PANDANGAN TEKNIK PENA (PEMBERDAYAAN EMOSIONAL DENGAN NARASI DAN ANALOGI) TERHADAP PERILAKU SALAH SUAI
By. Jumadi Mori Salam Tuasikal
Dalam teknik PENA (Pemberdayaan Emosional dengan Narasi dan Analogi), perilaku salah suai dipahami dan tidak dilihat sebagai gangguan tetap atau sesuatu yang melekat pada individu, tetapi lebih sebagai hasil dari narasi atau cerita tertentu yang dibentuk dalam kehidupan individu tersebut sebagai bagian dari narasi hidup yang bisa berubah. Konseling naratif membantu individu untuk mengeksplorasi dan mendekonstruksi narasi dominan yang mengarah pada perilaku salah suai, serta membangun cerita baru yang lebih memberdayakan dan membawa perubahan. Dengan demikian, teknik PENA mengedepankan pendekatan yang lebih manusiawi dan penuh empati, dengan mempercayai bahwa setiap individu memiliki kekuatan untuk menulis ulang cerita hidupnya. Berikut adalah pandangan teknik PENA terhadap perilaku salah suai:
1. Perilaku Salah suai Sebagai Narasi yang Tersisa
Dalam kerangka teknik PENA, perilaku salah suai bukanlah suatu kondisi tetap atau karakteristik yang melekat pada individu. Sebaliknya, perilaku ini dilihat sebagai sebuah narasi hidup tertentu, baik pengalaman masa lalu, ketidakmampuan yang terbentuk dari pengalaman-pengalaman hidup tertentu, baik pengalaman masa lalu, ketidakmampuan dalam menghadapi situasi tertentu, atau perasaan dan pemikiran yang tidak diselesaikan. Perilaku tersebut sering kali muncul sebagai akibat dari narasi negatif yang mendominasi pandangan seseorang terhadap dirinya dan dunia di sekitarnya.
2. Externalisasi Masalah
Salah satu konsep utama dalam teknik PENA adalah externalisasi, yaitu pemisahan antara individu dan masalah yang mereka hadapi. Perilaku salah suai, dalam pandangan ini, tidak dianggap sebagai bagian dari diri seseorang. Sebagai contoh, seseorang yang menunjukkan perilaku depresi atau kecemasan bukanlah "orang yang depresi" atau "orang yang cemas", melainkan "seseorang yang hidup dalam cerita depresi" atau "seseorang yang terperangkap dalam cerita kecemasan". Teknik ini mengurangi stigma dan memungkinkan individu untuk melihat dirinya lebih objektif, sebagai pengarah hidup yang mampu menulis ulang cerita tersebut.
3. Perilaku Salah suai Sebagai Produk Narasi Dominan
Perilaku salah suai sering kali muncul sebagai bagian dari narasi dominan yang telah terbentuk dalam hidup seseorang. Misalnya, seseorang yang mengalami kegagalan berulang dalam hidupnya mungkin mulai menginternalisasi narasi kegagalan sebagai bagian dari identitasnya. Narasi ini kemudian dapat memengaruhi cara mereka berperilaku, berpikir, dan merasakan. Dalam teknik PENA, konselor membantu individu untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi narasi dominan ini, serta menggali narasi alternatif yang lebih memberdayakan dan membuka ruang untuk perubahan.
4. Perilaku Salah suai sebagai Tanggapan terhadap Kekuatan Sosial dan Budaya
Teknik PENA juga menyoroti bagaimana perilaku salah suai bisa terjadi akibat tekanan sosial dan budaya yang membentuk narasi individu. Dalam masyarakat, terdapat ekspektasi dan skrip-skrip sosial yang sering kali membatasi ekspresi diri dan kebebasan individu. Misalnya, tekanan untuk menjadi "sempurna" dalam pekerjaan atau hubungan bisa menghasilkan narasi ketidakmampuan atau kecemasan. Dalam konseling, konselor membantu individu untuk menyadari bahwa perilaku salah suai sering kali merupakan respons terhadap struktur sosial dan budaya yang membatasi ekspresi atau kebebasan individu.
5. Dekonstruksi Narasi Negatif
Salah satu tujuan dalam teknik PENA adalah dekonstruksi narasi negatif yang dapat mempengaruhi perilaku salah suai. Individu sering kali tidak menyadari bahwa mereka hidup dalam narasi yang merugikan dan menahan potensi mereka. Misalnya, seseorang yang merasa selalu gagal dalam hubungan mungkin telah menginternalisasi narasi bahwa "saya tidak layak dicintai" atau "hubungan saya pasti gagal". Melalui teknik PENA, individu diberi kesempatan untuk mengeksplorasi dan mendekonstruksi narasi ini untuk mencari alternatif yang lebih memberdayakan.
6. Pemaknaan Ulang Pengalaman
Dalam pandangan teknik PENA, pengalaman negatif yang menghasilkan perilaku salah suai, seperti trauma, kegagalan, atau konflik, tidak dipandang sebagai sesuatu yang permanen. Individu dapat diberi ruang untuk memaknai ulang pengalaman-pengalaman tersebut dan melihatnya dari sudut pandang yang lebih produktif. Sebagai contoh, seseorang yang merasa gagal setelah kehilangan pekerjaan dapat memaknai ulang pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk menemukan karir baru atau untuk belajar hal-hal baru tentang dirinya.
7. Fokus pada Kekuatan dan Potensi
Teknik PENA tidak terfokus hanya pada masalah atau perilaku salah suai, tetapi lebih kepada kekuatan dan potensi yang dimiliki individu. Dalam banyak kasus, perilaku salah suai muncul karena seseorang merasa tidak mampu mengakses kekuatan dalam dirinya. Melalui konseling naratif, individu didorong untuk melihat kembali cerita-cerita tentang kekuatan dan keberhasilan mereka yang mungkin tersembunyi dalam narasi dominan yang negatif.
8. Menghormati Cerita Personal
Dalam teknik PENA, penting untuk menghormati setiap cerita yang dibawa oleh individu. Meskipun perilaku salah suai sering kali terkait dengan trauma atau pengalaman negatif, setiap individu memiliki hak untuk bercerita tentang pengalaman mereka. Konselor berperan sebagai pendengar aktif yang membantu individu menelusuri dan menggali cerita-cerita ini untuk mencari makna dan pelajaran yang dapat membawa mereka pada pemulihan dan perubahan perilaku.
9. Pembentukan Narasi yang Lebih Positif dan Produktif
Setelah narasi dominan dan masalah yang terkait dengan perilaku salah suai ditemukan dan didekonstruksi, konselor dan klien bekerja bersama untuk membentuk narasi baru yang lebih positif dan produktif. Perubahan ini bukan hanya tentang perilaku yang berbeda, tetapi tentang cara pandang baru terhadap diri, orang lain, dan dunia di sekitar mereka. Dengan membangun cerita yang lebih positif, individu dapat merubah perilaku salah suai menjadi peluang untuk pertumbuhan dan perkembangan pribadi.
10. Perilaku Salah suai sebagai Manifestasi dari Identitas yang Terkunci
Kadang-kadang, perilaku salah suai dapat dipahami sebagai manifestasi dari identitas yang terkunci dalam narasi tertentu. Misalnya, seseorang yang merasa selalu gagal dalam kehidupan pribadi atau profesional mungkin telah membangun identitas diri sebagai "orang yang tidak sukses". Konseling naratif bertujuan untuk membuka kunci identitas ini dan membiarkan individu merangkai kembali cerita hidup mereka dengan cara yang lebih fleksibel dan memungkinkan bagi perubahan.
STRUKTUR KEPRIBADIAN MANUSIA MENURUT TEKNIK PENA (PEMBERDAYAAN EMOSIONAL DENGAN NARASI DAN ANALOGI)
By. Jumadi Mori Salam Tuasikal
Teknik PENA memandang kepribadian manusia sebagai konstruksi naratif yang dinamis. Kepribadian terbentuk dari cerita-cerita yang terus-menerus dikisahkan, diulang, dan dimaknai dalam kehidupan seseorang. Struktur kepribadian menurut teknik PENA lebih berbentuk seperti jaringan cerita yang hidup dan saling terhubung, dengan berbagai tingkat pengaruh, dominasi, dan peluang untuk berubah. Konseling naratif tidak berusaha “memperbaiki” struktur itu, tetapi membuka ruang narasi baru, agar seseorang dapat mengembangkan identitas yang lebih utuh dan membebaskan. Meskipun tidak mengadopsi struktur kepribadian secara kaku, teknik PENA mengenali beberapa komponen naratif utama yang membentuk struktur kepribadian individu:
1. Diri sebagai Narator (Narrating Self)
Komponen utama dalam struktur kepribadian menurut teknik PENA adalah diri sebagai narator. Manusia dipandang sebagai pengisah (storyteller) dari kehidupannya sendiri. Diri ini bersifat aktif, reflektif, dan memiliki kemampuan untuk menafsirkan pengalaman serta menyusunnya dalam bentuk cerita. Diri sebagai narator menentukan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan dunianya.
2. Narasi Dominan (Dominant Story)
Narasi dominan adalah cerita utama yang mendominasi pandangan seseorang tentang diri dan hidupnya. Cerita ini sering kali terbentuk dari pengalaman masa lalu, pengaruh sosial, nilai budaya, dan keyakinan internal. Narasi dominan bisa bersifat positif (memberdayakan) atau negatif (menindas). Dalam teknik PENA, narasi dominan yang negatif menjadi fokus untuk dideteksi dan didialogkan.
3. Narasi Alternatif (Alternative Story / Unique Outcomes)
Komponen ini merupakan kisah-kisah lain dalam hidup individu yang sering kali terabaikan, meski memiliki potensi untuk memperkaya identitas. Narasi alternatif mencakup momen-momen keberhasilan, kekuatan, harapan, dan resiliensi. Konseling naratif bertujuan membantu klien menggali dan mengembangkan narasi alternatif ini untuk membangun identitas yang lebih sehat dan bermakna.
4. Pengaruh Sosial dan Budaya (Cultural & Social Scripts)
Kepribadian individu tidak terbentuk di ruang kosong, melainkan dalam konteks budaya dan sosial tertentu. Teknik PENA menyadari bahwa banyak aspek kepribadian seseorang dibentuk oleh skrip sosial, yakni harapan, norma, dan nilai yang dibangun oleh lingkungan keluarga, agama, pendidikan, media, dan masyarakat luas. Kepribadian manusia, dalam hal ini, terbaca sebagai respons terhadap skrip-skrip tersebut.
5. Relasi Kuasa dalam Cerita (Power Relations in Narrative)
Struktur kepribadian juga mencerminkan hubungan kuasa dalam kehidupan sehari-hari. Teknik PENA membantu klien menyadari bahwa beberapa cerita yang membentuk dirinya mungkin berasal dari suara-suara otoritatif (guru, orang tua, institusi, budaya patriarki, dll.) yang mengatur siapa dia seharusnya. Kesadaran ini penting untuk membongkar narasi yang menindas dan menggantinya dengan narasi yang lebih otonom.
6. Bahasa dan Simbol (Language & Meaning-Making)
Bahasa adalah medium utama pembentuk narasi dan dengan demikian berperan penting dalam struktur kepribadian menurut teknik PENA. Cara seseorang menyebut dirinya, peristiwa masa lalu, dan harapan masa depan mencerminkan struktur identitasnya. Bahasa tidak netral, dan teknik PENA memperhatikan kata-kata yang dipilih klien sebagai pintu masuk untuk eksplorasi lebih dalam tentang kepribadiannya.
7. Identitas Naratif (Narrative Identity)
Identitas dalam teknik PENA bukanlah sifat tetap, melainkan sebuah konstruksi naratif yang bersifat cair dan bisa berkembang. Identitas naratif adalah rangkaian cerita yang diceritakan seseorang tentang dirinya sendiri, yang mencerminkan nilai, keyakinan, dan harapan hidup. Konseling naratif berupaya membantu individu memperbarui identitas ini agar lebih sejajar dengan potensi sejatinya.
TEKNIK PENA (PEMBERDAYAAN EMOSIONAL DENGAN NARASI DAN ANALOGI) DALAM MEMANDANG MANUSIA
By. Jumadi Mori Salam Tuasikal
Manusia dalam pandangan teknik PENA dipahami sebagai makhluk yang hidup dalam cerita. Kehidupan manusia dibentuk, dipengaruhi, dan diarahkan oleh narasi yang mereka bangun sejak dini melalui pengalaman, interaksi sosial, budaya, serta pemaknaan diri. Dalam setiap pengalaman, manusia tidak hanya bertindak, tetapi juga menafsirkan dan menarasikan apa yang dialami. Cerita-cerita ini menjadi dasar bagaimana individu memahami siapa dirinya dan bagaimana berinteraksi dengan dunia. Teknik PENA menekankan bahwa setiap manusia memiliki suara yang layak didengar. Suara ini adalah bentuk ekspresi dari identitas dan pengalaman yang unik. Oleh karena itu, konseling naratif percaya bahwa setiap individu berhak dan mampu menjadi pengarang atas hidupnya sendiri. Individu bukan sekadar pemeran dalam cerita yang ditentukan oleh orang lain, melainkan penulis aktif yang memiliki kuasa untuk menyunting, menata ulang, bahkan menulis ulang narasi hidupnya.
Dari sudut pandang ini, masalah yang dihadapi seseorang tidak dilihat sebagai bagian yang melekat pada identitasnya, melainkan sebagai narasi eksternal yang mungkin telah mendominasi ceritanya. Teknik PENA memisahkan antara "orang" dan "masalah" (externalization), sehingga manusia tidak dilabeli oleh masalah yang dialami. Seorang anak yang pendiam, misalnya, bukanlah "anak bermasalah", tetapi mungkin sedang hidup dalam cerita tentang ketakutan sosial yang belum selesai. Manusia juga dipahami sebagai makhluk yang mampu memaknai ulang pengalaman. Dalam kerangka teknik PENA, masa lalu tidak bersifat final. Artinya, cara seseorang memandang masa lalunya bisa berubah ketika dirinya diberi ruang untuk melihatnya dari sudut yang berbeda. Proses konseling naratif membantu seseorang menemukan sudut pandang alternatif terhadap cerita hidupnya yang mungkin telah lama dibekukan oleh trauma, stigma, atau narasi dominan yang menyesatkan.
Sebagai makhluk sosial, manusia juga sangat dipengaruhi oleh konteks budaya dan bahasa yang digunakan. Teknik PENA menyadari bahwa banyak cerita personal yang terbentuk dari pengaruh struktur sosial seperti keluarga, pendidikan, media, dan nilai-nilai budaya tertentu. Dalam konseling naratif, konselor bertugas membantu klien menyadari bahwa cerita yang klien alami tidak lahir dari ruang hampa, melainkan terbentuk dalam relasi kuasa dan struktur sosial tertentu. Oleh karena itu, teknik PENA mengajarkan bahwa perubahan bukan hanya soal perbaikan perilaku, tetapi juga proses pembebasan dari narasi yang menindas. Ketika seseorang mampu melihat bahwa cerita negatif yang diyakininya bukanlah satu-satunya kebenaran, maka saat itulah proses pemulihan bisa dimulai. Inilah yang disebut sebagai proses dekonstruksi, yaitu membongkar cerita lama agar bisa ditulis ulang dengan versi yang lebih memberdayakan.
Manusia dalam teknik PENA juga dipahami sebagai pribadi yang kaya akan kekuatan dan nilai. Sering kali, cerita dominan tentang kelemahan dan kegagalan membuat seseorang lupa bahwa dirinya memiliki momen-momen ketahanan, keberhasilan, dan kebajikan dalam hidupnya. Teknik ini menolong individu menggali dan menarasikan kembali kisah-kisah alternatif (unique outcomes) yang tersembunyi di balik cerita dominan. Cerita alternatif ini menjadi pijakan untuk membangun identitas yang lebih sehat. Dalam konseling, konselor dan klien bekerja sama menenun ulang narasi kehidupan yang lebih positif, realistis, dan membangun. Proses ini bukan manipulasi, tetapi sebuah penemuan akan kebenaran hidup yang selama ini terpinggirkan oleh cerita-cerita penuh luka, ketakutan, dan rasa bersalah.
Teknik PENA memandang manusia sebagai mitra sejajar dalam proses konseling. Konselor tidak berperan sebagai ahli yang memberikan jawaban, melainkan sebagai pendamping yang penuh empati dan rasa ingin tahu terhadap cerita hidup klien. Kekuatan teknik ini terletak pada dialog yang terbuka, reflektif, dan menghormati pengalaman hidup klien sebagai sumber utama perubahan. Karena setiap manusia unik, maka tidak ada satu cara bercerita yang dianggap benar. Teknik PENA menghormati keragaman ekspresi, termasuk cara klien menyampaikan perasaan, nilai, dan keyakinannya. Proses konseling tidak memaksakan klien pada kerangka berpikir tertentu, melainkan membantu mereka menyusun narasi yang otentik, sesuai dengan pengalaman dan jati diri mereka sendiri.
Teknik PENA juga mengakui bahwa cerita manusia terus berkembang. Hidup bukanlah kisah yang sudah selesai ditulis, melainkan sebuah draf panjang yang terbuka untuk direvisi. Dalam proses ini, manusia memiliki peluang tanpa batas untuk tumbuh, menyembuhkan, dan menemukan makna baru dalam setiap fase kehidupannya. Melalui teknik ini, manusia dibantu untuk merangkai masa depan yang lebih bermakna. Cerita tentang harapan, impian, dan tujuan bukan sekadar lamunan, tetapi bagian penting dari proses penyembuhan. Narasi tentang masa depan menjadi energi penggerak untuk perubahan dan tindakan konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan begitu, manusia dalam teknik PENA bukan dilihat sebagai makhluk yang rusak dan harus diperbaiki, melainkan sebagai narator yang sesekali tersesat dalam ceritanya sendiri. Konselor hadir untuk menemani klien menemukan kembali jalan pulang ke cerita yang lebih utuh, penuh makna, dan mencerminkan nilai-nilai hidup yang sejati. Proses ini bukan sekadar terapi, tetapi juga sebuah karya seni, yaitu seni mendengarkan, seni mengurai, dan seni menulis ulang. Teknik PENA mempercayai bahwa ketika seseorang merasa didengar dan ceritanya dihargai, maka luka-luka bisa disembuhkan dan potensi diri bisa mekar kembali. Oleh karena itu, penggunaan teknik konseling PENA adalah bentuk penghormatan terdalam terhadap kemanusiaan.
Dengan dasar pandangan ini, teknik PENA memandang manusia sebagai entitas yang dinamis, kreatif, dan penuh harapan. Tidak ada cerita yang terlalu gelap untuk diterangi, tidak ada narasi yang terlalu rusak untuk diperbaiki. Setiap manusia memiliki potensi untuk menulis ulang hidupnya, dan teknik PENA hadir sebagai pena yang membantu klien menulis kisah yang lebih bermakna.
PENGALAMAN KONSELING MENGGUNAKAN TEKNIK PENA (PEMBERDAYAAN EMOSIONAL DENGAN NARASI DAN ANALOGI)
By. Jumadi Mori Salam Tuasikal
Di suatu sore yang tenang di Laboratorium Bimbingan dan Konseling kampus, saya membuka sesi praktik konseling yang memang disediakan untuk mahasiswa. Ruangan itu sederhana, namun cukup nyaman, dengan nuansa hangat dan tenang yang sengaja saya ciptakan agar mahasiswa merasa aman dan diterima. Pintu terbuka pelan, dan masuklah seorang mahasiswi yang memperkenalkan diri dengan nama samaran Mawar. Ia duduk pelan, mengatur napas, lalu menatap saya dengan mata yang menyimpan banyak cerita. Mawar adalah mahasiswi semester awal yang mulai merasa terbebani dengan tekanan kuliah dan ekspektasi dari keluarga. Ia menyampaikan bahwa akhir-akhir ini ia mudah lelah, kehilangan motivasi, dan bahkan sering menangis tanpa sebab yang jelas. Wajahnya menggambarkan kelelahan emosional yang tidak mudah ia ungkapkan dengan kata-kata. Saya tahu, saat itu saya tidak bisa langsung bertanya terlalu dalam, saya harus mendekatinya dengan hangat dan pelan.
Saya memutuskan untuk menggunakan Teknik PENA (Pemberdayaan Emosional dengan Narasi dan Analogi) sebuah metode yang membantu konseli mengeksplorasi perasaannya melalui cerita dan kisah yang menyentuh. Saya mulai dengan menyampaikan sebuah cerita tentang seekor burung kecil yang kehilangan arah saat terbang di tengah badai, namun akhirnya menemukan cahaya dan kembali pulang. Saya katakan padanya bahwa terkadang, kita adalah burung kecil itu. Mawar tersenyum tipis. Cerita itu membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Ia mulai menceritakan bagaimana ia merasa seperti berjalan sendiri di tengah gelap, tanpa tahu harus menuju ke mana. Ia merasa tekanan tugas, kompetisi antar teman, dan rasa takut mengecewakan orang tuanya membuatnya kehilangan arah dan semangat.
Saya mendengarkan dengan penuh perhatian. Tidak banyak bertanya, hanya menunjukkan bahwa saya ada dan hadir bersamanya. Lalu saya melanjutkan dengan analogi lainnya. Saya menceritakan tentang sebuah benih pohon yang butuh waktu lama untuk tumbuh, terkadang bahkan tampak tidak berkembang selama bertahun-tahun. Namun saat waktunya tiba, ia menjulang kuat dan memberikan keteduhan. Mawar mengangguk pelan. Ia mulai memahami bahwa dirinya pun sedang dalam proses. Bahwa tidak semua pertumbuhan bisa dilihat secara langsung. Ia kemudian mulai membuka lebih dalam tentang masa kecilnya, tentang harapan-harapan orang tua yang ia rasakan seperti beban, bukan semangat.
Di sesi selanjutnya, saya mengajak Mawar untuk menulis cerita pendek tentang dirinya, namun dalam sudut pandang seorang sahabat. Ini bagian dari Teknik PENA yang mendorong konseli melihat dirinya dari lensa yang lebih lembut. Saat ia membaca ceritanya sendiri, matanya berkaca-kaca. Ia tak menyangka bahwa dirinya, dalam tulisan itu, tampak begitu tangguh meskipun sering merasa rapuh. Melalui proses ini, Mawar mulai bisa menamai perasaannya. Ia belajar bahwa rasa lelah dan kecewa itu valid, dan bahwa ia tidak harus selalu tampil kuat. Saya pun membagikan kisah tentang seorang pelukis buta yang tetap bisa menghasilkan karya indah karena ia merasakan dunia melalui emosi, bukan visual. Ini menjadi titik balik bagi Mawar, bahwa ia juga bisa terus berkarya dan bertumbuh meskipun belum semua jalannya terlihat jelas.
Sesi demi sesi, Mawar menjadi lebih terbuka dan jujur tentang dirinya. Ia mulai mengubah caranya memandang kegagalan, bukan lagi sebagai akhir, tapi sebagai bagian dari proses. Ia menceritakan bagaimana ia mulai menulis jurnal harian, mencoba berbicara dengan diri sendiri lewat tulisan, dan memberi ruang untuk menangis jika perlu. Kami menutup sesi terakhir dengan refleksi bersama. Mawar mengatakan bahwa Teknik PENA membuatnya merasa seperti sedang membaca buku hidupnya sendiri, dengan bab-bab yang ternyata tidak sesuram yang ia kira. Ia menyadari bahwa di balik tekanan, ada pembelajaran. Di balik air mata, ada kekuatan.
Saya merasa bersyukur telah menggunakan pendekatan ini. Teknik PENA bukan hanya membantunya merasa lebih baik, tetapi juga memberinya alat untuk memahami dirinya dengan cara yang sederhana namun menyentuh. Sebagai dosen, saya belajar bahwa konseling bukan sekadar tentang memberi solusi, melainkan menghadirkan ruang aman bagi mahasiswa untuk kembali menemukan dirinya sendiri.
BERKENALAN DENGAN TEKNIK PENA (PEMBERDAYAAN EMOSIONAL DENGAN NARASI DAN ANALOGI): EKSPLORASI TEKNIK DALAM KONSELING
By. Jumadi Mori Salam Tuasikal
Dalam dunia konseling yang sarat akan keintiman, empati, dan kejujuran, seorang konselor dituntut untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga menghadirkan pendekatan yang menyentuh hati. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk membuka ruang kesadaran emosional klien adalah PENA (Pemberdayaan Emosional dengan Narasi dan Analogi). Pendekatan ini menempatkan kekuatan cerita sebagai alat untuk menyentuh batin dan mengaktifkan refleksi diri klien secara mendalam. PENA berakar dari pemahaman bahwa manusia adalah makhluk yang hidup dengan cerita. Mereka menyusun makna hidup melalui pengalaman, memori, dan simbol yang dibentuk dalam narasi. Ketika konselor menggunakan cerita pendek, kisah inspirasional, atau analogi yang relevan, mereka sedang membangun jembatan emosional yang menghubungkan dunia klien dengan kemungkinan-kemungkinan pemahaman baru tentang dirinya.
Dalam praktiknya, PENA mengawali proses dengan mendengarkan narasi dari klien itu sendiri. Klien diajak untuk menceritakan kisah hidupnya, peristiwa yang menggugah emosi, atau pengalaman yang menurutnya memiliki dampak besar dalam hidup. Konselor kemudian mencermati pola, makna tersembunyi, dan emosi-emosi yang muncul dari cerita tersebut. Ini menjadi fondasi awal dalam menentukan arah intervensi yang lebih personal. Setelah cerita klien dipahami, konselor dapat menyelipkan analogi atau cerita pendek yang memiliki kemiripan dengan kondisi klien. Analoginya tidak perlu rumit, bisa sesederhana kisah tentang pohon yang tetap tumbuh meski diterpa angin, atau perahu kecil yang berhasil menepi meskipun terombang-ambing ombak. Cerita ini akan membantu klien melihat dirinya dalam sudut pandang baru tanpa merasa dihakimi atau diberi nasihat secara langsung.
Pendekatan ini sangat efektif terutama ketika klien kesulitan mengungkapkan perasaannya secara langsung. Dengan menyajikan narasi yang sepadan, konselor memberikan ruang refleksi yang aman. Klien bisa menangis, tertawa, atau merasa lega karena merasa “terwakili” oleh cerita tersebut. Emosi yang selama ini tertahan pun mulai mengalir secara alami. PENA juga menumbuhkan rasa koneksi dan empati yang kuat antara konselor dan klien. Ketika konselor menyampaikan analogi dengan penuh ketulusan dan penghayatan, klien tidak hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami. Hubungan ini memperkuat rapport dan membuat sesi konseling menjadi lebih bermakna.
Dalam prosesnya, konselor tidak hanya menyampaikan cerita begitu saja, tetapi juga mengaitkan pesan moral dan maknanya dengan situasi klien. Misalnya, setelah menceritakan tentang ulat yang berubah menjadi kupu-kupu, konselor dapat bertanya, “Menurutmu, di mana posisi kamu dalam kisah itu sekarang?” Pertanyaan ini membantu klien mengaitkan pengalaman emosional dengan pertumbuhan dirinya. PENA bukan hanya alat bantu naratif, melainkan jembatan menuju kesadaran dan perubahan. Klien yang semula merasa putus asa dapat menemukan kembali harapan. Mereka mulai melihat bahwa setiap cerita punya masa sulit, tapi juga punya kemungkinan untuk berubah arah. Harapan ini penting dalam proses healing dan perencanaan masa depan.
Pendekatan ini juga fleksibel digunakan dalam berbagai setting konseling, baik individu, kelompok, maupun klasikal. Dalam konseling kelompok, misalnya, konselor dapat menggunakan cerita pendek inspiratif sebagai bahan refleksi bersama. Sementara dalam konseling klasikal, analogi dapat disisipkan dalam materi pengembangan diri yang kontekstual. PENA juga sejalan dengan prinsip dasar konseling yang tidak memaksakan solusi, tetapi memfasilitasi pemahaman. Cerita tidak bersifat memaksa, tetapi membuka ruang berpikir dan merasa. Ini menjadikan PENA sebagai pendekatan yang lembut namun dalam, penuh makna, dan sangat manusiawi.
Kelebihan lain dari PENA adalah kemampuannya untuk melintasi budaya. Cerita dan analogi dapat disesuaikan dengan latar belakang budaya klien, sehingga terasa lebih dekat dan membumi. Kisah lokal, legenda, atau bahkan cerita pribadi konselor yang relevan bisa menjadi media yang kuat untuk membangun ikatan emosional. PENA juga mengajarkan bahwa dalam konseling, kata-kata bisa menjadi obat. Ketika dirangkai dengan empati dan dikemas dalam bentuk cerita, kata-kata mampu menyentuh sisi terdalam manusia. Di sanalah penyembuhan dimulai, bukan hanya di pikiran, tetapi di hati.
Sebagai pendekatan, PENA mengingatkan kita bahwa tugas konselor bukan menyelesaikan masalah klien secara langsung, melainkan membantu klien menemukan makna dan kekuatan dalam kisah hidupnya. Dengan menggenggam pena itu, klien diberdayakan untuk menulis ulang narasi hidupnya, dengan akhir yang lebih penuh harapan dan keutuhan. Dengan demikian, PENA tidak hanya menjadi metode, tetapi menjadi filosofi dalam berpraktik konseling. Ia membawa pesan bahwa setiap orang punya cerita, dan di dalam cerita itu tersimpan potensi untuk bertumbuh. Konselor hanya perlu hadir, mendengarkan, dan menyelipkan seuntai narasi yang dapat menyalakan cahaya dalam jiwa klien.
Kategori
- ADAT
- ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
- BERITA.MOLAMETO.ID
- BK ARTISTIK
- BK MULTIKULTURAL
- BOOK CHAPTER
- BUDAYA
- CERITA FIKSI
- CINTA
- DEFENISI KONSELOR
- DOSEN BK UNG
- HIPNOKONSELING
- HKI/PATEN
- HMJ BK
- JURNAL PUBLIKASI
- KAMPUS
- KARAKTER
- KARYA
- KATA BANG JUM
- KEGIATAN MAHASISWA
- KENAKALAN REMAJA
- KETERAMPILAN KONSELING
- KOMUNIKASI KONSELING
- KONSELING LINTAS BUDAYA
- KONSELING PERGURUAN TINGGI
- KONSELOR SEBAYA
- KULIAH
- LABORATORIUM
- MAHASISWA
- OPINI
- ORIENTASI PERKULIAHAN
- OUTBOUND
- PENDEKATAN KONSELING
- PENGEMBANGAN DIRI
- PRAKTIKUM KULIAH
- PROSIDING
- PUISI
- PUSPENDIR
- REPOST BERITA ONLINE
- RINGKASAN BUKU
- SEKOLAH
- SISWA
- TEORI DAN TEKNIK KONSELING
- WAWASAN BUDAYA
Arsip
- November 2025 (1)
- October 2025 (5)
- August 2025 (3)
- April 2025 (11)
- March 2025 (1)
- January 2025 (11)
- December 2024 (18)
- October 2024 (2)
- September 2024 (15)
- August 2024 (5)
- July 2024 (28)
- June 2024 (28)
- May 2024 (8)
- April 2024 (2)
- March 2024 (2)
- February 2024 (15)
- December 2023 (12)
- November 2023 (37)
- July 2023 (6)
- June 2023 (14)
- January 2023 (4)
- September 2022 (2)
- August 2022 (4)
- July 2022 (4)
- February 2022 (3)
- December 2021 (1)
- November 2021 (1)
- October 2021 (1)
- June 2021 (1)
- February 2021 (1)
- October 2020 (4)
- September 2020 (4)
- March 2020 (7)
- January 2020 (4)
Blogroll
- AKUN ACADEMIA EDU JUMADI
- AKUN GARUDA JUMADI
- AKUN ONESEARCH JUMADI
- AKUN ORCID JUMADI
- AKUN PABLON JUMADI
- AKUN PDDIKTI JUMADI
- AKUN RESEARCH GATE JUMADI
- AKUN SCHOLER JUMADI
- AKUN SCOPUS JUMADI
- AKUN SINTA DIKTI JUMADI
- AKUN YOUTUBE JUMADI
- BERITA BEASISWA KEMDIKBUD
- BERITA KEMDIKBUD
- BLOG DOSEN JUMADI
- BLOG MATERI KONSELING JUMADI
- BLOG SAJAK JUMADI
- BOOK LIBRARY GENESIS - KUMPULAN REFERENSI
- BOOK PDF DRIVE - KUMPULAN BUKU
- FIP UNG BUDAYA KERJA CHAMPION
- FIP UNG WEBSITE
- FIP YOUTUBE PEDAGOGIKA TV
- JURNAL EBSCO HOST
- JURNAL JGCJ BK UNG
- JURNAL OJS FIP UNG
- KBBI
- LABORATORIUM
- LEMBAGA LLDIKTI WILAYAH 6
- LEMBAGA PDDikti BK UNG
- LEMBAGA PENELITIAN UNG
- LEMBAGA PENGABDIAN UNG
- LEMBAGA PERPUSTAKAAN NASIONAL
- LEMBAGA PUSAT LAYANAN TES (PLTI)
- ORGANISASI PROFESI ABKIN
- ORGANISASI PROFESI PGRI
- UNG KODE ETIK PNS - PERATURAN REKTOR
- UNG PERPUSTAKAAN
- UNG PLANET
- UNG SAHABAT
- UNG SIAT
- UNG SISTER
- WEBSITE BK UNG