Kata Bang Jum #2: "Luangkan waktu untuk ...

17 June 2024 00:01:01 Dibaca : 4

"Kesehatan mental adalah kunci kesejahteraan. Luangkan waktu untuk dirimu sendiri dan nikmati momen ketenangan."

 

         Di tengah kesibukan dan tekanan hidup sehari-hari, kita sering kali lupa bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Pikiran yang sehat membawa kedamaian, kebahagiaan, dan ketahanan menghadapi tantangan. Tanpa kesehatan mental yang baik, segala pencapaian materi dan prestasi lainnya akan terasa hampa. Menghabiskan waktu dengan diri sendiri bukanlah tanda egois, melainkan bentuk cinta dan perhatian terhadap diri sendiri. Momen-momen pribadi ini memungkinkan kita untuk merefleksikan apa yang telah kita capai, apa yang masih perlu kita kerjakan, dan bagaimana kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita. 

      Nikmati momen ketenangan. Dalam kehidupan yang serba cepat, ketenangan sering kali menjadi barang langka. Namun, momen ketenangan sangat penting untuk menyegarkan pikiran dan jiwa. Ini bisa berupa meditasi, berjalan-jalan di alam, membaca buku favorit, atau sekadar duduk diam dengan pikiran yang tenang. Ketenangan membantu kita untuk lebih fokus, kreatif, dan produktif. Mengapa kesehatan mental penting? Karena tanpa pikiran yang sehat, kita tidak bisa menikmati apa yang telah kita miliki. Stres dan kecemasan bisa menguras energi, mengganggu tidur, dan bahkan mempengaruhi hubungan dengan orang-orang terdekat kita. Dengan menjaga kesehatan mental, kita bisa lebih bahagia, lebih bersemangat, dan lebih mampu menghadapi setiap tantangan hidup dengan tenang. Jadi, berikan dirimu izin untuk beristirahat. Jangan merasa bersalah untuk meluangkan waktu hanya untuk dirimu sendiri. Dengan menjaga kesehatan mental, kamu sedang membangun fondasi yang kuat untuk mencapai kesejahteraan sejati. Ingatlah bahwa dirimu adalah aset yang paling berharga, dan menjaga kesehatan mental adalah investasi terbaik yang bisa kamu lakukan untuk masa depanmu.

                                                                                  

 

 

"Setiap hari adalah kesempatan baru untuk tumbuh dan berkembang.

Jangan biarkan kesalahan kemarin menghambat langkahmu hari ini."

 

      Di setiap fajar yang terbit, kita diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, belajar dari kesalahan, dan meraih impian kita. Kesalahan adalah bagian dari perjalanan hidup, bukan akhir dari segalanya.  Mengapa kita harus terjebak dalam penyesalan ketika kita bisa melihat ke depan dengan optimisme? Setiap kesalahan adalah pelajaran berharga yang memperkaya pengalaman dan kebijaksanaan kita. Jadikan kesalahan sebagai batu loncatan, bukan batu sandungan. Lihatlah ke depan, hadapi tantangan baru dengan semangat, dan teruslah bergerak maju. Setiap hari adalah halaman baru dalam buku kehidupanmu. Kamu memiliki kendali penuh untuk menulis cerita yang kamu inginkan.

          Apakah itu tentang keberanian, ketekunan, atau pengampunan, semua itu tergantung pada pilihanmu hari ini. Jadi, bangkitlah dengan keyakinan, buang beban masa lalu, dan sambutlah hari ini dengan hati yang terbuka dan pikiran yang jernih. Ingatlah, pertumbuhan dan perkembangan adalah proses yang terus-menerus. Tidak ada jalan pintas, tetapi setiap langkah kecil yang kamu ambil menuju tujuanmu adalah kemenangan. Rayakan setiap kemajuan, sekecil apa pun itu, dan teruslah berusaha. Masa depanmu ditentukan oleh tindakanmu hari ini, bukan oleh kesalahanmu di masa lalu. Jadi, mulailah hari ini dengan semangat baru. Lupakan kegagalan kemarin dan fokuslah pada peluang yang ada di depan mata. Kamu memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan, untuk tumbuh, dan untuk berkembang menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri. Jadikan setiap hari sebagai kesempatan emas untuk mencapai potensi penuhmu.

                                                                                     

 

TIM PPKS: TANTANGAN YANG MUNGKIN DIHADAPI?

14 June 2024 05:49:14 Dibaca : 10

(Dok. Pribadi: Pansel Pembentukan Satgas PPKS UNG)

By. Jumadi Mori Salam Tuasikal

Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di perguruan tinggi mungkin saja dapat menghadapi berbagai tantangan yang dapat mempengaruhi jalannya tugas, diantaranya:

Kurangnya Kesadaran dan Pendidikan

Banyaknya anggota komunitas perguruan tinggi yang belum sepenuhnya menyadari pentingnya PPKS dapat menghambat upaya pencegahan. Kurangnya pendidikan tentang apa yang merupakan kekerasan seksual, bagaimana melaporkannya, dan pentingnya mendukung korban juga dapat menjadi hambatan.

Resistensi atau Ketidakpercayaan

Ada kemungkinan adanya resistensi atau ketidakpercayaan terhadap tim PPKS dari berbagai pihak di perguruan tinggi, termasuk mahasiswa, staf, atau dosen. Hal ini bisa terjadi jika tidak ada kesadaran yang cukup tentang pentingnya PPKS atau mungkin adanya stigma terhadap korban.

Keterbatasan Sumber Daya

Sumber daya terbatas seperti anggaran, personel, dan waktu dapat menjadi kendala serius dalam operasional tim PPKS. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk menyediakan layanan yang memadai, seperti pelatihan, layanan konseling, atau dukungan hukum bagi korban.

Kepentingan Institusional

Institusi perguruan tinggi dapat dihadapkan pada konflik kepentingan antara melindungi reputasi institusi dan menangani kasus kekerasan seksual secara transparan dan adil. Hal ini dapat menyulitkan proses penanganan kasus kekerasan seksual dengan baik.

Ketidakpastian Hukum

Tantangan hukum seperti ketidakjelasan regulasi atau kebijakan, interpretasi hukum yang berbeda, atau risiko tuntutan hukum dari korban atau pelaku dapat menghambat keefektifan tim PPKS dalam menjalankan tugasnya dengan baik.

Perbedaan Budaya dan Nilai

Perguruan tinggi sering kali memiliki populasi yang beragam budaya dan nilai, yang dapat menciptakan tantangan dalam merumuskan kebijakan yang berlaku untuk semua orang tanpa diskriminasi dan untuk memahami bagaimana kekerasan seksual dipahami di berbagai konteks budaya.

Kurangnya Data dan Pelaporan

Kurangnya data yang akurat tentang insiden kekerasan seksual di perguruan tinggi dapat menyulitkan upaya evaluasi dan perbaikan kebijakan dan praktik pencegahan. Selain itu, rendahnya tingkat pelaporan juga bisa menjadi masalah serius karena bisa menyebabkan kasus kekerasan seksual tidak terdeteksi atau tidak ditangani dengan serius.

Keterlibatan Media dan Opini Publik

Kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi sering kali menarik perhatian media dan opini publik yang dapat mempengaruhi cara institusi menanggapi kasus tersebut. Hal ini bisa menimbulkan tekanan tambahan terhadap tim PPKS dalam menangani kasus secara adil dan transparan.

Pergeseran Kebijakan Nasional atau Kebijakan Institusional

Perubahan dalam kebijakan nasional atau kebijakan institusional terkait dengan PPKS dapat mempengaruhi cara perguruan tinggi menangani dan melaporkan kasus kekerasan seksual. Hal ini bisa memerlukan penyesuaian dan pelatihan tambahan bagi tim PPKS.

Tekanan Internal dan Eksternal

Tekanan dari berbagai pihak, baik internal (seperti pimpinan universitas, dewan akademik) maupun eksternal (seperti organisasi mahasiswa, LSM, atau masyarakat umum), dapat mempengaruhi keputusan dan respons tim PPKS terhadap kasus-kasus kekerasan seksual.

Dengan mengenali berbagai tantangan ini, tim PPKS di perguruan tinggi dapat lebih siap untuk menghadapinya dan memperbaiki efektivitas mereka dalam melindungi anggota komunitas dari kekerasan seksual serta memberikan dukungan yang dibutuhkan kepada korban.

TETAP SEMANGAT TIM PPKS

ANTROPOLOGI KOMUNIKASI KONSELING

13 June 2024 16:35:16 Dibaca : 6

By. Jumadi Mori Salam Tuasikal

Antropologi komunikasi konseling merupakan kajian yang mengeksplorasi bagaimana budaya dan latar belakang sosial memengaruhi cara individu berkomunikasi dan berinteraksi dalam konteks konseling. Berikut adalah beberapa aspek penting dalam antropologi komunikasi konseling:

1. Pola Komunikasi Budaya

Setiap budaya memiliki pola komunikasi yang unik, termasuk gaya berbicara, bahasa tubuh, konsep ruang dan waktu, serta aturan dalam berinteraksi. Pemahaman terhadap pola komunikasi budaya klien dapat membantu konselor menyesuaikan pendekatan dan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan sesuai.

2. Makna Simbolik Simbol, metafora, dan cerita memiliki makna yang berbeda di setiap budaya.

Dalam konseling, konselor perlu memahami makna simbolik yang digunakan oleh klien untuk memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam dan meminimalkan kesalahpahaman.

3. Nilai dan Norma Budaya

Nilai dan norma budaya mempengaruhi cara individu memandang masalah, mengekspresikan emosi, dan mencari solusi. Konselor perlu menghargai dan mempertimbangkan nilai-nilai budaya klien dalam proses konseling agar intervensi yang diberikan sesuai dan dapat diterima.

4. Konsep Diri dan Identitas Budaya

Konsep diri dan identitas budaya individu berperan penting dalam pembentukan persepsi dan perilaku mereka. Konselor perlu memahami bagaimana budaya mempengaruhi konsep diri klien dan memfasilitasi eksplorasi identitas yang sehat dan positif.

5. Sistem Kepercayaan dan Praktik Budaya

Sistem kepercayaan dan praktik budaya, seperti agama, ritual, atau pengobatan tradisional, dapat mempengaruhi cara klien memandang dan mengatasi masalah. Konselor perlu menghargai dan mengintegrasikan praktik budaya yang sesuai dalam proses konseling.

6. Dinamika Kekuasaan dan Status

Dalam banyak budaya, terdapat hierarki kekuasaan dan status yang mempengaruhi cara individu berkomunikasi dan berinteraksi. Konselor perlu menyadari dinamika ini dan menyesuaikan komunikasi mereka dengan tepat.

7. Komunikasi Verbal dan Nonverbal

Antropologi komunikasi konseling juga mempelajari penggunaan bahasa, baik verbal maupun nonverbal, dalam konteks budaya yang berbeda. Konselor perlu peka terhadap perbedaan dalam penggunaan bahasa dan isyarat nonverbal untuk komunikasi yang efektif.

Dengan memahami aspek-aspek ini, konselor dapat memberikan layanan konseling yang lebih sensitif secara budaya, membangun hubungan terapeutik yang lebih kuat, dan meningkatkan efektivitas intervensi yang diberikan. Antropologi komunikasi konseling juga berkontribusi dalam pengembangan praktik konseling yang lebih inklusif dan menghargai keragaman budaya.

LATAR BUDAYA DALAM KOMUNIKASI KONSELING

13 June 2024 16:21:08 Dibaca : 7

By. Jumadi Mori Salam Tuasikal

Dalam proses konseling di Indonesia, terdapat beberapa karakteristik budaya yang perlu diperhatikan dalam komunikasi antara konselor dan klien. Berikut adalah beberapa karakteristik budaya yang penting untuk dipertimbangkan:

1. Hierarki dan Penghormatan

Budaya Indonesia menekankan pada hierarki dan penghormatan terhadap orang yang lebih tua atau memiliki status yang lebih tinggi. Konselor perlu memperhatikan cara berkomunikasi yang sopan dan menghormati klien, terutama jika klien lebih tua atau memiliki status sosial yang lebih tinggi.

2. Kesopanan dan Keramahan

Masyarakat Indonesia menjunjung tinggi kesopanan dan keramahan dalam berkomunikasi. Konselor perlu menggunakan bahasa yang santun, ramah, dan menghindari kata-kata atau nada yang terdengar kasar atau menyinggung perasaan klien.

3. Kekeluargaan dan Kolektivitas

Budaya Indonesia menekankan pada rasa kekeluargaan dan kolektivitas. Dalam proses konseling, konselor perlu mempertimbangkan peran dan pengaruh keluarga atau kelompok terhadap masalah yang dihadapi klien. Konselor juga perlu menunjukkan kepedulian dan perhatian yang hangat.

4. Kehati-hatian dalam Mengungkapkan Emosi

Masyarakat Indonesia cenderung lebih tertutup dalam mengungkapkan emosi secara terbuka. Konselor perlu peka terhadap isyarat nonverbal dan membangun suasana yang aman dan nyaman agar klien dapat mengekspresikan emosi dengan lebih terbuka.

5. Keharmonisan dan Menghindari Konflik

Budaya Indonesia menekankan pada keharmonisan dan menghindari konflik secara terbuka. Konselor perlu mencari pendekatan yang dapat menjembatani perbedaan tanpa menciptakan konfrontasi langsung yang dapat membuat klien merasa tidak nyaman.

6. Pemahaman Budaya Lokal

Indonesia memiliki beragam budaya lokal dengan nilai-nilai dan tradisi yang beragam. Konselor perlu memahami dan menghargai budaya lokal klien serta mengintegrasikannya dalam proses konseling dengan cara yang tepat.

7. Penggunaan Bahasa dan Istilah Lokal

Untuk membangun hubungan yang lebih dekat dan memudahkan pemahaman, konselor dapat menggunakan bahasa daerah atau istilah lokal yang familiar bagi klien, terutama jika klien berasal dari budaya atau daerah tertentu.

Dengan memperhatikan karakteristik budaya ini, konselor dapat menciptakan komunikasi yang lebih efektif, membangun hubungan yang lebih erat, dan meningkatkan kepercayaan serta kenyamanan klien dalam proses konseling. Pemahaman terhadap budaya klien juga dapat membantu konselor memberikan intervensi yang lebih tepat dan sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dianut oleh klien.