POSISI NASEHAT SEBAGAI TEKNIK DALAM PROSES KONSELING
By. Jumadi Mori Salam Tuasikal
Dalam praktik konseling, memberikan nasehat bukanlah sebuah tindakan spontan yang muncul dari niat baik semata, melainkan sebuah langkah yang harus ditempatkan secara hati-hati dan penuh pertimbangan. Nasehat dalam konseling bukan sekadar ucapan bijak atau arahan sepihak, melainkan bagian dari proses terapeutik yang berorientasi pada pertumbuhan klien. Ia bukan satu-satunya tujuan, melainkan bisa menjadi salah satu alat bantu dalam mengarahkan klien menuju kesadaran dan perubahan yang bermakna. Konselor profesional menyadari bahwa memberikan nasehat terlalu dini dapat merusak esensi utama konseling, yaitu membantu klien menemukan solusi dari dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu, nasehat baru muncul setelah konselor melalui tahap-tahap penting, seperti membangun hubungan yang empatik, mengeksplorasi masalah secara mendalam, serta memahami konteks dan nilai-nilai pribadi klien. Ini berarti bahwa nasehat adalah buah dari proses, bukan awal dari intervensi.
Dalam pendekatan yang menghargai otonomi klien, konselor menghindari pendekatan direktif seperti mengatakan “kamu harus melakukan ini” atau “sebaiknya kamu tinggalkan itu.” Sebaliknya, konselor memfasilitasi klien dengan pertanyaan reflektif dan dialog terbuka yang mengajak klien berpikir secara kritis dan mandiri. Hal ini membuat klien merasa diberdayakan, bukan diarahkan secara paksa. Jika pun klien meminta nasehat secara eksplisit, konselor tetap perlu mempertimbangkan waktu dan kesiapan emosional klien. Nasehat yang diberikan harus berdasarkan data yang telah dikumpulkan melalui asesmen dan pemahaman mendalam terhadap pengalaman serta harapan klien. Nasehat yang tidak berbasis pemahaman dapat menjadi bumerang, membuat klien merasa tidak dipahami atau bahkan semakin bingung.
Salah satu bentuk implementasi nasehat dalam konseling yang efektif adalah melalui psychoeducation atau pendidikan psikologis. Dalam sesi konseling, konselor dapat menyisipkan informasi ilmiah atau pengetahuan praktis yang relevan dengan permasalahan klien, seperti cara mengelola stres, teknik relaksasi, atau cara berkomunikasi asertif. Dalam hal ini, nasehat hadir sebagai informasi yang mencerahkan, bukan perintah. Selain itu, konselor juga bisa menggunakan cerita pendek, analogi, atau kisah inspiratif untuk menyampaikan pesan tertentu kepada klien. Metode ini membuat klien bisa merenung dan mengambil makna dari kisah tersebut tanpa merasa digurui. Dengan cara ini, nasehat hadir dalam bentuk yang halus dan menyentuh, sehingga lebih mudah diterima oleh klien.
Nasehat juga dapat diimplementasikan melalui modeling dan role play, di mana konselor memberikan contoh perilaku atau mengajak klien untuk mencoba skenario tertentu. Dalam proses ini, klien diberi kesempatan untuk mempraktikkan solusi yang mungkin belum pernah mereka coba sebelumnya. Di sini, nasehat tidak hanya bersifat verbal, tapi juga aplikatif. Namun, konselor juga harus selalu mengingat bahwa nasehat yang diberikan harus bebas dari nilai pribadi atau bias moral konselor. Konseling bukanlah ruang untuk memaksakan keyakinan pribadi kepada klien, melainkan tempat untuk membantu klien memahami dirinya sendiri dan membuat keputusan berdasarkan nilai-nilai yang ia yakini.
Dalam setiap bentuk nasehat yang muncul, prinsip-prinsip etika konseling harus tetap menjadi fondasi. Nasehat tidak boleh melemahkan kemandirian klien, melainkan justru harus menjadi alat yang memperkuat daya pikir dan rasa percaya diri klien. Nasehat yang baik adalah nasehat yang membuat klien merasa dihargai, didukung, dan tetap memegang kendali atas hidupnya. Nasehat dalam konseling juga tidak bersifat mutlak atau final. Ia adalah tawaran alternatif yang terbuka untuk ditolak, diterima, atau dimodifikasi oleh klien. Inilah yang membedakan nasehat dalam konseling dari nasehat pada umumnya, karena ia tidak menuntut kepatuhan, melainkan mengajak pada pertimbangan.
Dalam konteks tertentu, seperti konseling krisis atau situasi darurat, konselor bisa saja memberikan arahan yang lebih tegas. Namun, ini pun tetap berada dalam kerangka etis dan bertujuan melindungi keselamatan klien. Setelah krisis teratasi, peran konselor kembali sebagai fasilitator pertumbuhan, bukan pengendali kehidupan klien. Konselor juga perlu mengevaluasi dampak dari nasehat yang telah diberikan. Ini bisa dilakukan dengan mengecek kembali persepsi dan perasaan klien terhadap nasehat tersebut, serta mengamati apakah nasehat tersebut benar-benar membantu klien dalam proses perubahan yang diinginkan. Dengan demikian, nasehat menjadi bagian dari dialog berkelanjutan, bukan titik akhir.
Dalam proses konseling yang ideal, nasehat tidak menjadi pusat perhatian, tetapi hadir secara alami sebagai hasil dari hubungan yang terbuka dan empatik. Klien yang merasa didengar dan dipahami biasanya akan lebih terbuka untuk mempertimbangkan masukan dari konselor, termasuk nasehat yang diberikan. Konselor juga perlu menyadari bahwa tidak semua klien membutuhkan atau menginginkan nasehat. Beberapa klien hanya butuh tempat aman untuk bercerita dan menemukan jawaban sendiri dari refleksi yang mereka lakukan. Dalam kasus seperti ini, tugas konselor adalah menjaga ruang konseling tetap terbuka dan bebas tekanan.
Implementasi nasehat dalam bingkai konseling bukanlah soal menyampaikan apa yang menurut konselor benar, tetapi bagaimana menuntun klien menemukan kebenarannya sendiri. Nasehat yang baik bukan yang membuat klien takluk, tapi yang membuat klien tumbuh. Di sinilah letak seni dan tanggung jawab konselor sebagai pendamping dalam perjalanan batin klien menuju versi terbaik dari dirinya
Gebrakan! Mahasiswa BK UNG Bentuk Komunitas Riset
BERITAMOLAMETO.ID – Gorontalo – Sekelompok mahasiswa dan seorang dosen dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berinisiatif membentuk organisasi riset yang diberi nama Molameto Research Group pada 21 Maret 2025. Pembentukan organisasi ini bertujuan untuk mengembangkan budaya riset di kalangan mahasiswa serta memperkuat kapasitas keilmuan dan kepenulisan ilmiah sejak dini.
Organisasi ini digagas oleh lima mahasiswa dari Program Studi Bimbingan dan Konseling yaitu Oskar, Iyad, Key, Suci, dan Desy. Mereka memiliki semangat dan keresahan yang sama terhadap kurangnya keterlibatan aktif mahasiswa dalam dunia penelitian ilmiah. Inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari Dosen Pembimbing, Jumadi Mori Salam Tuasikal, yang juga menjadi pendamping resmi kelompok riset tersebut.
“Molameto” yang diambil dari bahasa daerah Gorontalo yang memiliki dasar filosofis mendalam, sehingga mencerminkan semangat intelektual dan reflektif yang diusung kelompok ini. Molameto Research Group hadir sebagai wadah kolaboratif bagi mahasiswa yang ingin memperdalam minat dalam penelitian Pendidikan, konseling, psikologi, pendidikan, dan perilaku manusia.
“Pembentukan Molameto Research Group adalah awal dari langkah panjang untuk membudayakan riset yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Kami ingin mahasiswa menjadi agen perubahan yang berpikir kritis dan solutif,” ujar Jumadi selaku pembina.
Molameto Research Group juga berkomitmen untuk menjadikan riset sebagai media pengembangan diri dan kontribusi sosial. Kegiatan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat antara lain pelatihan metodologi penelitian, diskusi jurnal, mentoring proposal skripsi, publikasi ilmiah, dan kolaborasi riset dengan institusi lain.
Oskar, selaku Direktur Molameto, menyampaikan bahwa organisasi ini terbuka bagi mahasiswa dari lintas angkatan yang memiliki ketertarikan pada dunia riset.
“Kami ingin membentuk ruang belajar yang terbuka dan dinamis. Molameto bukan hanya tempat riset, tetapi juga ruang bertumbuh bersama,” jelas Oskar.
Kehadiran Molameto Research Group disambut antusias oleh civitas akademika, khususnya mahasiswa yang ingin memperdalam kapasitas akademik mereka melalui riset-riset aplikatif.
Salah satu pengurus molameto, Iyad, menyampaikan harapannya, “Saya senang dengan adanya Molameto. Semoga ini menjadi ruang baru bagi mahasiswa untuk belajar riset dengan cara yang menyenangkan dan berdampak.”
Dengan semangat kolaborasi dan semangat ilmiah, Molameto Research Group diharapkan menjadi penggerak lahirnya generasi akademik muda yang unggul, kritis, dan kontributif dalam memajukan ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat.
REKOMENDASI 40 JUDUL SKRIPSI KORELASIONAL UNTUK MAHASISWA BK
By. Jumadi Mori Salam Tuasikal
- Hubungan Antara Kecemasan Sosial dan Intensitas Penggunaan Media Sosial pada Mahasiswa
- Hubungan Antara Self-Compassion dan Kesehatan Mental Mahasiswa Semester Akhir
- Hubungan Antara Body Image dan Kecemasan Sosial pada Mahasiswi Pengguna Instagram
- Hubungan Antara Digital Wellbeing dan Stres Akademik pada Mahasiswa Pengguna Aktif TikTok
- Hubungan Antara Self-Regulation dan Tingkat Doomscrolling pada Mahasiswa
- Hubungan Antara Tingkat Ketergantungan ChatGPT dan Motivasi Belajar Mahasiswa
- Hubungan Antara Penggunaan AI Writing Tools dan Self-Efficacy Mahasiswa dalam Menulis
- Hubungan Antara Durasi Screen Time dan Kesehatan Mental Mahasiswa
- Hubungan Antara Konten Self-Development di TikTok dan Resiliensi Mahasiswa
- Hubungan Antara Burnout Akademik dan Kesejahteraan Psikologis Mahasiswa Semester Tujuh
- Hubungan Antara Beban Organisasi dan Tingkat Burnout pada Mahasiswa Aktif UKM
- Hubungan Antara Resiliensi dan Burnout Akademik Mahasiswa Fakultas Pendidikan
- Hubungan Antara Academic Fatigue dan Kepuasan Hidup Mahasiswa
- Hubungan Antara Self-Regulated Learning dan Prestasi Akademik Mahasiswa
- Hubungan Antara Self-Efficacy dan Pengaturan Diri Mahasiswa dalam Belajar Online
- Hubungan Antara Self-Control dan Tingkat Kecanduan Gadget pada Remaja
- Hubungan Antara Self-Compassion dan Tingkat Overthinking Mahasiswa
- Hubungan Antara Mindfulness dan Self-Regulation pada Mahasiswa Semester Awal
- Hubungan Antara Dukungan Sosial dan Kesejahteraan Psikologis Mahasiswa Perantau
- Hubungan Antara Empati dan Perilaku Prososial pada Siswa SMA
- Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal dan Konflik dalam Kelompok Belajar Mahasiswa
- Hubungan Antara Kepercayaan Diri dan Keterampilan Sosial pada Mahasiswa Baru
- Hubungan Antara Kesepian Sosial dan Kecemasan Sosial Mahasiswa
- Hubungan Antara Tujuan Akademik dan Motivasi Belajar Mahasiswa Penerima Beasiswa
- Hubungan Antara Harapan Masa Depan dan Disiplin Belajar pada Siswa SMA Kelas 12
- Hubungan Antara Growth Mindset dan Motivasi Belajar Mahasiswa Semester Awal
- Hubungan Antara Persepsi Terhadap Dosen dan Minat Belajar Mahasiswa
- Hubungan Antara Kecemasan Akademik dan Performa Akademik Mahasiswa
- Hubungan Antara Overthinking dan Tingkat Stres Akademik Mahasiswa
- Hubungan Antara Gangguan Tidur dan Kecemasan Sosial Mahasiswa
- Hubungan Antara Resiliensi dan Kemampuan Adaptasi Mahasiswa Baru di Dunia Kampus
- Hubungan Antara Resiliensi dan Kesehatan Mental Mahasiswa dari Keluarga Broken Home
- Hubungan Antara Spiritualitas dan Resiliensi Mahasiswa Pascapandemi
- Hubungan Antara Komunikasi Intrapersonal dan Tingkat Pengambilan Keputusan Mahasiswa
- Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal dan Konflik Mahasiswa dalam Organisasi
- Hubungan Antara Keterbukaan Diri dan Relasi Sosial Mahasiswa di Asrama
- Hubungan Antara Komunikasi Nonverbal dan Kecemasan Sosial Mahasiswa
- Hubungan Antara Literasi Digital dan Kemandirian Belajar Mahasiswa
- Hubungan Antara Efikasi Diri Akademik dan Kecenderungan Prokrastinasi Mahasiswa
- Hubungan Antara Sikap Terhadap Teknologi dan Keaktifan Mahasiswa dalam Kuliah Online
REKOMENDASI 40 JUDUL SKRIPSI UNTUK MAHASISWA BK DENGAN FOKUS 1 VARIABEL
By. Jumadi Mori Salam Tuasikal
- Analisis Kesehatan Mental Mahasiswa yang Mengalami Gangguan Tidur Akibat Overthinking
- Tinjauan Resiliensi Mahasiswa Korban Perceraian Orang Tua
- Studi Deskriptif tentang Self-Compassion Mahasiswa yang Gagal Ujian Proposal Skripsi
- Gambaran Tingkat Self-Awareness Mahasiswa dalam Menghadapi Tekanan Sosial
- Tinjauan Self-Compassion Mahasiswa Pengguna Aktif Instagram dan TikTok
- Analisis Self-Awareness Mahasiswa dalam Menghadapi Body Image di Media Sosial
- Deskripsi Tingkat Self-Compassion Mahasiswa Perempuan yang Mengalami Broken Heart
- Identifikasi Tingkat Kecemasan Akademik Mahasiswa Menjelang Ujian Akhir Semester
- Deskripsi Stres Akademik Mahasiswa Semester Akhir dalam Menyusun Skripsi
- Gambaran Kecemasan Sosial Mahasiswa Baru dalam Mengikuti Organisasi Kampus
- Analisis Kecemasan Akademik Siswa SMA Menjelang SNBT
- Deskripsi Digital Wellbeing Mahasiswa Pengguna Gadget Lebih dari 8 Jam Sehari
- Studi Tinjauan tentang Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa
- Gambaran Self-Regulation Mahasiswa Pengguna ChatGPT dalam Menyelesaikan Tugas Akademik
- Identifikasi Dampak Media Sosial terhadap Motivasi Belajar Siswa SMA
- Analisis Digital Overload dan Hubungannya dengan Burnout Akademik pada Mahasiswa
- Studi Tinjauan tentang Strategi Self-Regulated Learning Mahasiswa Selama Kuliah Online
- Gambaran Kesejahteraan Psikologis Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP-Kuliah
- Analisis Kesejahteraan Psikologis Mahasiswa Perantau di Kota Besar
- Tinjauan Tingkat Psychological Wellbeing Siswa SMA yang Aktif dalam Organisasi Sekolah
- Deskripsi Kesejahteraan Psikologis Siswa dari Keluarga Tidak Harmonis
- Identifikasi Tingkat Flourishing Mahasiswa dalam Menghadapi Dinamika Kehidupan Kampus
- Analisis Burnout Akademik Mahasiswa Fakultas Pendidikan di Masa Praktikum Lapangan
- Deskripsi Tingkat Academic Fatigue Mahasiswa yang Mengikuti Program Merdeka Belajar
- Identifikasi Faktor Penyebab Burnout Akademik Mahasiswa Semester Tujuh
- Gambaran Tingkat Burnout Mahasiswa yang Menjadi Asisten Dosen dan Organisatoris Aktif
- Tinjauan Burnout Akademik Mahasiswa dengan Sistem Pembelajaran Blended Learning
- Deskripsi Resiliensi Siswa yang Mengalami Perundungan Verbal di Sekolah
- Analisis Resiliensi Mahasiswa dalam Menyesuaikan Diri dengan Lingkungan Baru
- Tinjauan Resiliensi Mahasiswa yang Gagal Lolos Beasiswa Luar Negeri
- Identifikasi Strategi Koping Mahasiswa yang Gagal Studi di Tengah Semester
- Deskripsi Keterampilan Interpersonal Mahasiswa dalam Komunikasi Kelompok
- Analisis Pola Perilaku Pasif-Aggresif pada Mahasiswa dalam Lingkungan Akademik
- Tinjauan Keterampilan Sosial Mahasiswa dalam Membangun Relasi Sehat
- Identifikasi Konflik Interpersonal Mahasiswa yang Tinggal di Asrama
- Gambaran Empati Mahasiswa Terhadap Teman Sebaya yang Mengalami Masalah Psikologis
- Identifikasi Perilaku Hustle Culture pada Mahasiswa di Kota Metropolitan
- Tinjauan Tingkat Overthinking Mahasiswa yang Aktif Organisasi dan Akademik
- Gambaran Toxic Positivity Mahasiswa dalam Menanggapi Permasalahan Teman
- Analisis Digital Wellbeing Mahasiswa di Media Sosial dan Dampaknya Terhadap Relasi
BERBICARA DENGAN PERCAYA DIRI
By: Jumadi Mori Salam Tuasikal
Berbicara dengan percaya diri adalah salah satu keterampilan kunci dalam public speaking. Banyak orang merasa gugup atau cemas ketika berbicara di depan umum, tetapi dengan memahami penyebabnya dan menggunakan strategi yang tepat, rasa gugup dapat diubah menjadi rasa percaya diri yang kuat. Tulisan ini membahas langkah-langkah untuk membangun kepercayaan diri dalam berbicara di depan umum.
Penyebab Umum Rasa Gugup
- Ketakutan terhadap Penilaian: Kekhawatiran bahwa audiens akan mengkritik atau mengevaluasi secara negatif dapat memicu rasa cemas.
- Kurangnya Persiapan: Tidak siap dengan materi atau tidak memahami audiens dapat meningkatkan rasa tidak percaya diri.
- Tekanan Perfeksionisme: Harapan untuk tampil sempurna seringkali membuat pembicara merasa terbebani dan gugup.
- Pengalaman Negatif: Pengalaman buruk di masa lalu saat berbicara di depan umum dapat memperkuat rasa takut untuk mencoba lagi.
Strategi untuk Mengatasi Rasa Gugup
- Memahami Bahwa Gugup Adalah Normal: Hampir semua orang merasa gugup saat berbicara di depan umum, termasuk pembicara profesional. Rasa gugup menunjukkan bahwa Anda peduli terhadap hasil pidato Anda.
- Mengelola Stres dengan Teknik Relaksasi: Teknik pernapasan dalam dan meditasi dapat membantu mengurangi ketegangan sebelum berbicara dan Lakukan peregangan ringan untuk melepaskan ketegangan fisik.
- Mempersiapkan dengan Baik: Pelajari materi pidato Anda secara mendalam, karena semakin Anda memahami materi, semakin percaya diri Anda dalam menyampaikannya, kemudian latih pidato Anda beberapa kali sebelum acara. Melalui latihan akan membantu mengurangi kesalahan dan membuat Anda merasa lebih nyaman.
- Memvisualisasikan Keberhasilan: Bayangkan diri Anda berbicara dengan lancar, mendapatkan perhatian audiens, dan menerima tanggapan positif. Teknik ini membantu membangun pola pikir yang positif.
- Fokus pada Pesan, Bukan Diri Sendiri: Alihkan perhatian dari rasa gugup Anda ke pesan yang ingin disampaikan. Ingat bahwa tujuan utama adalah memberikan manfaat kepada audiens, bukan menampilkan kesempurnaan.
- Kenali Audiens Anda: Dengan mengetahui siapa audiens Anda, Anda dapat menyesuaikan gaya dan isi pidato untuk menciptakan hubungan yang lebih baik. Ini juga membantu mengurangi rasa cemas terhadap tanggapan mereka.
Langkah untuk Membangun Kepercayaan Diri
- Mengenal Kekuatan dan Kelemahan Diri: Kenali apa yang menjadi kekuatan Anda sebagai pembicara dan area yang perlu diperbaiki. Dengan mengetahui ini, Anda dapat fokus pada pengembangan yang spesifik.
- Percaya pada Topik yang Anda Sampaikan: Pilih topik yang Anda pahami dan yakini. Ketika Anda percaya pada pentingnya pesan Anda, rasa percaya diri akan muncul secara alami.
- Latihan Berulang: Berlatihlah di depan cermin, rekam diri Anda, atau minta teman memberikan umpan balik. Semakin sering Anda berlatih, semakin besar kepercayaan diri yang Anda miliki.
- Berbicara di Depan Kelompok Kecil: Jika berbicara di depan umum terasa menakutkan, mulailah berbicara di depan kelompok kecil. Pengalaman ini akan membantu Anda membangun keberanian secara bertahap.
- Gunakan Bahasa Tubuh yang Percaya Diri: Postur tubuh yang tegap, kontak mata yang baik, dan gerakan tangan yang terkontrol membantu mencerminkan kepercayaan diri meskipun Anda merasa gugup.
Kesalahan yang Harus Dihindari
- Berpura-Pura Tidak Gugup: Tidak perlu menyembunyikan rasa gugup sepenuhnya. Terkadang audiens dapat memahami dan bahkan merasa lebih terhubung ketika Anda tampak manusiawi.
- Membaca Naskah Secara Penuh: Membaca naskah secara terus-menerus dapat membuat pidato terasa kaku dan kehilangan koneksi dengan audiens.
- Berbicara Terlalu Cepat: Rasa gugup sering membuat pembicara berbicara terlalu cepat. Berlatih berbicara dengan tempo yang santai dan jelas membantu audiens memahami pesan Anda.
Manfaat Berbicara dengan Percaya Diri
- Meningkatkan Kredibilitas: Audiens lebih cenderung mempercayai pembicara yang tampil percaya diri.
- Menciptakan Koneksi dengan Audiens: Kepercayaan diri memungkinkan pembicara untuk lebih fokus pada kebutuhan audiens, menciptakan hubungan yang lebih baik.
- Meningkatkan Efektivitas Pesan: Ketika Anda percaya pada apa yang Anda katakan, audiens juga lebih cenderung menerima dan memahami pesan Anda.
Contoh Kasus: Dari Gugup ke Percaya Diri
Seorang mahasiswa bernama Maria merasa sangat gugup untuk memberikan pidato pertamanya. Namun, dengan mempraktikkan teknik pernapasan, memvisualisasikan keberhasilan, dan berlatih secara konsisten, Maria berhasil menyampaikan pidato yang menginspirasi teman-teman sekelasnya. Pengalaman ini membuatnya merasa lebih percaya diri untuk pidato-pidato berikutnya.
Dari kajian ringkasan tersebut dapat dipahami bahwa untuk berbicara dengan percaya diri bukanlah keterampilan bawaan, tetapi sesuatu yang dapat dipelajari dan dikembangkan. Dengan memahami penyebab rasa gugup, mempersiapkan diri dengan baik, dan menggunakan teknik yang tepat, setiap orang dapat menjadi pembicara yang percaya diri dan efektif. Ingatlah bahwa kepercayaan diri dibangun melalui pengalaman, kesabaran, dan latihan yang konsisten.
(Reference) Ringkasan setelah membaca Buku dari Grice, George L. dan Skinner, John F. 2010. Mastering Public Speaking Seventh Edition. Allyn & Bacon: Boston.
Kategori
- ADAT
- ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
- BERITA.MOLAMETO.ID
- BK ARTISTIK
- BK MULTIKULTURAL
- BOOK CHAPTER
- BUDAYA
- CERITA FIKSI
- CINTA
- DEFENISI KONSELOR
- DOSEN BK UNG
- HIPNOKONSELING
- HKI/PATEN
- HMJ BK
- JURNAL PUBLIKASI
- KAMPUS
- KARAKTER
- KARYA
- KATA BANG JUM
- KEGIATAN MAHASISWA
- KENAKALAN REMAJA
- KETERAMPILAN KONSELING
- KOMUNIKASI KONSELING
- KONSELING LINTAS BUDAYA
- KONSELING PERGURUAN TINGGI
- KONSELOR SEBAYA
- KULIAH
- LABORATORIUM
- MAHASISWA
- OPINI
- ORIENTASI PERKULIAHAN
- OUTBOUND
- PENDEKATAN KONSELING
- PENGEMBANGAN DIRI
- PRAKTIKUM KULIAH
- PROSIDING
- PUISI
- PUSPENDIR
- REPOST BERITA ONLINE
- RINGKASAN BUKU
- SEKOLAH
- SISWA
- TEORI DAN TEKNIK KONSELING
- WAWASAN BUDAYA
Arsip
- August 2025 (3)
- April 2025 (11)
- March 2025 (1)
- January 2025 (11)
- December 2024 (18)
- October 2024 (2)
- September 2024 (15)
- August 2024 (5)
- July 2024 (28)
- June 2024 (28)
- May 2024 (8)
- April 2024 (2)
- March 2024 (2)
- February 2024 (15)
- December 2023 (12)
- November 2023 (37)
- July 2023 (6)
- June 2023 (14)
- January 2023 (4)
- September 2022 (2)
- August 2022 (4)
- July 2022 (4)
- February 2022 (3)
- December 2021 (1)
- November 2021 (1)
- October 2021 (1)
- June 2021 (1)
- February 2021 (1)
- October 2020 (4)
- September 2020 (4)
- March 2020 (7)
- January 2020 (4)
Blogroll
- AKUN ACADEMIA EDU JUMADI
- AKUN GARUDA JUMADI
- AKUN ONESEARCH JUMADI
- AKUN ORCID JUMADI
- AKUN PABLON JUMADI
- AKUN PDDIKTI JUMADI
- AKUN RESEARCH GATE JUMADI
- AKUN SCHOLER JUMADI
- AKUN SINTA DIKTI JUMADI
- AKUN YOUTUBE JUMADI
- BERITA BEASISWA KEMDIKBUD
- BERITA KEMDIKBUD
- BLOG DOSEN JUMADI
- BLOG MATERI KONSELING JUMADI
- BLOG SAJAK JUMADI
- BOOK LIBRARY GENESIS - KUMPULAN REFERENSI
- BOOK PDF DRIVE - KUMPULAN BUKU
- FIP UNG BUDAYA KERJA CHAMPION
- FIP UNG WEBSITE
- FIP YOUTUBE PEDAGOGIKA TV
- JURNAL EBSCO HOST
- JURNAL JGCJ BK UNG
- JURNAL OJS FIP UNG
- KBBI
- LABORATORIUM
- LEMBAGA LLDIKTI WILAYAH 6
- LEMBAGA PDDikti BK UNG
- LEMBAGA PENELITIAN UNG
- LEMBAGA PENGABDIAN UNG
- LEMBAGA PERPUSTAKAAN NASIONAL
- LEMBAGA PUSAT LAYANAN TES (PLTI)
- ORGANISASI PROFESI ABKIN
- ORGANISASI PROFESI PGRI
- UNG KODE ETIK PNS - PERATURAN REKTOR
- UNG PERPUSTAKAAN
- UNG PLANET
- UNG SAHABAT
- UNG SIAT
- UNG SISTER
- WEBSITE BK UNG