KATEGORI : BERITA KAMPUS

 

Oleh; Jumadi Mori Salam Tuasikal

MENEMUKAN JATI DIRI MAHASISWA

Dunia kampus memiliki suasana akademik yang sangat kompleks sehingga membedakannya dengan kondisi maupun suasana akademik yang ada di sekolah. Situasi seperti ini yang kemudian akan menjadi stimulus kepada para pelajar yang baru memasuki perguruan tinggi untuk berusaha memahami dunia baru yang akan dimasukinya, minimal harus memahami jati dirinya sebagai mahasiswa nanti.Strategi sederhana yang dapat dilakukan untuk memahami jati diri mahasiswa dapat dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan sederhana  secara jujur dan terbuka oleh dirinya sendiri.

  1. Pertanyaan (1) Siapakah diri saya ini? Misalkan jawabannya adalah saya adalah anak yatim piatu, atau jawabannya adalah saya seorang anak buruh bangunan yang hidup pas-pasan. Jawaban-jawaban yang diungkapkan tentunya akan begitu beragam sesuai dengan kenyataan setiap individu. Setelah menjawab pertanyaan tersebut berusahalah untuk merenungkan tujuan yang hendaknya anda capai dan lakukan selama kuliah, karena melalui tujuan itulah kesuksesan, kebahagian, kehormatan dan kebaggaan orangtua dapat anda wujudkan. Jika tidak maka renungkannlah yang  sebaliknya yaitu ketika tidak berhasil apa yang akan terjadi? Olehnya melalui jawaban dan renungan andalah yang akan menutun untuk menemukanjati diri sebenarnya.
  2. Pertanyaan (2) dari mana saya berasal? Dari pedesaan atau perkotaan, miskin atau kaya itu tidak terlalu berpengaruh, karena yang dibutuhkan disitu adalah jawaban yang anda ungkapkan bisa meningkatkan jiwa optimisme dan memotivasi diri untuk suskses. Pertanyaan ini ingin bermaksud menyampaikan kepada anda bahwa siapapun dan darimanapun anda, semuanya memiliki peluang yang sama untuk suskses selama kuliah. Walaupun si kaya jika hanya berleha-leha dan berhura-hura saja maka tidak menjamin sedangkan si miskin dengan ketekunannya bisa saja lebih sukses.
  3. Pertanyaan (3) apa yang bisa saya lakukan? Pertanyaan ini jelas akan menggiring anda untuk mengetahui potensi apa yang anda miliki, dengan maksud bisa mendatangkan keuntungan dan manfaat bagi anda dan orang lain. Jika anda masih binggung, mulailah dengan melakukan hal-hal sederhana yang dapat mengurangi beban orang tua selama anda kuliah. Pengorbanan orangtua yang begitu besar jika direnungkan secara bijak oleh anda akan melahirkan  tanggungjawab dan semangat untuk berprestasi, dan tidak akan membiarkan waktu tanpa manfaat yang jelas.
  4. Pertanyaan (4) akan kembali kemana saya? Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar, karena pada akhirnya pengabdian anda ketika lulus dari kampus adalah kembali ke pangkuan masyarakat. Akan tetapi cara pengabdian dan bagaimana anda mengabdi itulah yang harus ditemukan dan diarahkan sesuai dengan tuntunan dari jawaban yang anda berikan.

Setelah pertanyaan-pertanyaan pokok tersebut terjawab, tentunya akan mengarahkan anda untuk berbuat yang terbaik selama anda menjadi mahasiswa dan kuliah. Anda akan berbuat sesuatu dengan tujuan dan manfaat yang jelas dan berarti bagi kehidupan, mengetahui jati diri dan potensi yang berbeda dengan orang lain, anda memiliki karakter, minat dan hobi tersendiri. Anda adalah apa yang anda pikirkan, jika anda berpikir anda kuliah sukses maka kesuksesan anda akan berbuah kenyataan. Sebaliknya jika anda berpikir kuliah itu menjadi beban, sulit, banyak tugas, menjenuhkan, maka itulah masa depan anda. Oleh karena itu, jika anda ingin mengetahui masa depan anda sekarang, jawabannya adalah apa yang anda lakukan sekarang bagi masa depan anda.

 

MEMBANGUN KARAKTER AKADEMISI MAHASISWA

Mahasiswa berkarakter adalah mahasiswa yang memahami tugas dan fungsinya sebagai mahasiswa. Mahasiswa tersebut ditandai dengan upaya yang sungguh-sungguh dalam dirinya untuk senatiasa meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikapnya (WPKNS) dengan berbagai aktifitas yang dijalani baik melalui kegiatan perkuliahan, aktif dalam berorganisasi ekstra atau intra kampus untuk mengembangkan potensi dirinya melalui pengelolaan waktu yang adil yaitu pandai menempatkan sesuai dengan kebutuhan dengan memperhatikan, situasi, kondisi, toleransi, pantauan dan jangkauan yang ada pada dirinya dan lingkungannya. Mahasiswa berkrakter ini lebih dewasa dalam menyikapi persoalan yang datang menghampirinya. Jika menghadapi masalah dirinya tenang, optimis, penuh percaya diri, tidak menyalahkan orang lain, memecahkan masalah dengan arif dan bijaksana, memiliki kemampuan mengendalikan dirinya, memahami kelemahan dan kelebihan dirinya dan orang lain, pandai menempatkan diri dengan siapa yang dihadapinya, mampu berkomunikasi dengan efektif dengan semua orang karena memiliki kecerdasan sosioemosional.

Mahasiswa berkarakter biasanya adalah seorang yang taat menjalankan ibadah kepada Tuhannya, memiliki kecerdasan spritual dalam melakukan kegiatan kesehariannya dan selalu mendasari aktifitasnya dengan niat beribadah kepada-Nya. Silaturahmi yang dibangunnya melalui kegiatan di tempat-tempat ibadah, organisasi kampus maupun ektra kampus untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Mampu mengetahui mana yang boleh (halal) dan mana yang dilarang (haram) dan berkeyakinan bahwa kesuksesan hidup di dunia dan akhirat adalah karena ijin dan ridhonya Tuhan yang Maha Esa semata, yang di anugerahkan melalui ikhtiar-ikhtiar manusia.

Mahasiswa berkarakter memiliki kemampuan untuk menyelesaikan studi dengan memadukan prinsif  “Kuliah Selesai Tepat Waktu dan di Waktu yang Tepat”. Maksudnya adalah kadang kala kita melihat mahasiswa yang lulus tepat waktu namun setelah diperhadapkan dengan kondisi kerja di masyarakat banyak yang tidak mampu melewati tantangan tersebut dikarenakan hanya sekedar lulus tetapi miskin akan WPKNS, dan juga ada yang lulus terlalu lama, banyak menghabiskan waktu, energi, uang, ataupun orang tua sudah terlanjur meninggal sehingga tidak sempat melihat kesuksesan anaknya, namun memiliki WPKNS yang baik. Hal tersebut memperlihatkan bahwa pentingnya perpaduan untuk menutupi kelemahan-kelemahan dari kedua konsep tersebut.

Perlu juga kita sadari bersama bahwa kuliah bukanlah untuk menghasilkan lulusan yang bisa bekerja, karena banyak penelitian menunjukan bahwa tanpa kuliah banyak orang yang mampu bekerja. Namun esensi perkuliahan adalah mendewasakan mental mahasiswa sehingga mampu menjalani kehidupannya secara baik dan benar dimanapun dengan kondisi apapun, hal inilah yang akan menuntun setiap orang mendapatkan pekerjaan yang layak, dan bermanfaat untuk dunia dan akhirat.

Mahasiswa yang berkualitas menjadi salah satu kata kunci untuk membangun bangsa Indonesia ke depan. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa Mahasiswa yang berkualitas IMTAQ dan IPTEK serta cinta tanah air inilah merupakan kekuatan untuk memenangkan kompetensi dalam iklim persaingan global ini. Oleh karenanya sebagai mahasiswa seharusnya memiliki pandangan jauh ke depan untuk membangun bangsa ini lebih maju, berperadaban, cerdas, berkeadilan, sejahtera, sehat lahir dan batin. Untuk mewujudkan semua itu, mahasiswa hendaknya bertekad untuk menjadi pemimpin masa depan memiliki keilmuan, keimanan, integritas, dan kredibilitas dalam meningkatkan kedewasaan dalam berpikir, merasa, bersikap, bertindak dan bertanggung jawab (BMB3).

            Untuk itu mahasiswa perlu memperkuat karakter kemahasiswa annya. Karakter kuat ini dapat diketahui dari ciri-ciri sebagai berikut:

    1. Kreatif dan mampu memecahkan masalah dengan tepat,
    2. Pembelajar yang rajin, kritis, disiplin, berpengetahuan luas dan berwawasan global,
    3. Mampu berkomunikasi dengan baik,
    4. Siap mengambil resiko apapun,
    5. Bekerja keras dan cerdas,
    6. Mempunyai integritas yang tinggi,
    7. Toleran, mencintai sesama, fleksibel dalam berinteraksi.

Menjadi mahasiswa pemimpin masa depan dapat membekali diri dengan;

    1. Kemampuan kepemimpinan; setiap diri mahasiswa harus tertanam sifat-sifat kepemimpinan. Dengan mempersiapkan diri menjadi pemimpin, maka anda akan mampu memimpin dengan amanah bagi yang dipimpin.
    2. Kemampuan Keilmuan, wawasan dan pandangan jauh ke masa depan; rajin membaca, berdiskusi dan mengkaji ilmu pengetahuan melalui berbagai literatur, dan membuat tulisan-tulisan guna menuangkan ide-ide dan gagasan serta berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan karya tulis ilmiah.
    3. Sikap peka dan peduli terhadap sesama; kemampuan untuk menempatkan diri di dalam masyarakat menjadi amat penting untuk dilatih.
    4. Kemampuan Pengendalian diri; mahasiswa memiliki potensi akal dan hati untuk mampu mengendalikan diri.
    5. Kemampuan komunikasi yang efektif; untuk memotivasi dan mempengaruhi orang lain untuk mengikuti dan menjalankan perintah.
    6. Memiliki kemandirian; perlu dibangun dengan kesadaran diri, kemampuan diri dan percaya diri, untuk melakukan sesuatu dengan tepat, karena ketergantungan kepada orang lain hanya akan membuat anda sulit untuk maju.
    7. Menjaga kesehatan fisik agar tidak mudah sakit
    8. Memiliki sifat kreatif, inovatif, mampu memotivasi berbagai kegiatan berbangsa dan bernegara.

 

CERDAS EMOSIONAL MELALUI ORGANISASI

Organisasi adalah alat untuk membangun kekuatan dalam mencapai suatu tujuan, sarana untuk membangun kebersamaan dan mencapai cita-cita luhur suatu pengabdian kepada sesama manusia, memberikan jalan untuk menapaki berbagai pengalaman yang berarti menuju kedewasaan. menjadi wahana yang luas untuk melatih kemampuan diri, keterampilan, dan sikap yang bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan serta organisasi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari proses dinamika dunia kampus.

Melalui organisasi, mahasiswa akan menemukan jati dirinya. Lebih dari itu, orang-orang yang aktif dalam organisasi akan memperoleh manfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat bahkan bangsanya. Di organisasi penyaluran minat, bakat, kemampuan dan keahliannya dapat tersalurkan secara menyeluruh karena organisasi adalah media untuk aktualisasi diri seorang mahasiswa.

        Aktualisasi diri mahasiswa dalam sebuah organisasi merupakan suatu keniscayaan, sebab memiliki beberapa alasan yaitu;

    1. Memiliki visi dan misi yang ingin diwujudkan bersama,
    2. Organisasi memiliki tujuan yang jelas dalam menjalankan aktivitasnya
    3. Organisasi memiliki anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) yang menjadi acuan anggotanya,
    4. Organisasi memiliki program kerja untuk dilakukan bersama,
    5. Organisasi mengatur pembagian wewenang dan tugas setiap anggotanya,
    6. Organisasi mewadahi dan menampung berbagai aspirasi, ide, kebutuhan, dan keinginan setiap anggotanya.

Kajian yang dilakukan oleh para akademisi menunjukan bahwa, mahasiswa yang aktif dalam suatu organisasi akan berbeda dengan mahasiswa yang hanya mengikuti perkuliahan semata. Berdasarkan kondisi tersebut perbedaan tersebut dapat dilihat sebagai berikut;

    1. Pengembangan intelektual bagi seorang aktivis organisasi lebih luas karena senantiasa untuk berfikir logis, rasional, jernih dan argumentatif.
    2. Sebagai aktivis dalam organisasi akan menambah pengalaman dalam bidang keorganisasian, kepemimpinan, kemasyarakatan, pendidikan politik, dan kemandirian.
    3. Memiliki kemampuan untuk menggerakan, mempengaruhi, dan mendorong dirinya dan orang lain untuk melakukan sesuatu dengan bersama.
    4. Memiliki kemampuan beradaptasi pada lingkungan baru.
    5. Memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan hidup secara terarah.
    6. Memiliki kesiapan diri untuk melanjutkan kepemimpinan pada masa depan.

Penjelasan tersebut adalah bentuk ideal dari mahasiswa yang secara baik mengikuti kegiatan organisasi, dan bentuk sebaliknya dari gambaran di atas jika mahasiswa hanya mengikuti perkuliahan semata. Namun perlu dipahami bahwa seorang mahasiswa harus mampu memadukan kedua sisi tersebut secara harmoni antara berorganisasi dengan kegiatan perkuliahan.Jangan terjebak dengan cerita masa lalu tentang nostalgia senior dalam berorganisasi yang begitu lama di kampus, ingat bahwa setiap zaman memiliki pola-pola dan sistem tersendiri yang perlu dihadapi oleh  setiap mahasiswa secara realistis apalagi tuntutan setiap masa berbeda dan tujuan setiap orang itu orientasinya pun berbeda karena kondisi kampus selalu menyesuaikan dengan keadaan lingkungan, entah itu demografi, ekonomi, politik, budaya, dan juga alam sekitar. Untuk itu pastikan bahwa kecenderungan diri anda untuk menjadi mahasiswa berkarakter ideal seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Mahasiswa yang memiliki kerangka berfikir bahwa seorang aktivis adalah mahasiswa yang sukses dalam studi begitupun organisasi perlu ditanamkan agar istilah aktivis menjadi sebuah kata yang bisa diteladani oleh mahasiswa adik kelasnya kelak. Sehingga tidak ada kesan bahwa mahasiswa yang aktif dalam organisasi akan ketinggalan dalam studinya, lebih-lebih sampai Drof Out. Tetunya paradigm itu harus dihapuskan dengan bukti bahwa seorang aktivis adalah mereka yang berprestasi.

        Beberapa manfaat berorganisasi yang memiliki dampak terhadap perkembangan kecerdasan emosional seorang mahasiwa adalah sebagai berikut:

    1. Media bersosialisasi: dengan berorganisasi masing-masing dilatih bagaimana membentuk kehidupan sosial yang baik untuk semua pihak.
    2. Melatih softskill; yang dimaksud disini tidak hanya dapat menyampaikan ide-ide secara verbal di depan banyak orang. Tapi juga bagaimana dapat melakukan negosiasi dengan baik, bagimana menjadi motivator yang baik bagi orang lain, dan bagaimana meyakinkan orang lain untuk mendukung ide kita. Latihan softskill ini jarang sekali kita dapatkan dari pendidikan formal. Kalaupun ada sifatnya sangat terbatas dan hanya teori,  tapi dengan beraktifitas di organisasi softskill ini lansung dilatih dan dalam bentuk praktek.
    3. Melatih kemampuan untuk mendengar dan menghargai orang lain; dengan menjadi pendengar yang baik dan dapat menghargai orang lain inilah menjadi penentu keberasilan seseorang sebagai seorang pemimpin, baik pemimpin di tingkat keluarga, pemimpin sebuah perusahaan/ instansi, mupun pemimpin di tingkat yang lebih tinggi. Menjadi seorang pendengar yang baik, kita dapat menangkap apa yang menjadi keinginan orang lain atau anggota dari sebuah organisasi yang dipimpin. Juga dengan kemampuan mendengar yang baik, kita dapat memahami maksud/ ide dari orang lain yang bisa saja sangat dibutuhkan demi kemajuan diri kita sendiri maupun organisasi yang kita pimpin.
    4. Belajar menghargai orang dengan berbagai tipe; sudah pasti bahwa manusia  yang satu berbeda secara pola pikir dengan manusia yang lain. Bagaimana bisa menghadapi tipe-tipe orang yang berbeda dan bagaimana bisa merangkul orang-orang yang berbeda tipe ini agar mau mendukung ide dan tujuan kita, merupakan hal yang bisa di dapat hanya melalui berorganisasi.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka melalui kegiatan berorganisasi dapat disimpulkan bahwa sikap-sikap yang tumbuh sebagai bentuk kecerdasan emosional yaitu;

      1.  mengendalikan diri,
      2. kepekaan terhadap situasi sosial dan lingkungan,
      3. kesadaran diri
      4. empati terhadap orang lain,
      5. cinta sesame,
      6. optimis dalam menghadapi persoalan,
      7. tidak mudah mengeluh,
      8. membangun kepercayaan diri,
      9. memahami kemampuan orang lain,
      10. dapat bekerjasama, dan
      11. pandai menghargai orang lain.

 

DIANTARA KUNCI SUKSES KULIAH

Memasuki sebuah rumah yang tergembok tentunya kita membutuhkan kunci, demikian halnya untuk bisa mencapai kesuksesan dalam kuliah juga memerlukan kunci tersebut dan kunci sukses kuliah yang dapat anda terapkan didalam kehidupan berkampus antara lain sebagai berikut:

1)    Motivasi berprestasi

Motivasi berprestasi adalah kekuatan internal yang ada pada diri seseorang untuk meraih sesuatu prestasi yang tinggi. Kekuatan motivasi berprestasi ini diawali oleh suatu niat yang kuat untuk melakukan sesuatu (belajar) dengan sungguh-sungguh. Niat anda memiliki daya dorong yang luar biasa untuk memperoleh suatu prestasi belajar. Oleh karena belajar adalah suatu amal baik, maka anda harus meluruskan niat anda agar dibimbing oleh Tuhan menuju kepada kesuksesan. Niat yang kuat akan menghantarkan seseorang pada tujuan yang dicita-citakanya. Sebaliknya kalau motivasi berprestasi tidak tumbuh dalam diri anda, maka akan bagaimana mungkin akan memperoleh kesuksesan sebagai mana yang di harapkan? Dorongan yang kuat untuk menjadi mahasiswa berprestasi yang di dukung oleh niat yang lurus akan mewujudkan tujuan anda. Keterampilan menetapkan tujuan, sasaran dan target amat penting dalam meraih cita-cita anda. Dan jangan dilupakan bahwa motivasi terhebat seorang anak adalah orang tua maka tetaplah menjaga hubungan tersebut.

2)    Sabar

Dalam menampuh studi tidak jarang kita diperhadapkan dengan sejumlah rintangan. Masalah kerap kali muncul seiring dengan perjalan kuliah. Bagi yang tidak siap  dan sala menyikapi masalah yang ada maka masalah itu akan semakin besar. Oleh karenanya sebagai orang yang beriman hendanya dalam mengatasi masalah adalah dengan kesabaran. Sabar bukan berarti diam dalam menghadapi kondisi atau suatu kenyataan atau bukan berarti menerima apa adanya ataupun pasrah tanpa usaha namun sabar dalam arti ingin berubah. Sabar dalam arti berupaya untuk meraih suatu tujuan dengan penuh keyakinan.

3)    Manajemen diri

Mahasiswa yang cerdas adalah mahasiswa yang mampu memenej diri dalam setiap aktifitasnya. Cerdas secara intelektual, cerdas secara emosional dan juga cerdas secara spiritual tentunya dicapai melalui kemampuan mengelola diri. Manajemen diri berkaitan erat dengan kemampuan diri mengelola waktu. Secara efektif dan efisien. Ada berbagai kesempatan dan peluang untuk mengoptimalkan waktu anda dalam keseharian yaitu; waktu untuk belajar, waktu untuk membaca, waktu untuk menulis, waktu untuk beribadah, waktu berorganisasi, waktu untuk kuliah, waktu untuk berolahraga, waktu untuk santai, bersilaturahmi dab lain-lain.

4)    Menghormati dan memahami karakteristik dosen

Jangan habiskan waktu anda dengan mencaci dosen, tapi belajarlah untuk memahami karakteristik dosen. karakter dosen yang satu dengan yang lainnya sedah pasti berbeda karena dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan berbeda, cara pandang berbeda, sifat berbeda, minat dan hobi berbeda berbeda pula dalam menghadapi mahasiswa. Sebab jika anda tidak bisa memahami karakter dosen, apalagi salah memahaminya sehingga anda tidak cerdas dalam menempatkan diri sebagai mahasiswa di hadapan dosen, mungkin dapat merugikan posisi anda. Perlu juga anda pahami bahwa  tidak setiap dosen itu sama seperti yang anda harapkan jadi sesuaikanlah.

5)    Menjalin komunikasi dengan teman

Dalam aktivitas anda, tentunya tidak bisa dilepaskan dari kontribusi teman anda. Anda harus mampu menghormati dan menghargai sesama teman. Memulai beradaptasi, bekerja sama, menjalin kebersamaan, sehingga bisa tercipta pertemanan yang sejati. Dan mendapatkan teman sepeti itu anda bisa melakukan aktivitas-aktivitas organisasi intara ataupun ekstra.

6)    Berdoa dan bersyukur

Keberhasilan seseorang tidak lepas dari izin dan ridho Tuhan. Oleh karenannya berkomunikasi dengan Tuhan melalui doa dan rasa syukurnya merupakan bagian yang tidak boleh dilupakan oleh seorang terpelajar. Seseorang mahasiswa yang membiasakan dirinya hidup dengan doa dan syukur akan menghantarkan dirinya semakin percaya diri, tidak pantang menyerah, tidak sombong, dan memiliki suatu keyakinan untuk menghantarkan dirinya pada kesuksesan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badu, S.Q., Amin, B. 2012. Civitas Acadeica. Jakarta: Pustaka Indonesia Press.

Efendi, S. 2016. My Enemy Is Me. Yogyakarta. Penerbit WR.

Nurdin, D. 2009. Mahasiswa Pemimpin Masa Depan. Bandung: Ilmu Cahaya Hati.

Uno, H.B., Kuadrat, M. 2010. Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Seymour, R.I. 2002. Maximize Your Potential. USA: Pelican Publishing Company, Inc.

 

 

BUDAYA MALU YANG MENGHAMBAT PERKEMBANGAN MAHASISWA

30 January 2020 14:49:07 Dibaca : 465

Jumadi Mori Salam Tuasikal, S.Pd., M.Pd

       Sejatinya sifat malu merupakan suatu hal penting yang harus dimiliki oleh manusia sebagai pertanda bahwa perasaannya masih berada pada kondisi normal dalam merespon setiap stimulus yang datang untuk dipertimbangkan secara emosional sehingga mampu menggambarkan kondisi kejiwaan seseorang. Hal tersebut bermaksud bahwa setiap perilaku manusia dalam bertindak dan mengambil keputusan akan dipertimbangkan secara manusiawi melalui hati nuraninya sebagai bentuk ekspresi dari rasa malu.

    Malu bisa diibaratkan seperti pisau bermata dua. hal ini dikarenakan malu dapat dipandang suatu perilaku yang positif namun di satu sisi dapat berdampak negatif. Kondisi ini yang kemudian menjadi suatu dilema dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Fenomena ini dapat kita lihat pada kasus-kasus tertentu misalkan ketika seseorang berbuat kesalahan, sudah sewajarnya dia merasa malu atas sikapnya itu dan mulai meminta maaf. Hal ini menggambarkan sifat malu berdampak positif yang dapat menyadarkan perilaku tidak baik yang telah di perbuat. Pada kasus lain yaitu ketika seseorang ingin mengungkapkan ide dan gagasannya kepada orang lain dia merasa malu, karena dia meyakini bahwa apa yang hendak disampaikan mungkin saja tidak akan diterima atau malah ditertawakan. Hal ini merupakan salah satu kasus yang berdampak negative terhadap tugas perkembangan seseorang.

     Berdasarkan gambaran di atas kita dapat mengambil suatu benang merah bahwa rasa malu merupakan hal yang penting, namun kiranya perlu melihat situasi dan kondisi yang tepat untuk mengekspresikan rasa malu tersebut, dalam istilah yang saya gunakan  adalah memperhatikan "SIKONTOL PANJANG" (Situasi, Kondisi, Toleransi, Pantauan dan Jangkauan). Banyak orang yang tidak sadar di dalam kehidupan sehari-harinya mengalami hambatan dalam mengekspresikan perasaan sebenarnya karena belum mampu mengelola dan menempatkan serta memahami karakteristik pribadinya di dalam memposisikan rasa malu tersebut. Di Indonesia sendiri budaya malu seakan-akan menjadi identitas diri masyarakatnya. Sayangnya, kondisi tersebut tidak berbanding lurus dengan cara berpikir dalam menanggapi masalah yang dihadapi karena kadang-kadang rasa malu yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari malah berdampak memalukan. Sebut saja fakta yang sering kita temui orang desa yang sering merasa malu dengan orang kota, orang miskin yang merasa malu dengan orang kaya dan sebaliknya dikarenakan berbagai alasan yang diyakini. Keberadaan budaya malu akan terus menyertai perilaku manusia dalam setiap aktifitasnya sebagai sebuah keniscayaan bahwa manusia adalah mahluk yang berperasaan. Apakah itu dalam lingkungan keluarga, masyarakat, tempat kerja, dan di mana saja. Tanpa sadar sifat malu mampu mengarahkan seseorang untuk memahami rasa tanggungjawab di setiap kondisi yang di hadapi ataupun bisa saja lari dari tanggungjawab yang diemban dalam setiap situasi kehidupan.

      Di antara sekian banyak aktifitas yang dilalui oleh manusia ada hal menarik yang bisa kita tinjau di dalam kehidupan kampus yang dihuni oleh masyarakat intelektual, dalam artian bagaimana mahasiswa memposisikan dirinya dalam membudayakan rasa malu yang ada pada diri dan lingkungannya. Kita ketahui bersama bahwa mahasiswa ditempatkan pada jenjang pendidikan paling tinggi di antara status pendidikan lainnya, itu artinya bahwa lingkungan kampus diharapkan mampu menstimulus mahasiswa dalam memahami arti sebenarnya dari rasa malu. Fenomena kekinian yang terjadi dunia kampus menggambarkan bahwa mahasiswa seakan-akan berada dalam posisi terjebak pada dampak negatif dari rasa malu. Kenapa demikian, karena banyak potensi yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa tidak diekspresikan sebagaimana layaknya. Kondisi ini jelas menggambarkan bahwa dari sekian banyak factor tidak bisa dipungkiri bahwa rasa malu mengambil peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa. Sebut saja banyak aktifitas-aktifitas kemahasiswaan mulai dari dalam kampus hingga keluar kampus membutuhkan kemampuan mental untuk mengaktualisasikan potensinya secara optimal.

     Berbagai kasus yang dialami oleh mahasiswa dalam mengaktualisasikan diri banyak dihambat oleh sikap kurang percaya diri, ragu-ragu, mudah menyerah, cepat putus asa, gugup, demam panggung dan, takut ditertawakan orang. Sikap-sikap tersebut kadang muncul ketika mahasiswa diperhadapkan dengan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Hal tersebut tak lepas dari bagaimana mahasiswa memadang dan memberikan persepsi-persepsi subjektif terhadap dirinya yang menggambarkan perasaan malu terhadap kehidupan bersosial disekelilingnya. Mungkin benar, bahwa rasa malu tidak sepenuhnya memberikan sumbangsih negatif terhadap perilaku mahasiswa. Namun juga perlu diingat bahwa kita tidak bisa memungkiri kebiasaan malu yang sudah membudaya bisa jadi susah untuk dikendalikan karena sudah mengakar dan menjadi karakter turun-temurun.

     Secara psikologis jika luapan emosi yang menjadi kebiasaan seseorang dan dilakukan terus-menerus akan menjadi otomatis tersimpan di dalam alam bawah sadar dan akan mengarahkan setiap perilaku untuk dilakukan tanpa disadari. Itu artinya jika rasa malu yang sudah tertanam di alam bawah sadar setiap mahasiswa, maka tanpa sadar mereka akan digiring untuk bersifat malu pada setiap aktifitas tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu secara rasional situasi dan kondisi yang paling tepat untuk bersikap malu. Banyak contoh yang mampu membuktikan kasus-kasus tersebut, diantaranya ada mahasiswa yang tidak mau untuk berbicara di depan banyak orang dikarenakan kebiasaannya ketika hendak berbicara di dalam keluarga tidak diizinkan oleh orang yang lebih tua dengan alasan budaya malu, dilain pihak diremehkan hingga ditertawakan, dicaci dan itu akan memberikan pengalaman kecemasan atau bisa jadi pada tingkat trauma sehingga mampu menghambat perkembangan mahasiswa dalam meningkatkan kualitasnya. Selain itu, disatu pihak dengan adanya rasa malu menuntut mahasiswa supaya engan membicarakan masalah-masalah orang lain, namun dilain pihak akan mematikan daya kritis dan kontrol social mahasiswa terhadap realita yang terjadi, belum lagi malu untuk menolak ajakan teman untuk melakukan hal-hal negative misalnya merokok, narkoba, minum alcohol dan hal-hal lainnya dan akhirnya memberi dampak terhadap terhambatnya perkembangan mahasiswa.

     Senada dengan itu, kasus seperti membicarakan masalah seksual, kebiasaan pamali, mistik dan hal-hal lainnya masih dianggap tabu untuk dibicarakan. Kesemuanya masih kategorikan sebagai hal yang masuk dalam larangan yang masih berkaitan dengan budaya malu di masyarakat kita, padahal kita tahu bahwa sebagai mahasiswa sudah seharusnya hal-hal tersebut sudah bisa dikaji dan eksplorasi secara ilmiah dan bertanggungjawab. Sudah seharusnya mahasiswa membentengi pikirannya dengan bersikap kritis terhadap realita yang dihadapi sehingga perasaan emosional yang dimilikinya dapat dikontrol. Maksud control di sini adalah mahasiswa harus menempatkan atau memposisikan rasa malu sebagai suatu rasa yang objektik melalui sudut pandang yang lebih menguntungkan, terlebih lagi untuk membantu perkembangan kualitasnya.

      Mahasiswa harus bisa mendobrak beberapa perilaku yang timbul dari budaya rasa malu yang terkesan tradisional dan dan kadang memberi dampak memalukan. Kondisi tersebut seharusnya bisa disesuaikan dengan perkembangan jaman dengan realita masalah yang semakin kompleks dan kemajuan perkembangan yang setiap saat selalu beranjak maju. Kedepannya dunia membutuhkan mahasiswa yang mampu berkreasi dan berinovasi dalam menghasilakan dan menciptakan hal-hal kreatif yang berdaya saing untuk mampu menjawab tantangan dunia kerja. Oleh karenannya jika mahasiswa masih tengelam dengan budaya malu yang menghambat perkembangan cara berpikir kritis maka bisa dipastikan tidak ada tempat untuk mereka di dunia kerja. Dalam rangka menjembatani mahasiswa untuk memilih dan memilah perilaku budaya malu yang cocok, harus dimulai dari cara berpikir, merasa, bersikap, bertindak dan bertanggungjawab dengan tepat. Dari itulah, melalui tulisan ini mari sebagai mahasiswa bagun karakter positif dimulai dengan mengikuti kegiatan-kegiatan tambahan di kampus misalkan, diskusi public, kajian rutin, budayakan literasi atau mengikuti organisasi-organisasi kemahasiswaan selain mengikuti kegiatan rutin akademik di ruang kuliah.

    Semua itu di maksudkan untuk membuka cakrawala berpikir mahasiswa agar tidak terpenjara pada pemahaman sempit. Melalui kegiatan-kegiatan ekstra tersebut mahasiswa akan terlibat dengan banyak data, transaksi informasi, bersosialisasi, dan membangun banyak jaringan antar teman atupun lintas antar kampus, mulai dari dalam hingga luar negeri, sehingganya mental diri mahasiswa tidak mudah terjerumus untuk perilaku budaya malu yang berunjung memalukan karena mampu memandang dunia ini secara objektif, realistis dan universal. Mengubah suatu budaya tidaklah muda, namun bukan berarti tidak bisa. Semua hal jelas memerlukan proses, jika budaya sebelumnya turun melalui pengajaran dan system didikan dari generasi sebelumnya, maka untuk merubahnya cukup dibiasakan dengan pola yang sama namun dengan maksud yang berbeda yakni mengubah cara pandang terhadap bagaimana memahami makna ataupun arti sebenarnya dari budaya malu. Kita semua yakin dan percaya bahwa atmosfir kampus selalu memberi ruang bagi budaya apa saja yang bisa diberdayakan untuk tujuan pengembangan potensi mahasiswa. 

      Oleh karenanya dengan melihat seluruh gambaran yang ada, mari sama-sama kita semua mengambil bagian untuk tidak mengembangkan budaya malu yang memberi efek penghambat bagi tumbuh kembangnya mahasiswa, mulai dari Rektor universitas sebagai pimpinan tertinggi lembaga dengan segala kebijakannya, disusul dengan para dosen dengan semua perangkat pembelajarannya, dan semua mahasiswa yang tak boleh henti-hentinya membaca dan belajar dari pengalaman dan berbagai literasi agar bisa mendapatkan hikmah guna perbaikan diri agar bisa menjadi mahasiswa yang handal, dan mampu menciptakan karya-karya bermanfaat, serta dapat mengabdikan diri untuk kepentingan dan tujuan bersama, berbangsa dan bernegara.