Kecerdasan Naturalis dan Kelestarian Lingkungan
Kecerdasan Naturalis dan Kelestarian Lingkungan
OLEH: MARYAM RAHIM
Masalah kerusakan lingkungan alam telah menjadi masalah global yang hingga saat ini menjadi perhatian dunia untuk diupayakan solusinya. Lingkungan alam telah diciptakan oleh Maha Pencipta untuk memenuhi kebutuhan manusia dan manusia telah menggunakannya secara terus menerus, oleh sebab itu kerusakan lingkungan tentu saja tidak lepas dari tanggungjawab manusia dalam penggunaan lingkungan untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagaimana pendapat Nizaar (2022) jika dilihat dari perspektif antroposentris, di mana lingkungan dihadirkan untuk memenuhi semua kebutuhan hidup manusia maka kerusakan yang terjadi disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak sesuai dengan keberlanjutan lingkungan hidup. Perilaku manusia semestinya sejalan dengan keberlanjutan lingkungan hidup karena lingkungan saat ini bukan hanya diperuntukkan bagi generasi sekarang, namun diperuntukkan juga bagi generasi selanjutnya.
Apabila dicermati, pada dasarnya untuk mengkaji solusi terhadap kerusakan lingkungan alam tidak lepas dari persoalan tanggung jawab manusia dalam memperlakukan lingkungan itu sendiri. Oleh sebab itu upaya yang tepat harus dimulai dari diri setiap manusia yakni dengan mengembangkan kecerdasan naturalis. Solusi ini menjadi solusi jangka panjang, sebab kecerdasan naturalis telah menyatu dengan kehidupan manusia dan senantiasa ada sepanjang kehidupan manusia. Kecerdasan naturalis adalah kemampuan dalam memperlakukan lingkungan alam secara positif, memperlakukan alam sebagai bagian dari hidup yang perlu dipelihara dan dijaga kelestariannya.
Seseorang dengan kecerdasan naturalis yang tinggi akan memiliki naluri yang kuat yang diwujudkan dalam berbagai perilaku yang dapat menjaga kelestarian lingkungan. Ia akan menjadi orang senantiasa memiliki sence of belonging of environment, yang menjadikan lingkungan sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri.Dapat diasumsikan orang yang memiliki kecerdasan naturalis yang tinggi akan memiliki rasa cinta lingkungan yang tinggi pula. Oleh sebab itu pengembangan kecerdasan naturalis penting untuk menjaga kelestarian lingkungan sepanjang waktu. Hasil penelitian Anna (2016) menunjukkan adanya sumbangan sebesar 24,8% kontribusi kecerdasan naturalis terhadap sikap peduli lingkungan. Hasil penelitian Wirdianti, dkk (2020) menyimpulkan ada hubungan antara kecerdasan naturalis dengan tanggung jawab lingkungan. Hal yang sama ditemukan oleh Afifah, dkk (2021) bahwa terdapat pengaruh kecerdasan naturalis terhadap pro environmental behavior siswa. Demikian pula halnya hasil penelitian Rahmawati, dkk (2021) memberikan hasil adanya hubungan antara kecerdasan naturalis dengan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar, dengan koefeisen determinasi sebesar 16,3%.
Penggunaan Tari dan Lagu Daerah Gorontalo dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
Penggunaan Tari dan Lagu Daerah Gorontalo dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
OLEH: MARYAM RAHIM
Gorontalo sebagai salah satu daerah adat dari sembilan daerah adat di Indonesia, memiliki kekayaan budaya. Kekayaan budaya tersebut antara lain tari dan lagu tradisional yang lahir dan berkembang serta digunakan oleh masyarakat Gorontalo. Menurut Rahim (2016) beberapa tarian daerah Gorontalo yang dapat dijadikan sebagai teknik layanan bimbingan dan konseling adalah:
a. Tarian Dana-Dana, tarian yang dilakukan oleh sekelompok orang, paling sedikit 2 orang. Dana-Dana adalah seni budaya asli masyarakat Gorontalo. Sejenis tari pergaulan yang secara keseluruhannya menggambarkan keakraban muda-mudi. Selain gerakannya yang dinamis dalam iringan gambus dan rebana, nuansa keakraban juga terwakili oleh syair bertemakan cinta, atau petuah-petuah pergaulan remaja.
Dalam fungsinya, tarian dana-dana bisa menjadi tari penyambutan dan tari perayaan. Sebagai tari penyambutan disajikan untuk menyambut tamu, sedangkan tari perayaan dipersembahkan saat ada perayaan tertentu, seperti pernikahan, pagelaran seni budaya, dan lain sebagainya. Dalam sejarahnya, tari dana-dana hadir pada tahun 1525 Masehi atau seiring masuknya agama Islam ke Gorontalo. Untuk pertama kalinya, tarian kerakyatan ini ditampilkan pada acara pernikahan Raja Sultan Amay dengan Putri Owotango.
Di masa awal tarian ini hanya dibawakan oleh kaum penari laki-laki saja, 2-4 orang. Hal ini berkaitan dengan ketatnya ajaran Islam dan norma adat-istiadat masyarakat Gorontalo pada waktu itu. Seiring perkembangan, akhirnya juga bisa ditarikan berpasangan dengan wanita (http://blogkulo.com diakses tanggal 18 Februari 2022).
Tarian ini dapat digunakan untuk mengembangkan kebersamaan, menumbuhkan emosi senang/bahagia, ketelitian, konsentrasi, tanggung jawab.
b.Tarian Saronde, tarian yang dilakukan oleh sekelompok orang, palin sedikit 2 orang. Tari Saronde merupakan tarian Gorontalo sebagai bagian dari rangkaian upacara perkawinan adat Gorontalo. Dulunya, tari ini menjadi media pengenalan calon istri yang diistilahkan dengan molile huali. Sang mempelai pria menari, sedangkan calon istrinya menampakkan diri sedikit agar dia bisa melihatnya.
Seiring dengan berjalannya waktu, tarian Saronde berkembang fungsinya sebagai tari hiburan yang dipertunjukkan untuk berbagai acara. Perkembangan juga terjadi pada komposisi penarinya. Saat ini, tarian ini lebih sering disajikan secara berpasangan oleh penari pria dan penari wanita.
Para penarinya mengenakan busana khas Gorontalo lengkap dengan selendang sebagai atributnya. Sekitar 3-6 pasang penari membawakan tarian ini dengan iringan musik rebana dan lagu yang khas Saronde. Gerakan pada tari ini lebih didominasi oleh ayunan tangan dan kaki (http://blogkulo.com diakses tanggal 18 Februari 2022).
Tarian ini dapat dijadikan untuk mengembangkan perilaku kerjasama, tanggung jawab, ketelitian, konsentrasi, serta emosi positif.
c. Tari Elengge, tarian yang dilakukan oleh sekelompok orang, paling sedikit 2 orang. Tari Elengge menggambarkan nuansa kegotong-royongan muda-mudi ketika bersama-sama menumbuk padi menggunakan lesung atau dalam bahasa Gorontalo disebut didingga dan anak lesung yaitu (wala’o didingga). Ketika musim panen tiba, sambil bercanda muda-mudi menumbuk padi sampai jadi beras.
Busana penarinya adalah busana rakyat. Selain didingga dan wala’o didingga, ada juga properti tari lain, yakni wontuwo (tolu). Tarian ini dibawakan oleh tiga pasang putra dan putri atau lebih. Selain iringan musik tradisional Gorontalo, ada juga syair pengiring yang berjudul “Elengge”. Tari Elengge, yang namanya diangkat dari nama bunyi alu. Di ujung alat penumbuk padi tersebut disisipkan sepotong kayu pada lubang yang dibentuk segi empat. Ketika digerakkan akan mengeluarkan bunyi yang disebut ele-elenggengiyo atau mo’elengge (http://blogkulo.com diakses tanggal 18 Februari 2022).
Tarian ini dapat digunakan untuk mengembangkan kerjasama, konsentrasi, kematangan emosi (terutama emosi gembira), taggung jawab, dan disiplin.
d. Tari Biteya. Istilah Biteya berasal dari kata bite yang berarti dayung. Biteya bisa dimaknai dayunglah sampai ke tempat tujuan. Penamaan ini berkaitan dengan apa yang digambarkan dalam tarian ini, yakni mengisahkan tentang kehidupan nelayan, mulai dari persiapan sampai pada proses penangkapan ikan.
Dalam prakteknya, tarian Biteya melibatkan 5-7 pasang penari putra dan putri. Mereka mengenakan busana kaum nelayan yang didominasi warna hitam. Mereka juga mengenakan ikat kepala, sarung di pinggang dan memakai tolu. Perpaduan musik etnis dan modern mengiringi tarian ini (http://blogkulo.com diakses tanggal 18 Februari 2022).
Tarian ini dapat digunakan untuk mengembangkan berbagai perilaku positif, seperti: kerjasama, emosi gembira, konsentrasi, tanggungjawab dan disiplin.
e. Tidi. Istilah Tidi bisa dikatakan mewakili tarian klasik dalam budaya Gorontalo. Baik busana, gerak, formasi, serta properti tariannya sarat nilai sehingga tidak boleh diubah. Jenis tarian ini ada sejak masa pemerintahan Raja Eyato atau ketika agama Islam menguat di Kerajaan Gorontalo.
Sejalan dengan falsafah adat bersendi syara’, dan syara’ bersendikan Kitabullah (Al-Quran) maka setiap bagian yang membentukan Tidi haruslah disesuaikan dengan nilai agama Islam. Harus mengandung nilai moral dan nilai pendidikan.
Sehubungan dengan nilai-nilai tersebut, dikenallah lima keterikatan. Keterikatan dalam menjalankan syariat Islam, sebagai ratu rumah tangga, kekerabatan (keluarga, tetangga, dan masyarakat), pergaulan sehari-hari. Serta keterikatan hak dan kewajiban rumah tangga (http://blogkulo.com diakses tanggal 18 Februari 2022).
Tarian ini dapat memperkenalkan kepada siswa tentang kehidupan yang berdasarkan falsafah hidup rakyat Gorontalo, yakni “adat bersendi syara’ dan syara’ bersendikan Kitabullah (Al-Quran). Di samping melalui tarian ini siswa memperoleh pemahaman tentang kehidupan dalam rumah tangga, tentang istri yang menjadi ratu rumah tangga, etika dalam pergaulan sehari-hari baik dalam keluarga, tetangga, dan masyarakat.
Rahim (2016) juga berpendapat beberapa lagu daerah Gorontalo dapat digunakan sebagai teknik bimbingan dan konseling, antara lain:
a. Hulondalo Lipu’u, yang berarti “Gorontalo negeriku”. dapat digunakan untuk membangkitkan rasa cinta, penghargaan, dan rasa hormat terhadap daerah Gorontalo.
b. Bulalo Lo Limutu, yang berarti “danau Limboto” juga dapat digunakan untuk mengembangkan rasa cinta atas kekayaan alam Gorontalo, antara lain danau Limboto.
c. Binte Biluhuta, yang berati “jagung siram”, lagu yang menggambarkan tentang makanan khas daerah Gorontalo yang bernama “Binte Biluhuta”. lagu ini dapat digunakan untuk membangkitkan apresiasi terhadap kekayaan budaya daerah Gorontalo. Di samping itu dapat mengembangkan perilaku kerjasama, sebagamana isi lagu ini yang mengandung makna meskipun terdiri dari berbagai bahan dan rempah-rempah, namun karena diolah dengan baik maka melahirkan rasa yang enak.
d. Wanu Moleleyangi, yang artinya “jika ingin pergi berkelana” jangan melupakan daerah Gorontalo yang telah ditinggalkan. Lagu ini juga bisa menggugah rasa cinta pada sanak saudara/keluarga, rasa cinta pada kampung sendiri, ataupun negeri sendiri.
Lagu-lagu pop yang berbahasa daerah Gorontalo, antara lain “ati olo ti mama” (sayang mama/ibu), “ati olo ti papa” (sayang papa/ayah, yang dapat digunakan untuk membangkitkan dan memelihara rasa cinta pada ayah dan ibu (orang tua).
Jika dicermati penggunaan tari dan lagu sebagai teknik layanan bimbingan dan konseling memiliki beberapa manfaat, yakni: (c) membantu tercapainya tujuan layanan secara efektif, yakni terbentuknya berbagai perilaku positif, (b) membangkitkan dan meningkatkan keaktifan siswa/ konseli dalam mengikuti layanan, (c) mengembangkan situasi gembira dan menyenangkan dalam layanan, dan (d) tentu saja yang tidak dapat diabaikan adalah penggunaan tari dan lagu tradisional daerah akan menjadi wahana melestarikan budaya daerah itu sendiri.
Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo (Nilai-Nilai Religius-Sosial-Emosional-Ekonomi)
Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo
(Nilai-Nilai Agama-Sosial-Emosional-Ekonomi)
Oleh: Maryan Rahim
Tradisi tumbilotohe di kalangan masyarakat Gorontalo telah ada sejak abad ke- 15. Secara etimologis kata Tumbilotohe terdiri dari kata “tumbilo” yang berarti “menyalakan” dan “tohe” yang berarti “lampu”. Tumbilotohe berarti menyalakan lampu. Pada awalnya lampu penerangan masih terbuat dari “wamuta” atau “seludang” yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar sehingga menimbulkan cahaya. Alat penerangan ini di sebut “wango”. Tahun-tahun berikutnya, alat penerangan mulai menggunakan “tohe tutu” atau damar yaitu semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar. Setelah itu berkembang lagi dengan memakai lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa, dengan menggunakan wadah seperti kima, sejenis kerang, dan buah pepaya yang dipotong dua, alat ini disebut “padamala”. Perkembangan selanjutnya lampu tumbilotohe terbuat dari botol kecil yang berisi sumbu dan minyak tanah. Dan saat ini telah diperkaya dengan menggunakan lampu listrik (https://gorontalo.kemenag.go.id/artikel/17247/-).
Jika dicermati, perayaan tumbilotohe sarat dengan nilai-nilai religius-sosial-emosional dan ekonomi. Tradisi ini pada awalnya kental dengan nilai-nilai religius, sebab pada awalnya kegiatan menyalakan lampu ini dilakukan oleh masyarakat pada setiap tiga malam terakhir di bulan Ramadan dalam rangka mendapatkan malam “Lailatul Qadar”. Menyalakan lampu (tumbilotohe) dilakukan sebagai usaha untuk menerangi jalan-jalan sehingga masyarakat bisa ke mesjid dengan aman, mengingat waktu itu belum dikenal alat penerangan yang menggunakan tenaga listrik.
Dalam perkembangan selanjutnya ditemukan adanya nilai-nilai sosial-emosional-ekonomi dalam tradisi tumbilotohe. Nilai sosial ditunjukkan oleh adanya kerjasama yang diliputi kesukarelaan di antara anggota masyarakat dalam mempersiapkan tumbilotohe di lingkungannya masing-masing, bahkan berkompetisi antar lingkungan (kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota). Perayaan tumbilatohe telah melahirkan perasaan gembira di kalangan masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang dewasa bahkan mereka yang berusia tua. Kegembiraan ini ditandai dengan berbondong-bondongnya masyarakat mengunjungi tempat-tempat yang menyediakan mozaik indah dari ratusan bahkan ribuan lampu yang menyala. Melakukan foto selfie dengan berbagai gaya, semuanya dilakukan dengan perasaan gembira. Di sisi lain, ada sekelompok anak-anak yang diliputi perasaan senang, hilir mudik dari rumah ke rumah penduduk dengan melagukan syair pantun “tumbilotohe, tamohile jakati bubohe lo popati” yang artinya “tumbilotohe, orang yang minta jakati dipukul dengan popati”. “jakati” semacam pemberian alakadarnya sebagai tanda perhatian atau kasih sayang kepada anak-anak. “popati” adalah bahasa Gorontalo dari “pacul”. “Bubohe lo popati” artinya “pukul dengan tangkai pacul”, namun ini hanya sekedar pantun yang mengandung humor. Inilah nilai emosional dari tumbilatohe. Perayaan tumbilotohe telah memunculkan peluang mendapatkan keuntungan ekonomi bagi sebagian anggota masyarakat melalui jual beli alat-alat tumbilotohe, seperti: botol kecil lengkap dengan sumbu lampu, janur kuning, minyak tanah, dan lampu hias elektrik. Inilah yang menjadi nilai ekonomi dari tumbilotohe.
Namun yang menjadi keprihatinan saat ini adalah ketika masyarakat lebih mementingkan perayaan tumbilotohe dan cenderung melalaikan nilai ibadah di malam-malam terakhir, khususnya tiga malam terakhir bulan Ramadan. Di mana di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, Allah SWT telah menjanjikan pahala malam Lailatul Qadar bagi hamba-hambaNya yang melakukan ibadah dengan khusyu’, melakukan sholat wajib maupun sunnah, membaca Alqur’an, I’tikaf dan ibadah lainnya. Oleh sebab itu perlu pengaturan waktu oleh masyarakat agar melalui perayaan tradisi tumbilotohe kita tetap mengutamakan kegiatan ibadah (nilai religius), di samping mendapatkan nilai-nilai lainnya (sosia-emosional-ekonomi).
Konseling Karir Nathan dan Hill
Konseling Karir Nathan dan Hill
Oleh Maryam Rahim
Nathan dan Hill (2012, 14-18) mengembangkan pendekatan konseling karir dengan menggunakan pemikiran Taylor (1985). Taylor (1985) mengidentifikasi sejumlah pertanyaan kritis yang dapat diterapkan pada konseling karir, yakni: (1) sejauhmana perasaan klien/konseli seharusnya diekspresikan dan ditangani atau menjadi fokus aspek-aspek relasional dari pengambilan keputusan?; (2) siapa yang seharusnya mengumpulkan atau menyediakan informasi, klien/konseli, konselor, atau keduanya? (3) siapa pakarnya (artinya, siapa yang seharusnya memimpin, yang memutuskan bagaimana berbagai isu timbul seharusnya ditangani?;, (4) siapa yang seharusnya bertanggung jawab untuk membuat keputusan, konseli atau konselor? (5) apakah gaya konselor yang seharusnya dominan-direktif, kolaboratif, interpretative, atau reflektif?; (6) Apa yang seharusnya didiskusikan di dalam konseling karir? Masalah personal/emosional, self-appraisal, pengambilan keputusan, hasil-hasil tes, informasi tentang berbagai opsi, job-hunting?
Terhadap pertanyaan tersebut Nathan dan Hill berpendapat: (1) konseling karir seharusnya membiarkan perasaan klien/konseli untuk diekspresikan bilamana ekspresi tersebut membantu tercapainya tujuan konseling karir, (2) Hal ini menjadi tanggung jawab bersama, (3) hendaknya konseli yang berperan dalam penanganan masalahnya sendiri, (4) tanggung jawab untuk memutuskan terletak di tangan konseli, konselor bertanggung jawab untuk memfasilitasi prosesnya, (5) konselor karir perlu bisa mengadaptasikan gaya mereka menurut kebutuhan konseli dan tahap proses konselingnya, (6) konseling karir mengakui interdependensi masalah-masalah itu dan bahwa isu-isu personal perlu ditangani dalam proses konseling karir. Pendapat Nathan dan Hill terhadap pertanyaan Taylor dirangkum dalam tabel 1 berikut:
Tabel 1 Pendapat Nathan dan Hill terhadap pertanyaan Taylor
| Taylor | Nathan dan Hill |
| Sejauhmana perasaan klien/konseli seharusnya diekspresikan dan ditangani atau menjadi fokus aspek-aspek relasional dari pengambilan keputusan? | Konseling karir seharusnya membiarkan perasaan klien/konseli untuk diekspresikan bilamana ekspresi tersebut membantu tercapainya tujuan konseling karir |
| Siapa yang seharusnya mengumpulkan atau menyediakan informasi, klien/konseli, konselor, atau keduanya? | Hal ini menjadi tanggung jawab bersama |
| Siapa pakarnya (artinya, siapa yang seharusnya memimpin, yang memutuskan bagaimana berbagai isu timbul seharusnya ditangani? | Hendaknya konseli yang berperan dalam penanganan masalahnya sendiri |
| Apakah gaya konselor yang seharusnya dominan-direktif, kolaboratif, interpretative, atau reflektif? | Konselor karir perlu bisa mengadaptasikan gaya mereka menurut kebutuhan konseli dan tahap proses konselingnya |
|
Apa yang seharusnya didiskusikan di dalam konseling karir? Masalah personal/emosional, self-appraisal, pengambilan keputusan, hasil-hasil tes, informasi tentang berbagai opsi, job-hunting? |
Konseling karir mengakui interdependensi masalah-masalah itu dan bahwa isu-isu personal perlu ditangani dalam proses konseling karir |
Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan Taylor (1985), Nathan dan Hill mengembangkan pendekatan konseling karir. Pendekatan konseling karir tersebut digambarkan dalam tabel 2.2 sebagai berikut:
Tabel 2.2: Pendekatan Konseling Nathan dan Taylor
| Tahap | Tugas Knseli | Tugas Konselor |
| Sreening, Contractring, Exploring |
Melakukan asesmen pendahuluan tentang kesesuaian konseling karir
Melakukan persiapan tertulis, menguji kesiapan dan ketepatgunaan konseling karir Keterbukaan untuk mengeksplorasi presenting concrern dan berbagai pengaruh pada perkembangan dan pilihan karir dan pendidikan
Mengklarifikasi ekspektasi terhadap konseling karir
Mendiskusikan dan menyepakati kontrak
|
Mengedukasi dan memberikan informasi kepada klien tentang konseling karir melalui komunikasi tertulis, lisan, dan tatap muka.
Menguji kesiapan dan ketepatgunaan konseling karir, menunjukkan bentuk bantuan yang lebih cocok, jika diperlukan Membangun hubungan baik, memfasilitasi eksplorasi
Menyepakati kontrak (yaitu kerahasiaan, struktur, dll)
|
| Memungkinkan konseli untuk memahami |
Mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan: Siapa aku? Di mana aku sekarang ini? Apa keinginanku? Aku ingin ke mana?
Melaksanakan latihan asesmen-diri, tes psikometrik, dan kuesioner, bilamana perlu
Siap menangani pertanyaan “Apa yang menghentikan aku?”
Meriset informasi tentang peluang kerja |
Memfasilitasi pengeksplorasian perasaan dan keyakinan yang berkaitan dengan masalah/isu karir
Membantu klien mengidentifikasi tema-tema penting dan mengintegrasikan pemahaman tentang diri sendiri
Memanfaatkan dengan tepat guna latihan asesmen-diri dan tes psikometrik dan kuesioner
Membantu klien untuk mengatasi berbagai enghalang tindakan, menggunakan keterampilan menantang bilamana perlu
Menempelkan informasi tentang berbagai kemungkinan pekerjaan
|
| Tindakan, hasil, dan ending |
Menyelesaikan latihan mengambil keputusan dan merencanakan tindakan
Mengembangkan berbagai opsi dan memilih di antara opsi-opsi
Melakukan keputusan dalam bentuk tindakan
Menyetujui tugas-tugas riset, bilamana perlu
Mengatasi ketakutan akan perubahan
Mengevaluasi kebutuhan akan dukungan berkelanjutan
Mereviu kemajuan yang dibuat ke arah tujuan selama konseling karir
|
Memungkikan klien untuk menghasilkan ide-ide dan memilih di antaranya
Mendukung klien dalam mengembangkan dan memonitor rencana tindakan
Menyetujui tugas-tugas riset, bilamana perlu
Membantu klien menghadapi ambivalensi tentang masa depan
Mengeksplorasi kebutuhan klien akan dukungan berkelanjutan
Menekankan pentingnya mempertahankan momentum
Membantu klien dalam mengidentifikasi sumber daya dan sumber dukungan |
Konseling Karir Trait and Factor
Konseling Karir Trait and Factor
Oleh: Maryam Rahim
Meskipun dalam perkembangannya teori konseling trait and factor telah digunakan dalam lingkup yang lebih luas, namun lebih awal teori ini difokuskan pada segi vokasional atau pekerjaan (Arnold, 1997; Gothard, 2001; Sciarra, 2003; Brown & Let, 2005; Kidd, 2006; Perry & Zark, 2006, Zunker, 2006, Gybson & Mitchell, 2008; Gysbers, et.al, 2014, Surya, 2003; Sinring, 2011), sehingga disebut konseling karir trait and factors. Career guidance in education is still primarily based on the trait and-factor approach (Irving & Malik, 2005; Watts & Sultana, 2004). In this approach, focus is placed on achieving the best possible match between the skills of an individual and the ‘‘right’’ education, training or job opportunities (Meijers; Kuijpers; & Gundy; 2012). Teori trait and factor sering disebut konseling direktif atau konseling yang berpusat pada konselor.
Menurut teori ini kepribadian merupakan suatu sistem sifat atau faktor yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Sifat atau faktor dimaksud seperti kecakapan, minat, sikap dan temperamen. Perkembangan kemajuan individu mulai dari masa bayi hingga dewasa diperkuat oleh interaksi sifat dan faktor. Hal yang mendasar bagi konseling trait and factor adalah asumsi bahwa individu berusaha untuk menggunakan pemahaman diri dan pengetahuan kecakapan dirinya sebagai dasar untuk pengembangan potensinya. Pencapaian penemuan diri menghasilkan kepuasan intrinsik dan memperkuat usaha untuk mewujudkan diri (Surya, 2003;3).
Williamson sebagai tokoh utama dalam teori ini (Surya, 2003; Sinring, 2011) berpendapat bahwa landasan konsep konseling modern adalah terletak pada asumsi individualitas yang unik dari setiap anak dan identifikasi keunikan tersebut dengan menggunakan pengukuran obyektif. Berdasarkan hasil identifikasi tentang sifat dan faktor individu, konselor dapat membantunya dalam memilih program studi, mata kuliah, perguruan tinggi secara rasional serta membuat perkiraan keberhasilan di masa yang akan datang. Selanjutnya dikatakan bahwa tugas konseling trait and factor adalah membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir.
Proses konseling trait and factor terdiri dari 5 (lima) tahap utama (Arnold, 1997; Gothard, 2001; Sciarra, 2003; Brown & Let, 2005; Kidd, 2006; Perry & Zark, 2006, Gybson & Mitchell, 2008; Gysbers, et.al, 2014, Surya,2003; Sinring,2011), yaitu: tahap pertama, yakni tahap analisis, merupakan tahapan kegiatan yang terdiri dari pengumpulan informasi dan data mengenai konseli. Sebelum konseling dilaksanakan, baik konseli maupun konselor harus mempunyai informasi yang dapat dipercaya, tepat dan relevan untuk mendiagnosa pembawaan, minat, motif, kesehatan jasmani, keseimbangan emosional dan sifat lain, yang memudahkan atau mempersulit penyesuaian yang memuaskan baik di sekolah maupun dalam pekerjaan. Analisis dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat seperti: catatan kumulatif, wawancara, format distribusi waktu, otobigrafi, catatan anekdot, tes psikologi, studi kasus; tahap kedua, yakni tahap sintesis, merupakan langkah untuk merangkum dan mengatur data dari hasil analisis yang sedemikan rupa sehingga menunjukkan bakat konseli, kelemahan serta kekuatannya, dan kemampuan penyesuaian diri; tahap ketiga, yakni tahap diagnosis, untuk menemukan ketetapan dan pola yang dapat mengarahkan kepada permasalahan, sebab-sebabnya, serta sifat-sifat konseli yang relevan dan berpengaruh kepada proses penyesuaian diri. Diagnosis meliputi tiga langkah penting ialah: (1) identifikasi masalah yang sifatnya deskriptif, (2) menentukan sebab-sebab, yang mencakup perhatian hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan yang dapat menerangkan sebab-sebab gejala. Konselor menggunakan intuisinya yang dicek oleh logika, oleh reaksi klien dan oleh uji coba dari program kerja berdasarkan diagnosa sementara, dan (3) prognosis, yakni menentukan kemungkinan keberhasilan pada masa yang akan datang berdasarkan hasil diagnosis; tahap keempat, yakni tahap konseling, merupakan hubungan membantu konseli untuk menemukan sumber diri sendiri maupun sumber di luar dirinya, baik di lembaga atau sekolah dan masyarakat dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal, sesuai dengan kemampuannya. Dalam kaitan ini ada lima jenis sifat konseling ialah: (a) belajar terpimpin menuju pengertian diri, (b) mendidik kembali atau mengajar kembali sesuai dengan kebutuhan individu sebagai alat untuk mencapai tujuan kepribadiaanya dan penyesuaian hidupnya, (c) bantuan pribadi dan konselor supaya konseli mengerti dan terampil dalam menerapkan prinsip dan teknik yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, (d) mencakup hubungan dan teknik yang bersifat menyembuhkan dan efektif, (e) mendidik kembali yang sifatnya sebagai katarsis atau penyaluran; dan tahap kelima, yakni tahap tindak lanjut, mencakup bantuan kepada konseli dalam menghadapi masalah baru dengan mengingatkannya kepada masalah sumbernya sehingga menjamin keberhasilan konseling. Teknik yang digunakan konselor harus disesuaikan dengan individualitas konseli, mengingat bahwa tiap individu unik sifatnya, sehingga tak ada teknik yang baku yang berlaku untuk semua.
Kategori
- Masih Kosong
Arsip
- February 2026 (1)
- January 2026 (4)
- December 2025 (4)
- September 2025 (1)
- August 2025 (1)
- July 2025 (4)
- June 2025 (2)
- May 2025 (5)
- April 2025 (10)
- March 2025 (4)
- January 2025 (8)
- December 2024 (5)
- November 2024 (4)
- October 2024 (5)
- August 2024 (3)
- July 2024 (16)
- June 2024 (3)
- May 2024 (7)
- April 2024 (2)
- March 2024 (9)
Blogroll
- Masih Kosong