KEMAMPUAN ADAPTASI

13 July 2023 13:00:58 Dibaca : 12838 Kategori : PENGEMBANGAN DIRI

By: Jumadi Mori Salam Tuasikal

Pengertian Adaptasi

Adaptasi merupakan suatu proses yang dilakukan individu untuk menyesuaikan dirinya sesuai dengan keadaan lingkungan yang ada. Adaptasi ini diperlukan oleh makhluk hidup termaksud manusia dibumi, karena setiap lingkungan dibumi memiliki karakteristik sendiri. Seperti ketika seseorang yang belum terbiasa dengan lingkungan yang baru dengan gaya bahasa yag berbeda maka ia belajar untuk menyesuaikan dirinya sesuai dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Adaptasi sangat diperlukan oleh individu untuk mempertahankan dirinya.

Menurut Gerungan “adaptasi adalah suatu penyesuaian pribadi terhadap lingkungan, penyesuaian ini dapat berarti mengubah diri pribadi sesuai dengan keadaan lingkungan, juga dapat berarti mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan pribadi” (dalam Winata, 2014:13). Adaptasi menjadi salah satu hal penting bagi setiap indivudu karena dengan beradaptasi seorang individu dapat menyesuaikan dirinya dengan keadaan lingkungan, serta belajar menempatkan diri diantara individu-individu yang lain maupun kelompok masyarakat lainnya, agar ia dapat bertahan hidup. Setiap individu memiliki cara tersendiri untuk dapat beradaptasi.

Menurut Gerungan (dalam Ismawati, 2015:40) “kemampuan adaptasi adalah mengubah diri sendiri sesuai dengan lingkungan dan juga mengubah lingkungan sesuai dengan keinginannya tanpa menimbulkan konflik bagi diri sendiri dan tidak melanggar norma-norma masyarakat”. Individu yang mulai beradaptasi akan menyesuaikan dirinya sesuai dengan keadaan lingkungan tempat ia berada, ia mulai menyesuaikan dirinya ditengah-tengah masyarakat tanpa menimbulkan masalah pada lingkungan tersebut.  

Menurut Suparlan (dalam Sitepu, 2012:9), adaptasi itu sendiri pada hakekatnya adalah suatu proses untuk memenuhi syarat-syarat dasar untuk tetap melangsungkan kehidupan. Syarat-syarat dasar tersebut mencakup:

1. Syarat dasar alamiah-biologi (manusia harus makan dan minum untuk menjaga kesetabilan temperatur tubuhnya agar tetap berfungsi dalam hubungan harmonis secara menyeluruh dengan organ-organ tubuh lainya).

2. Syarat dasar kejiwaan (manusia membutuhkan perasaan tenang yang jauh dari perasaan takut, keterpencilan gelisah).

3. Syarat dasar sosial (manusia membutuhkan hubungan untuk dapat melangsungkan keturunan, tidak merasa dikucilkan, dapat belajar mengenai kebudayaanya, untuk dapat mempertahankan diri dari serangan musuh).

Adaptasi menjadi suatu hal yang sering dilakukan individu ketika memasuki lingkungan yang baru. Adaptasi sangat diperlukan agar tercipta suasana yang menyenangkan dan rasa nyaman dalam sebuah lingkungan, terutama apabila individu akan tinggal dalam jangka waktu yang lama dalam lingkungan tersebut. Mahasiswa yang dapat menyesuaikan diri dengan individu lain adalah mahasiswa yang mudah bergaul dan pandai membawa diri dengan lingkungan sosial yang baru. Penyesuaian diri terhadap individu antara satu sama lain merupakan keberhasilan mahasiswa dalam berinteraksi di masyarakat dan lingkungan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa adaptasi adalah usaha manusia atau makhluk hidup lainya untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan tertentu dalam mendayagunakan sumberdaya untuk menanggulangi atau menghadapi masalah yang mendesak.  Jadi adaptasi sangat penting karena adaptasi sangat berkaitan dengan kelangsungan hidup sebab, jika makin besar kemampuan beradaptasi, makin besar kemungkinan bertahan hidup.

Dengan kemampuan adaptasi yang besar, individu dapat menempati habitat yang beragam karena manusia merupakan contoh jenis makhluk hidup yang mempunyai kemampuan yang besar dalam beradaptasi. Jadi beradabtasi sangat penting untuk kelangsungan hidup setiap individu.

Kemampuan Beradaptasi

.Kemampuan beradaptasi merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu, adaptasi memerlukan kecakapan untuk mempertimbangkan apa yang akan dilakukannya agar dapat diterima dengan baik di lingkungan barunya. Setiap individu memiliki cara tersendiri untuk beraptasi.

Menurut Semiun (dalam Isnawati, 2014:41), kemampuan beradaptasi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik. Indikator untuk mengukur kemampuan beradaptasi adalah sebagai berikut:

a. Pengetahuan diri (Self Knowledge) adalah kemampuan mengetahui potensi-potensi dan kekurangan yang dimiliki.

b. Objektifitas diri (Self Objectivity) adalah kemampuan untuk berperilaku dan berpikir secara objektif.

c. Mengontrol diri (Self Control) adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi, pikiran, kebiasaan, sikap dan tingkah laku saat mengatasi masalah yang dihadapi, serta mampu mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik.

d. Hubungan interpersonal yang baik (Good Interpersonal Relationship), adalah kemampuan untuk menunjukkan hubungan interpersonal yang baik dengan orang lain.

e. Kepuasan kerja (Satisfaction in Work), adalah rasa puas yang diperoleh dari segala aktivitas belajar.

Menurut Fahmi (dalam Ismawati, 2015:40), “mendefinisikan kemampuan beradaptasi sebagai suatu proses dinamika yang berkesinambungan yang bertujuan untuk mengubah kelakuan guna mendapatkan hubungan yang lebih serasi antara diri dengan lingkungan”. Artinya dalam proses adaptasi seorang individu akan belajar untuk mengubah dirinya sesuai dengan lingkungan tempat ia berada agar dapat memiliki hubungan yang lebih baik.

Kemampuan beradaptasi pada manusia berbeda dengan kemampuan beradaptasi tumbuhan dan hewan. Kemampuan beradaptasi manusia lebih terlihat pada perubahan perilaku dan budayanya sebagai respons yang tepat terhadap tantangan dari lingkungannya. Kemampuan berdaptasi pada manusia di muka bumi dengan kondisi lingkungan yang berbeda akan menimbulkan bentuk adaptasi yang berbeda pula, misalnya cara berpakaian, intonasi suara, berbahasa, dan sebagainya.

Secara keseluruhan adaptasi itu akan membentuk pola-pola kebudayaan yang berbeda- beda yang tersebar di permukaan bumi, sehingga membentuk wilayah kebudayaan. Misalnya, mahasiswa yang menuntut ilmu di luar daerah, belajar beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Seperti ketika seorang mahasiswa yang berasal dari luar daerah Gorontalo yang memutuskan untuk tinggal di daerah Gorontalo dengan rentang waktu yang cukup lama, mereka belajar menyesuaikan dirinya dengan kondisi lingkungan yang ada seperti, mereka  belajar untuk mengonsumsi makan yang belum pernah di makan sebelumnya, belajar menyesuaikan diri dengan kondisi alam yang tadinya di tempat mereka yang memiliki kondisi alam dengan suhu yang cukup dingin namun karena tinggal di daerah Gorontalo yang memiliki kondisi alam dengan suhu yang cukup panas sehingga mengakibatkan kulit mereka menjadi gelap dan kusam.

Kemampuan beradaptasi seorang individu dapat berjalan dengan baik apabila individu tersebut mampu menempatkan dirinya sesuai dengan keadaan lingkungan yang ada.

Lingkungan Sebagai Penentu Adaptasi

Adaptasi menjadi suatu hal yang sering dilakukan individu ketika memasuki lingkungan yang baru, adaptasi juga memerlukan kemampuan individu untuk memahami tingkah laku yang berbeda dari individu lainnya, dalam proses adaptasi ada beberapa lingkungan yang dapat menjadi penentu seseorang individu dapat beradaptasi dengan baik.

Menurut Gerungan (2010:215), ada beberapa  lingkungan yang menjadi penentu adaptasi yaitu:

a. Keluarga

Keluarga merupakan suatu unit terkecil dari masyarakat. Menurut Herabudin (2015:68), “keluarga merupakan kelompok primer yang paling penting didalam masyarakat”. Keluarga juga merupakan faktor terpenting dimana ia menjadi salah satu penentu proses adaptasi yang baik, seorang individu pertama kali melakukan interaksi sosialnya dengan keluarga, menyesuaikan dirinya dengan keadaan keluarganya yang nantinya akan ia bawah dan ia kembangkan dalam lingkungan masyarakat. Apabila dalam lingkungan keluarga antara anak dan orang tua yang memiliki hubungan kurang baik maka dapat menjadi hambatan dalam proses adaptasi dan apabila hubungan anak dan orang tua yang terbilang harmonis akan membuat anak tersebut mampu beradaptasi dengan baik.

b. Teman Sebaya

Teman sebaya adalah lingkungan sosial pertama dimana seorang anak belajar untuk hidup dengan orang lain yang bukan anggota keluarganya. Teman sebaya merupakan sekumpulan anak-anak atau individu yang berkumpul dan memiliki tingkat usia yang hampir sama serta memiliki kesamaan tujuan. Dalam kelompok teman sebaya seorang anak dapat belajar beradaptasi dengan teman-temannya. Mereka belajar memahami teman-temannya dan merasa senang apabila diterima dalam kelompok sebayanya, sebaliknya mereka juga akan merasa sangat tertekan dan cemas apabila dikeluarkan dan diremehkan oleh kawan-kawan sebayanya. Jadi teman sebaya juga menjadi salah satu penentu seorang individu untuk dapat beradaptasi dengan baik dalam lingkungan masyarakat setelah keluarga.

c. Masyarakat

Masyarakat merupakan sekumpulan orang-orang yang membentuk satu kelompok yang hidup bersama-sama dan saling membantu dalam satu wilayah. Masyarakat merupakan salah satu wadah untuk seorang individu dapat beradaptasi. Hidup dalam lingkungan masyarakat mengharuskan seorang individu untuk dapat belajar menyesuaikan dirinya, belajar mengikuti peraturan-peraturan yang ada, belajar menghargai norma-norma yang berlaku. Jadi, masyarakat merupakan salah satu lingkungan yang dapat menentu suatu proses adaptasi.

d. Lembaga Pendidikan ( Kampus )

Kampus adalah salah satu tempat pendidikan (universitas) dimana terdapat mahasiswa yang datang dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu sesuai dengan jurusan yang diambil. Dalam lingkungan universitas setiap individu belajar menyesuaikan dirinya, belajar mengikuti peraturan-peraturan yang dibuat oleh universitas. Selain itu didalam universitas banyak pula terdapat mahasiswa yang berasal dari daerah yang berbeda-beda, dengan cara bicara yang terdengar asing, dengan logat yang berbeda, terutama untuk individu yang memilih untuk melanjutkan studinya diluar daerah, didaerah yang berbeda dengan daerah ia berasal. Maka sebagai seorang individu yang berada ditengah-tengah masyarakat yang masih terasa asing maka ia belajar beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Jadi perguruan tinggi (kampus) merupakan salah satu lingkungan yang dapat menjadi penentu suatu proses adaptasi. Setiap orang yang belajar beradaptasi, selalu membutuhkan proses agar mereka mampu menyesuaikan dirinya ditengah-tengah lingkungan yang ada. Dalam proses adaptasi keluarga, teman sebaya, masyarakat serta kampus adalah lingkungan yang menjadi penentu suatu proses adaptasi. Apabila dalam proses adaptasi seorang individu memiliki hubungan yang baik antara keluarga, teman sebaya, masyarakat serta lingkungan kampus tempat ia menuntut ilmu yang baik,  maka akan menghasilkan suatu proses adaptasi yang baik. Begitupun sebaliknya jika individu tersebut memiliki hubungan yang kurang baik antara keluarga, teman sebaya, masyarakat serta lingkungan kampus yang kurang baik maka proses adaptasinya pun akan kurang baik.

Proses Adaptasi

Proses adaptasi merupakan tanggapan manusia untuk melangsungkan kehidupanya di masa sekarang dan masa depan sebagai kelanjutan dari kehidupanya di masa lalu, dan sebagai hasil interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya karena manusia merupakan makhluk sosial dimana ia membutuhkan pergaulan dengan orang lain, bergaul dengan teman-teman sebayanya, ia pun tidak lagi hanya memberi kontak sosial tetapi ia juga menerima kontak sosial. Ia mulai mengerti bahwa dalam kelompok sepermainanya terdapat peraturan-peraturan tertentu, norma-norma sosial yang seharusnya ia patuhi dengan rela guna dapat melanjutkan hubungannya dengan kelompok tersebut secara lancar. Proses adaptasi yang dilakukan mahasiswa yang berasal dari luar kota Gorontalo mereka belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman yang baru dengan cara mereka melakukan kegiatan-kegiatan seperti membuat tugas kelompok, jalan-jalan bersama, olahraga bersama dan melakukan sesuatu selalu bersama meski bahasa yang digunakan masi ada campuran bahasa dari daerah mereka berasal. Jadi proses adaptasi sangatlah penting untuk setiap individu yang memiliki keinginan untuk belajar menyesuaikan dirinya ditengah-tengah lingkungan yang baru ia kenal, selain itu ia juga dapat menempatkan dirinya diantara orang-orang yang terasa asing untuknya. Waktu tinggal yang lebih lama akan lebih mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan fakultas dikarenakan dapat lebih banyak mempelajari tentang masyarakat, budaya serta kebiasaan orang Gorontalo, sementara yang waktu tinggalnya masih baru, tentunya akan mengalami proses yang lambat akan proses adaptasinya dengan masyarakat setempat. Sebagai mahasiswa yang baru mengenal dunia baru, teman baru, suasana baru, gaya bahasa yang baru serta budaya yang baru.

Faktor Penghambat dan Pendukung Proses Adaptasi

Adaptasi atau yang lebih sering dikenal dengan penyesuaian diri merupakan hal yang harus dilakukan ketika seorang individu memasuki lingkungan dan situasi baru, setiap individu akan mengalami masalah dalam suatu proses adaptasi, baik yang menjadi penghambat maupun pendukung dalam proses adaptasi tersebut. Menurut Gerungan (dalam Winata, 2014:15), faktor yang menjadi penghambat dan pendukung proses adaptasi yaitu:

a. Faktor Penghambat dalam Proses Adaptasi

Proses adaptasi antarbudaya melibatkan perubahan identitas dan hambatan bagi para mahasiswa pendatang. Hamabatan yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Perbedaan-perbedaan dalam keyakinan inti, nilai-nilai, dan norma-norma situasional antara di tempat asal dan di tempat baru, (2) Hilangnya gambaran-gambaran budaya asal yang dipegang dan semua citra dan simbol yang familiar yang menandakan bahwa identitas yang dulu familiar dari para pendatang baru telah hilang, (3) Rasa ketidakmampuan para pendatang dalam merespons peraturan baru secara tepat dan efektif.

b. Faktor Pendukung dalam Proses Adaptasi

Proses adaptasi antarbudaya melibatkan perubahan identitas dan dukungan bagi para mahasiswa pendatang. Dukungan yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Rasa tenteram dan meningkatnya harga diri, (2) Fleksibilitas dan keterbukaan kognitif, (3) Kompetensi dalam interaksi sosial dan meningkatnya kepercayaan diri dan rasa percaya pada orang lain. Manusia sebagai makhluk sosial seringkali tidak dapat menghindari keadaan yang memaksa mereka untuk memasuki sebuah lingkungan atau budaya yang baru serta berinteraksi dengan orang-orang dari lingkungan dan budaya baru tersebut. Padahal untuk memasuki dan memahami lingkungan dari budaya yang baru merupakan hal yang tidak mudah. Banyak kendala dan hambatan yang akan timbul dalam proses adaptasi yang terjadi. Dalam proses awal terjadinya adaptasi tentunya akan dihadapi beberapa hambatan-hambatan, hambatan-hambatan tersebut sangat wajar, karena dalam penyesuaian-penyesuaian itu terjadi pertimbangan-pertimbangan yang sering dihadapi, hambatan disini antara lain hambatan dalam segi pola hidup sehari-hari, seperti cara makan, bahasa, interaksi social, fasilitas umum, seni budaya dan tradisi. Selain itu dalam proses adaptasi dibutuhkan komunikasi yang baik antara sesama individu karena dengan berkomunikasi dapat terjalinnya suatu proses adaptasi yang baik. Baik komunikasi secara langsung atau komunikasi secara tidak langsung. Menurut Herabudin (2015:213), “ada dua cara menyampaikan komunikasi yaitu: 1). Komunikasi secara langsung, pihak komunikator menyampaikan pesannya secara langsung kepada pihak komunikan. 2). Komunikasi secara tidak langsung, pihak komunikator menyampaikan pesannya kepada pihak komunikan melalui perantara pihak ketiga”.  Dengan menjalin komunikasi yang baik antara sesama mahasiswa yang berasal dari daerah yang berbeda akan  menciptakan suatu proses adaptasi yang baik dan merekapun dapat mengenal seperti apa bahasa yang mereka pelajari dengan teman-teman yang berasal dari daerah lain, yang memiliki bahasa yang berbeda dengan mereka. Jadi, komunikasi sangat penting untuk menunjang seorang individu dalam melakukan suatu proses adaptasi dengan lingkungan yang baru ia kenal, dengan berkomunikasi ia mampu memahami seperti apa kehidupan didaerah Gorontalo yang mungkin sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang ada didaerah mereka berasal.