KATEGORI : PENGEMBANGAN DIRI

KONSELING KELUARGA

06 September 2022 11:00:10 Dibaca : 720

1.    Hakikat Keluarga

Pernikahan merupakan salah satu proses kehidupan yang sepantasnya dilaksanakan oleh manusia dewasa yang memiliki kesiapan matriil dan psikologis untuk menjalankan pernikahan itu. Allah Yang Mahakuasa juga mewajibkan  menikah bagi orang-orang dewasa yang berkemampuan dan berkesiapan mental untuk membina dan mempertahankan pernikahannya. Departemen agama telah mempunyai program untuk pembinaan kesiapan orang-orang yang yang akan menikah, yaitu memberikan nasehat pernikahan sewaktu akad nikah dilaksanakan oleh calon pengantin. Program itu bertujuan untuk menjadikan para calon pengantin memahami tugas-tugas dan tanggung jawab mereka dalam menjalankan pernikah dengan bahagia dan berkekalan. Keluarga adalah suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seseorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak-anak , baik anaknya sendiri atau adopsi, dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.

 2.    Fungsi Keluarga

Esensi pelayanan konseling keluarga adalah membantu keluarga agar harmonis dan berbahagia. Tipe keluarga pada umumnya dibedakan menjadi keluarga inti (nuclear family) dan keluarga yang diperluas (extended family). Beberapa karakteristik keluarga yang bahagia, yang menjadi keluaran (outcome) dari konseling keluarga antara lain : (1) menunjukkan saling penyesuaian yang tinggi, (2) menunjukkan kerja sama yang tinggi, (3) mengekspresikan perasaan cinta kasih sayang, altruisi dan teman sejati dengan sikap dan kata-kata (terbuka), (4) tujuan keluarga difokuskan kepada kebahagiaan anggota keluarga, (5) menunjukkan komunikasi yang terbuka, sopan, dan positif, (6) menunjukkan budaya saling menghargai dan memuji, (7) menunjukkan budaya saling membagi, (8) kedua pasangan menampilkan emosi yang stabil, suka memperhatikan kebutuhan orang lain, suka mengalak, peramah, berkeyakinan diri, memiliki penilaian diri yang tinggi, dan (9) komunikasi dengan 3M, terbuka, dan positif. Keberadaan sebuah keluarga pada hakikatnya untuk memenuhi fungsi-fungsi sebagai berikut : (1) fungsi kasih sayang, yaitu memberikan cinta erotik, cinta kasih sayang, cinta altruistic, dan cinta teman sejati, (2) fungsi ekonomi, (3) fungsi status, (4) fungsi pendidikkan, (5) fungsi perlindungan, (6) fungsi keagamaan, (7) fungsi rekreasi, dan (8) fungsi pengaturan seks. Pada umumnya masalah-masalah yang muncul dalam keluarga adalah berkenaan dengan : (1) masalah hubungan social-emosional antar anggota keluarga, (2) masalah hubungan antar keluarga, (3) masalah ekonomi, (4) masalah pekerjaan, (5) masalah pendidikan, (6) masalah kesehatan, (7) masalah seks, dan (8) masalah keyakinan atau agama.

 3.    Posisi Konseling dalam Keluarga

Pelaksanaan bimbingan dan konseling(utamanya dalam keluraga) pada hakikatnya bertitik tolak pada pemikiran bahwa setiap manusia memiliki keunikan berupa ragam potensi, bakat, minat, kemampuan, dan lain sebagainya. Seperangkat keunikan ini tentunya memerlukan bantuan dan atau bimbingan  yang khusus (terstruktur dan dinamis) dalam rangka memperoleh ketercapaian kebahagiaan dan keharmonisan dalam rumah tangga/keluarga.

Dalam memberikan pelayanan konseling dalam keluarga, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh konselor yaitu:

1)        Kode pengarahan perilaku konselor

  1. konselor memberikan layanan  secara professional kepada semua orang
  2. konselor tidak boleh memanfaatkan hubungan konseling mereka untuk kepentingan pribadi, agama, politik dan bisnis.
  3. Konselor tidak diperkenankan untuk membayar atau menerima bayaran dalam referal.
  4. Konselor tidak diperbolehkan untuk memberikan layanan kepada klien yang masih berada dalam penanganan dari orang profesional lain
  5. Konselor tidak boleh menghina sesama rekan sejawat
  6. Konselor memiliki kewajiban untuk meneruskan pendidikan dan pengembangan professional
  7. Konselor berusaha menghindari hubungan dengan konseli yang mungkin dapat merusak penilaian professional atau yang menambah risiko karna mengeksploitasi konseli.
  8. Konselor tidak boleh memberikan diagnosis, memberikan resep, mengobati diluar batas-batas kemampuannya
  9. Asosiasi profesi mendorong atau mengajukan para anggotanya untuk bergabung dengan kelompok-kelompok professional

2)        Hubungan dengan konseli

  1. Seorang konselor harus hati-hati memberikan dukungan yang wajar dan penghargaan dalam tahap prognosis
  2. Konselor harus mementingkan pemahaman yang jelas tentang keuangan bersama klien.
  3. Konselor harus membuat catatan-catatan bagi setiap kasus dan menyimpannya dengan aman dan terjamin kerahasiaannya
  4. Konselor mengadakan hubungan dalam semua tahap kehidupan, menghargai setiap waktu terhadap hak-hak konseli untuk membuat keputusan mereka sendiri.

 Esensi konseling keluarga sebagai salah satu layanan profesional seorang konselor didasari oleh asumsi dasar sebagai berikut.

  1. Sakit atau bermasalahnya seorang anggota keluarga (gangguan psikis) bukan selalu disebabkan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh karena interaksinya yang tidak sehat dengan anggota keluarga yang lain.
  2. Walaupun satu atau lebih anggota keluarga berfungsi dengan baik atau penyesuaian dirinya baik, akan tetapi jika ada sebagian anggota keluarga yang lain mengalami maladjusment, maka anggota keluarga yang sehat itu akan terpengaruh.
  3. Keluarga dapat menampakkan dirinya untuk mencapai keseimbangan emosional melalui aktivitas konseling keluarga.
  4. Hubungan di antara kedua orang tua akan mempengaruhi hubungan semua anggota keluarga.

   Mempertegas asumsi di atas, Perez (1979) menyatakan sebagai berikut:

Is the system approach to family therapy which is very much in vogue. This approach focuses on the family current problems (the now is the issues). How family members interactive closely observed by the systems therapist.Neuroses, event psychosis in a member of the interaction between and among the various family members.The believe is that an individual health is the result of his adaptation to the sick environment created by the family.

 Uraian Perez di atas sekurang-kurangnya memuat dua implikasi, yaitu pertama, sakitnya seorang anggota keluarga merupakan hasil adaptasi/interaksinya terhadap lingkungan yang sakit yang diciptakan oleh si keluarga. Kedua, seorang anggota keluarga yang mengalamai gangguan emosional akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain, sehingga perlu diupayakan melalui konseling keluarga. Biasanya yang terlibat dalam konseling keluarga adalah individu yang menjadi pasangan dalam pernikahan. Namun dapat juga ornag –orang lain seperti anak, mertua dan lain-lainnya  tergantung kepada siapa saja yang berperan dalam permasalahan keluarga itu.Dalam melaksanakan konseling keluarga sebagian konselor menekankan prosedur penggalian sejarah perkembangan klien dan ada pula yang menekankan kepada kondisi kepribadian klien dan masalah klien pada saat sekarang.Ada pula yang memusatkan pada perasaan di dalam diri dan ada pula yang menekankan pada tingkah laku nyata sekarang.Ada pula konselor memberikan pemecahan langsung dalam bentuk nasehat, dan ada yang menjauhi pemberian nasehat.Pendek kata metode yang dilakukan tergantung kepada pelatihan yang diterima, pengalaman pengalaman dan filsafat mendasari praktik itu dan diyakini oleh konselor sebagai teori yang tepat.

Konselor harus berusaha menenangkan perasaan klien, jika dia menunjukkan perasaan negatif dalam konseling. Konselor menyokong tingkah laku klien yang menunjukkan tingkah laku baru yang merupakan  perubahan kearah positif dalam pemecahan masalah pernikahan klien itu. Konselor tidak mengambil tanggung jawab untuk mengambil keputusan tentang cara yang hendaknya dilakukan klien dalam memecahkan masalahnya. Juga konselor tidak membuat perencanaan sendiri tentang cara mengatasi masalah klien. Konseling keluarga dapat dihentikan apabila anggota keluarga yang terlibat dalam proses konseling keluargabisa bekerjaa sama dengan baik sebagai suatu unit atau kelompok untuk memecahkan masalah-masalah mereka dan mengubah perilaku-perilaku mereka yang destruktif. Di samping itu mereka juga telah mampu mengembangkan suatu internal support system dan tidak bergantung kepada orang lain, termasuk tidak bergantung kepada konselor. Indikator-indikator lainnya adalah mereka telah mampu berkomunikasi secara terbuka, eksplisit, dan jelas, mampu melakukan peranan masing-masing secara fleksibel, kekuatan-kekuatan di dalam keluarga seimbang, dan setiap anggota keluarga mampu menyeimbangkan antara hak dan kewajibannya masing-masing dalam keluarga.

SEKILAS TENTANG KONSEP KARAKTER

31 August 2022 14:14:48 Dibaca : 789

Pengertian Karakter

          Karakter merupakan salah satu tolak ukur manusia dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Abidin (2012:33) yaitu “Karakter berasal dari bahasa Yunani kasairo yang berarti cetak biru atau format dasar. Berdasarkan asal katanya karakter dianggap sebagai sekumpulan kondisi yang dimiliki oleh seseorang. Kondisi ini biasanya bersifat bawaan ataupun bentukan. Kondisi yang bersifat bentukan inilah yang kemudian melandasi pemikiran bahwa karakter dapat dibentuk yang salah satu caranya adalah melalui pendidikan”. Sementara itu, pendapat yang sama disampaikan oleh Kurniawan (2016:28) bahwa “Istilah karakter yang dalam bahasa Inggris character, berasal dari istilah Yunani, chacacter dari kata charassein yang berarti membuat tajam atau membuat dalam. Karakter juga dapat berarti mengukir. Sifat utama ukiran adalah melekat kuat diatas benda yang diukir. Karena itu, Wardani seperti dikutip Endri Agus Nugraha menyatakan bahwa karakter adalah ciri khas seseorang dan karakter tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya karena karakter terbentuk dalam lingkungan sosial budaya tetentu”. Karakter seperti yang dikutip dari kamus besar bahasa Indonesia Depdiknas 2008a (dalam Abidin, 2012:34) yaitu “Karakter marupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai nilai yang unik, baik, yang terpatri dalam dari dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang”.

          Ahli psikologi memendang karakter sebagai sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu. Berdasarkan konsep ini karakter dapat dipandang sebagai sikap dan prilaku seseorang. Artinya, karakter merupakan cara pandang seseorang terhadap suatu objek yang disertai dengan kecenderungan berperilaku sesuai dengan cara pandangnya tersebut. Tinjauan teoretis perilaku berkarakter secara psikologis merupakan perwujudan dari potensi Intellegence Quotien (IQ), Emotional Quotien (EQ), Spiritual Quotien (SQ), dan Adverse Quotien (AQ) yang dimiliki oleh seseorang. (Abidin, 2012:34). Dalam pandangan agama, seseorang yang berkarakter adalah seseorang yang dalam dirinya terkandung potensi-potensi, yaitu: sidik, amanah, fatonah, dan tablig. Berkarakter menurut teori pendidikan apabila seseorang memiliki potensi kognitif, afektif dan psikomotor yang teraktualisasi dalam kehidupannya. Menurut teori sosial, seseorang yang berkarakter mempunyai logika dan rasa dalam menjalin hubungan intrapersonal dalam kehidupan bermasyarakat. Karakter menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berprilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, dapatlah dikatakan orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berprilaku jujur, bertanggung jawab, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Istilah karakter juga erat kaitanya dengan ‘personality’. Seseorang baru bias disebut orang yang berkarakter (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Dengan demikian, pendidikan karakter yang baik, harus melibatkan bukan saja aspek pengetahuan yang baik (moral knowing), tetapi juga merasakan dengan baik atau loving the good (moral feeling) dan perilaku yang baik (Abidin, 2012:34).

          Salah satu cara membangun karakter adalah melalui pendidikan. Pendidikan yang ada, baik itu pendidikan di keluarga, masyarakat, atau pendidikan formal di sekolah harus menanamkan nilai-nilai untuk pembentukan karakter. H. Teguh Sunaryo berpendapat bahwa pendidikan karakter menyangkut bakat (potensi dasar alami), harkat (derajat melalui penguasaan ilmu dan teknologi), dan martabat (harga diri melalui etika dan moral). Sementara menurut Rahardjo, pendidikan karakter adalah suatu proses pendidikan yang holistik yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai fondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan (Kurniawan, 2016:30). Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Muchson dan Samsuri (2013:104) bahwa “Ada beberapa nomenklatur untuk merujuk pada kajian pembentukan karakter peserta didik, tergantung kepada aspek penekanannya. Di antaranya yang umum dikenal ialah pendidikan moral, pendidikan nilai, pendidikan religius, pendidikan budi pekerti, dan pendidikan karakter itu sendiri”. Secara rinci Agus Prasetyo dan Emusti Rivasintha (dalam Kurniawan, 2016:30) mendefinisikan “Pendidikan karakter sebagai suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil”. Karakter sebagai pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan sikap-sikap luhur kepada anak didik sehingga mereka mamiliki karakter luhur tersebut, menerapkan dan mempraktikkan dalam kehidupannya, entah dalam keluarga, sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Dengan demikian, pendidikan karakter yang baik sehingga dapat membentuk kepribadian seseorang guna mencapai derajat kesempurnaan dalam berperilaku adalah dengan memadukan kedua unsur yaitu pendidikan dan kebudayaan yang dapat di pelajari secara langsung melalaui lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat tertentu bersama para pelaku pendidikan dan penggiat budaya yang berorientasi pada perbaikan akhlak manusia sehingga dapat dikatakan individu tersebut telah kembali pada fitrah penciptaannya.

Nilai-nilai Karakter

          Menurut pendapat Kurniawan (2016:39) bahwa “Karakter dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan yang menjadi nilai dasar karakter bangsa. Kebaikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu, pendidikan karakter pada dasarnya adalah nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional”. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pengembangan karakter di Indonesia diidentifikasi berasal dari empat sumber (Kurniawan, 2016:39-40), sebagai berikut:

  • Pertama, agama. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaan. Secara politis, kehidupa kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Karenanya, nilai-nilai pendidikan karakter harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.
  • Kedua, Pancasila. Negara Kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 yang dijabarkan lebih lanjut ke dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum ekonomi, kemasyarakatan, budaya dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.
  • Ketiga, Budaya. Sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat tersebut. Nilai budaya ini dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat tersebut. Posisi budaya yang sedemikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidika budaya dan karakter bangsa.
  • Keempat, tujuan Pendidikan Nasional. UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas disebutkam bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”.Berdasarkan keempat sumber nilai tersebut, teridentifikasi beberapa nilai karakter di lingkungan masyarakat (Kurniawan, 2016:205-218), sebagai berikut:
        1.  Religius: Seperti telah diuraikan bahwa tempat-tempat ibadah dapat menjadi pusat penyemaian nilai-nilai karakter masing-masing individu di masyarakat, khususnya nilai-nilai religius. Masjid misalnya, banyak sekali kegiatan-kegiatan religius yang dapat diselenggarakan oleh masjid, baik yang bersifat rutin maupun temporer. Kegiatan rutin seperti shalat fardhu berjamaah, kultum, kajian kitab yang diselenggarakan setelah shalat maghrib berjamaah, pengajian bulanan, TPA untuk anak-anak yang ingin belajar membaca Al Quran, dan lain-lain. Sementara kegiatan temporer seperti peringatan hari-hari besar Islam dan kegiatan bulan suci Ramadhan. Disamping kegiatan yang sifatnya ritual, juga dapat diselenggarakan kegiatan sosial terutama untuk masyarakat sekitar, seperti kunjungan remaja masjid ke panti asuhan, sntunan fakir miskin dan anak yatim, santunan massal dan lain-lain. Kegiatan diatas diharapkan dapat membentuk karakteristik religius personal atau kelompok jamaah masjid yang religius dan ber-akhlakul karimah.
        2. Jujur: Kejujuran adalah lawan dari dusta dan memiliki arti kecocokan sesuatu sebagaimana dengan fakta. Jujur dapat dimaknai sebagai kebenaran. Artinya, jika tidak ada kebenaran dalam sebuah berita yang disampaikan seseorang, ia dapat disebut tidak jujur. Jujur juga bermakna keselarasan. Selain jujur dalam ucapan, kejujuran terdapat juga pada perbuatan. Boleh jadi ini lebih bersifat individual, dimana seseorang bisa disebut jujur ketika ia melakukan suatu perbuatan yang sesuai dengan batinnya.
        3. Toleransi: Peran tokoh agama dan tokoh masyarakat terutama dalam mensosialisasikan secara terus-menerus kepada warga masyarakat tentang pentingnya mengakui hak setiap orang, menghormati keyakinan orang lain, bersikap lapang dada, menerima perbedaan, saling pengertian, kesadaran dan kejujuran. Kegiatan-kegiatan perayaan hari besar keagamaan atau kegiatan-kegiatan seremonial di masyarakat dapat dimanfaatkan untuk mensosialisasikan hal tersebut. Selain itu peran aparat penegak hukum juga diperlukan terutama dalam mencegah timbulnya sikap-sikap intoleran di masyarakat. Maka, aparat penegak hukum harus lebih aktif mencegah sikap-sikap intoleran di masyarakat. Jangan sampai kelompok-kelompok intoleran lebih terorganisasi dan menggiring pemikiran masyarakat menjadi intoleran.
        4. Disiplin: Kedisiplinan masyarakat kita tergolong rendah, contohnya dalam berlalu lintas. Terhadap peraturan traffic light, masyakat hanya taat karena ada pihak kepolisisan yang berjaga-jaga di daerah tersebut. Namun, ketika pihak kepolisian tidak ada yang berjaga-jaga, para pengendara motor dan mobil sering mengabaikan rambu-rambu lalu lintas khususnya di persimpangan yang menggunakan traffic light. Padahal, melalaui edukasi soal tata tertib lalu lintas dan penegakan hukum yang maksimal secara tidak langsung masyarakat dapat belajar untuk berdisiplin. Seperti yang kita ketahui, disiplin adalah salah satu di antara karakter-karakter yang penting untuk kita kembangkan.
        5. Kerja Keras: Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa kerja keras adalah kunci utama untuk meraih kesuksesan dan kebahagian dalam hal apapun. Sudah pasti memperoleh sesuatu itu bukanlah perkara yang gampang semudah membalikan telapak tangan atau hanya dengan meminta, melainkan sekali lagi harus dengan kerja keras. Kerja keras adalah bekerja dengan waktu yang cukup lama dan energi sebesar mungkin. Agar bisa memberikan energi yang besar dalam bekerja, artinya seorang harus fokus pada pekerjaannya. Itulah cara memberikan energi terbesar. Kerja keras juga berarti perilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas serta menyaelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Kerja keras merupakan suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk mencapai apa yang ia inginkan dalam hidup ini. Tanpa kerja keras dan bermalas-malasan tentu akan sulit mencapai tujuan. Makna lain dari kerja keras adalah berusaha dengan sepenuh hati dengan sekuat tenaga untuk berupaya mendapatkan keinginan pencapain hasil yang maksimal.
        6. Demokratis: Pemilu merupakan ekspresi perilaku politik yang mampu menjadi indikator dalam menunjukan kematangan dalam berpolitik dan berdemokrasi, mulai dari lingkup individu, komunitas dan golongan, maupun secara nasional. Proses pemilu, baik dalam memilih anggota legislatif pusat dan derah, maupun memilih presiden dan wakil presiden, memerlukan ragam tahapan yang saling berkesinambungan. Mulai dari penysunan undang-undang, peraturan pemerintah, pembentukan institusi, pelaksana dan pengawas pemilu, legalitas partai-partai politik peserta pemilu, penetuan para calon legislatif, penentuan calon presiden dan wakil presiden, sampai penyusunan daftar pemilih yang berhak mengikuti pemilu. Ragam tahapan yang berkesinambungan tersebut merupakan rangkaian proses sebagai sebuah pembuktian berjalannya demokrasi pada jalurnya.
        7. Cinta Tanah Air: Mengingat pentingnya rasa cinta tanah air ini, sudah semestinya dapat di tumbuh-kembangkan pada setiap warga masyarakat. Beberapa hal positif yang dapat dikembangkan di lingkungan masyarakat untuk mengembangkan rasa cinta tanah air, di antaranya;

1)      Menyanyikan Lagu Kebangsaan pada setiap kegiatan-kegiatan resmi di lingkungan masyarakat;

2)      Mengibarkan Bendera Merah Putih pada momen-momen hari besar nasional;

3)      Memperingati hari besar nasional dengan kegiatan lomba atau pentas budaya;

4)      Menggunakan batik pada hari batik nasional dan lain-lain

        1. Bersahabat/Komunikatif: Gotong royong merupakan warisan budaya nenek moyang dan tradisi positif di tengah masyarakat Indonesia. Budaya gotong royong harus dipelihara dan pertahankan di tengah perkembangan gaya hidup modern dan perkembangan teknologi saat ini, karena dapat menjadi sarana bagi warga untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Di dalam gaya modern sekarang ini, kecendrungan gotong royong berkurang karena semua dimudahkan oleh kemajuan teknologi yang ada. Dengan demikian, kecendrungan gaya hidup individual, tidak peduli terhadap lingkungan sekitar muncul. Untuk itulah, budaya gotong royong harus dijaga dan dipertahankan.
        2. Cinta Damai: Situasi dan kondisi aman, tertib serta tentramnya kehidupan masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan nasional dalam tercapainya tujuan nasional, ditandai dengan terjaminnya keamanan, ketertiban, dan tegaknya hukum serta terbinanya ketentuan yang mengandung kemampuan dan kekuatan masyarakat dalam menangkal, mencegah, dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang meresahkan masyarakat.
        3. Peduli Lingkungan: Kepedulian lingkungan perlu ditumbuhkan di kalangan masyarakat. Seperti dapat difahami, semakin berkembangnnya zaman dan teknologi, lingkungan adalah salah satu yang mengalami dampak buruk. Hutan misalnya, banyak hutan yang ditebangi secara liar. Padahal, hutan memiliki banyak manfaat untuk kita semua. Dengan demikian, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan termasuk hutan dalam hal ini perlu ditumbuhkan. Untuk itu, baik pemerintah, swasta, organisasi kemasyarakatan, dan lain-lain hendaknya dapat secara kontinu mensosialisasikan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan ini.
        4. Tanggung Jawab: Sikap tanggung jawab perlu ditumbuhkan di kalangan masyarakat.  Sikap ini salah satunya dapat di tumbuhkan dengan cara membangun kemitraan antara polisi dan masyarakat, misalnya dalam usaha memelihara ketertiban dan meminimalisasi kasus-kasus kejahatan. Maka, masyarakat dapat dilibatkan polisi untuk ikut bekerja sama dalam memecahkan persoalan kriminalitas seperti penyalahgunaan obat terlarang, gangguan keamanan, dan masalah lain yang dapat mengganggu ketentraman masyarakat.

MEMAHAMI SEKILAS TENTANG EMPATI

30 August 2022 19:13:48 Dibaca : 5990

Pengertian Empati

Empati berperan meningkatkan sifat kemanusiaan, keadaban dan moralitas untuk menimbulkan rasa simpati dan perhatian terhadap orang lain, khususnya untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain. “Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, menerima sudut pandang mereka, menghargai perbedaan perasaan orang terhahadap berbagai macam hal, menjadi pendengar dan penanya yang baik” (Budiningsih, 2008:48). Betapa seringnya sekarang menemukan anak yang bertutur kata kurang sopan, kurang memperdulikan dan memahami kesulitan teman. Menurut May (2010:75), bahwa: “Empati merupakan suatu dasar di dalam pengalaman artistik jika ingin merasakan suatu objek secara estetis, dengan cara tertentu orang harus mengidentifikasi diri dengan objek tersebut”. Orang-orang bicara bahwa musik mengangkatnya keawang-awang, biola mendetingkan dawai-dawai emosi, atau perubahan warna saat matahari tenggelam menciptakan perubahan senada di dalam rasa. Carl Gustav Jung (dalam May, 2010:75), bahwa: “Empati sebagai pusat teorinya tentang estetika, bila orang memandangi suatu objek artistik maka ia menjadi objek tersebut, ia mengidentifikasikan diri dengannya, dan dengan cara itu ia menyingkirkan dirinya sendiri”. Tatanan masyarakat semakin acuh tak acuh hingga nilai-nilai kegotong royongan pada masyarakat semakin luntur. Lingkungan masyarakat yang demikian dapat menjadi pemicu tumbuh kembang anak menjadi orang yang individualis dan kurang memiliki rasa empati terhadap sesama. Kohut (dalam Taufik, 2012:40) bahwa: “Melihat empati sebagai suatu proses dimana seseorang berpikir mengenai kondisi orang lain yang seakan-akan dia berada pada posisi orang lain itu”. Selanjutnya, dengan melakukan penguatan atas definisinya itu dengan mengatakan bahwa empati adalah kemampuan berpikir objektif tentang kehidupan terdalam orang lain. Rogers (dalam Sutanti, 2015:191) bahwa: “ empathy as the ability to perceive the internal frame of reference of another with accuracy and with the emotional component and meaning with pertain thereto as if one were the person without ever losing the as if condition. Empati adalah kemampuan untuk memahami kondisi atau keadaan pikiran orang lain dengan tepat, dan tanpa kehilangan kondisi nyata”.

Memahami orang lain menjadikan individu tersebut seolah-olah masuk dalam diri oran lain sehingga bisa merasakan dan mengalami sebagaimana yang dirasakan dan dialami oleh orang lain itu. Hurlock (1980:118) mengemukakan bahwa: “Empati membutuhkan pengertian tentang perasaan-perasaan dan emosi orang lain tetapi di samping itu juga membutuhkaen kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain”. Relatif hanya sedikit anak yang dapat melakukan hal ini sampai awal masa kanak-kanak berakhir. Dari beberapa definisi yang telah dijelaskan para ahli, dapat disimpulkan bahwa empati sebagai suatu proses dimana seseorang berpikir mengenai kondisi orang lain yang seakan-akan dia berada pada posisi orang lain itu, disinilah kemampuan seseorang untuk mengerti tentang perasaan dan emosi orang lain serta kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain.

 Aspek-Aspek Empati

Empati sebagai sesuatu yang jujur, sensitife dan tidak dibuat-buat didasarkan atas apa yang dialami orang lain. Menurut Saam (2014:46), bahwa: Ada lima aspek empati, yakni:

  1. Kemampuan menyesuaikan/menempatkan diri. Memiliki kemampuan menyesuaikan/menempatkan diri dengan keadaan diri dan orang lain. Hal tersebut mencerminkan kepribadian yang pandai berempati.
  2. Kemampuan menerima keadaan, posisi atau keputusan orang lain. Hasil dan apa yang dilihat, diperhatikan, dirasakan, memengaruhi keputusan diri untuk bisa menerima atau menolak.
  3. Komunikasi. Komunikasi tercermin dan bagaimana seseorang menyampaikan informasi, kejelasan informasi dan ketepatan cara berkomunikasi memengaruhi diri untuk berempati.
  4. Perhatian. Orang-orang yang berempati biasanya adalah orang-orang yang memiliki kepedulian dan perhatian terhadap banyak hal yang terjadi disekitarnya, kemudian ia merasakan dan berempati.
  5. Kemampuan memahami posisi dan keadaan orang lain. Setelah, melihat mendengar, memerhatikan orang akan mendapatkan pemahaman sehingga orang tersebut bersikap sebagaimana orang lain menginginkannya bersikap.

Berdasarkan uraian aspek-aspek empati, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam penelitian ini aspek-aspek yang dipakai sebagai acuan untuk melaksanakan penelitian yakni aspek-aspek empati yang meliputi 5 (lima) aspek, yaitu: (a) kemampuan menyesuaikan/menempatkan diri, (b) kemampuan menerima keadaan, (c) komunikasi, (d) perhatian, (e) kemampuan memahami posisi dan keadaan orang lain.

Manfaat Empati

Empati menjadi salah satu sikap yang harus dipelihara setiap orang, karena dengan berempati seseorang dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, lebih membuka diri dengan orang lain dan tentunya akan menjadikan hidup seseorang lebih bermakna bagi diri seseorang. Anonim (dalam Heryanto, 2016:48) bahwa: “Manfaat empati antara lain: (a) empati memudahkan Anda untuk berhubungan baik dengan orang lain; (b) empati membuat Anda memiliki kepercayaan dari orang lain; (c) empati membuat Anda menjadi pribadi dengan memiliki pemikiran yang lebih matang; (d) empati membuat Anda  menjadi  pribadi  yang  bijaksana dalam  menghadapi  berbagai  situasi dalam  kehidupan  Anda;  (e)  empati  memudahkan  Anda  mengelola  emosi Anda yang tentunya sangat berpengaruh terhadap apa yang Anda kerjakan dan;  (f)  empati  membuat  Anda  mampu  keluar  dari  berbagai  situasi  sulit dalam   hidup   Anda,   seperti   kegagalan”. Kepedulian   terhadap   empati sebenarnya akan memberikan perubahan perilaku empathizer menjadi pribadi yang lebih baik untuk meraih sukses. Empati perlu dipelihara setiap orang, karena dengan berempati kita dapat merasakan apa yang dirasakan setiap orang lain, lebih membuka diri dengan orang lain dan tentunya akan menjadikan hidup kita lebih bermakna bagi diri kita dan orang lain.

Ada beberapa manfaat empati Menurut Goleman (2007:115), bahwa: Yang dapat ditemukan dalam kehidupan pribadi dan sosial manakala seseorang mempunyai kemampuan berempati di antaranya:

  1. Menghilangkan sikap egois: Orang yang telah mampu mengembangkan kemampuan empati dapat menghilangkan sikap egois (mementingkan diri sendiri). Ketika seseorang dapat merasakan apa yang sedang dialami orang lain, memasuki pola pikir orang lain dan memahami perilaku orang tersebut, maka seseorang tidak akan berbicara dan berperilaku hanya untuk kepentingan diri orang lain tetapi orang itu akan berusaha berbicara, berpikir dan berperilaku yang dapat diterima juga oleh orang lain serta akan mudah memberikan pertolongan kepada orang lain.
  2. Menghilangkan kesombongan: Salah satu cara mengembangkan empati adalah membayangkan apa yang telah terjadi pada diri orang lain akan terjadi pula pada diri orang tersebut. Manakala kita membayangkan kondisi ini maka kita akan terhindar dari kesombongan atau tinggi hati karena apapun akan bisa terjadi pada diri seseorang jika Tuhan berkehendak.
  3. Mengembangkan kemampuan evaluasi dan kontrol diri: Pada dasarnya empati adalah salah satu usaha seseorang untuk melakukan evaluasi diri sekaliguas mengembangkan kontrol diri yang positif. Kemampuan melihat diri orang lain baik perasaan, pikiran maupun perilakunya merupakan bagian dari bagaimana orang tersebut akan merefleksikan keadaan tersebut dalam diri seseorang. Jika seseorang telah mempunyai kemampuan ini maka orang itu telah dapat mengembangkan kemampuan evaluasi diri yang baik dan akhirnya dapat melakukan kontrol diri yang baik.

 Berdasarkan manfaat empati yang telah diuraikan, dapat disimpulkan manfaat dari empati yakni, memberikan kemudahan untuk berhubungan baik dengan orang lain, menimbuhkan rasa percaya diri, memiliki pribadi yang lebih matang, menjadikan pribadi yang bijaksana dalam mengahadapi situasi kehidupan, melatih pribadi yang dapat mengolah emosi dan mampu keluar dari kesulitan hidup yang dialami individu tersebut. Dengan manfaat dari empati ini akan memberikan pengaruh yang positif berupa menghilangkan sikap egois, menghilangkan kesombongan serta mengembangkan kemampuan evaluasi dan kontrol diri

Komponen-Komponen Empati

Empati terdiri atas dua komponen, yakni kognitif dan afektif, ada perbedaan  pendapat sehubungan dengan komponen mana yang lebih menonjol, apakah komponen kognitif lebih menonjol dibandingkan komponen afektif, ataukah sebaliknya komponen afektif lebih menonjol dibandingkan komponen kognitif, atau bahkan keduanya dalam level yang sama. “Para teoritikus kontemporer menyatakan bahwa empati terdiri atas dua komponen, kognitif dan afektif” (Taufik, 2012:43). Selain dua komponen tersebut beberapa teoritikus lainya menambahkan aspek komunikatif seebagai faktor ketiga. Komponen komunikatif sebagai jembatan yang menghubungkan keduanya, atau sebagai media ekspresi atau relalisasi dari komponen kognitif dan afektif.

 Menurut taufik (2012:44), bahwa: Komponen-komponen empati yakni:

  1. Komponen Kognitif: Komponen kognitif merupakan komponen yang menimbulkan pemahaman terhadap persaan orang lain. Hal ini diperkuat oleh pernyataan beberapa ilmuwan bahwa proses kognitif sangat berperan penting dalam proses kognitif sangat berperan penting dalam proses empati. Komponen kognitif juga sebagai kemampun untuk memperoleh kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dari memori dan kemampuan untuk memproses informasi semantik melalui pengalaman-pengalaman.
  2. Komponen Afektif: Empati sebagai aspek afektif merujuk pada kemampuan menselaraskan pengalaman emosional pada orang lain. Aspek empati ini terdiri atas simpati, sensitivitas, dan sharing penderitaan yang dialami orang lain seperti perasaan dekat terhadap kesulitan-kesulitan orang lain yang diimajinasikan seakan-akan dialami oleh diri sendiri. Empati afektif dapat dikatakan suatu kondisi dimana pengalaman emosi yang sedang dirasakan oleh orang lain, atau perasaan mengalami bersama dengan orang lain.
  3. Komponen Komunikatif: Komponen ketiga dari empati yaitu komunikatif. Munculnya komponen komunikatif didasarkan pada asumsi awal bahwa komponen afektif dan kognitif akan tetap terpisah bila keduanya tidak terjalin komunikasi. Komunikatif yaitu perilaku yang mengeksprsikan perasaan-perasaan empatik. Komponen empati komunikatif adalah ekspresi dari pikiran-pikiran empatik dan perasaan-perasaan terhadap orang lain yang dapat diekspresikan melalui kata-kata dan perbuatan-perbuatan.

Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa empati terdiri dari tiga komponen, yaitu komponen kognitif beruepa pemahaman atas kondisi orang lain, komponen afektif yang berarti kemampuan menyelaraskan pengalaman emosional pada orang lain dan komponen komunikatif yang menjembatani antara komponen kognitif dan afektif.

 

REFERENCE

Budiningsih, Asri. 2008. Pembelajaran Moral Berpijak Pada Karakteristik Siswa Dan Budayanya. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Goleman, D. 2007. social intelligence: Ilmu baru tentang Hubungan antar Manusia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Heryanto. 2016. Pembinaan Keluarga Broken Home. Jurnal Edueksos Volume V No 1, Juni 2016, hlm 48.

Hurlock, B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

May, Rollo. 2010. Seni konseling. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Saam, Zulfan. 2014. Psikologi Konseling. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sutanti. 2015. Efektivitas Teknik Modeling Untuk Meningkatkan Empati Mahasiswa Prodi Bk Universitas Ahmad Dahlan. Jurnal Psikologi Pendidikan & Konseling Vol. 1 No. 2, hlm 191-193.

Taufik. 2012. Empati Pendekatan Psikologi Sosial. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

MEMBANGUN KARAKTER MAHASISWA : Sukses Akademis dan Organisasi

23 September 2020 16:55:51 Dibaca : 48895

 Oleh; Jumadi Mori Salam Tuasikal

MENEMUKAN JATI DIRI MAHASISWA

Dunia kampus memiliki suasana akademik yang sangat kompleks sehingga membedakannya dengan kondisi maupun suasana akademik yang ada di sekolah. Situasi seperti ini yang kemudian akan menjadi stimulus kepada para pelajar yang baru memasuki perguruan tinggi untuk berusaha memahami dunia baru yang akan dimasukinya, minimal harus memahami jati dirinya sebagai mahasiswa nanti.Strategi sederhana yang dapat dilakukan untuk memahami jati diri mahasiswa dapat dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan sederhana  secara jujur dan terbuka oleh dirinya sendiri.

  1. Pertanyaan (1) Siapakah diri saya ini? Misalkan jawabannya adalah saya adalah anak yatim piatu, atau jawabannya adalah saya seorang anak buruh bangunan yang hidup pas-pasan. Jawaban-jawaban yang diungkapkan tentunya akan begitu beragam sesuai dengan kenyataan setiap individu. Setelah menjawab pertanyaan tersebut berusahalah untuk merenungkan tujuan yang hendaknya anda capai dan lakukan selama kuliah, karena melalui tujuan itulah kesuksesan, kebahagian, kehormatan dan kebaggaan orangtua dapat anda wujudkan. Jika tidak maka renungkannlah yang  sebaliknya yaitu ketika tidak berhasil apa yang akan terjadi? Olehnya melalui jawaban dan renungan andalah yang akan menutun untuk menemukanjati diri sebenarnya.
  2. Pertanyaan (2) dari mana saya berasal? Dari pedesaan atau perkotaan, miskin atau kaya itu tidak terlalu berpengaruh, karena yang dibutuhkan disitu adalah jawaban yang anda ungkapkan bisa meningkatkan jiwa optimisme dan memotivasi diri untuk suskses. Pertanyaan ini ingin bermaksud menyampaikan kepada anda bahwa siapapun dan darimanapun anda, semuanya memiliki peluang yang sama untuk suskses selama kuliah. Walaupun si kaya jika hanya berleha-leha dan berhura-hura saja maka tidak menjamin sedangkan si miskin dengan ketekunannya bisa saja lebih sukses.
  3. Pertanyaan (3) apa yang bisa saya lakukan? Pertanyaan ini jelas akan menggiring anda untuk mengetahui potensi apa yang anda miliki, dengan maksud bisa mendatangkan keuntungan dan manfaat bagi anda dan orang lain. Jika anda masih binggung, mulailah dengan melakukan hal-hal sederhana yang dapat mengurangi beban orang tua selama anda kuliah. Pengorbanan orangtua yang begitu besar jika direnungkan secara bijak oleh anda akan melahirkan  tanggungjawab dan semangat untuk berprestasi, dan tidak akan membiarkan waktu tanpa manfaat yang jelas.
  4. Pertanyaan (4) akan kembali kemana saya? Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar, karena pada akhirnya pengabdian anda ketika lulus dari kampus adalah kembali ke pangkuan masyarakat. Akan tetapi cara pengabdian dan bagaimana anda mengabdi itulah yang harus ditemukan dan diarahkan sesuai dengan tuntunan dari jawaban yang anda berikan.

Setelah pertanyaan-pertanyaan pokok tersebut terjawab, tentunya akan mengarahkan anda untuk berbuat yang terbaik selama anda menjadi mahasiswa dan kuliah. Anda akan berbuat sesuatu dengan tujuan dan manfaat yang jelas dan berarti bagi kehidupan, mengetahui jati diri dan potensi yang berbeda dengan orang lain, anda memiliki karakter, minat dan hobi tersendiri. Anda adalah apa yang anda pikirkan, jika anda berpikir anda kuliah sukses maka kesuksesan anda akan berbuah kenyataan. Sebaliknya jika anda berpikir kuliah itu menjadi beban, sulit, banyak tugas, menjenuhkan, maka itulah masa depan anda. Oleh karena itu, jika anda ingin mengetahui masa depan anda sekarang, jawabannya adalah apa yang anda lakukan sekarang bagi masa depan anda.

 

MEMBANGUN KARAKTER AKADEMISI MAHASISWA

Mahasiswa berkarakter adalah mahasiswa yang memahami tugas dan fungsinya sebagai mahasiswa. Mahasiswa tersebut ditandai dengan upaya yang sungguh-sungguh dalam dirinya untuk senatiasa meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikapnya (WPKNS) dengan berbagai aktifitas yang dijalani baik melalui kegiatan perkuliahan, aktif dalam berorganisasi ekstra atau intra kampus untuk mengembangkan potensi dirinya melalui pengelolaan waktu yang adil yaitu pandai menempatkan sesuai dengan kebutuhan dengan memperhatikan, situasi, kondisi, toleransi, pantauan dan jangkauan yang ada pada dirinya dan lingkungannya. Mahasiswa berkrakter ini lebih dewasa dalam menyikapi persoalan yang datang menghampirinya. Jika menghadapi masalah dirinya tenang, optimis, penuh percaya diri, tidak menyalahkan orang lain, memecahkan masalah dengan arif dan bijaksana, memiliki kemampuan mengendalikan dirinya, memahami kelemahan dan kelebihan dirinya dan orang lain, pandai menempatkan diri dengan siapa yang dihadapinya, mampu berkomunikasi dengan efektif dengan semua orang karena memiliki kecerdasan sosioemosional.

Mahasiswa berkarakter biasanya adalah seorang yang taat menjalankan ibadah kepada Tuhannya, memiliki kecerdasan spritual dalam melakukan kegiatan kesehariannya dan selalu mendasari aktifitasnya dengan niat beribadah kepada-Nya. Silaturahmi yang dibangunnya melalui kegiatan di tempat-tempat ibadah, organisasi kampus maupun ektra kampus untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Mampu mengetahui mana yang boleh (halal) dan mana yang dilarang (haram) dan berkeyakinan bahwa kesuksesan hidup di dunia dan akhirat adalah karena ijin dan ridhonya Tuhan yang Maha Esa semata, yang di anugerahkan melalui ikhtiar-ikhtiar manusia.

Mahasiswa berkarakter memiliki kemampuan untuk menyelesaikan studi dengan memadukan prinsif  “Kuliah Selesai Tepat Waktu dan di Waktu yang Tepat”. Maksudnya adalah kadang kala kita melihat mahasiswa yang lulus tepat waktu namun setelah diperhadapkan dengan kondisi kerja di masyarakat banyak yang tidak mampu melewati tantangan tersebut dikarenakan hanya sekedar lulus tetapi miskin akan WPKNS, dan juga ada yang lulus terlalu lama, banyak menghabiskan waktu, energi, uang, ataupun orang tua sudah terlanjur meninggal sehingga tidak sempat melihat kesuksesan anaknya, namun memiliki WPKNS yang baik. Hal tersebut memperlihatkan bahwa pentingnya perpaduan untuk menutupi kelemahan-kelemahan dari kedua konsep tersebut.

Perlu juga kita sadari bersama bahwa kuliah bukanlah untuk menghasilkan lulusan yang bisa bekerja, karena banyak penelitian menunjukan bahwa tanpa kuliah banyak orang yang mampu bekerja. Namun esensi perkuliahan adalah mendewasakan mental mahasiswa sehingga mampu menjalani kehidupannya secara baik dan benar dimanapun dengan kondisi apapun, hal inilah yang akan menuntun setiap orang mendapatkan pekerjaan yang layak, dan bermanfaat untuk dunia dan akhirat.

Mahasiswa yang berkualitas menjadi salah satu kata kunci untuk membangun bangsa Indonesia ke depan. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa Mahasiswa yang berkualitas IMTAQ dan IPTEK serta cinta tanah air inilah merupakan kekuatan untuk memenangkan kompetensi dalam iklim persaingan global ini. Oleh karenanya sebagai mahasiswa seharusnya memiliki pandangan jauh ke depan untuk membangun bangsa ini lebih maju, berperadaban, cerdas, berkeadilan, sejahtera, sehat lahir dan batin. Untuk mewujudkan semua itu, mahasiswa hendaknya bertekad untuk menjadi pemimpin masa depan memiliki keilmuan, keimanan, integritas, dan kredibilitas dalam meningkatkan kedewasaan dalam berpikir, merasa, bersikap, bertindak dan bertanggung jawab (BMB3).

            Untuk itu mahasiswa perlu memperkuat karakter kemahasiswa annya. Karakter kuat ini dapat diketahui dari ciri-ciri sebagai berikut:

    1. Kreatif dan mampu memecahkan masalah dengan tepat,
    2. Pembelajar yang rajin, kritis, disiplin, berpengetahuan luas dan berwawasan global,
    3. Mampu berkomunikasi dengan baik,
    4. Siap mengambil resiko apapun,
    5. Bekerja keras dan cerdas,
    6. Mempunyai integritas yang tinggi,
    7. Toleran, mencintai sesama, fleksibel dalam berinteraksi.

Menjadi mahasiswa pemimpin masa depan dapat membekali diri dengan;

    1. Kemampuan kepemimpinan; setiap diri mahasiswa harus tertanam sifat-sifat kepemimpinan. Dengan mempersiapkan diri menjadi pemimpin, maka anda akan mampu memimpin dengan amanah bagi yang dipimpin.
    2. Kemampuan Keilmuan, wawasan dan pandangan jauh ke masa depan; rajin membaca, berdiskusi dan mengkaji ilmu pengetahuan melalui berbagai literatur, dan membuat tulisan-tulisan guna menuangkan ide-ide dan gagasan serta berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan karya tulis ilmiah.
    3. Sikap peka dan peduli terhadap sesama; kemampuan untuk menempatkan diri di dalam masyarakat menjadi amat penting untuk dilatih.
    4. Kemampuan Pengendalian diri; mahasiswa memiliki potensi akal dan hati untuk mampu mengendalikan diri.
    5. Kemampuan komunikasi yang efektif; untuk memotivasi dan mempengaruhi orang lain untuk mengikuti dan menjalankan perintah.
    6. Memiliki kemandirian; perlu dibangun dengan kesadaran diri, kemampuan diri dan percaya diri, untuk melakukan sesuatu dengan tepat, karena ketergantungan kepada orang lain hanya akan membuat anda sulit untuk maju.
    7. Menjaga kesehatan fisik agar tidak mudah sakit
    8. Memiliki sifat kreatif, inovatif, mampu memotivasi berbagai kegiatan berbangsa dan bernegara.

 

CERDAS EMOSIONAL MELALUI ORGANISASI

Organisasi adalah alat untuk membangun kekuatan dalam mencapai suatu tujuan, sarana untuk membangun kebersamaan dan mencapai cita-cita luhur suatu pengabdian kepada sesama manusia, memberikan jalan untuk menapaki berbagai pengalaman yang berarti menuju kedewasaan. menjadi wahana yang luas untuk melatih kemampuan diri, keterampilan, dan sikap yang bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan serta organisasi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari proses dinamika dunia kampus.

Melalui organisasi, mahasiswa akan menemukan jati dirinya. Lebih dari itu, orang-orang yang aktif dalam organisasi akan memperoleh manfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat bahkan bangsanya. Di organisasi penyaluran minat, bakat, kemampuan dan keahliannya dapat tersalurkan secara menyeluruh karena organisasi adalah media untuk aktualisasi diri seorang mahasiswa.

        Aktualisasi diri mahasiswa dalam sebuah organisasi merupakan suatu keniscayaan, sebab memiliki beberapa alasan yaitu;

    1. Memiliki visi dan misi yang ingin diwujudkan bersama,
    2. Organisasi memiliki tujuan yang jelas dalam menjalankan aktivitasnya
    3. Organisasi memiliki anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) yang menjadi acuan anggotanya,
    4. Organisasi memiliki program kerja untuk dilakukan bersama,
    5. Organisasi mengatur pembagian wewenang dan tugas setiap anggotanya,
    6. Organisasi mewadahi dan menampung berbagai aspirasi, ide, kebutuhan, dan keinginan setiap anggotanya.

Kajian yang dilakukan oleh para akademisi menunjukan bahwa, mahasiswa yang aktif dalam suatu organisasi akan berbeda dengan mahasiswa yang hanya mengikuti perkuliahan semata. Berdasarkan kondisi tersebut perbedaan tersebut dapat dilihat sebagai berikut;

    1. Pengembangan intelektual bagi seorang aktivis organisasi lebih luas karena senantiasa untuk berfikir logis, rasional, jernih dan argumentatif.
    2. Sebagai aktivis dalam organisasi akan menambah pengalaman dalam bidang keorganisasian, kepemimpinan, kemasyarakatan, pendidikan politik, dan kemandirian.
    3. Memiliki kemampuan untuk menggerakan, mempengaruhi, dan mendorong dirinya dan orang lain untuk melakukan sesuatu dengan bersama.
    4. Memiliki kemampuan beradaptasi pada lingkungan baru.
    5. Memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan hidup secara terarah.
    6. Memiliki kesiapan diri untuk melanjutkan kepemimpinan pada masa depan.

Penjelasan tersebut adalah bentuk ideal dari mahasiswa yang secara baik mengikuti kegiatan organisasi, dan bentuk sebaliknya dari gambaran di atas jika mahasiswa hanya mengikuti perkuliahan semata. Namun perlu dipahami bahwa seorang mahasiswa harus mampu memadukan kedua sisi tersebut secara harmoni antara berorganisasi dengan kegiatan perkuliahan.Jangan terjebak dengan cerita masa lalu tentang nostalgia senior dalam berorganisasi yang begitu lama di kampus, ingat bahwa setiap zaman memiliki pola-pola dan sistem tersendiri yang perlu dihadapi oleh  setiap mahasiswa secara realistis apalagi tuntutan setiap masa berbeda dan tujuan setiap orang itu orientasinya pun berbeda karena kondisi kampus selalu menyesuaikan dengan keadaan lingkungan, entah itu demografi, ekonomi, politik, budaya, dan juga alam sekitar. Untuk itu pastikan bahwa kecenderungan diri anda untuk menjadi mahasiswa berkarakter ideal seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Mahasiswa yang memiliki kerangka berfikir bahwa seorang aktivis adalah mahasiswa yang sukses dalam studi begitupun organisasi perlu ditanamkan agar istilah aktivis menjadi sebuah kata yang bisa diteladani oleh mahasiswa adik kelasnya kelak. Sehingga tidak ada kesan bahwa mahasiswa yang aktif dalam organisasi akan ketinggalan dalam studinya, lebih-lebih sampai Drof Out. Tetunya paradigm itu harus dihapuskan dengan bukti bahwa seorang aktivis adalah mereka yang berprestasi.

        Beberapa manfaat berorganisasi yang memiliki dampak terhadap perkembangan kecerdasan emosional seorang mahasiwa adalah sebagai berikut:

    1. Media bersosialisasi: dengan berorganisasi masing-masing dilatih bagaimana membentuk kehidupan sosial yang baik untuk semua pihak.
    2. Melatih softskill; yang dimaksud disini tidak hanya dapat menyampaikan ide-ide secara verbal di depan banyak orang. Tapi juga bagaimana dapat melakukan negosiasi dengan baik, bagimana menjadi motivator yang baik bagi orang lain, dan bagaimana meyakinkan orang lain untuk mendukung ide kita. Latihan softskill ini jarang sekali kita dapatkan dari pendidikan formal. Kalaupun ada sifatnya sangat terbatas dan hanya teori,  tapi dengan beraktifitas di organisasi softskill ini lansung dilatih dan dalam bentuk praktek.
    3. Melatih kemampuan untuk mendengar dan menghargai orang lain; dengan menjadi pendengar yang baik dan dapat menghargai orang lain inilah menjadi penentu keberasilan seseorang sebagai seorang pemimpin, baik pemimpin di tingkat keluarga, pemimpin sebuah perusahaan/ instansi, mupun pemimpin di tingkat yang lebih tinggi. Menjadi seorang pendengar yang baik, kita dapat menangkap apa yang menjadi keinginan orang lain atau anggota dari sebuah organisasi yang dipimpin. Juga dengan kemampuan mendengar yang baik, kita dapat memahami maksud/ ide dari orang lain yang bisa saja sangat dibutuhkan demi kemajuan diri kita sendiri maupun organisasi yang kita pimpin.
    4. Belajar menghargai orang dengan berbagai tipe; sudah pasti bahwa manusia  yang satu berbeda secara pola pikir dengan manusia yang lain. Bagaimana bisa menghadapi tipe-tipe orang yang berbeda dan bagaimana bisa merangkul orang-orang yang berbeda tipe ini agar mau mendukung ide dan tujuan kita, merupakan hal yang bisa di dapat hanya melalui berorganisasi.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka melalui kegiatan berorganisasi dapat disimpulkan bahwa sikap-sikap yang tumbuh sebagai bentuk kecerdasan emosional yaitu;

      1.  mengendalikan diri,
      2. kepekaan terhadap situasi sosial dan lingkungan,
      3. kesadaran diri
      4. empati terhadap orang lain,
      5. cinta sesame,
      6. optimis dalam menghadapi persoalan,
      7. tidak mudah mengeluh,
      8. membangun kepercayaan diri,
      9. memahami kemampuan orang lain,
      10. dapat bekerjasama, dan
      11. pandai menghargai orang lain.

 

DIANTARA KUNCI SUKSES KULIAH

Memasuki sebuah rumah yang tergembok tentunya kita membutuhkan kunci, demikian halnya untuk bisa mencapai kesuksesan dalam kuliah juga memerlukan kunci tersebut dan kunci sukses kuliah yang dapat anda terapkan didalam kehidupan berkampus antara lain sebagai berikut:

1)    Motivasi berprestasi

Motivasi berprestasi adalah kekuatan internal yang ada pada diri seseorang untuk meraih sesuatu prestasi yang tinggi. Kekuatan motivasi berprestasi ini diawali oleh suatu niat yang kuat untuk melakukan sesuatu (belajar) dengan sungguh-sungguh. Niat anda memiliki daya dorong yang luar biasa untuk memperoleh suatu prestasi belajar. Oleh karena belajar adalah suatu amal baik, maka anda harus meluruskan niat anda agar dibimbing oleh Tuhan menuju kepada kesuksesan. Niat yang kuat akan menghantarkan seseorang pada tujuan yang dicita-citakanya. Sebaliknya kalau motivasi berprestasi tidak tumbuh dalam diri anda, maka akan bagaimana mungkin akan memperoleh kesuksesan sebagai mana yang di harapkan? Dorongan yang kuat untuk menjadi mahasiswa berprestasi yang di dukung oleh niat yang lurus akan mewujudkan tujuan anda. Keterampilan menetapkan tujuan, sasaran dan target amat penting dalam meraih cita-cita anda. Dan jangan dilupakan bahwa motivasi terhebat seorang anak adalah orang tua maka tetaplah menjaga hubungan tersebut.

2)    Sabar

Dalam menampuh studi tidak jarang kita diperhadapkan dengan sejumlah rintangan. Masalah kerap kali muncul seiring dengan perjalan kuliah. Bagi yang tidak siap  dan sala menyikapi masalah yang ada maka masalah itu akan semakin besar. Oleh karenanya sebagai orang yang beriman hendanya dalam mengatasi masalah adalah dengan kesabaran. Sabar bukan berarti diam dalam menghadapi kondisi atau suatu kenyataan atau bukan berarti menerima apa adanya ataupun pasrah tanpa usaha namun sabar dalam arti ingin berubah. Sabar dalam arti berupaya untuk meraih suatu tujuan dengan penuh keyakinan.

3)    Manajemen diri

Mahasiswa yang cerdas adalah mahasiswa yang mampu memenej diri dalam setiap aktifitasnya. Cerdas secara intelektual, cerdas secara emosional dan juga cerdas secara spiritual tentunya dicapai melalui kemampuan mengelola diri. Manajemen diri berkaitan erat dengan kemampuan diri mengelola waktu. Secara efektif dan efisien. Ada berbagai kesempatan dan peluang untuk mengoptimalkan waktu anda dalam keseharian yaitu; waktu untuk belajar, waktu untuk membaca, waktu untuk menulis, waktu untuk beribadah, waktu berorganisasi, waktu untuk kuliah, waktu untuk berolahraga, waktu untuk santai, bersilaturahmi dab lain-lain.

4)    Menghormati dan memahami karakteristik dosen

Jangan habiskan waktu anda dengan mencaci dosen, tapi belajarlah untuk memahami karakteristik dosen. karakter dosen yang satu dengan yang lainnya sedah pasti berbeda karena dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan berbeda, cara pandang berbeda, sifat berbeda, minat dan hobi berbeda berbeda pula dalam menghadapi mahasiswa. Sebab jika anda tidak bisa memahami karakter dosen, apalagi salah memahaminya sehingga anda tidak cerdas dalam menempatkan diri sebagai mahasiswa di hadapan dosen, mungkin dapat merugikan posisi anda. Perlu juga anda pahami bahwa  tidak setiap dosen itu sama seperti yang anda harapkan jadi sesuaikanlah.

5)    Menjalin komunikasi dengan teman

Dalam aktivitas anda, tentunya tidak bisa dilepaskan dari kontribusi teman anda. Anda harus mampu menghormati dan menghargai sesama teman. Memulai beradaptasi, bekerja sama, menjalin kebersamaan, sehingga bisa tercipta pertemanan yang sejati. Dan mendapatkan teman sepeti itu anda bisa melakukan aktivitas-aktivitas organisasi intara ataupun ekstra.

6)    Berdoa dan bersyukur

Keberhasilan seseorang tidak lepas dari izin dan ridho Tuhan. Oleh karenannya berkomunikasi dengan Tuhan melalui doa dan rasa syukurnya merupakan bagian yang tidak boleh dilupakan oleh seorang terpelajar. Seseorang mahasiswa yang membiasakan dirinya hidup dengan doa dan syukur akan menghantarkan dirinya semakin percaya diri, tidak pantang menyerah, tidak sombong, dan memiliki suatu keyakinan untuk menghantarkan dirinya pada kesuksesan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badu, S.Q., Amin, B. 2012. Civitas Acadeica. Jakarta: Pustaka Indonesia Press.

Efendi, S. 2016. My Enemy Is Me. Yogyakarta. Penerbit WR.

Nurdin, D. 2009. Mahasiswa Pemimpin Masa Depan. Bandung: Ilmu Cahaya Hati.

Uno, H.B., Kuadrat, M. 2010. Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Seymour, R.I. 2002. Maximize Your Potential. USA: Pelican Publishing Company, Inc.

 

 

BUDAYA MALU YANG MENGHAMBAT PERKEMBANGAN MAHASISWA

30 January 2020 14:49:07 Dibaca : 1875

Siti Salama Tuasikal

       Sejatinya sifat malu merupakan suatu hal penting yang harus dimiliki oleh manusia, sebagai pertanda bahwa perasaannya masih berada pada kondisi normal dalam merespon setiap stimulus yang datang untuk dipertimbangkan secara emosional sehingga mampu menggambarkan kondisi kejiwaan seseorang. Hal tersebut bermaksud bahwa setiap perilaku manusia dalam bertindak dan mengambil keputusan akan dipertimbangkan secara manusiawi melalui hati nuraninya sebagai bentuk ekspresi dari rasa malu.

    Malu bisa diibaratkan seperti pisau bermata dua. hal ini dikarenakan malu dapat dipandang suatu perilaku yang positif namun di satu sisi dapat berdampak negatif. Kondisi ini yang kemudian menjadi suatu dilema dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Fenomena ini dapat kita lihat pada kasus-kasus tertentu misalkan ketika seseorang berbuat kesalahan, sudah sewajarnya dia merasa malu atas sikapnya itu dan mulai meminta maaf. Hal ini menggambarkan sifat malu berdampak positif yang dapat menyadarkan perilaku tidak baik yang telah di perbuat. Pada kasus lain yaitu ketika seseorang ingin mengungkapkan ide dan gagasannya kepada orang lain dia merasa malu, karena dia meyakini bahwa apa yang hendak disampaikan mungkin saja tidak akan diterima atau malah ditertawakan. Hal ini merupakan salah satu kasus yang berdampak negative terhadap tugas perkembangan seseorang.

     Berdasarkan gambaran di atas kita dapat mengambil suatu benang merah bahwa rasa malu merupakan hal yang penting, namun kiranya perlu melihat situasi dan kondisi yang tepat untuk mengekspresikan rasa malu tersebut, dalam istilah yang saya gunakan  adalah memperhatikan "SIKONTOL PANJANG" (Situasi, Kondisi, Toleransi, Pantauan dan Jangkauan). Banyak orang yang tidak sadar di dalam kehidupan sehari-harinya mengalami hambatan dalam mengekspresikan perasaan sebenarnya karena belum mampu mengelola dan menempatkan serta memahami karakteristik pribadinya di dalam memposisikan rasa malu tersebut. Di Indonesia sendiri budaya malu seakan-akan menjadi identitas diri masyarakatnya. Sayangnya, kondisi tersebut tidak berbanding lurus dengan cara berpikir dalam menanggapi masalah yang dihadapi karena kadang-kadang rasa malu yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari malah berdampak memalukan. Sebut saja fakta yang sering kita temui orang desa yang sering merasa malu dengan orang kota, orang miskin yang merasa malu dengan orang kaya dan sebaliknya dikarenakan berbagai alasan yang diyakini. Keberadaan budaya malu akan terus menyertai perilaku manusia dalam setiap aktifitasnya sebagai sebuah keniscayaan bahwa manusia adalah mahluk yang berperasaan. Apakah itu dalam lingkungan keluarga, masyarakat, tempat kerja, dan di mana saja. Tanpa sadar sifat malu mampu mengarahkan seseorang untuk memahami rasa tanggungjawab di setiap kondisi yang di hadapi ataupun bisa saja lari dari tanggungjawab yang diemban dalam setiap situasi kehidupan.

      Di antara sekian banyak aktifitas yang dilalui oleh manusia ada hal menarik yang bisa kita tinjau di dalam kehidupan kampus yang dihuni oleh masyarakat intelektual, dalam artian bagaimana mahasiswa memposisikan dirinya dalam membudayakan rasa malu yang ada pada diri dan lingkungannya. Kita ketahui bersama bahwa mahasiswa ditempatkan pada jenjang pendidikan paling tinggi di antara status pendidikan lainnya, itu artinya bahwa lingkungan kampus diharapkan mampu menstimulus mahasiswa dalam memahami arti sebenarnya dari rasa malu. Fenomena kekinian yang terjadi dunia kampus menggambarkan bahwa mahasiswa seakan-akan berada dalam posisi terjebak pada dampak negatif dari rasa malu. Kenapa demikian, karena banyak potensi yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa tidak diekspresikan sebagaimana layaknya. Kondisi ini jelas menggambarkan bahwa dari sekian banyak factor tidak bisa dipungkiri bahwa rasa malu mengambil peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa. Sebut saja banyak aktifitas-aktifitas kemahasiswaan mulai dari dalam kampus hingga keluar kampus membutuhkan kemampuan mental untuk mengaktualisasikan potensinya secara optimal.

     Berbagai kasus yang dialami oleh mahasiswa dalam mengaktualisasikan diri banyak dihambat oleh sikap kurang percaya diri, ragu-ragu, mudah menyerah, cepat putus asa, gugup, demam panggung dan, takut ditertawakan orang. Sikap-sikap tersebut kadang muncul ketika mahasiswa diperhadapkan dengan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Hal tersebut tak lepas dari bagaimana mahasiswa memadang dan memberikan persepsi-persepsi subjektif terhadap dirinya yang menggambarkan perasaan malu terhadap kehidupan bersosial disekelilingnya. Mungkin benar, bahwa rasa malu tidak sepenuhnya memberikan sumbangsih negatif terhadap perilaku mahasiswa. Namun juga perlu diingat bahwa kita tidak bisa memungkiri kebiasaan malu yang sudah membudaya bisa jadi susah untuk dikendalikan karena sudah mengakar dan menjadi karakter turun-temurun.

     Secara psikologis jika luapan emosi yang menjadi kebiasaan seseorang dan dilakukan terus-menerus akan menjadi otomatis tersimpan di dalam alam bawah sadar dan akan mengarahkan setiap perilaku untuk dilakukan tanpa disadari. Itu artinya jika rasa malu yang sudah tertanam di alam bawah sadar setiap mahasiswa, maka tanpa sadar mereka akan digiring untuk bersifat malu pada setiap aktifitas tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu secara rasional situasi dan kondisi yang paling tepat untuk bersikap malu. Banyak contoh yang mampu membuktikan kasus-kasus tersebut, diantaranya ada mahasiswa yang tidak mau untuk berbicara di depan banyak orang dikarenakan kebiasaannya ketika hendak berbicara di dalam keluarga tidak diizinkan oleh orang yang lebih tua dengan alasan budaya malu, dilain pihak diremehkan hingga ditertawakan, dicaci dan itu akan memberikan pengalaman kecemasan atau bisa jadi pada tingkat trauma sehingga mampu menghambat perkembangan mahasiswa dalam meningkatkan kualitasnya. Selain itu, disatu pihak dengan adanya rasa malu menuntut mahasiswa supaya engan membicarakan masalah-masalah orang lain, namun dilain pihak akan mematikan daya kritis dan kontrol social mahasiswa terhadap realita yang terjadi, belum lagi malu untuk menolak ajakan teman untuk melakukan hal-hal negative misalnya merokok, narkoba, minum alcohol dan hal-hal lainnya dan akhirnya memberi dampak terhadap terhambatnya perkembangan mahasiswa.

     Senada dengan itu, kasus seperti membicarakan masalah seksual, kebiasaan pamali, mistik dan hal-hal lainnya masih dianggap tabu untuk dibicarakan. Kesemuanya masih kategorikan sebagai hal yang masuk dalam larangan yang masih berkaitan dengan budaya malu di masyarakat kita, padahal kita tahu bahwa sebagai mahasiswa sudah seharusnya hal-hal tersebut sudah bisa dikaji dan eksplorasi secara ilmiah dan bertanggungjawab. Sudah seharusnya mahasiswa membentengi pikirannya dengan bersikap kritis terhadap realita yang dihadapi sehingga perasaan emosional yang dimilikinya dapat dikontrol. Maksud control di sini adalah mahasiswa harus menempatkan atau memposisikan rasa malu sebagai suatu rasa yang objektik melalui sudut pandang yang lebih menguntungkan, terlebih lagi untuk membantu perkembangan kualitasnya.

      Mahasiswa harus bisa mendobrak beberapa perilaku yang timbul dari budaya rasa malu yang terkesan tradisional dan dan kadang memberi dampak memalukan. Kondisi tersebut seharusnya bisa disesuaikan dengan perkembangan jaman dengan realita masalah yang semakin kompleks dan kemajuan perkembangan yang setiap saat selalu beranjak maju. Kedepannya dunia membutuhkan mahasiswa yang mampu berkreasi dan berinovasi dalam menghasilakan dan menciptakan hal-hal kreatif yang berdaya saing untuk mampu menjawab tantangan dunia kerja. Oleh karenannya jika mahasiswa masih tengelam dengan budaya malu yang menghambat perkembangan cara berpikir kritis maka bisa dipastikan tidak ada tempat untuk mereka di dunia kerja. Dalam rangka menjembatani mahasiswa untuk memilih dan memilah perilaku budaya malu yang cocok, harus dimulai dari cara berpikir, merasa, bersikap, bertindak dan bertanggungjawab dengan tepat. Dari itulah, melalui tulisan ini mari sebagai mahasiswa bagun karakter positif dimulai dengan mengikuti kegiatan-kegiatan tambahan di kampus misalkan, diskusi public, kajian rutin, budayakan literasi atau mengikuti organisasi-organisasi kemahasiswaan selain mengikuti kegiatan rutin akademik di ruang kuliah.

    Semua itu di maksudkan untuk membuka cakrawala berpikir mahasiswa agar tidak terpenjara pada pemahaman sempit. Melalui kegiatan-kegiatan ekstra tersebut mahasiswa akan terlibat dengan banyak data, transaksi informasi, bersosialisasi, dan membangun banyak jaringan antar teman atupun lintas antar kampus, mulai dari dalam hingga luar negeri, sehingganya mental diri mahasiswa tidak mudah terjerumus untuk perilaku budaya malu yang berunjung memalukan karena mampu memandang dunia ini secara objektif, realistis dan universal. Mengubah suatu budaya tidaklah muda, namun bukan berarti tidak bisa. Semua hal jelas memerlukan proses, jika budaya sebelumnya turun melalui pengajaran dan system didikan dari generasi sebelumnya, maka untuk merubahnya cukup dibiasakan dengan pola yang sama namun dengan maksud yang berbeda yakni mengubah cara pandang terhadap bagaimana memahami makna ataupun arti sebenarnya dari budaya malu. Kita semua yakin dan percaya bahwa atmosfir kampus selalu memberi ruang bagi budaya apa saja yang bisa diberdayakan untuk tujuan pengembangan potensi mahasiswa. 

      Oleh karenanya dengan melihat seluruh gambaran yang ada, mari sama-sama kita semua mengambil bagian untuk tidak mengembangkan budaya malu yang memberi efek penghambat bagi tumbuh kembangnya mahasiswa, mulai dari Rektor universitas sebagai pimpinan tertinggi lembaga dengan segala kebijakannya, disusul dengan para dosen dengan semua perangkat pembelajarannya, dan semua mahasiswa yang tak boleh henti-hentinya membaca dan belajar dari pengalaman dan berbagai literasi agar bisa mendapatkan hikmah guna perbaikan diri agar bisa menjadi mahasiswa yang handal, dan mampu menciptakan karya-karya bermanfaat, serta dapat mengabdikan diri untuk kepentingan dan tujuan bersama, berbangsa dan bernegara.