KATEGORI : TEORI DAN TEKNIK KONSELING

By: Jumadi Mori Salam Tuasikal

Selama berabad-abad, manusia telah menggunakan cerita hikmah dan dongeng untuk menyampaikan pesan-pesan yang mendalam. Ternyata, kekuatan narasi ini juga dapat dimanfaatkan dalam konseling. Mengapa? Karena cerita dan dongeng menghadirkan emosi, pengalaman, dan pelajaran yang dapat menarik perhatian secara emosional. Konseling menggunakan cerita dan dongeng berfungsi sebagai sarana untuk menggambarkan situasi atau masalah yang dialami oleh individu yang menghadapi tantangan dalam hidup mereka. Ketika orang mendengarkan cerita atau dongeng yang menggambarkan masalah mereka secara tidak langsung, mereka dapat merasa lebih terhubung, mengurangi rasa kesepian dan isolasi yang mereka rasakan. Dalam lingkungan yang aman, mereka dapat melihat bagaimana karakter dalam cerita memecahkan masalah mereka dan menemukan inspirasi dan motivasi untuk mengatasi kesulitan mereka sendiri. Cerita dan dongeng juga efektif dalam menciptakan pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri. Melalui proses identifikasi dengan karakter dalam cerita, individu dapat melihat bagaimana tindakan, keputusan, dan pilihan mereka dapat mempengaruhi kehidupan mereka sendiri. Hal ini dapat membuka pintu untuk refleksi yang lebih mendalam dan kemungkinan perubahan positif. Jadi, jika Anda sedang mencari pendekatan inovatif dalam konseling, cerita dan dongeng dapat menjadi alat yang powerful untuk membantu individu memahami dan menjelajahi diri mereka dengan lebih baik.

 Apa Itu Konseling Menggunakan Cerita Hikmah dan Dongeng?

Konseling menggunakan cerita hikmah dan dongeng adalah pendekatan dalam bidang konseling yang menggunakan cerita atau dongeng sebagai alat untuk membantu individu memahami dan mengatasi masalah mereka. Dalam konseling ini, cerita atau dongeng digunakan sebagai sarana untuk menggambarkan situasi atau masalah yang serupa dengan yang dialami oleh individu klien. Melalui cerita atau dongeng ini, klien dapat merasa lebih terhubung dengan pengalaman mereka sendiri dan menemukan inspirasi untuk mencari solusi. Disamping itu teknik ini juga memungkinkan konselor menyampaikan cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai moral, etika, dan kebijaksanaan untuk membantu klien memahami dan mengatasi masalah yang mereka hadapi. Cerita-cerita ini bisa berasal dari berbagai sumber, termasuk folklore, cerita rakyat, teks-teks agama, dan literatur klasik maupun modern.

 Manfaat Konseling Menggunakan Cerita Hikmah dan Dongeng

Konseling menggunakan cerita hikmah dan dongeng memiliki banyak manfaat yang dapat membantu individu dalam proses pemulihan dan perubahan positif. Beberapa manfaat utama dari pendekatan ini adalah:

  • Mengurangi rasa kesepian dan isolasi: Mendengarkan cerita atau dongeng yang menggambarkan masalah yang serupa dapat membuat klien merasa lebih terhubung dan memahami bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan mereka.
  • Memberikan inspirasi dan motivasi: Melalui cerita atau dongeng, klien dapat melihat bagaimana karakter dalam cerita berhasil mengatasi masalah mereka. Hal ini dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi klien untuk mencari solusi yang sesuai dengan situasi mereka.
  • Membantu refleksi diri: Identifikasi dengan karakter dalam cerita dapat membantu klien melihat bagaimana tindakan, keputusan, dan pilihan mereka mempengaruhi kehidupan mereka sendiri. Ini membuka pintu untuk refleksi yang lebih mendalam tentang diri mereka sendiri.
  • Menghidupkan imajinasi: Cerita dan dongeng dapat membuka pintu imajinasi klien, memungkinkan mereka untuk melihat masalah dan solusi dari sudut pandang yang berbeda. Ini dapat membantu klien melihat pilihan yang mungkin tidak mereka pertimbangkan sebelumnya.

          Dengan manfaat-manfaat ini, konseling menggunakan cerita dan dongeng dapat menjadi metode yang efektif dalam membantu individu mengatasi masalah dan mencapai perubahan positif dalam hidup mereka.

 Statistik tentang Konseling Menggunakan Cerita Hikmah dan Dongeng

Terdapat beberapa statistik yang menunjukkan efektivitas dan popularitas konseling menggunakan cerita dan dongeng. Berikut adalah beberapa data yang menarik: Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Asosiasi Konselor Amerika, 85% dari konselor yang berpartisipasi dalam penelitian ini menggunakan cerita dan dongeng dalam praktik konseling mereka. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal "Counseling and Values" menunjukkan bahwa konseling menggunakan cerita dan dongeng dapat membantu meningkatkan motivasi dan keterlibatan klien dalam proses konseling. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Konselor Profesional di Inggris menunjukkan bahwa 92% dari responden merasa bahwa konseling menggunakan cerita dan dongeng efektif dalam membantu klien memahami dan mengatasi masalah mereka. Statistik ini menunjukkan bahwa konseling menggunakan cerita dan dongeng telah menjadi pendekatan yang populer dan efektif dalam praktik konseling.

 Strategi Konseling Menggunakan Cerita Hikmah dan Dongeng

Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam konseling menggunakan cerita hikmah dan dongeng. Berikut adalah beberapa strategi yang umum digunakan oleh para konselor:

  • Pemilihan cerita yang tepat: Konselor harus memilih cerita atau dongeng yang relevan dengan masalah yang dihadapi oleh klien. Cerita harus memiliki karakter yang dapat diidentifikasi oleh klien dan menggambarkan situasi atau masalah yang serupa.
  • Penggunaan metafora: Konselor dapat menggunakan metafora dalam cerita atau dongeng untuk membantu klien memahami dan mengatasi masalah mereka. Metafora dapat membantu menggambarkan konsep-konsep yang sulit dipahami dengan cara yang lebih mudah dimengerti.
  • Diskusi reflektif: Setelah mendengarkan cerita atau dongeng, konselor dapat memfasilitasi diskusi reflektif dengan klien. Diskusi ini dapat membantu klien mengaitkan cerita dengan pengalaman mereka sendiri, mengidentifikasi pola pikir atau pola perilaku yang tidak sehat, dan mengeksplorasi solusi yang mungkin.
  • Penerapan dalam kehidupan nyata: Konselor harus membantu klien menghubungkan pelajaran dari cerita atau dongeng ke kehidupan mereka sehari-hari. Ini dapat melibatkan perencanaan tindakan konkret yang dapat diambil oleh klien untuk mengatasi masalah mereka.

Strategi-strategi ini dapat membantu konselor dalam menggunakan cerita hikmah dan dongeng secara efektif dalam konseling mereka.

 Membuat Rencana Konseling Menggunakan Cerita Hikmah dan Dongeng

Untuk menciptakan rencana konseling menggunakan cerita hikmah dan dongeng, konselor perlu mengikuti langkah-langkah berikut:

  • Identifikasi masalah klien: Konselor harus memahami masalah yang dihadapi oleh klien dengan cara mendengarkan cerita hidup mereka. Ini akan membantu konselor memilih cerita atau dongeng yang relevan.
  • Pilih cerita atau dongeng yang tepat: Konselor harus memilih cerita atau dongeng yang menggambarkan masalah yang serupa dengan yang dihadapi oleh klien. Cerita harus memuat karakter yang dapat diidentifikasi oleh klien.
  • Mendengarkan cerita atau dongeng: Konselor harus mendengarkan cerita atau dongeng dengan seksama, memberikan perhatian pada detail-detail yang relevan dengan masalah klien.
  • Diskusi reflektif: Setelah cerita atau dongeng selesai didengarkan, konselor harus memfasilitasi diskusi reflektif dengan klien. Ini akan membantu klien mengaitkan cerita dengan pengalaman mereka sendiri dan mengidentifikasi pelajaran yang dapat dipetik.
  • Hubungkan dengan kehidupan nyata: Konselor harus membantu klien menghubungkan pelajaran dari cerita atau dongeng ke kehidupan mereka sehari-hari. Ini dapat melibatkan perencanaan tindakan konkret yang dapat diambil oleh klien untuk mengatasi masalah mereka.

   Dengan mengikuti langkah-langkah ini, konselor dapat menciptakan rencana konseling yang efektif menggunakan cerita dan dongeng.

 Tips Konseling Menggunakan Cerita Hikmah dan Dongeng

Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu konselor dalam menggunakan cerita dan dongeng dalam konseling:

  • Pilih cerita yang sesuai: Pastikan cerita atau dongeng yang dipilih relevan dengan masalah yang dihadapi oleh klien. Cerita harus memiliki karakter yang dapat diidentifikasi oleh klien.
  • Dengarkan dengan empati: Dengarkan cerita atau dongeng dengan penuh perhatian dan empati. Berikan ruang bagi klien untuk berbagi pengalaman mereka dengan aman.
  • Gunakan pertanyaan terbuka: Gunakan pertanyaan terbuka untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang pengalaman dan perasaan klien. Pertanyaan terbuka memberikan kesempatan bagi klien untuk mengungkapkan diri dengan lebih bebas.
  • Fasilitasi diskusi reflektif: Fasilitasi diskusi reflektif dengan klien setelah mendengarkan cerita atau dongeng. Bantu klien mengaitkan cerita dengan pengalaman mereka sendiri dan mengidentifikasi pelajaran yang dapat dipetik.
  • Bantu klien menghubungkan dengan kehidupan nyata: Bantu klien menghubungkan pelajaran dari cerita atau dongeng ke kehidupan mereka sehari-hari. Dorong klien untuk merencanakan tindakan konkret yang dapat mereka ambil untuk mengatasi masalah mereka.

   Dengan mengikuti tips-tips ini, konselor dapat menggunakan cerita dan dongeng secara efektif dalam konseling mereka.

 Teknik yang Digunakan dalam Konseling Menggunakan Cerita Hikmah dan Dongeng

 Ada beberapa teknik yang umum digunakan dalam konseling menggunakan ccerita hikmah dan dongeng. Berikut adalah beberapa teknik yang dapat digunakan oleh konselor:

  • Visualisasi: Minta klien untuk membayangkan cerita atau dongeng dalam pikiran mereka. Ini dapat membantu klien lebih terhubung dengan cerita dan memperkuat pengalaman emosional.
  • Role-playing: Gunakan role-playing untuk membantu klien memainkan peran karakter dalam cerita atau dongeng. Ini dapat membantu klien melihat situasi dari perspektif yang berbeda dan mengeksplorasi solusi yang mungkin.
  • Menulis cerita: Minta klien untuk menulis cerita mereka sendiri yang menggambarkan masalah yang mereka hadapi. Ini dapat membantu klien mengungkapkan perasaan mereka secara kreatif dan melihat masalah mereka dengan sudut pandang yang berbeda.
  • Menggambar: Minta klien untuk menggambar gambar atau ilustrasi yang mewakili cerita atau dongeng yang mereka dengarkan. Ini dapat membantu klien mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang non-verbal.

Teknik-teknik ini dapat membantu konselor dalam menggunakan cerita dan dongeng dengan lebih kreatif dan efektif dalam konseling mereka.

 Pelatihan untuk Konseling Menggunakan Cerita Hikmah dan Dongeng

Untuk menjadi seorang konselor yang terampil dalam menggunakan cerita hikmah dan dongeng dalam konseling, pelatihan yang sesuai diperlukan. Pelatihan ini dapat membantu konselor memahami teori-teori yang mendasari konseling menggunakan cerita dan dongeng, mengembangkan keterampilan praktis, dan memperoleh pengalaman langsung dalam menggunakan pendekatan ini. Ada berbagai pelatihan yang tersedia, baik dalam bentuk seminar, lokakarya, atau program sertifikasi. Konselor dapat mencari pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga terpercaya dalam bidang konseling dan terapi.

 Layanan Konseling Menggunakan Cerita Hikmah dan Dongeng

Banyak konselor dan terapis yang menawarkan layanan konseling menggunakan ccerita hikmah dan dongeng. Jika Anda tertarik untuk menjalani konseling menggunakan pendekatan ini, carilah konselor atau terapis yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam menggunakan cerita dan dongeng dalam praktik mereka. Anda dapat mencari informasi tentang layanan konseling menggunakan cerita dan dongeng secara online, melalui direktori konselor, atau dengan mendapatkan referensi dari teman atau keluarga yang pernah menjalani konseling menggunakan pendekatan ini.

 Manfaat Penggunaan Cerita Hikmah dan Dongeng

  • Pembelajaran Tidak Langsung: Klien dapat belajar dari pengalaman tokoh-tokoh dalam cerita tanpa merasa dihakimi atau disalahkan secara langsung.
  • Pemahaman Emosional: Cerita sering kali menyentuh sisi emosional klien, membantu mereka untuk terhubung dengan perasaan mereka sendiri.
  • Peningkatan Refleksi Diri: Klien didorong untuk merenung dan mengevaluasi perilaku serta sikap mereka melalui analogi cerita.
  • Penanaman Nilai Positif: Cerita hikmah mengandung pesan-pesan moral yang dapat membentuk nilai-nilai positif dan menginspirasi perubahan perilaku.

Proses Konseling dengan Cerita Hikmah dan Dongeng

  • Identifikasi Masalah Klien: Konselor mengidentifikasi masalah utama yang dihadapi klien dan menentukan cerita yang relevan dengan situasi tersebut.
  • Penyampaian Cerita: Konselor menceritakan kisah yang dipilih dengan cara yang menarik dan mudah dipahami oleh klien.
  • Diskusi dan Refleksi: Setelah cerita disampaikan, konselor mengajak klien untuk berdiskusi tentang makna cerita dan relevansinya dengan masalah yang dihadapi klien.
  • Aplikasi Praktis: Konselor membantu klien menerapkan pelajaran dan nilai dari cerita tersebut ke dalam kehidupan nyata mereka.

Contoh Penerapan dalam Mengatasi Bullying Verbal

  • Cerita Inspiratif: Konselor dapat menceritakan kisah tokoh yang menghadapi intimidasi dan bagaimana mereka mengatasi situasi tersebut dengan bijaksana.
  • Dongeng dengan Pesan Moral: Kisah-kisah seperti fabel atau legenda yang mengajarkan tentang keberanian, keteguhan hati, dan pentingnya menghargai orang lain.
  • Narasi Histori: Cerita dari sejarah yang menunjukkan contoh-contoh nyata dari orang-orang yang berhasil melawan ketidakadilan dan menemukan cara damai untuk mengatasinya.

Keuntungan dan Tantangan

a)     Keuntungan:

  • Meningkatkan keterlibatan emosional klien.
  • Menyediakan cara yang tidak konfrontatif untuk menghadapi masalah.
  • Memudahkan internalisasi nilai-nilai positif.

b)    Tantangan:

  • Memilih cerita yang tepat dan relevan dengan masalah klien.
  • Memastikan klien dapat memahami dan mengaitkan diri dengan cerita yang disampaikan.
  • Menghindari interpretasi yang keliru atau berlebihan dari cerita.

Kesimpulan

          Konseling menggunakan cerita dan dongeng adalah pendekatan yang inovatif dalam bidang konseling yang dapat membantu individu memahami dan menjelajahi diri mereka dengan lebih baik.  

 

 

KONSELING TERAPI PERILAKU DIALEKTIK

17 May 2024 15:54:11 Dibaca : 232

Pendahuluan

Konseling terapi perilaku dialektik adalah pendekatan terapeutik yang efektif dalam membantu individu mengatasi emosi yang tidak sehat dan mengembangkan keterampilan adaptif dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Bagi mereka yang mengalami masalah seperti depresi, gangguan bipolar, kecanduan, atau gangguan makan, terapi ini dapat memberikan dukungan yang signifikan. Dengan menggunakan prinsip-prinsip dari terapi perilaku dan kesadaran, konseling terapi perilaku dialektik membantu individu mengenali pola pikir, emosi, dan perilaku yang tidak sehat. Melalui sesi konseling yang terstruktur dan terarah, individu diajarkan strategi dan keterampilan baru untuk mengelola stres, meredakan emosi yang kuat, dan meningkatkan hubungan antarpribadi. Terapi ini melibatkan kolaborasi antara terapis dan klien, dengan dukungan dan perlindungan yang tetap diberikan kepada klien sepanjang proses pemulihan. Konseling terapi perilaku dialektik adalah alat yang kuat bagi individu yang ingin mengubah hidup mereka dan menemukan keseimbangan yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, jika Anda menghadapi tantangan emosional yang kuat dan ingin mengembangkan keterampilan adaptif yang lebih baik, konseling terapi perilaku dialektik bisa menjadi solusi yang tepat bagi Anda.

Definisi Konseling Terapi Perilaku Dialektik

Konseling terapi perilaku dialektik adalah pendekatan terapeutik yang dikembangkan oleh Marsha M. Linehan pada tahun 1980-an. Terapi ini awalnya dirancang untuk mengobati individu dengan gangguan kepribadian borderline, tetapi kemudian juga ditemukan efektif dalam mengatasi masalah emosi dan perilaku lainnya. Terapi perilaku dialektik menggabungkan prinsip-prinsip dari terapi perilaku kognitif, dialektik, dan kesadaran. Tujuan utama terapi ini adalah membantu individu mengembangkan keterampilan adaptif dalam menghadapi situasi yang sulit, meredakan emosi yang kuat, meningkatkan hubungan antarpribadi, dan mencegah perilaku yang merusak. Konseling terapi perilaku dialektik bertujuan untuk mengajarkan individu bagaimana mengenali dan mengubah pola pikir, emosi, dan perilaku yang tidak sehat. Terapis bekerja sama dengan klien untuk mengidentifikasi tujuan dan merumuskan strategi khusus yang sesuai dengan kebutuhan individu.

 Prinsip Konseling Terapi Perilaku Dialektik

Konseling terapi perilaku dialektik didasarkan pada beberapa prinsip dasar yang membentuk kerangka kerja terapeutik. Berikut adalah prinsip-prinsip utama konseling terapi perilaku dialektik:

  • Dialektika: Terapi ini mengakui bahwa dunia bukanlah hitam-putih, melainkan penuh dengan nuansa abu-abu. Klien diajarkan untuk mengembangkan pemahaman tentang kompleksitas hidup dan menerima paradoks yang ada.
  • Kesadaran: Terapi ini menekankan pentingnya kesadaran diri yang mendalam. Klien diajarkan untuk mengamati dan mengenali pikiran, emosi, dan sensasi tubuh mereka tanpa penilaian atau penolakan.
  • Regulasi Emosi: Klien diajarkan keterampilan regulasi emosi untuk mengelola emosi yang kuat dengan cara yang sehat. Mereka belajar cara meredakan emosi negatif dan meningkatkan emosi positif.
  • Keterampilan Antarpribadi: Terapi ini fokus pada meningkatkan keterampilan komunikasi dan hubungan antarpribadi. Klien diajarkan cara berinteraksi dengan orang lain secara efektif dan membangun hubungan yang sehat.
  • Penerimaan dan Perubahan: Konseling terapi perilaku dialektik mengajarkan klien untuk menerima diri mereka apa adanya sambil tetap berusaha melakukan perubahan yang positif. Terapis mendukung klien dalam mengembangkan keseimbangan antara penerimaan dan perubahan.

Manfaat Konseling Terapi Perilaku Dialektik

Konseling terapi perilaku dialektik memiliki sejumlah manfaat yang signifikan bagi individu yang mengikuti terapi ini. Berikut adalah beberapa manfaat utama dari konseling terapi perilaku dialektik:

  • Mengelola emosi yang kuat: Terapi ini membantu individu mengembangkan keterampilan regulasi emosi sehingga mereka dapat mengatasi emosi yang kuat, seperti kemarahan atau kecemasan, dengan cara yang sehat.
  • Meningkatkan hubungan antarpribadi: Konseling terapi perilaku dialektik membantu individu meningkatkan keterampilan komunikasi dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Ini dapat membantu meningkatkan kualitas hubungan pribadi dan profesional.
  • Mengatasi perilaku merusak: Terapi ini membantu individu mengenali dan mengubah perilaku merusak yang dapat merugikan diri sendiri atau orang lain. Keterampilan adaptif yang dipelajari dalam terapi ini membantu individu menghindari perilaku yang destruktif.
  • Meningkatkan kualitas hidup: Konseling terapi perilaku dialektik membantu individu mengembangkan keterampilan adaptif dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari, seperti mengelola stres, mengatasi konflik, dan meningkatkan kepuasan hidup secara keseluruhan.
  • Mencegah kambuhnya masalah: Terapi ini membantu individu mengembangkan strategi pencegahan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghindari kambuhnya masalah emosional atau perilaku di masa depan.

Teknik dalam Konseling Terapi Perilaku Dialektik

Konseling terapi perilaku dialektik melibatkan penggunaan berbagai teknik dan strategi untuk membantu individu mencapai tujuan perubahan yang diinginkan. Berikut adalah beberapa teknik yang umumnya digunakan dalam terapi ini:

  • Mindfulness: Teknik kesadaran diri yang membantu individu mengamati dan mengenali pikiran, emosi, dan sensasi tubuh mereka tanpa penilaian atau penolakan. Mindfulness membantu individu mengembangkan kehadiran mental yang penuh dan lebih sadar terhadap pengalaman saat ini.
  • Regulasi emosi: Teknik ini melibatkan pembelajaran keterampilan untuk mengelola emosi yang kuat. Individu diajarkan cara meredakan emosi negatif dan meningkatkan emosi positif melalui teknik seperti latihan pernapasan, visualisasi, atau aktivitas fisik.
  • Toleransi ketidaknyamanan: Teknik ini mengajarkan individu untuk mengembangkan toleransi terhadap ketidaknyamanan fisik atau emosional. Individu diajarkan untuk menghadapi ketidaknyamanan tanpa melarikan diri atau menggunakan perilaku yang merusak.
  • Keterampilan interpersonal: Terapi ini melibatkan pembelajaran keterampilan komunikasi yang efektif dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Individu diajarkan cara mendengarkan dengan empati, mengekspresikan kebutuhan mereka dengan jelas, dan memecahkan konflik dengan konstruktif.
  • Penyelesaian masalah: Terapi ini membantu individu mengembangkan kemampuan dalam mengidentifikasi masalah, menghasilkan solusi yang efektif, dan mengimplementasikan solusi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Perbedaan antara Konseling Terapi Perilaku Dialektik dan Terapi Lainnya

Konseling terapi perilaku dialektik memiliki beberapa perbedaan utama dengan terapi lainnya. Berikut adalah perbedaan antara konseling terapi perilaku dialektik dan terapi lainnya:

    • Pendekatan dialektik: Terapi ini menggunakan pendekatan dialektik yang mengakui kompleksitas dan paradoks dalam kehidupan. Pendekatan ini memungkinkan klien untuk mengembangkan pemahaman yang lebih luas tentang diri mereka dan dunia sekitar.
    • Fokus pada regulasi emosi: Konseling terapi perilaku dialektik memiliki fokus yang kuat pada pengembangan keterampilan regulasi emosi. Terapi ini membantu individu mengatasi emosi yang kuat dan menghindari perilaku yang merusak.
    • Pemecahan konflik interpersonal: Terapi ini menekankan pentingnya keterampilan interpersonal yang sehat dan membangun hubungan yang positif dengan orang lain. Individu diajarkan cara mengatasi konflik secara konstruktif dan memperbaiki hubungan yang rusak.
    • Penggunaan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari: Konseling terapi perilaku dialektik melibatkan penggunaan keterampilan adaptif dalam kehidupan sehari-hari. Individu diajarkan cara mengimplementasikan keterampilan yang dipelajari dalam terapi ini dalam situasi nyata.

Langkah-langkah dalam Sesi Konseling Terapi Perilaku Dialektik

Sesi konseling terapi perilaku dialektik biasanya melibatkan serangkaian langkah-langkah yang terstruktur. Berikut adalah langkah-langkah umum dalam sesi konseling terapi perilaku dialektik:

    • Evaluasi awal: Terapis dan klien melakukan evaluasi awal untuk mengidentifikasi masalah utama dan menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam terapi.
    • Pembentukan hubungan terapeutik: Terapis dan klien membangun hubungan terapeutik yang kuat berdasarkan saling pengertian, kepercayaan, dan kolaborasi.
    • Identifikasi target terapi: Terapis dan klien bersama-sama mengidentifikasi target terapi yang spesifik dan relevan untuk dicapai dalam sesi konseling.
    • Pembelajaran keterampilan: Terapis mengajarkan keterampilan adaptif kepada klien melalui teknik-teknik seperti permainan peran, latihan pernapasan, atau penyelesaian masalah.
    • Penerapan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari: Individu diajarkan cara mengimplementasikan keterampilan yang dipelajari dalam terapi ini dalam situasi nyata. Mereka diberi kesempatan untuk berlatih keterampilan baru dalam kehidupan sehari-hari mereka.
    • Evaluasi dan umpan balik: Terapis dan klien melakukan evaluasi berkala untuk melihat kemajuan yang dicapai dan memberikan umpan balik yang konstruktif.
    • Perencanaan masa depan: Terapis dan klien bersama-sama merencanakan langkah-langkah selanjutnya dalam terapi dan menetapkan tujuan jangka panjang untuk pemulihan individu.

PENDEKATAN DALAM KONSELING

30 November 2023 08:37:48 Dibaca : 3130

By: Jumadi Mori Salam Tuasikal

Konseling melibatkan berbagai pendekatan yang dirancang untuk membantu individu dalam menjelajahi dan memahami masalah mereka, mengatasi kesulitan emosional atau perilaku, dan mencapai perubahan positif dalam hidup mereka. Berikut adalah beberapa pendekatan umum dalam konseling:

1. Pendekatan Kognitif:

Deskripsi: Pendekatan ini fokus pada pemahaman dan perubahan pola pikir atau kognisi klien. Terapis bekerja bersama klien untuk mengidentifikasi pemikiran negatif atau distorsi kognitif dan menggantinya dengan pemikiran yang lebih sehat dan realistis.

Tujuan: Mengubah pola pikir yang merugikan untuk meningkatkan kesejahteraan mental.

2. Pendekatan Behavioral:

Deskripsi: Pendekatan ini berfokus pada perilaku observable dan bagaimana perilaku tersebut dapat dimodifikasi atau ditingkatkan. Terapis bekerja dengan klien untuk mengidentifikasi perilaku yang tidak diinginkan dan mengembangkan strategi untuk menggantinya dengan perilaku yang lebih positif.

Tujuan: Mengubah perilaku yang merugikan atau tidak diinginkan.

3. Pendekatan Psikodinamik:

Deskripsi: Pendekatan ini berasal dari teori psikoanalisis dan menggali ke dalam alam bawah sadar untuk memahami konflik internal dan pengalaman masa lalu yang mungkin memengaruhi perilaku dan emosi saat ini.

Tujuan: Meningkatkan pemahaman diri dan mengatasi konflik psikologis yang mendasari.

4. Pendekatan Humanistik:

Deskripsi: Pendekatan ini menekankan pengembangan pribadi dan pertumbuhan individu. Terapis bekerja untuk menciptakan lingkungan yang mendukung eksplorasi diri dan pengembangan potensi penuh.

Tujuan: Mendorong pertumbuhan pribadi dan pengembangan potensi individu.

5. Pendekatan Eklektik:

Deskripsi: Pendekatan eklektik melibatkan penggunaan berbagai teknik dan strategi dari beberapa pendekatan konseling yang berbeda, tergantung pada kebutuhan klien dan masalah yang dihadapi.

Tujuan: Menyediakan pendekatan yang lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan klien.

6. Pendekatan Sistemik:

Deskripsi: Pendekatan ini melibatkan pemahaman bahwa individu berinteraksi dalam konteks sistem yang lebih besar, seperti keluarga, masyarakat, atau lingkungan kerja. Terapis bekerja untuk memahami hubungan dan pola interaksi dalam sistem ini.

Tujuan: Mengidentifikasi dan mengubah pola-pola disfungsional dalam sistem interpersonal.

7. Pendekatan Solusi-Fokus:

Deskripsi: Pendekatan ini memusatkan perhatian pada solusi daripada masalah. Terapis bekerja dengan klien untuk mengidentifikasi tujuan positif, kekuatan, dan sumber daya yang dapat digunakan untuk mencapai perubahan.

Tujuan: Mengembangkan solusi konstruktif untuk masalah dan mencapai perubahan yang diinginkan.

Penting untuk dicatat bahwa terapis sering menggunakan pendekatan yang berbeda-beda tergantung pada kebutuhan klien dan masalah spesifik yang dihadapi. Pendekatan-pendekatan ini juga dapat diintegrasikan untuk menciptakan pendekatan konseling yang lebih holistik.

 

TEKNIK RELAKSASI PROGRESIF

13 July 2023 12:51:21 Dibaca : 266

By: Jumadi Mori Salam Tuasikal

Duduk dengan posisi bersandar agar nyaman, tutuplah mata anda, coba berkosentrasi untuk menenangkan pikiran anda

1.    Relaksasi tangan

ü  Letakkan tangan dan lengan dipangkuan dan buka lebar ruas jari

ü  Rapatkan tangan dan lengan pada bagian badan sekeras mungkin dan tegakkan tangan kanan anda kemudian lemaskan

ü  Ulangi kegiatan tersebut sebanyak 3 kali dengan pola yang sama tegakkan dan lemaskan kembali

ü  Hal yang sama dilakukakan pada tangan kiri

2.    Relaksasi kaki

ü  Tekankan tumit kaki pada lantai sekeras mungkin dan buka lebar jari-jari kaki dan tegakanlah keatas kemudian lemaskan dengan rileks

ü  Lakukan kegiatan tersebut sebnyak 3 kali dan lakukan hal yang sama pada kaki kiri

3.    Relaksasi otot dahi

ü  Kerutkan dahi sambil menarik alis ke atas, tegangkan kemudian lemaskan dan rileks

ü  Ulangi kegiatan 3 kali dengan pola yang sama

4.    Relaksasi otot mata

ü  Pejamkan kedua kemudian arahkan kedua bola mata keatas sambil menegangkan otot-otot mata kemudian lemaskan

ü  Ulangi kegiatan sampai 3 kali dengan pola yang sama

5.    Relaksasi otot rahang

ü  Tekan gigi bagian atas dan bagian bawah kemudian dorong lidah ke langit-langit mulut dengan posisi bibir terkatup kuat kemudian lemaskan

ü  Ulangi kegiatan sampai 3 kali dengan pola yang sama

6.    Relaksasi otot dada

ü  Tarik nafas sedalam mungkin rasakan oksigen masuk ke dalam paru-paru anda, tahan sebentar dan hembuskan perlahan

ü  Ulangi kegiatan sampai 3 kali dengan pola yang sama

7.    Relaksasi otot leher

ü  Gerakan kepala anda ke belakang secara perlahan kemudian tundukkan kedepan secara perlahan rasakan otot leher anda meregang saat digerakan ke belakang dan melemas saat ditundukan di belakang

ü  Ulangi kegiatan sampai 3 kali dengan pola yang sama

8.    Penutup

ü  Tutuplah mata nada dan rasakan otot-otot anda lebih rileks

ü  Hitung sampai 3 dan rasakan secara bertahap tubuh anda

KONSELING RASIONAL EMOTIF

16 July 2022 14:20:08 Dibaca : 20479

By: Jumadi Mori Salam Tuasikal

A. Pengertian

Rasional emotif adalah teori yang berusaha memahami manusia sebagaimana adanya. Manusia adalah subjek yang sadar akan dirinya dan sadar akan objek-objek yang dihadapinya. Manusia adalah makhluk berbuat dan berkembang dan merupakan individu dalam satu kesatuan yang berarti manusia bebas, berpikir, bernafas, dan berkehendak. Yang dimaksud dengan konseling RET atau yang lebih dikenal dengan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah konseling yang menekankan dan interaksi berfikir dan akan sehat (rasional thingking), perasaan (emoting), dan berperilaku (acting). Bahwa teori ini menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam terhadap cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku.

B. Konsep Dasar

Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal, dan irasional. Perkembangan kepribadian manusia yaitu:

1. Manusia tercipta dengan: dorongan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memeuaskan diri dan kemampuan untuk self-destructive (SD), hedonis buta dan menolak aktualisasi diri.

2. Individu sangat di pengaruhi oleh orang lain (suggestible). Keadaan seperti ini terlebih-lebih lagi pada masa anak-anak.

C. Teori A, B, C, D, E

Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.

a) Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang

b) Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.

c) Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.

Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus me­lawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psi­kologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional. Sebagai contoh, “orang depresi merasa sedih dan ke­sepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan me­nyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri.

D. Asumsi Perilaku Bermasalah

Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah, di dalamnya merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional.

Adapun ciri-ciri berpikir irasional adalah:

a) Tidak dapat dibuktikan

b) Menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan, kekhawatiran, prasangka) yang sebenarnya tidak perlu

c) Menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif

Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional disebabkan oleh:

a) Individu tidak berpikir jelas tentang saat ini dan yang akan datang, antara kenyatan dan imajinasi

b) Individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain

c) Orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media.

Indikator sebab keyakinan irasional adalah:

a) Manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan.

b) Banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik, merusak, jahat, dan kejam sehingga mereka patut dicurigai, disalahkan, dan dihukum.

c) Kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka, bencana yang dahsyat, mengerikan, menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya.

d) Lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk menghadapi dan menanganinya.

e) Penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut.

f) Pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang.

g) Untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural.

h) Nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. Menurut Albert Ellis juga menambahkan bahwa secara biologis manusia memang “diprogram” untuk selalu menanggapi “pengondisian-pengondisian” semacam ini. Keyakinan-keyakinan irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut.

Ada beberapa jenis “pikiran­-pikiran yang keliru” yang biasanya diterapkan orang, di antaranya:

a) Mengabaikan hal-hal yang positif,

b) Terpaku pada yang negatif,

c) Terlalu cepat menggeneralisasi.

Secara ringkas, Ellis mengatakan bahwa ada tiga ke­yakinan irasional:

a) “Saya harus punya kemampuan sempurna, atau saya akan jadi orang yang tidak berguna”:

b) “Orang lain harus memahami dan mempertimbang­kan saya, atau mereka akan menderita”.

c) “Kenyataan harus memberi kebahagiaan pada saya, atau saya akan binasa”

E. Tujuan Konseling

Tujuan dari Konseling RET ini antara lain:

1. Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif.

2. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.

Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif :

1. Insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu.

2. Insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya.

3. Insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga, yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional.

Klien yang telah memiliki keyakinan rasional terjadi peningkatan dalam hal :

1) Minat kepada diri sendiri,

2) minat sosial,

3) pengarahan diri,

4) toleransi terhadap pihak lain,

5) fleksibel,

6) menerima ketidakpastian,

7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya,

8) penerimaan diri,

9) berani mengambil risiko,

10) Menerima kenyataan.

F. Teknik

1. Dalam menyelenggarakan konseling, konselor lebih bernuansa otorotatif dengan menggunakan teknik-teknik yang bersifat langsung, persuasive, sugestif, aktif, logis seperti pemberian nasehat, terapi kepustakaan,pelaksanaan prinsif-prinsip belajar, konfrontasi langsung, hal ini untuk mendorong klien beranjak dari pola piker tidak rasional ke rasional.

2. Tiga pola dasar: kognitif, emotif, behavioristik.

a. Konseling kognitif: memperlihatkan kepada kliuen bahwa ia haruslah meninggalkan sikapnya yang perfesionistik apabila ia ingin bahagia dan terlepas dari kecemasannya. Di sini konselor sepertinya melakukan proses mengajar. Perlengkapan yang perlu dipakai pemflet, buku, rekaman kaset/video,film.

b. Konseling emotif-avokatif: mengubah system nilai klien berbagai teknik digunakan untuk menyadarkan klien antara yang benar dan yang salah, seperti: memberikan contoh, bermain peranan; teknik unconditional acceptance dan humor,serta exhalation (pelepasan beban). Agar klien melepaskan pikirannya yang tidak rasional dan menganntinya dengan rasional.

c. Konseling behavioral: mengembangkan pola berpikir dan bertingkah laku yang baru segera setelah klien menyadari kesalahan-kesalahannya. Teknik yang dipakai bersifat eklektik , dengan pertimbangan

1) Ekonomis dari segi waktu untuk klien dan konselor

2) Kesegeraan hasil yang dicapai

3) Efektifitas teknik yang dipakai untuk bermacam ragam klien

4) Kedalaman dan ketahanan (berlangsung lama) dari hasil yang dicapai.

 

DAFTAR PUSTAKA:

Corey, Gerald. 2010. Teori Dan Praktek Konseling & Psikoterapi. 2010. Refika Aditama.

Hansen, James C. Richard R. Stevic, dan Richard W. Warner, Jr. 1982. Counseling: Theory and Process. Boston; allyn and Bacon. Inc.

Prayitno. 1998. Konseling Panca Waskita, PSBK. FIP IKIP Padang.

Pujosuwartno, Sayekti. 1997. Berbagai Pendekatan Dalam Konseling. Yogyakarta : Menara mas Offset.

Taufik. 2014. Model-Model Pendidikan. Padang: FIP UNP