By. Jumadi Mori Salam Tuasikal

              Teknik PENA memandang kepribadian manusia sebagai konstruksi naratif yang dinamis. Kepribadian terbentuk dari cerita-cerita yang terus-menerus dikisahkan, diulang, dan dimaknai dalam kehidupan seseorang. Struktur kepribadian menurut teknik PENA lebih berbentuk seperti jaringan cerita yang hidup dan saling terhubung, dengan berbagai tingkat pengaruh, dominasi, dan peluang untuk berubah. Konseling naratif tidak berusaha “memperbaiki” struktur itu, tetapi membuka ruang narasi baru, agar seseorang dapat mengembangkan identitas yang lebih utuh dan membebaskan. Meskipun tidak mengadopsi struktur kepribadian secara kaku, teknik PENA mengenali beberapa komponen naratif utama yang membentuk struktur kepribadian individu:

1. Diri sebagai Narator (Narrating Self)

              Komponen utama dalam struktur kepribadian menurut teknik PENA adalah diri sebagai narator. Manusia dipandang sebagai pengisah (storyteller) dari kehidupannya sendiri. Diri ini bersifat aktif, reflektif, dan memiliki kemampuan untuk menafsirkan pengalaman serta menyusunnya dalam bentuk cerita. Diri sebagai narator menentukan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan dunianya.

2. Narasi Dominan (Dominant Story)

              Narasi dominan adalah cerita utama yang mendominasi pandangan seseorang tentang diri dan hidupnya. Cerita ini sering kali terbentuk dari pengalaman masa lalu, pengaruh sosial, nilai budaya, dan keyakinan internal. Narasi dominan bisa bersifat positif (memberdayakan) atau negatif (menindas). Dalam teknik PENA, narasi dominan yang negatif menjadi fokus untuk dideteksi dan didialogkan.

3. Narasi Alternatif (Alternative Story / Unique Outcomes)

              Komponen ini merupakan kisah-kisah lain dalam hidup individu yang sering kali terabaikan, meski memiliki potensi untuk memperkaya identitas. Narasi alternatif mencakup momen-momen keberhasilan, kekuatan, harapan, dan resiliensi. Konseling naratif bertujuan membantu klien menggali dan mengembangkan narasi alternatif ini untuk membangun identitas yang lebih sehat dan bermakna.

4. Pengaruh Sosial dan Budaya (Cultural & Social Scripts)

              Kepribadian individu tidak terbentuk di ruang kosong, melainkan dalam konteks budaya dan sosial tertentu. Teknik PENA menyadari bahwa banyak aspek kepribadian seseorang dibentuk oleh skrip sosial, yakni harapan, norma, dan nilai yang dibangun oleh lingkungan keluarga, agama, pendidikan, media, dan masyarakat luas. Kepribadian manusia, dalam hal ini, terbaca sebagai respons terhadap skrip-skrip tersebut.

5. Relasi Kuasa dalam Cerita (Power Relations in Narrative)

              Struktur kepribadian juga mencerminkan hubungan kuasa dalam kehidupan sehari-hari. Teknik PENA membantu klien menyadari bahwa beberapa cerita yang membentuk dirinya mungkin berasal dari suara-suara otoritatif (guru, orang tua, institusi, budaya patriarki, dll.) yang mengatur siapa dia seharusnya. Kesadaran ini penting untuk membongkar narasi yang menindas dan menggantinya dengan narasi yang lebih otonom.

6. Bahasa dan Simbol (Language & Meaning-Making)

              Bahasa adalah medium utama pembentuk narasi dan dengan demikian berperan penting dalam struktur kepribadian menurut teknik PENA. Cara seseorang menyebut dirinya, peristiwa masa lalu, dan harapan masa depan mencerminkan struktur identitasnya. Bahasa tidak netral, dan teknik PENA memperhatikan kata-kata yang dipilih klien sebagai pintu masuk untuk eksplorasi lebih dalam tentang kepribadiannya.

7. Identitas Naratif (Narrative Identity)

              Identitas dalam teknik PENA bukanlah sifat tetap, melainkan sebuah konstruksi naratif yang bersifat cair dan bisa berkembang. Identitas naratif adalah rangkaian cerita yang diceritakan seseorang tentang dirinya sendiri, yang mencerminkan nilai, keyakinan, dan harapan hidup. Konseling naratif berupaya membantu individu memperbarui identitas ini agar lebih sejajar dengan potensi sejatinya.

By. Jumadi Mori Salam Tuasikal

              Manusia dalam pandangan teknik PENA dipahami sebagai makhluk yang hidup dalam cerita. Kehidupan manusia dibentuk, dipengaruhi, dan diarahkan oleh narasi yang mereka bangun sejak dini melalui pengalaman, interaksi sosial, budaya, serta pemaknaan diri. Dalam setiap pengalaman, manusia tidak hanya bertindak, tetapi juga menafsirkan dan menarasikan apa yang dialami. Cerita-cerita ini menjadi dasar bagaimana individu memahami siapa dirinya dan bagaimana berinteraksi dengan dunia. Teknik PENA menekankan bahwa setiap manusia memiliki suara yang layak didengar. Suara ini adalah bentuk ekspresi dari identitas dan pengalaman yang unik. Oleh karena itu, konseling naratif percaya bahwa setiap individu berhak dan mampu menjadi pengarang atas hidupnya sendiri. Individu bukan sekadar pemeran dalam cerita yang ditentukan oleh orang lain, melainkan penulis aktif yang memiliki kuasa untuk menyunting, menata ulang, bahkan menulis ulang narasi hidupnya.

              Dari sudut pandang ini, masalah yang dihadapi seseorang tidak dilihat sebagai bagian yang melekat pada identitasnya, melainkan sebagai narasi eksternal yang mungkin telah mendominasi ceritanya. Teknik PENA memisahkan antara "orang" dan "masalah" (externalization), sehingga manusia tidak dilabeli oleh masalah yang dialami. Seorang anak yang pendiam, misalnya, bukanlah "anak bermasalah", tetapi mungkin sedang hidup dalam cerita tentang ketakutan sosial yang belum selesai. Manusia juga dipahami sebagai makhluk yang mampu memaknai ulang pengalaman. Dalam kerangka teknik PENA, masa lalu tidak bersifat final. Artinya, cara seseorang memandang masa lalunya bisa berubah ketika dirinya diberi ruang untuk melihatnya dari sudut yang berbeda. Proses konseling naratif membantu seseorang menemukan sudut pandang alternatif terhadap cerita hidupnya yang mungkin telah lama dibekukan oleh trauma, stigma, atau narasi dominan yang menyesatkan.

              Sebagai makhluk sosial, manusia juga sangat dipengaruhi oleh konteks budaya dan bahasa yang digunakan. Teknik PENA menyadari bahwa banyak cerita personal yang terbentuk dari pengaruh struktur sosial seperti keluarga, pendidikan, media, dan nilai-nilai budaya tertentu. Dalam konseling naratif, konselor bertugas membantu klien menyadari bahwa cerita yang klien alami tidak lahir dari ruang hampa, melainkan terbentuk dalam relasi kuasa dan struktur sosial tertentu. Oleh karena itu, teknik PENA mengajarkan bahwa perubahan bukan hanya soal perbaikan perilaku, tetapi juga proses pembebasan dari narasi yang menindas. Ketika seseorang mampu melihat bahwa cerita negatif yang diyakininya bukanlah satu-satunya kebenaran, maka saat itulah proses pemulihan bisa dimulai. Inilah yang disebut sebagai proses dekonstruksi, yaitu membongkar cerita lama agar bisa ditulis ulang dengan versi yang lebih memberdayakan.

              Manusia dalam teknik PENA juga dipahami sebagai pribadi yang kaya akan kekuatan dan nilai. Sering kali, cerita dominan tentang kelemahan dan kegagalan membuat seseorang lupa bahwa dirinya memiliki momen-momen ketahanan, keberhasilan, dan kebajikan dalam hidupnya. Teknik ini menolong individu menggali dan menarasikan kembali kisah-kisah alternatif (unique outcomes) yang tersembunyi di balik cerita dominan. Cerita alternatif ini menjadi pijakan untuk membangun identitas yang lebih sehat. Dalam konseling, konselor dan klien bekerja sama menenun ulang narasi kehidupan yang lebih positif, realistis, dan membangun. Proses ini bukan manipulasi, tetapi sebuah penemuan akan kebenaran hidup yang selama ini terpinggirkan oleh cerita-cerita penuh luka, ketakutan, dan rasa bersalah.

              Teknik PENA memandang manusia sebagai mitra sejajar dalam proses konseling. Konselor tidak berperan sebagai ahli yang memberikan jawaban, melainkan sebagai pendamping yang penuh empati dan rasa ingin tahu terhadap cerita hidup klien. Kekuatan teknik ini terletak pada dialog yang terbuka, reflektif, dan menghormati pengalaman hidup klien sebagai sumber utama perubahan. Karena setiap manusia unik, maka tidak ada satu cara bercerita yang dianggap benar. Teknik PENA menghormati keragaman ekspresi, termasuk cara klien menyampaikan perasaan, nilai, dan keyakinannya. Proses konseling tidak memaksakan klien pada kerangka berpikir tertentu, melainkan membantu mereka menyusun narasi yang otentik, sesuai dengan pengalaman dan jati diri mereka sendiri.

              Teknik PENA juga mengakui bahwa cerita manusia terus berkembang. Hidup bukanlah kisah yang sudah selesai ditulis, melainkan sebuah draf panjang yang terbuka untuk direvisi. Dalam proses ini, manusia memiliki peluang tanpa batas untuk tumbuh, menyembuhkan, dan menemukan makna baru dalam setiap fase kehidupannya. Melalui teknik ini, manusia dibantu untuk merangkai masa depan yang lebih bermakna. Cerita tentang harapan, impian, dan tujuan bukan sekadar lamunan, tetapi bagian penting dari proses penyembuhan. Narasi tentang masa depan menjadi energi penggerak untuk perubahan dan tindakan konkret dalam kehidupan sehari-hari.

              Dengan begitu, manusia dalam teknik PENA bukan dilihat sebagai makhluk yang rusak dan harus diperbaiki, melainkan sebagai narator yang sesekali tersesat dalam ceritanya sendiri. Konselor hadir untuk menemani klien menemukan kembali jalan pulang ke cerita yang lebih utuh, penuh makna, dan mencerminkan nilai-nilai hidup yang sejati. Proses ini bukan sekadar terapi, tetapi juga sebuah karya seni, yaitu seni mendengarkan, seni mengurai, dan seni menulis ulang. Teknik PENA mempercayai bahwa ketika seseorang merasa didengar dan ceritanya dihargai, maka luka-luka bisa disembuhkan dan potensi diri bisa mekar kembali. Oleh karena itu, penggunaan teknik  konseling PENA adalah bentuk penghormatan terdalam terhadap kemanusiaan.

              Dengan dasar pandangan ini, teknik PENA memandang manusia sebagai entitas yang dinamis, kreatif, dan penuh harapan. Tidak ada cerita yang terlalu gelap untuk diterangi, tidak ada narasi yang terlalu rusak untuk diperbaiki. Setiap manusia memiliki potensi untuk menulis ulang hidupnya, dan teknik PENA hadir sebagai pena yang membantu klien menulis kisah yang lebih bermakna.

By. Jumadi Mori Salam Tuasikal

              Di suatu sore yang tenang di Laboratorium Bimbingan dan Konseling kampus, saya membuka sesi praktik konseling yang memang disediakan untuk mahasiswa. Ruangan itu sederhana, namun cukup nyaman, dengan nuansa hangat dan tenang yang sengaja saya ciptakan agar mahasiswa merasa aman dan diterima. Pintu terbuka pelan, dan masuklah seorang mahasiswi yang memperkenalkan diri dengan nama samaran Mawar. Ia duduk pelan, mengatur napas, lalu menatap saya dengan mata yang menyimpan banyak cerita. Mawar adalah mahasiswi semester awal yang mulai merasa terbebani dengan tekanan kuliah dan ekspektasi dari keluarga. Ia menyampaikan bahwa akhir-akhir ini ia mudah lelah, kehilangan motivasi, dan bahkan sering menangis tanpa sebab yang jelas. Wajahnya menggambarkan kelelahan emosional yang tidak mudah ia ungkapkan dengan kata-kata. Saya tahu, saat itu saya tidak bisa langsung bertanya terlalu dalam, saya harus mendekatinya dengan hangat dan pelan.

              Saya memutuskan untuk menggunakan Teknik PENA (Pemberdayaan Emosional dengan Narasi dan Analogi) sebuah metode yang membantu konseli mengeksplorasi perasaannya melalui cerita dan kisah yang menyentuh. Saya mulai dengan menyampaikan sebuah cerita tentang seekor burung kecil yang kehilangan arah saat terbang di tengah badai, namun akhirnya menemukan cahaya dan kembali pulang. Saya katakan padanya bahwa terkadang, kita adalah burung kecil itu. Mawar tersenyum tipis. Cerita itu membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Ia mulai menceritakan bagaimana ia merasa seperti berjalan sendiri di tengah gelap, tanpa tahu harus menuju ke mana. Ia merasa tekanan tugas, kompetisi antar teman, dan rasa takut mengecewakan orang tuanya membuatnya kehilangan arah dan semangat.

              Saya mendengarkan dengan penuh perhatian. Tidak banyak bertanya, hanya menunjukkan bahwa saya ada dan hadir bersamanya. Lalu saya melanjutkan dengan analogi lainnya. Saya menceritakan tentang sebuah benih pohon yang butuh waktu lama untuk tumbuh, terkadang bahkan tampak tidak berkembang selama bertahun-tahun. Namun saat waktunya tiba, ia menjulang kuat dan memberikan keteduhan. Mawar mengangguk pelan. Ia mulai memahami bahwa dirinya pun sedang dalam proses. Bahwa tidak semua pertumbuhan bisa dilihat secara langsung. Ia kemudian mulai membuka lebih dalam tentang masa kecilnya, tentang harapan-harapan orang tua yang ia rasakan seperti beban, bukan semangat.

              Di sesi selanjutnya, saya mengajak Mawar untuk menulis cerita pendek tentang dirinya, namun dalam sudut pandang seorang sahabat. Ini bagian dari Teknik PENA yang mendorong konseli melihat dirinya dari lensa yang lebih lembut. Saat ia membaca ceritanya sendiri, matanya berkaca-kaca. Ia tak menyangka bahwa dirinya, dalam tulisan itu, tampak begitu tangguh meskipun sering merasa rapuh. Melalui proses ini, Mawar mulai bisa menamai perasaannya. Ia belajar bahwa rasa lelah dan kecewa itu valid, dan bahwa ia tidak harus selalu tampil kuat. Saya pun membagikan kisah tentang seorang pelukis buta yang tetap bisa menghasilkan karya indah karena ia merasakan dunia melalui emosi, bukan visual. Ini menjadi titik balik bagi Mawar, bahwa ia juga bisa terus berkarya dan bertumbuh meskipun belum semua jalannya terlihat jelas.

              Sesi demi sesi, Mawar menjadi lebih terbuka dan jujur tentang dirinya. Ia mulai mengubah caranya memandang kegagalan, bukan lagi sebagai akhir, tapi sebagai bagian dari proses. Ia menceritakan bagaimana ia mulai menulis jurnal harian, mencoba berbicara dengan diri sendiri lewat tulisan, dan memberi ruang untuk menangis jika perlu. Kami menutup sesi terakhir dengan refleksi bersama. Mawar mengatakan bahwa Teknik PENA membuatnya merasa seperti sedang membaca buku hidupnya sendiri, dengan bab-bab yang ternyata tidak sesuram yang ia kira. Ia menyadari bahwa di balik tekanan, ada pembelajaran. Di balik air mata, ada kekuatan.

              Saya merasa bersyukur telah menggunakan pendekatan ini. Teknik PENA bukan hanya membantunya merasa lebih baik, tetapi juga memberinya alat untuk memahami dirinya dengan cara yang sederhana namun menyentuh. Sebagai dosen, saya belajar bahwa konseling bukan sekadar tentang memberi solusi, melainkan menghadirkan ruang aman bagi mahasiswa untuk kembali menemukan dirinya sendiri.

By. Jumadi Mori Salam Tuasikal

          Dalam dunia konseling yang sarat akan keintiman, empati, dan kejujuran, seorang konselor dituntut untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga menghadirkan pendekatan yang menyentuh hati. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk membuka ruang kesadaran emosional klien adalah PENA (Pemberdayaan Emosional dengan Narasi dan Analogi). Pendekatan ini menempatkan kekuatan cerita sebagai alat untuk menyentuh batin dan mengaktifkan refleksi diri klien secara mendalam. PENA berakar dari pemahaman bahwa manusia adalah makhluk yang hidup dengan cerita. Mereka menyusun makna hidup melalui pengalaman, memori, dan simbol yang dibentuk dalam narasi. Ketika konselor menggunakan cerita pendek, kisah inspirasional, atau analogi yang relevan, mereka sedang membangun jembatan emosional yang menghubungkan dunia klien dengan kemungkinan-kemungkinan pemahaman baru tentang dirinya.

          Dalam praktiknya, PENA mengawali proses dengan mendengarkan narasi dari klien itu sendiri. Klien diajak untuk menceritakan kisah hidupnya, peristiwa yang menggugah emosi, atau pengalaman yang menurutnya memiliki dampak besar dalam hidup. Konselor kemudian mencermati pola, makna tersembunyi, dan emosi-emosi yang muncul dari cerita tersebut. Ini menjadi fondasi awal dalam menentukan arah intervensi yang lebih personal. Setelah cerita klien dipahami, konselor dapat menyelipkan analogi atau cerita pendek yang memiliki kemiripan dengan kondisi klien. Analoginya tidak perlu rumit, bisa sesederhana kisah tentang pohon yang tetap tumbuh meski diterpa angin, atau perahu kecil yang berhasil menepi meskipun terombang-ambing ombak. Cerita ini akan membantu klien melihat dirinya dalam sudut pandang baru tanpa merasa dihakimi atau diberi nasihat secara langsung.

          Pendekatan ini sangat efektif terutama ketika klien kesulitan mengungkapkan perasaannya secara langsung. Dengan menyajikan narasi yang sepadan, konselor memberikan ruang refleksi yang aman. Klien bisa menangis, tertawa, atau merasa lega karena merasa “terwakili” oleh cerita tersebut. Emosi yang selama ini tertahan pun mulai mengalir secara alami. PENA juga menumbuhkan rasa koneksi dan empati yang kuat antara konselor dan klien. Ketika konselor menyampaikan analogi dengan penuh ketulusan dan penghayatan, klien tidak hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami. Hubungan ini memperkuat rapport dan membuat sesi konseling menjadi lebih bermakna.

          Dalam prosesnya, konselor tidak hanya menyampaikan cerita begitu saja, tetapi juga mengaitkan pesan moral dan maknanya dengan situasi klien. Misalnya, setelah menceritakan tentang ulat yang berubah menjadi kupu-kupu, konselor dapat bertanya, “Menurutmu, di mana posisi kamu dalam kisah itu sekarang?” Pertanyaan ini membantu klien mengaitkan pengalaman emosional dengan pertumbuhan dirinya. PENA bukan hanya alat bantu naratif, melainkan jembatan menuju kesadaran dan perubahan. Klien yang semula merasa putus asa dapat menemukan kembali harapan. Mereka mulai melihat bahwa setiap cerita punya masa sulit, tapi juga punya kemungkinan untuk berubah arah. Harapan ini penting dalam proses healing dan perencanaan masa depan.

          Pendekatan ini juga fleksibel digunakan dalam berbagai setting konseling, baik individu, kelompok, maupun klasikal. Dalam konseling kelompok, misalnya, konselor dapat menggunakan cerita pendek inspiratif sebagai bahan refleksi bersama. Sementara dalam konseling klasikal, analogi dapat disisipkan dalam materi pengembangan diri yang kontekstual. PENA juga sejalan dengan prinsip dasar konseling yang tidak memaksakan solusi, tetapi memfasilitasi pemahaman. Cerita tidak bersifat memaksa, tetapi membuka ruang berpikir dan merasa. Ini menjadikan PENA sebagai pendekatan yang lembut namun dalam, penuh makna, dan sangat manusiawi.

          Kelebihan lain dari PENA adalah kemampuannya untuk melintasi budaya. Cerita dan analogi dapat disesuaikan dengan latar belakang budaya klien, sehingga terasa lebih dekat dan membumi. Kisah lokal, legenda, atau bahkan cerita pribadi konselor yang relevan bisa menjadi media yang kuat untuk membangun ikatan emosional. PENA juga mengajarkan bahwa dalam konseling, kata-kata bisa menjadi obat. Ketika dirangkai dengan empati dan dikemas dalam bentuk cerita, kata-kata mampu menyentuh sisi terdalam manusia. Di sanalah penyembuhan dimulai, bukan hanya di pikiran, tetapi di hati.

          Sebagai pendekatan, PENA mengingatkan kita bahwa tugas konselor bukan menyelesaikan masalah klien secara langsung, melainkan membantu klien menemukan makna dan kekuatan dalam kisah hidupnya. Dengan menggenggam pena itu, klien diberdayakan untuk menulis ulang narasi hidupnya, dengan akhir yang lebih penuh harapan dan keutuhan. Dengan demikian, PENA tidak hanya menjadi metode, tetapi menjadi filosofi dalam berpraktik konseling. Ia membawa pesan bahwa setiap orang punya cerita, dan di dalam cerita itu tersimpan potensi untuk bertumbuh. Konselor hanya perlu hadir, mendengarkan, dan menyelipkan seuntai narasi yang dapat menyalakan cahaya dalam jiwa klien.

KETERAMPILAN MENDENGAR DAN BERTANYA DALAM PROSES KONSELING

22 April 2025 00:07:58 Dibaca : 3006

By. Jumadi Mori Salam Tuasikal

          Dalam proses konseling, bertanya dan mendengar bukanlah aktivitas biasa seperti dalam percakapan sehari-hari. Keduanya merupakan keterampilan inti yang memiliki kekuatan terapeutik dan memainkan peran besar dalam membentuk keberhasilan sesi konseling. Bertanya dalam konseling bukan untuk menginterogasi, dan mendengar bukan sekadar menyimak kata. Keduanya dilakukan dengan kesadaran, empati, dan tujuan yang jelas untuk menggali, memahami, dan memfasilitasi perubahan klien. Keterampilan bertanya dalam konseling berakar dari niat untuk membantu klien menyadari pikiran, perasaan, dan perilaku yang mungkin belum sepenuhnya mereka pahami. Pertanyaan yang digunakan bukan pertanyaan sembarangan, melainkan disusun dengan hati-hati untuk membuka ruang refleksi dan eksplorasi. Konselor perlu mempertimbangkan waktu, konteks, dan kondisi emosional klien saat mengajukan pertanyaan, agar tidak menimbulkan tekanan atau kebingungan.

          Jenis pertanyaan yang digunakan pun memiliki keragaman fungsi. Pertanyaan terbuka digunakan untuk mendorong klien bercerita lebih luas dan mendalam, seperti “Apa yang membuat kamu merasa begitu?” atau “Bisakah kamu ceritakan lebih lanjut tentang hal itu?” Sementara itu, pertanyaan tertutup dapat digunakan untuk klarifikasi informasi yang lebih spesifik, seperti “Itu terjadi hari Senin atau Selasa?” Penggunaan jenis pertanyaan yang tepat sangat penting agar konselor tetap berada dalam alur yang selaras dengan kebutuhan klien. Namun, kemampuan bertanya tidak akan bermakna tanpa kemampuan mendengar yang sejati. Mendengar dalam konseling bukan hanya soal menangkap kata, melainkan menangkap makna, emosi, dan pesan-pesan tersembunyi dari ucapan klien. Konselor perlu mendengarkan dengan seluruh tubuh, hati, dan pikirannya, sebuah proses yang dikenal sebagai active listening atau mendengar aktif.

          Mendengar aktif melibatkan perhatian penuh pada klien, tanpa menghakimi atau tergesa-gesa merespons. Konselor memberikan sinyal nonverbal seperti anggukan kepala, ekspresi wajah yang selaras, atau bahkan keheningan yang empatik. Semua itu menunjukkan bahwa konselor hadir sepenuhnya dan memberikan ruang aman bagi klien untuk mengungkapkan dirinya. Konselor juga menggunakan keterampilan refleksi untuk menegaskan bahwa apa yang disampaikan klien telah didengar dan dipahami dengan benar. Misalnya, dengan mengatakan, “Dari ceritamu, sepertinya kamu merasa sangat kecewa karena tidak didengarkan, ya?” Refleksi seperti ini bisa memperkuat hubungan konseling dan membuat klien merasa divalidasi.

          Dalam praktiknya, bertanya dan mendengar menjadi proses yang saling menguatkan. Pertanyaan yang baik akan mendorong keterbukaan klien, dan mendengar yang baik akan memandu konselor dalam merumuskan pertanyaan berikutnya. Hubungan ini bersifat dinamis dan terus berkembang sepanjang sesi berlangsung. Di sisi lain, konselor juga perlu menghindari jebakan bertanya terlalu banyak atau terlalu cepat. Terlalu banyak pertanyaan bisa membuat klien merasa terpojok, seolah-olah sedang diinterogasi, bukan didampingi. Oleh karena itu, jeda dan keheningan menjadi bagian penting dari mendengarkan yang efektif memberi waktu pada klien untuk memproses dan merespons dengan jujur.

          Selain itu, konselor harus sensitif terhadap makna-makna emosional yang muncul dalam cerita klien. Mendengar bukan hanya tentang kata-kata, tapi juga tentang intonasi, isyarat tubuh, dan perubahan nada suara. Konselor perlu menangkap pesan-pesan nonverbal ini agar bisa memahami klien secara utuh, termasuk apa yang tidak diucapkan secara langsung. Dalam konteks konseling, bertanya dan mendengar bukan alat untuk mencari jawaban yang “benar” menurut konselor, tetapi untuk membantu klien memahami kebenaran dirinya sendiri. Konselor hadir bukan untuk memberi solusi langsung, tetapi untuk menemani klien dalam proses menemukan jawaban melalui kesadaran yang dibangun dari percakapan reflektif.

          Implementasi bertanya dan mendengar yang efektif juga sangat bergantung pada sikap dasar konselor, seperti empati, ketulusan, dan penghargaan terhadap klien. Konselor yang benar-benar peduli akan cenderung lebih hati-hati dalam memilih kata-kata dan lebih tulus dalam mendengarkan cerita klien. Klien pun akan lebih mudah merasa diterima dan terbuka dalam prosesnya. Bertanya dalam konseling juga bisa digunakan untuk menantang pemikiran atau keyakinan yang tidak adaptif, tetapi dilakukan dengan cara yang halus dan penuh hormat. Misalnya, “Apakah kamu pernah memikirkan kemungkinan bahwa kamu tidak sepenuhnya gagal, hanya karena satu kesalahan itu?” Pertanyaan semacam ini bisa menggeser perspektif klien tanpa membuatnya merasa diserang.

          Dalam sesi-sesi lanjutan, konselor dapat memanfaatkan riwayat percakapan sebelumnya sebagai dasar bertanya lebih dalam, menunjukkan bahwa mereka mendengarkan dengan seksama dan menghargai proses klien. Hal ini akan memperkuat aliansi terapeutik yang dibangun dan mendorong keberlangsungan proses konseling yang lebih mendalam. Mendengar dan bertanya juga menjadi alat untuk menyesuaikan intervensi sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan klien. Dengan mendengar baik-baik, konselor bisa mengetahui kapan saatnya memberi dorongan, kapan saatnya diam, dan kapan saatnya membuka percakapan baru. Semua ini membentuk irama unik yang hanya bisa terbangun lewat hubungan konseling yang penuh kehadiran.