, syarat-syarat memasuki pekerjaan (syarat kepribadian dan syarat teknis, seperti ijazah, program studi/jurusan, nilai Indeks Prestasi Kumulatif, syarat-syarat fisik seperti kesehatan jasmani, tinggi badan, berat badan, dan persyaratan fisik lainnnya, misalnya tidak memiliki tato dan tindik), gaji dan fasilitas yang diperoleh, hambatan/tantangan yang ditemui, kepuasan yang diperoleh, dan informasi lainnya.

4. Membuat perencanaan karir, memilih dan membuat keputusan karir.

Membuat perencanaan karir dilakukan dengan cara memadukan antara pemahaman diri dengan pemahaman dunia kerja. Perencanaan karir akan melahirkan beberapa rencana karir. Dari beberapa rencana karir itu dibuatlah pemilihan karir, yang diakhiri dengan pengambilan keputusan karir.

 Materi-materi tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga benar-benar dapat membantu siswa/konseli dalam mengembangkan karirnya secara tepat.

Media Bimbingan dan Konseling Karir

20 April 2025 13:08:57 Dibaca : 1560

Media Bimbingan dan Konseling Karir

Oleh: Maryam Rahim

          Media berasal dari kata “medium” yang berarti “perantara” atau “pengantar”. Media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator (pengirim pesan) kepada komunikan (penerima pesan). Media bimbingan dan konseling adalah alat bantu yang digunakan dalam proses layanan bimbingan dan konseling untuk memudahkan penyampaian materi layanan.

        Terdapat berbagai jenis media yang dapat digunakandalam layanan bimbingan dan konseling karir. Media tersebut meliputi:

1. Media cetak:

a. Hand-out, yaitu media bimbingan tertulis yang disiapkan guru untuk memperkaya pengetahuan siswa/konseli tentang karir. Hand-out dapat berisi tentang: jenis-jenis bakat dan cara mengetahui bakat, jenis-jenis program di SMA/SMK/MA, jenis-jenis sekolah lanjutan, jenis-jenis pekerjaan/profesi. 

b. Buku, media bimbingan tertulis yang menyajikan tema tertentu, misalnya tema tentang “Pemahaman Diri”, tema tentang “Pemahaman Dunia Kerja”, tema tentang “Perencanaan Karir dan Pemilihan Karir”, tema tentang “Pengambilan Keputusan Karir”.

c. Modul, sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar siswa/konseli dapat belajar secara mandiri. Bagian-bagian modul biasanya terdiri dari: pengantar, tujuan layanan, uraian materi layanan, rangkuman materi, dan latihan. Uraian pada bagian-bagian modul inilah yang memandu siswa/konseli untuk menggunakan modul itu secara mandiri.

d. Lembar Kerja Siswa (LKS), yakni lembaran-lembaran berisi tugas atau kegiatan yang harus dilakukan siswa/konseli. Dalam bimbingan dan konseling karir, LKS digunakan untuk membantu siswa/konseli, misalnya dalam hal: memahami diri, memahami dunia kerja, membuat perencanaan dan pemilihan karir, membuat keputusan karir.

e. Brosur adalah media informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun secara bersistem, atau cetakan yang hanya terdiri atas beberapa halaman dan dilipat tanpa dijilid, atau selebaran cetakan yang berisi keterangan singkat tetapi lengkap. Dalam bimbingan dan konseling karir, brosur bisa berisi ulasan singkat tentang kiat-kiat memahami diri, kiat-kiat memilih program studi/jurusan, kiat-kiat memilih perguruan tinggi lanjutan.

f. Leaflet, yakni media bimbingan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi. Dalam bimbingan dan konseling karir, isi leaflet bisa berupa informasi tentang jenis-jenis sekolah lanjutan setelah lulus SMP/MTS, informasi tentang program pilihan di SMA/SMK/MA, informasi tentang jenis-jenis perguruan tinggi, informasi tentang jenis-jenis pekerjaan menurut bidang masing-masing, misalnya pekerjaan di bidang kesehatan, dan lainnya.

2. Media audio

a. Rekaman audio, yaitu sebuah rekaman yang berisi materi layanan bimbingan. Dalam bimbingan karir, rekaman tersebut dapat berupa rekaman penjelasan guru tentang cara-cara memahami diri, rekaman tentang cara merencanakan karir, cara membuat pilihan dan keputusan karir. Selain itu dapat berupa rekaman penjelasan dari tokoh tertentu tentang keberhasilannya dalam meniti sebuah karir. Rekaman ini digunakan pada saat layanan, di mana siswa/konseli dan guru bersama-sama menyimak isi rekaman yang sesuai dengan topik layanan. Penggunaan mediaini di samping dapat membantu siswa/konseli memperoleh informasi tentang topik layanan, juga dapat melatih kemampuan siswa/konseli dalam menyimak informasi.

b. Radio. Melalui radio siswa/konseli dapat memperoleh informasi karir yang mereka butuhkan, misalnya informasi tentang pendaftaran di sekolah lanjutan atau perguruan tinggi lanjutan. Informasi tersebut biasanya berisi tentang: nama sekolah, visi sekolah, kompetensi yang diperoleh ketika belajar di sekolah tersebut, syarat-syarat pendaftaran, waktu pendaftaran, cara melakukan pendaftaran, alamat sekolah, kompetensi tenaga pengajar (guru), fasilitas sekolah, berbagai prestasi yang dicapai sekolah, dan informasi lainnya. Guru BK dapat memberikan tugas kepada siswa untuk mengikuti berbagai informasi tentang karir yang disampaikan melalui radio

3. Media visual. Media visual dalam bimbingan karir dapat  berupa:

a. Chart yang berisi garis-garis besar materi layanan bimbingan karir;

b. Gambar, seperti gambar pohon karir, gambar seri tentang prosedur dalam sebuah pekerjaan, dan lainnya.

c. Poster dan foto, misalnya poster dan foto tentang model-model pakaian dalam bidang pekerjaan tertentu, misalnya poster dan foto orang berpakaian dokter, pakaian perawat, pakaian polisi, tentara, pekerja pabrik, laboran, guru, hakim, dan lainnya.

d. Berbagai media cetak yang telah dijelaskan sebelumnya dapat dikategorikan sebagai media visual.

4. Media audio-visual, dapat berupa: film/video, konten You-Tube yang terkait dengan karir. Misalnya film tentang kehidupan seorang pebisnis yang berhasil dalam bisnisnya; konten You-Tube tentang kiat-kiat berhasil dalam karir, dan materi karir lainnya.

5. Media interaktif

Media interaktif adalah jenis media yang memungkinkan siswa/konseli untuk berinteraksi secara langsung dengan konten yang disajikan. Siswa/konseli tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga bisa memberikan input, memilih informasi, atau mempengaruhi jalannya konten tersebut. Jenis media interaktif:

a. E-learning interaktif, misalnya: modul belajar online dengan kuis, simulasi, dan video interaktif.

b. Aplikasi edukasi di smartphone, misalnya: Duolingo (untuk belajar bahasa).

c. Permainan edukatif, misalnya: game untuk melatih pengelolaan emosi, melatih kerja sama, tanggung jawab, kreativitas, dan aspek kepribadian lainnya.

d. Presentasi interaktif, misalnya PowerPoint yang dilengkapi dengan tombol navigasi, kuis, atau animasi.

e. Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR), siswa/konseli dapat menjelajahi lingkungan virtual dan berinteraksi di dalamnya, misalnya aplikasi jenis-jenis pekerjaan/profesi.

f.  Orang sumber atau nara sumber. Orang sumber/nara sumber adalah seseorang yang menyajikan materi terkait dengan karir pada saat layanan bimbingan dan konseling karir, misalnya seseorang yang telah berhasil dalam karirnya akan memberikan penjelasan kita-kiat yang telah dilakukannya sehingga dia bisa berhasil dalam karir yang ditekuninya tersebut. Siswa/konseli dapat berinteraksi langsung dengan nara sumber tersebut, misalnya bertanya atau berdiskusi.

Fungsi Sekolah dan Tantangannya

19 April 2025 08:18:03 Dibaca : 2819

Fungsi Sekolah dan Tantangannya

Oleh: Maryam Rahim

       Sekolah dipandang sebagai lembaga pendidikan yang dipersiapkan guna menghasilkan sumber daya manusia yang mampu melanjutkan pembangunan bangsa. Pendidikan di sekolah ditujukan untuk mengubah tingkah laku peserta didik menjadi lebih baik, serta mampu memberikan perubahan pada masyarakat. Sekolah dipandang sebagai agen perubahan (changes agent). Fungsi sekolah adalah mempertahankan, mengembangkan dan meneruskan kebudayaan suatu masyarakat, melalui aktivitas mendidik yang dilakukan pada peserta didik sebagai bagian dari masyarakat. Sekolah dipandang juga sebagai lembaga yang berfungsi mempersiapkan generasi yang kelak mampu mempertahankan eksistensi kelompok masyarakat dan bangsa yang memiliki karakteristik budaya dan kepribadian yang berbeda dengan kelompok masyarakat dan bangsa lain.

         Sekolah berkewajiban mempersiapkan siswa peserta didik menjadi warga negara yang mengetahui dan mampu menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Khusus bagi bangsa dan negara Indonesia fungsi tersebut diwujudkan dalam bentuk meneruskan nilai-nilai luhur pandangan hidup bangsa yakni pancasila dalam pembentukan sikap mental peserta didik (http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2180686-peranan-sekolah-sebagai-lembaga-pendidikan/#ixzz2CGyEtBN7). Penjelasan ini menunjukkan betapa pentingnya peranan sekolah dalam kehidupan bermasayarakat, berbangsa, dan bernegara.

        Sekolah berfungsi mendidik anak untuk menjadi dirinya sendiri.Sekolah adalah ruang aktualisasi diri untuk menumbuhkan semangat hidup, mengembangkan bakat dan kreativitas anak. Sekolah bertanggungjawab menanamkan pengetahuan-pengetahuan baru yang reformatif dan transformative dalam membangun bangsa yang maju dan berkualitas. Peran sekolah sangat besar dalam menentukan arah dan orientasi bangsa ke depan (Yamin (2013, 203-204).

       Kasmadi (1994, 153) menjelaskan pandangannya tentang sekolah sebagai berikut: (1) Sekolah sebagai lingkungan belajar, di mana terjalinnya proses belajar dan mengajar, serta terjalinnya hubungan antar manusia di dalamnya dengan baik. Sekolah merupakan lingkungan belajar yang mampu memanusiakan peserta didik sehingga mereka mampu mandiri dan bertanggungjawab terhadap kehdupannya, serta lingkungan, bangsa, dan negaranya, (2) Sekolah sebagai lingkungan budaya, dalam arti sekolah tidak lepas dari nilai-nilai internasionalisasi budaya. Pendidikan melalui sistem persekolahan memegang peranan yang sangat penting dalam memberikan dukungan terhadap perkembangan budaya, ekonomi, dan teknologi dan ilmu pengetahuan lainnya. Pertemuan yang lain adalah berdialognya budaya dan kebiasaan tradisional dengan budaya dan kebiasaan modern melalui transformasi dan informasi IPTEK melalui transformasi pendidikan, (3) Sekolah mampu menerima segala perubahan, terutama  yang berhubungan dengan metode mengajar dengan memperhatikan perbedaan individu anak.

         Sebagai konsekwensi logis dari berbagai pandangan ini, maka sistem pendidikan di sekolah harus menyediakan tenaga pendidik dan kependidikan yang mampu memberikan pelayanan yang optimal terhadap peserta didik dalam berbagai dimensi kehidupannya, di samping menyediakan berbagai fasilitas yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat berkembang secara optimal.

      Sekolah merupakan sebuah sistem terbuka yang senantiasa berinteraksi dengan lingkungannya. Sebagai sistem terbuka, sekolah mengambil energi (masukan) dari lingkungan. Peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan sebagai sumber daya manusia berasal dari lingkungan masyarakat. Demikian pula sumber daya lainnya berupa sarana dan parasarana, alat-alat perlengkapan dan dana berasal dari masyarakat. Selanjutnya sekolah mentransformasikan energi yang tersedia, misalnya dengan transformasi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan kepada peserta didik sebagai bagian dari masyarakat. Luaran sekolah akan diberikan kepada masyarakat berupa tenaga kerja untuk berbagai lapangan kehidupan di masyarakat. Ini berarti sekolah memberikan hasil kepada lingkungan (masyarakat).Sekolah juga merupakan rangkaian kejadian atau peristiwa yang terus berlangsung. Sekolah terus bergerak melawan proses entropi (kehancuran), berusaha agar bergerak menuju pada peran-peran yang lebih berdiferensiasi dengan berbagai upaya mengembangkan kemampuan-kemampuan professional tenaga kependidikan (Depdiknas, 2002).

         Dalam melaksanakan fungsinya sebagai agen perubahan dan sebagai sistem yang terbuka, sekolah diperhadapkan dengan berbagai tantangan yang saling terkait. Ebert dan Culyer (2011,2) mengidentifikasi beberapa masalah kontekstual yang paling menonjol yang dihadapi sekolah saat ini, termasuk: (1) kemajuan teknologi dan dinamika perubahan tenaga kerja, (2) peningkatan heterogenitas dari populasi siswa dan meningkatkan jumlah, kualitas, dan kompleksitas kebutuhan siswa, dan (3) dorongan untuk praktik berbasis fakta dan akuntabilitas yang meningkat meskipun sumber daya berkurang.

          Selain itu tantangan yang dihadapi sekolah saat ini: (1) kesenjangan akses dan kualitas pendidikan, masih terdapat kesenjangan antara sekolah di daerah perkotaan dan pedesaan, termasuk dalam hal fasilitas, tenaga pendidik, dan akses terhadap teknologi, (2) integrasi teknologi dalam pembelajaran, meskipun teknologi berkembang pesat, guru dan siswa masih menghadapi tantangan dalam penggunaannya secara efektif, seperti kurangnya pelatihan guru, atau infrastruktur yang belum memadai, (3) kompetensi guru, efektivitas guru sangat mempengaruhi hasil belajar, tantangannya adalah meningkatkan kompetensi pedagogik, manajerial, dan adaptasi terhadap kurikulum baru, (4) Perubahan kurikulum yang cepat, kurikulum yang terus diperbarui tanpa kesiapan sekolah dan guru bisa menimbulkan kebingungan dalam implementasi, (5) kesehatan mental dan beban belajar siswa, tekanan akademik, bullying, dan kecanduan gawai membuat kesehatan mental siswa menjadi isu penting yang sering terabaikan di sekolah, (6) kurangnya pendidikan karakter, fokus pada capaian akademik kadang mengabaikan pembentukan karakter seperti empati, tanggung jawab, dan integritas, (7) minimnya keterlibatan orang tua, rendahnya partisipasi orang tua dalam pendidikan anak membuat dukungan di rumah kurang maksimal.

            Besarnya tantangan terhadap implementasi fungsi sekolah harus senantiasa dicarikan solusinya agar sekolah benar-benar dapat mewujudkan fungsinya secara optimal.

Referensi:

Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Memahami Sekolah Sebagai Sistem. Materi Pelatihan Terpadu untuk Kepala Sekolah. Jakarta. Dirjen Dikdsmen Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

 Ebert, Edwart S, dan Culyer, Richard C. 2011. School An Introduction to Education. Second Edtion.Wadsworth Cengage Learning.

 Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II. 1994. Kurikulum untuk Abad Ke – 21. Jakarta. PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

 Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2011. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung. Rajawali Perss.

 Yamin, Moh. 2012. Panduan Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan. Panduan lengkap Tata Kelola Kurikulum Efektif.Jogyakarta.DIVA Press.

Kemampuan Mendengarkan dengan Efektif

17 April 2025 11:55:15 Dibaca : 3263

Kemampuan Mendengarkan dengan Efektif

Oleh: Maryam Rahim

 

         Kemampuan mendengarkan dengan efektif dan memahami apa yang disampaikan oleh lawan bicara sangat penting dalam komunikasi. Hal ini berkaitan erat dengan seni mendengarkan. Kemampuan mendengarkan dengan efektif merupakan salah satu ciri seorang yang memiliki kecerdasan  sosial. Goleman (2007) menggunakan istilah “penyelarasan” untuk menyebut kemampuan mendengarkan dengan efektif. Kemampuan tersebut diharapkan mampu menyelaraskan diri dengan perasaan orang lain (Goleman, 2007).

        Kemampuan ini sering luput dari perhatian kita pada saat berkomunikasi, padahal aspek ini justru sangat penting untuk memperlancar dan membuat komunikasi menjadi berkualitas. Dalam berkomunikasi kita telah bersikap mendengarkan tetapi belum mendengarkan secara efektif. Menurut Devito (Martoredjo, 2014: 502) kemampuan mendengarkan merupakan kegiatan komunikasi yang paling penting di samping kemampuan membaca, berbicara atau menulis. Ironisnya, kebanyakan dari kita adalah pendengar yang buruk. Menurut Janasz (Martoredjo, 2014: 502) memang mendengarkan secara aktif bukannya sesuatu yang mudah, namun meningkatkan keterampilan ini akan sangat banyak manfaatnya karena peran pentingnya dalam komunikasi itu sendiri.

        Covey (Makmun, 2013: 424) berpendapat bahwa mendengar secara efektif adalah mendengar dengan maksud untuk mengerti, baik secara emosional maupun intelektual, bukan dengan maksud untuk menjawab, mengendalikan atau memanipulasi orang lain. Kita masuk ke dalam kerangka acuan orang lain, melihat dunia dengan cara mereka melihat dunia, mengerti paradigma mereka dan mengerti perasaan mereka. Kita memerlukan jauh lebih banyak energi dari sekedar merekam pembicaraan, merenungkan bahkan mengerti kata-kata yang mereka ucapkan. Para ahli komunikasi berpendapat bahwa dalam konteks komunikasi formal (presentasi di kelas/kantor): 60% diwakili oleh kata-kata (verbal), 20% oleh nada suara (vocal tone), dan 20% oleh bahasa tubuh (body language); dalam komunikasi santai: 40% diwakili oleh kata-kata, 30% oleh nada suara, dan 30% oleh bahasa tubuh; dalam komunikasi telepon bisnis: 50% diwakili oleh kata-kata, 50% oleh nada suara, dan 0% oleh bahasa tubuh; dalam konteks komunikasi emosional: 10-20% komunikasi diwakili dengan kata-kata, 40% diwakili oleh nada suara, dan 40-50% oleh bahasa tubuh Oleh karena itu, mendengar secara empatik tidak terbatas pada mendengar dengan telinga, namun mendengar dengan mata dan hati. Hati kita merasakan, memahami, menyelami, dan berintuisi. Mata kita mengamati pesan-pesan non-verbal pembicara. Dalam hal ini, kita tidak hanya menggunakan otak kanan, tetapi sekaligus juga mengasah kemampuan otak kiri.

         Menurut Covey (Makmun, 2013: 423), mendengar secara efektif merupakan deposito luar biasa dalam rekening bank emosi. Ia memberi terapi dan menyembuhkan karena memberi udara psikologis pada seseorang. Sama halnya dengan udara yang merupakan kebutuhan fisiologis bagi manusia, maka keinginan untuk dimengerti, diteguhkan, diakui, dan dihargai merupakan kebutuhan psikologis bagi manusia. Jika kebutuhan ini sudah terpenuhi, komunikasi dapat berjalan dengan mudah, lancar, dan efektif. Sebaliknya, jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, kegagalan komunikasi akan terjadi.

        Berbagai survey yang pernah dilakukan berhasil memberikan ilustrasi bagaimana kegiatan mendengarkan merupakan bagian yang sangat penting dalam komunikasi, seperti dalam artikel Harvard Businees Review (2016), survey dari International Listening Association (ILA), survey Linkedln (2020), dan tudi dari Zenger dan Folkman (Forbes, 2016). Beberapa survei dan penelitian ini menguatkan pentingnya kemampuan mendengarkan, dan kemampuan seseorang untuk mendengarkan jauh lebih penting dan berharga daripada kemampuan berbicara. Walaupun banyak survei menempatkan kemampuan untuk mendengarkan sebagai kemampuan yang wajib dimiliki, banyak orang yang tidak menyadarinya. Kalaupun mereka menyadari bahwa kemampuan mendengarkan merupakan kemampuan yang harus dimiliki, sangat jarang orang mau untuk meningkatkan kemampuan tersebut.

Referensi:

1.      Goleman, D.  2007. Social Intelligence.  (Alih bahasa). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

2.      Hardjana, A. 2013. Strategi Mendengarkan dalam Komunikasi Manajerial. Jurnal Interact, Vol. 2, No. 2: 1-17

3.      Makmun, S. 2013. Memahami Orang Lain Melalui Keterampilan Mendengar Secara Empatik. Jurnal Humaniora. 4 (1), 422 - 431.

4.       Martoredjo, N. T. 2014. Keterampilan Mendengarkan Secara Aktif dalam Komunikasi Interpersonal. Humaniora Vol 5 No. 1 April 2014.

Kebahagiaan dan Altruisme

08 April 2025 20:14:46 Dibaca : 3250

Kebahagiaan dan Altruisme

Oleh: Maryam Rahim

            Setiap orang ingin bahagia, sehingga setiap orang berusaha untuk dapat meraih kebahagiaan tersebut. Pada dasarnya terdapat banyak kegiatan atau tindakan yang dapat membuat seseorang bahagia. Salah satunya adalah melalui tindakan altruisme. Altruisme merupakan sikap dan tindakan yang mengutamakan kepentingan orang lain tanpa mengharapkan balasan atau keuntungan pribadi. Tindakan altruistik dapat berupa bantuan materil kepada sesama, dukungan emosional, atau kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat. Altruisme sering dikaitkan dengan empati, rasa solidaritas, dan kepedulian sosial.

            Hubungan kebahagiaan dengan altruisme dapat dijelaskana sebagai berikut:

            Pertama, altruisme dapat meningkatkan kesejahteraan emosional: banyak penelitian psikologi yang menunjukkan bahwa membantu orang lain dapat meningkatkan perasaan bahagia dan kepuasan hidup. Artikel hasil penelitian yang ditulis oleh Dunn, dkk (2008) merupakan salah satu studi paling terkenal yang menunjukkan bahwa menghabiskan uang untuk orang lain dapat meningkatkan kebahagiaan seseorang. Penelitian ini mendemonstrasikan bahwa manfaat emosional yang diperoleh dari berbagi lebih konsisten dan dapat diandalkan dibandingkan dengan manfaat dari pengeluaran untuk kepentingan pribadi. Ketika seseorang melakukan tindakan altruistik, otak sering melepaskan endorfin serta zat kimia seperti oksitosin, yang secara fisiologis dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres. Studi yang dilakukan oleh Moll,J., dkk (2006) yang menggunakan teknik pemindaian otak yang disebut functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) untuk mengamati aktivitas otak saat para partisipan membuat keputusan untuk berdonasi. Hasilnya menunjukkan peningkatan aktivasi di area otak yang berkaitan dengan penghargaan dan perasaan senang, mendukung bukti bahwa tindakan altruistik tidak hanya bermanfaat bagi penerima tetapi juga berdampak positif bagi pemberi.

         Kedua, altruisme dapat membentuk hubungan sosial yang positif; altruisme membantu memperkuat hubungan antar individu. Dengan menunjukkan perhatian dan kepedulian kepada orang lain, seseorang dapat membangun jaringan sosial yang suportif. Hubungan sosial yang kuat merupakan salah satu indikator utama kebahagiaan jangka panjang karena menyediakan dukungan emosional dan rasa memiliki.

        Ketiga, altruisme dapat membantu seseorang menemukan makna dan kepuasan hidup; Melalui tindakan altruistik, banyak orang menemukan makna yang lebih dalam dalam hidup. Perasaan berkontribusi terhadap kebaikan bersama dan membantu sesama dapat mengubah perspektif seseorang mengenai kehidupannya secara keseluruhan. Hal ini membuat individu merasa hidupnya lebih bermakna dan menghasilkan kebahagiaan batin yang lebih tahan lama.

            Keempat, altruisme dapat mengurangi rasa kesepian; tindakan altruisme dapat membantu mengurangi perasaan isolasi dan kesepian. Keterlibatan dalam komunitas, relawan, atau kegiatan sosial lainnya membantu individu merasa terhubung dengan orang lain, yang secara tidak langsung meningkatkan kualitas hidup dan kebahagiaan.

          Beberapa bukti ilmiah dan temuan penelitian terkait hubungan kebahagiaan dengan altruisme:

a.  Studi psikologi positif; penelitian di bidang psikologi positif mengungkapkan bahwa mereka yang terlibat secara aktif dalam kegiatan altruistik cenderung melaporkan tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup yang lebih tinggi. Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa meskipun memberikan bantuan kepada orang lain mungkin menimbulkan biaya emosional sesaat, secara keseluruhan, dampaknya adalah peningkatan kebahagiaan.

b. Teori 'helper’s high'; konsep 'helper’s high' menjelaskan keadaan perasaan euforia atau kepuasan yang muncul setelah melakukan tindakan kebaikan. Kondisi ini dihasilkan oleh pelepasan hormon-hormon seperti endorfin. Fenomena ini mendukung hipotesis bahwa tindakan altruistik tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga bagi pemberi.

c. Penelitian neurosains; studi menggunakan teknologi pemindaian otak menunjukkan bahwa aktivitas di bagian otak yang berkaitan dengan kesenangan dan penghargaan meningkat ketika seseorang melakukan tindakan yang membantu orang lain. Hasil ini memberi bukti biologis bahwa altruisme terkait erat dengan perasaan bahagia.          

           Kebahagiaan dan altruisme saling memperkaya. Ketika altruisme membantu memperkuat hubungan sosial, memberikan makna dalam kehidupan, dan meningkatkan kesejahteraan emosional, maka kebahagiaan yang diperoleh juga mendorong individu untuk lebih banyak beramal dan membantu orang lain. Keseimbangan antara dua konsep ini menciptakan siklus positif, di mana kebaikan yang diberikan kepada sesama akan membawa kebaikan kembali kepada diri sendiri. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai altruisme dalam kehidupan sehari-hari, individu tidak hanya meningkatkan kualitas hidup mereka tetapi juga berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih harmonis dan bahagia.

Referensi:           

Dunn, A. G., Aknin, L. B., & Norton, M. I. (2008). Spending money on others promotes happiness. Science, 319(5870), 1687–1688.

Moll, J., Krueger, F., Zahn, R., Pardini, M., de Oliveira-Souza, R., & Grafman, J. (2006). Human fronto–mesolimbic networks guide decisions about charitable donation. Proceedings of the National Academy of Sciences, 103 (42), 15623–15628.